NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - SIAPA NAMA PRIA ITU SEBENARNYA?

Semenjak malam Sumpah Sejiwa itu, Kirana merasa langit Provinsi Seruni tidak lagi setenang dulu. Setiap kali Gelang Lentera di pergelangan tangannya berbunyi, hatinya selalu mengetar — entah karena harap, entah karena cemas, ia sendiri tidak sanggup membedakannya.

Malam itu ia berdiri di ambang jendela kamarnya, menatap lentera-lentera kota yang menyala jauh di bawah. Di benaknya, satu nama terus berputar: Danendra Prasaja. Pemuda yang semestinya menjadi suaminya, tetapi melarikan diri demi gadis lain di hari paling sakral.

"Bukankah lebih baik begini saja?" gumamnya pelan, seolah meyakinkan diri sendiri. "Ia mendapat kebebasannya, dan aku mendapat... pria yang entah bagaimana mempertemukannya dengan takdirku." Ia tertawa kecil, pahit, lalu duduk di tepi ranjang, membiarkan gelang di pergelangannya berkilau redup terkena cahaya rembulan.

Sebagai putri keluarga Wijaya yang mengelola rumah makan termasyhur, Kirana tahu betul bahwa di Era Kekaisaran Cakrawala, sayur dan buah segar adalah barang langka nan mewah. Hanya keluarga terpandang yang mampu menikmatinya, sementara rakyat biasa hanya memenuhi kebutuhan tubuh dengan ramuan dasar. Maka tidak mengherankan bila sepanci sayur segar di meja keluarga Wijaya selalu menjadi buah bibir para tamu.

Keluarga Prasaja, melalui Kompanye Angin milik mereka, memegang kunci kelancaran itu. Kapal-kapal terbang mereka mengangkut rempah dan sayur dari berbagai penjuru untuk keluarga Wijaya, sedangkan keluarga Wijaya menjadi pelanggan besar yang membuat roda usaha Prasaja tetap berputar. Armada itu lalu-lalang di angkasa Provinsi Seruni setiap pekannya, memastikan dapur-dapur keluarga Wijaya tidak pernah kehabisan bahan. Kedua keluarga itu bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Maka wajar bila kedekatan keduanya selama bertahun-tahun terasa begitu erat. Namun kini, gara-gara pernikahan dua anak muda yang berakhir berantakan, hubungan yang telah dijalin selama itu retak di tengah jalan. Sebuah ikatan yang dibangun berlapis-lapis ternyata dapat goyah hanya oleh satu hari yang keliru.

Kirana teringat malam ia pertama kali bertemu Rangga dalam krisis — bagaimana pemuda itu menggenggam tangannya sepenuh harap, begitu berbeda dengan bayangan Danendra yang kini berbicara seolah semua kesalahan kembali kepadanya. "Takdir memang penuh perhitungan," desahnya pelan.

Ia menghela napas panjang, lalu membuka catatan nama di dalam Gelang Lentera. Jarinya berhenti sejenak di atas nama Danendra Prasaja, sebelum akhirnya menyambungkan panggilan itu.

Baru saja tersambung, nada kesal langsung menyerbu dari seberang: "Rara, kenapa kau menikahi orang lain?!"

"Rara?" Panggilan mesra yang dulu selalu terasa hangat itu kini terdengar asing di telinganya, seperti keluar dari mulut orang yang tidak ia kenal. Kirana menahan senyum pahit di sudut bibirnya.

"Danendra, kalau aku tidak menikahi orang lain, aku akan dijodohkan dengan pria asing secara acak oleh Arsip Agung. Kau yang melepaskanku, apa hakmu mempertanyakan pilihanku?"

Danendra tampak dilanda pasang-surut perasaan yang rumit. Lama kemudian, barulah terdengar suaranya yang tertahan: "Aku punya kesulitanku sendiri. Aku tidak tega melihat orang yang kusayangi tergeletak begitu saja. Sudahlah, salahku tidak kembali tepat waktu. Rara, ceraikan pria itu. Aku tidak membencimu." Kata-kata itu terdengar begitu enteng, seolah-olah ia tidak pernah menjadi orang yang kabur di hari pernikahannya sendiri.

Kirana benar-benar tercengang mendengar semuanya. Pria ini tebal muka sekali! Ia yang mengingkari janji, menelantarkan pengantinnya di hari pernikahan, kini berani memintanya menceraikan suami sahnya?

"Kenapa kau tidak bertanya lebih dulu, apakah aku membencimu?" balas Kirana dingin.

Danendra agak bingung. Ia selalu menganggap hubungan keduanya berjalan baik, maka ia berkata dengan penuh kepastian: "Kemarin kau meminta bantuan orang itu, kan?"

