Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin yang Tidak Memantulkan
Fajar di Hutan Provinsi Hutan tidak datang dengan cahaya emas yang hangat. Ia merayap masuk melalui celah-celah kanopi pohon raksasa seperti kabut perak yang dingin, menerangi akar-akar pohon yang menjalar di tanah seperti ular tidur. Udara pagi itu lembap dan berat, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua—aroma waktu yang terkubur.
Ren Zexian sudah bangun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia duduk bersila di bawah naungan akar pohon tempat mereka bermalam, matanya terbuka namun kosong, menatap kegelapan yang perlahan memudar. Di pangkuannya, Lin masih tertidur pulas, napasnya teratur dan damai. Pola perak di dada Ren berdenyut lambat, selaras dengan napas adiknya, sebuah ritme baru yang aneh namun menenangkan dalam kekacauan hidup mereka.
Hari ini adalah hari ujian. Bukan ujian kekuatan fisik, bukan ujian kecepatan atau ketepatan goresan kaligrafi. Elara menyebutnya ujian "pemahaman". Bagi Ren, yang seluruh hidupnya dibangun di atas fondasi penghancuran struktur yang salah, kata itu terasa asing, bahkan mengancam. Bagaimana cara mengalahkan bayangan tanpa menghancurkannya? Itu adalah paradoks yang membuat kepalanya pening.
Ia membangunkan Lin dengan lembut. Gadis kecil itu membuka matanya, cincin perak di irisnya berkilau samar dalam cahaya fajar yang redup.
"Siap?" tanya Ren singkat.
Lin mengangguk, meski wajahnya menunjukkan kecemasan yang ia coba sembunyikan. Ia memegang tangan Ren erat-erat, jari-jari kecilnya dingin.
Mereka mengikuti petunjuk Elara, menyusuri jalur sempit yang ditandai oleh lumut bercahaya biru pucat. Jalur itu menuntun mereka semakin dalam ke jantung hutan, di mana pohon-pohon menjadi lebih besar, lebih gelap, dan lebih menakutkan. Suara hewan-hewan malam telah lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekik. Bahkan angin pun tampak menahan napas.
Setelah satu jam berjalan, mereka mencapai sebuah clearing bundar yang sempurna. Di tengahnya, terdapat sebuah altar batu hitam yang terbuat dari satu lempengan obsidian raksasa. Di atas altar, tidak ada patung dewa atau simbol klan. Hanya ada sebuah cermin besar berbingkai kayu akar yang melilit, permukaannya gelap dan berputar-putar seperti air raksa.
Ini adalah Altar Akar Tua.
Elara sudah menunggu di samping altar. Wajahnya serius, tongkat kayunya ditanamkan kuat di tanah.
"Selamat datang," katanya, suaranya bergema rendah di clearing yang sunyi. "Di sinilah kalian akan menghadapi kebenaran diri kalian."
Ren melangkah maju, melepaskan genggaman Lin. "Apa yang harus kami lakukan?"
"Masuklah ke dalam cermin," jawab Elara. "Keduanya. Bayangan kalian tidak terpisah dari jiwa kalian. Untuk menyembuhkan Lin, kau harus menerima bagian dirimu yang paling kau benci. Dan untuk menyelamatkan kakakmu, Lin harus memahami bahwa kegelapan bukan musuh, tapi bagian dari keseimbangan."
Ren menatap permukaan cermin yang berputar itu. Ia merasa jijik, takut. Mata Void-nya melihat struktur cermin itu sebagai portal energi yang tidak stabil, sebuah jebakan psikologis tingkat tinggi. Tapi ia tidak punya pilihan.
"Ayo, Lin," kata Ren, suaranya tegas meski hatinya berdebar kencang.
Mereka berdua menyentuh permukaan cermin secara bersamaan. Dingin. Sangat dingin. Lalu, dunia di sekitar mereka larut.
Ren berdiri di tengah ruang putih tanpa batas. Tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya kehampaan putih yang menyilaukan. Di hadapannya, berdiri sesosok figur.
Itu adalah dirinya sendiri. Tapi bukan Ren yang ia kenal. Sosok itu mengenakan jubah hitam compang-camping, wajahnya penuh dengan bekas luka dan ekspresi kebencian murni. Matanya... matanya tidak hampa. Matanya terbakar dengan api kemarahan yang liar, merah darah dan ganas. Ini adalah Ren yang telah menyerah pada rasa sakitnya. Ren yang percaya bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menghancurkan segala sesuatu di depannya.
"Kau lemah," kata Bayangan Ren, suaranya kasar dan penuh ejekan. "Kau mencoba menjadi pelindung, tapi kau hanya beban. Lihat Lin. Dia menderita karena kau. Dia retak karena darah kita. Jika kau benar-benar mencintainya, kau akan menghabisinya sekarang. Memberinya kedamaian akhir. Menghapus rasa sakitnya selamanya."
Ren mengepalkan tinjanya. Kata-kata itu adalah racun yang ia simpan di sudut terdalam pikirannya selama bertahun-tahun. Rasa bersalah bahwa ia tidak bisa melindungi orang tuanya. Rasa bersalah bahwa ia membawa kutukan ini kepada Lin.
