NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — Mentor yang Tidak Dibayar

BAB 30 — Mentor yang Tidak Dibayar

Sari Mahendra menolak bertemu di kantor Kalyana, kantor hukumnya, bahkan di tempat yang kupilih.

Alamat yang dikirim Damar mengarah ke sebuah rumah baca kecil di belakang pasar lama. Cat dindingnya mengelupas di beberapa bagian. Rak buku memenuhi ruang depan. Di sudut, tiga anak sekolah sedang menyusun kursi plastik setelah kelas sore berakhir.

Sari menungguku di ruang belakang bersama Elsa dan seorang pengacara independen bernama Tia. Damar mengikuti melalui panggilan video. Nadira tidak hadir.

Aku mengetahui itu sebelum datang, tetapi tetap memeriksa kursi kosong di dekat meja.

Kebiasaan buruk tidak hilang hanya karena sudah dikenali.

Sari mengenakan kemeja putih dan celana hitam sederhana. Rambut pendeknya sudah dipenuhi uban yang tidak pernah kulihat dalam foto-foto seminar. Di depannya terletak tiga map, satu perekam suara, dan salinan halaman penyelesaian Ratri Wisesa yang mencantumkan namanya sebagai mediator.

Ia tidak mempersilahkanku duduk.

Aku tetap duduk setelah Tia menunjuk kursi.

“Pak Rendra hadir untuk menjelaskan struktur pembayaran dan mengenali dokumen,” kata Damar dari layar. “Bukan untuk mengambil alih pemeriksaan.”

Sari menatapku. “Saya tahu kebiasaannya.”

“Kita belum pernah bertemu,” kataku.

“Secara resmi, belum.”

Tia menyalakan perekam setelah semua pihak menyetujui. Sari lalu mendorong halaman penyelesaian Ratri ke tengah meja.

“Apakah tanda tangan ini milik Anda?” tanya Elsa.

“Iya.”

“Apakah Anda menjadi mediator?”

“Iya.”

“Apakah Anda menerima pembayaran hasil?”

“Tidak.”

Elsa membuka daftar transaksi. “Nomor registrasi Anda dicantumkan pada tujuh penyelesaian. Terdapat honor per sesi, biaya pendampingan, dan bonus ketika tidak ada gugatan selama satu tahun.”

“Saya tahu.”

“Rekening penerimanya memakai nama lembaga yang pernah Anda dirikan.”

“Lembaga itu dibekukan sebelum perkara pertama selesai.”

Aku memperhatikan cara Sari menjawab. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak memberi tambahan informasi sebelum ditanya. Ia hanya menjawab yang ditanyakan.

“Jelaskan dari awal,” kata Damar.

Sari membuka map pertama. Di dalamnya ada akta pendirian lembaga mediasi bernama Titik Damai, surat pembekuan rekening, dan korespondensi dengan Marisa Purnama.

Dua belas tahun lalu, Marisa menghubunginya setelah menemukan pola dalam penyelesaian perkara rumah tangga yang melibatkan para eksekutif. Saat itu Sari baru menjadi mediator dan sering mendampingi perempuan yang tidak mampu membayar pengacara. Marisa meminta bantuan membuktikan bahwa proses yang disebut mediasi sebenarnya dirancang agar korban menerima kerahasiaan.

“Saya masuk sebagai mediator pengganti,” kata Sari. “Bukan untuk memenangkan salah satu pihak. Untuk melihat dokumen yang tidak akan diberikan kepada orang luar.”

“Kau membiarkan Ratri datang tanpa pengacara,” kataku.

Tatapannya beralih kepadaku. “Saya tidak meminta itu.”

“Tapi sesi tetap berjalan.”

“Iya.”

“Dan tanda tanganmu ada pada penyelesaian.”

“Iya.”

“Tapi Anda tahu prosesnya tidak adil. Ratri tetap harus membuat keputusan di situ,” kataku.

Sari memandangku cukup lama. “Benar.”

Aku mengenali kalimat itu. Kalimat yang selama beberapa hari terakhir terus kupakai ketika alasan tidak lagi cukup.