Kirana tidak menjawab. Mustahil ia menyingkap jati diri Rangga — Panglima Kabut yang menjadi momok di setiap medan perang — kepada pria di seberang sana, apalagi kini keduanya telah terikat Sumpah Sejiwa yang tidak mungkin diingkari.

Ia justru melontarkan pertanyaan lain: "Di mana Sekar sekarang?" Kirana ingin tahu ke mana sebenarnya arah hati pria itu selama ini.

"Sekar ikut kembali ke Provinsi Seruni bersamaku tadi pagi. Rara, biarkan aku menemuimu sekarang. Aku akan menemanimu menceraikan pria itu, lalu kita menikah lagi."

Kirana hampir tersedak oleh amarah. "Kau ingin menikah, silakan menikah dengan Sekar saja! Baiklah, kalau kau tidak mau membahas rumah makan keluarga Wijaya, tutup panggilan saja!"

Hati Kirana sedikit lega setelah melampiaskan amarahnya. Dulu, ia sempat menduga bahwa Danendra dan Sekar diam-diam saling menyimpan rasa. Kalau keduanya benar-benar saling mencintai, ia ikhlas merestui, sebab pernikahan yang dipaksakan hanya akan menciptakan dua orang yang sengsara.

"Bagaimanapun, pria yang tidak bertanggung jawab dan gadis yang pandai memainkan perasaan adalah pasangan yang serasi," kecamnya dalam hati sambil menggelengkan kepala.

"Tetapi siapa yang menyangka Danendra malah berani datang mengungkit hal ini, seolah-olah akulah yang bersalah! Ia meninggalkan pesta, lalu menuntutku kembali dengan kepala tegak? Cukup sudah!"

Pada saat itu, Gelang Lentera di pergelangan tangan Kirana berbunyi lagi.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyalak: "Danendra, apa kau tidak malu? Kau melepaskanku demi Sekar, sekarang kau ingin menikahiku lagi. Apa maksudmu? Apa kau ingin memeluk kami bergantian, menikahi dua-duanya?"

"Siapa yang ingin memeluk dua-duanya?" Suara dingin dan rendah itu menyergap dari seberang, membuat bulu kuduk Kirana berdiri.

Kirana tertegun! Suara itu agak akrab, tetapi juga terasa asing.

Ia buru-buru menunduk ke Gelang Lentera. Nama yang tertera di sana membuat kedua matanya melebar seketika: Rangga Adinata.

Jemarinya gemetar, dan tanpa sadar sederet tanda seru meluncur ke seberang sebelum ia sempat berpikir.

"Kirana?" Suara Rangga memanggilnya lagi dari seberang, nada dinginnya sedikit mencair.

"Di sini!" Jawaban itu keluar begitu saja, bagai refleks yang tidak sempat ia tahan. Kirana menyesal seketika setelah mengatakannya. Tetapi setelah dipikir-pikir, bukankah ia telah melakukan hal yang jauh lebih memalukan lagi kepada Rangga semalam? Jadi, jawaban sekecil ini tidak ada apa-apanya.

"Sudahlah, biarkan saja..." Kirana pasrah, merasa tidak perlu lagi memperbaiki apa-apa di depan pria itu.

Rangga di seberang tidak berkata apa-apa. Entah ia tenggelam dalam pikirannya, atau memang terkejut oleh jawaban Kirana yang keluar begitu polosnya, hingga tidak sepatah kata pun terdengar dari seberang untuk beberapa saat.

Kirana benar-benar tertekan. Ia berkata terus terang: "Panglima, maafkan aku. Semalam aku terlalu terburu-buru mencari orang untuk dinikahi, maka aku melakukan hal itu. Kalau kau tidak menyukainya, kita bisa segera bercerai, dan aku akan menebus kesalahanku. Adapun Masa Api Darahmu..."

Panggilan terputus di tengah kalimat.

Hening di kedua ujung panggilan itu.

Kirana menatap gelang yang mulai meredup, jari-jarinya masih menahan kejang. Kata-katanya tadi terlanjur terucap, dan ia tidak yakin apakah hal itu membuat segalanya semakin rumit.

Kunang, roh pendamping kecil yang berdiam di dalam Gelang Lentera, berkata dengan penuh perhatian: "Nyonya, Tuan telah menutup panggilannya."

"Aku tahu!" jawab Kirana tanpa ekspresi.

"Lagi pula, siapa sebenarnya nama pria itu? Kenapa kau memanggilnya 'Tuan' padahal aku sendiri belum mengenalnya sama sekali?"

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!