"Tidak," kata Ren, suaranya gemetar. "Aku tidak akan membunuhnya."
"Kenapa?" desak Bayangan itu, melangkah maju. Aura kemarahannya menekan Ren, membuat dadanya sesak. "Karena egoismu? Karena kau ingin merasa seperti pahlawan? Kau tahu kebenarannya. Kau hanyalah pemulung sampah yang berpura-pura menjadi ksatria."
Bayangan itu menyerang. Tinjunya cepat, keras, dipenuhi dengan Qi kemarahan yang korosif. Ren menghindar, menulis karakter "Belok" di udara, tapi bayangan itu menembus ilusi tersebut seolah-olah itu hanyalah asap.
KRAK!
Tinju bayangan itu menghantam rahang Ren. Rasa sakitnya nyata. Darah mengalir dari mulutnya.
"Terima saja!" teriak Bayangan itu, menyerang lagi. "Terima bahwa kau rusak! Terima bahwa kau monster!"
Ren terjatuh ke lutut. Ia lelah. Secara mental dan fisik. Bayangan itu terus memukul, setiap pukulan adalah ingatan menyakitkan: wajah Lin yang pucat, tawa Elder Han yang sinis, kematian orang tuanya.
Aku monster, pikir Ren. Mungkin dia benar.
Tapi kemudian, ia merasakan sesuatu. Sebuah kehangatan kecil di dadanya. Pola perak itu berdenyut. Dan melalui koneksi batin mereka, ia merasakan kehadiran Lin. Bukan Lin yang lemah, tapi Lin yang kuat. Lin yang menenangkan Hollow Walker. Lin yang menerima kegelapan dan mengubahnya menjadi cahaya.
Dia tidak menghakimi aku, pikir Ren. Dia mencintaiku apa adanya.
Ren mengangkat kepalanya. Ia menatap Bayangan Ren yang sedang menyiapkan pukulan terakhir. Alih-alih melawan, alih-alih menulis karakter serangan, Ren melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia membuka lengannya lebar-lebar.
"Pukul aku," kata Ren tenang.
Bayangan itu terhenti, kebingungan. "Apa?"
"Aku terima," kata Ren, air mata mengalir di pipinya. "Aku terima bahwa aku lemah. Aku terima bahwa aku penuh rasa bersalah. Aku terima bahwa aku rusak. Tapi itu tidak berarti aku jahat. Itu berarti aku manusia. Dan manusia... manusia bisa berubah."
Bayangan itu menatap Ren, api di matanya berkedip ragu. Perlahan-lahan, wujudnya mulai berubah. Kebencian di wajahnya melunak, digantikan oleh kesedihan yang mendalam. Api merah di matanya padam, digantikan oleh warna hampa yang familiar—warna mata Ren yang asli.
Sosok itu tidak menyerang lagi. Ia mendekat, lalu melebur ke dalam tubuh Ren. Tidak ada ledakan. Tidak ada rasa sakit. Hanya perasaan lengkap. Seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.
Ruang putih itu runtuh, digantikan oleh kegelapan yang hangat.
Ren membuka matanya. Ia kembali berada di depan cermin di Altar Akar Tua. Napasnya berat, keringat membasahi dahinya. Di sampingnya, Lin juga baru saja membuka matanya, wajahnya pucat tapi tersenyum tipis.
Elara menatap mereka, ekspresinya tidak terbaca. Lalu, ia tersenyum. Senyuman yang tulus dan lega.
"Kalian berhasil," katanya.
Dari balik cermin, sebuah tunas kecil muncul. Tunas itu berwarna hijau zamrud cerah, berkilau seperti giok. Dengan cepat, ia tumbuh menjadi bunga kecil dengan lima kelopak perak. Daun Kebalisan. Atau lebih tepatnya, Bunga Kebalisan.
Elara memetik bunga itu dengan hati-hati, memberikannya kepada Ren. "Ini akan menstabilkan energi Lin. Tapi ingat, ini bukan obat ajaib. Ini hanya alat. Keseimbangan sejati harus dijaga setiap hari, melalui penerimaan dan cinta, bukan melalui paksaan."
Ren mengambil bunga itu, tangannya gemetar. Ia menoleh ke Lin. "Kita melakukannya, Lin."
Lin mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Kita bersama, Kak."
Mereka berbalik untuk pergi, meninggalkan altar dan cermin itu. Tapi saat mereka melangkah keluar dari clearing, Ren merasakan tatapan dari kejauhan. Di antara pepohonan gelap, sepasang mata berwarna merah darah sedang mengamati mereka. Mata Anjing Darah.
Elder Han telah menemukan mereka.
Ren menggenggam bunga itu erat-erat. Ujian telah selesai. Tapi perburuan belum berakhir. Kini, mereka memiliki alat untuk menyelamatkan Lin. Sekarang, saatnya untuk memastikan mereka cukup kuat untuk mempertahankannya.
"Mari kita pulang," kata Ren, suaranya kini berbeda. Lebih tenang. Lebih utuh.
Mereka menghilang ke dalam kegelapan hutan, membawa serta harapan baru, dan bayangan lama yang akhirnya diterima sebagai bagian dari diri mereka.