Sari tidak menggunakan penyesalan untuk meminta kami membedakan dirinya dari semua orang lain. Ia juga tidak berpura-pura hasilnya dapat dibenarkan hanya karena bukti yang ia kumpulkan kelak membantu Aditya.

“Pembayaran bonus?” tanya Damar.

Sari menyerahkan surat bank. Rekening Titik Damai dibekukan tiga hari sebelum penyelesaian Ratri ditandatangani. Setiap transfer sesudahnya masuk, tetapi tidak dapat ditarik. Marisa mengatur agar rekening tetap tercatat aktif di sistem Kalyana supaya tidak menimbulkan kecurigaan.

Dana tersebut kemudian disita dalam perkara pajak palsu yang dibuat perusahaan, lalu dipindahkan ke rekening penampungan internal. Tidak ada transaksi pribadi Sari.

“Jadi uang itu tidak pernah sampai ke Anda?” kata Elsa.

“Nama saya dipakai untuk mencatat pembayaran. Saya tidak pernah memakai satu rupiah pun.”

“Kenapa catatan bonus tahunan tetap ditandatangani?”

“Marisa butuh bukti kalau perusahaan memang memberi insentif berdasarkan hasil. Saya menandatangani penerimaan administratif, lalu membuat salinan.”

Aku melihat tujuh penyelesaian yang memakai nomor registrasinya. “Berapa korban yang tahu kau sedang menyusup?”

“Tidak ada.”

“Termasuk Ratri?”

“Termasuk Ratri.”

“Itu berarti dia tetap mengira kau salah satu orang yang membawanya ke kesepakatan.”

“Iya.”

“Pernah kau menemuinya setelah itu?”

“Sekali. Dia menolak bicara dengan saya.”

Nada Sari tidak berubah, tetapi jemarinya menahan ujung map sedikit lebih kuat.

Aku seharusnya tidak merasa memiliki hak menilai dirinya. Aku sudah melakukan hal yang sama, bahkan lebih lama, kepada perempuan yang kucintai. Kesamaan alasan justru membuatku lebih keras, bukan lebih lunak.

“Kau mengumpulkan bukti tanpa memberi korban pilihan untuk menjadi bagian dari rencanamu,” kataku.

Sari tersenyum tipis. “Iya.”

Aku menahan jawaban.

Ia tidak sedang membela diri. Ia sedang memperlihatkan bahwa orang dapat menentang sistem sambil tetap meniru cara kerja sistem tersebut.

“Bagaimana Aditya terlibat?” tanya Damar.

“Dia menemukan rekening Titik Damai dalam audit. Awalnya dia mengira saya menerima suap. Marisa mempertemukan kami. Setelah melihat catatan asli, dia mulai menelusuri rumah, sekolah, dan bantuan hukum yang dapat dicabut.”

“Laksmi tahu?” tanyaku.

“Belakangan.”

“Kapan kau mengenalnya?”

“Setelah Aditya meninggal.”

Sari membuka map kedua. Isinya surat-surat Laksmi, daftar perempuan yang perlu dihubungi, serta rencana membangun jalur bantuan yang tidak dapat dicabut jika korban berbicara. Beberapa istilah yang kelak menjadi dasar Lingkar Aman sudah muncul di sana.

TEMANI.

JEMPUT.

PERCAYA.

Nama Nadira belum tercantum.

“Laksmi ingin membuat sistem tandingan,” kata Sari. “Bantuan yang benar-benar menjadi milik penerima. Rumah atas nama korban. Pengacara yang tidak dibayar lawan. Dana yang tidak dapat dihentikan hanya karena seseorang bicara.”

“Tapi akhirnya jadi pengawasan,” kata Elsa.

“Setelah Laksmi takut bukti Aditya akan membuat Nadira menjadi sasaran.”

“Dan kau membantunya memilih orang-orang di sekitar Nadira?”

“Saya memberi nama lembaga bantuan, psikolog, serta mediator. Saya tidak memilih sahabat atau pengemudi.”

“Apakah kau dibayar?”

“Tidak.”

“Biaya rumah baca ini?” tanyaku.

“Donasi publik dan honor pelatihan. Kalian boleh memeriksa seluruh rekening.”

Ia sudah membawa salinannya.

Selama bertahun-tahun aku percaya setiap orang yang bertahan dalam konflik keluarga kami memiliki harga. Bahkan ketika tidak melihat transaksi, aku menganggap hanya belum menemukan jalurnya. Sari tidak sesuai dengan cara pikirku selama ini. Ia membantu Laksmi, menyimpan bukti Aditya, dan mendampingi Nadira tanpa menerima uang.

Itu seharusnya membuatku lega.

Sebaliknya, aku merasa terancam oleh sesuatu yang tidak dapat kubeli, hentikan, atau pahami melalui daftar transaksi.

Sari memandangku seperti tahu.

“Anda datang mencari bukti bahwa saya juga bagian dari sistem,” katanya.

“Aku datang mencari kebenaran.”

“Tidak. Anda berharap saya juga bisa dibeli. Kalau begitu, kesalahan Anda tidak terasa sendirian.”

Aku tetap diam.

Ia benar.

Elsa meminta daftar bukti yang masih disimpan. Sari menyerahkan salinan korespondensi dengan Marisa, rekaman dua pertemuan Aditya, dan pernyataan mengenai tujuh perkara lama. Berkas asli berada di tiga lokasi berbeda dan hanya akan dibuka kepada Damar, auditor, serta aparat bila perlindungan sumber sudah siap.

“Aku bisa menyediakan perlindungan,” kataku.

Sari langsung menggeleng. “Tidak.”

“Jaringan Surya sedang mencari Marisa.”

“Justru karena itu saya tidak akan memberi Anda lokasinya.”

“Aku sudah menyerahkan bukti terhadap ayahku.”

“Anda juga pernah menyerahkan lokasi Nadira kepada sistem yang Anda bangun.”

“Itu berbeda.”

“Mungkin Anda juga dulu merasa sedang melindungi.”

Aku memilih kata-kata dengan hati-hati. “Apa yang membuatmu percaya kepada Damar?”

“Nadira memilihnya.”

Jawaban itu mengakhiri perdebatan.

Sari tidak mempercayaiku. Itu bukan masalah. Kepercayaan memang tidak bisa kutuntut hanya karena aku sudah melakukan beberapa hal yang benar.

Aku mengangguk. “Serahkan hanya kepada pihak yang Nadira setujui.”

Sari tampak sedikit terkejut, tetapi tidak memujiku.

Pertemuan hampir selesai ketika ia membuka map ketiga.

“Ini tidak berkaitan langsung dengan perkara Ratri,” katanya. “Tapi berkaitan dengan alasan Nadira pernah menganggap saya mentornya.”

Aku melihat logo seminar pada halaman pertama.

Seminar Mediasi Keluarga Enam Tahun Lalu.

Tempat pertama aku bertemu Nadira.

“Panitia meminta saya merekomendasikan pembicara muda,” lanjut Sari. “Saya mengirim nama Nadira karena pekerjaannya memang layak. Dua hari kemudian, susunan sesi diubah oleh pihak sponsor.”

Ia menyerahkan salinan surel kepada Elsa, bukan kepadaku.

Alamat surel pengirimnya adalah milikku.

Aku sudah tahu bahwa aku pernah meminta sesi Nadira dipindahkan. Aku juga sudah mengaku mengatur lokasi dan jadwal. Dokumen Sari lebih rinci daripada salinan yang kusimpan.

Ada denah ruangan, nomor kursi, jam kedatangan, dan instruksi kepada panitia agar kursi tamu sponsor ditempatkan tepat di samping Nadira setelah sesi berakhir.

Sari menunjuk kalimat terakhir.

“Ini bukan permintaan yayasan. Bukan perintah Laksmi. Anda yang menulisnya sendiri.”

Aku membaca surel yang dikirim enam tahun lalu dari akun pribadiku.

Pastikan kursi saya berada di sebelah Nadira Sasmita. Ciptakan kesempatan bicara yang terlihat wajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!