NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : Bunga Malam dan Warung Kecil Di Ujung Desa

Dua minggu berlalu sejak kotak kayu jati milik Nyai Seruni hangus menjadi abu di halaman rumah. Kehidupan Desa Karang Tumpuk perlahan kembali bergulir seperti sedia kala. Tidak ada lagi angin malam berbau empedu pecah, tidak ada lagi bisikan ghaib dari bawah lantai papan, dan yang paling penting, tidak ada lagi warga yang harus melintasi rumah tua itu sambil mengetatkan sarung karena ketakutan.

Pagi itu, udara segar memenuhi teras rumah panggung yang kini sudah dibersihkan total oleh Sari. Bekas bak tembaga penyimpan air kembang tujuh rupa milik bibinya kini telah beralih fungsi menjadi pot besar berisi tanaman cabai rawit yang tumbuh subur dan berbunga putih.

"Sari! Cabai rawitmu sudah bisa dipetik belum?" panggil Pak Karto, Pak RT yang pagi itu lewat sambil mengayuh sepeda ontel tuanya.

Sari terkekeh sambil menyapu dedaunan kering di halaman. "Sebentar lagi, Pak RT! Nanti kalau sudah merah, saya antarkan ke rumah untuk bumbu sambal Bu RT."

"Hahaha, mantap itu! Oya, bagaimana warung makan barumu? Jadi buka hari ini?"

"Jadi, Pak! Nanti siang mampir ya, ada soto ayam kampung hangat!" seru Sari penuh semangat.

Pak Karto mengacungkan jempolnya lalu kembali mengayuh sepedanya. Suasana ceria itu membuat dada Sari terasa hangat. Sangat berbeda dengan atmosfer kelam yang bertahun-tahun menghantuinya saat Nyai Seruni masih hidup dan sibuk meracik ramuan petunduk di dalam kamar gelap.

Namun, membuka lembaran baru tidak selamanya berjalan mulus tanpa gangguan kecil yang menggelitik.

Siang harinya, warung makan kecil yang didirikan Sari di samping rumah panggung mulai didatangi beberapa warga desa. Dengan modal sisa tabungannya yang halal, Sari mencoba menyambung hidup secara wajar tanpa bergantung pada peninggalan haram bibinya.

Di sudut warung, duduk Marno—sang pande besi yang kini tampak jauh lebih tenang. Tangan kanannya yang cacat masih melengkung, tetapi raut wajah penuh kebencian yang dulu melingkupinya kini telah luntur. Di samping Marno, duduk seekor kera hitam yang sangat familiar.

Ya, kera hitam dari Hutan Larangan itu rupanya menolak untuk pulang ke hutan. Kera itu secara resmi telah menjadi "karyawan tidak tetap" di warung makan Sari. Kera yang kini diberi nama Si Mbah oleh warga desa itu bertugas mengelap meja kayu menggunakan kain lap basah.

"Sari, ini pembantumu lap mejanya agak kebangetan bersihnya," celetuk Marno sambil menunjuk Si Mbah yang sedang menggosok meja kayu sampai kinclong.

Si Mbah tidak sekadar mengelap meja; ia menggosok permukaan kayu itu dengan dedikasi tinggi bagaikan montir menggosok mesin mobil. Begitu melihat ada sisa kuah soto menetes, Si Mbah melotot, menepuk meja dengan gaya dramatis, lalu mengelapnya lagi dengan gerakan memutar yang sangat cepat.

Uuk! Uuk! (Sambil menunjuk Marno seolah berkata: “Makan yang rapi, dong!”)

"Hahaha! Maaf ya, Mbah!" tawa Marno pecah. Pelanggan warung yang lain ikut tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kera tersebut. Siapa sangka, kera yang dulu pingsan terkena gas beracun Nyai Seruni kini menjadi ikon hiburan Desa Karang Tumpuk.

Namun, di tengah gelak tawa warga, pintu gerbang warung mendadak berderit. Seorang perempuan paruh baya dengan pakaian mentereng dan perhiasan emas menumpuk di leher serta jemarinya melangkah masuk dengan angkuh.

Dialah Bu Tejo, orang kaya baru dari desa tetangga yang terkenal akan sifat ria (pamer) dan lidahnya yang tajam. Bu Tejo datang mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas lipat sutra.

"Aduh... baunya bau gorengan murah," cibir Bu Tejo sambil melirik sekeliling warung. "Sari! Mana makanan yang paling mahal di sini? Aku mau beli, tapi ingat ya, mangkuknya harus yang bersih! Jangan sampai ada kuman bekas dukun tua itu!"

Suasana warung mendadak hening. Warga yang sedang makan saling pandang dengan riap muka tidak senang. Marno mengerutkan kening, sementara Sari hanya tersenyum tipis, mencoba menahan diri untuk tetap sabar.

"Soto ayam kampungnya hangat, Bu Tejo. Mangkuknya dijamin bersih dan sudah dicuci pakai air mengalir," jawab Sari ramah sambil menyodorkan semangkuk soto ayam berkuah kuning keemasan.

Bu Tejo duduk di salah satu bangku kayu. Ia menyendok kuah soto itu sedikit, menyicipinya dengan ujung lidah, lalu mendengkus mencibir.

"Pffft! Biasa saja. Soto begini mah tidak ada apa-apanya dibanding soto langgananku di kota! Lagipula, kamu ini yakin tidak pakai penglaris warung bekas bibimu?" tuduh Bu Tejo tanpa rasa bersalah. "Orang-orang kan tahu, Nyai Seruni itu punya simpanan jin penglaris. Siapa tahu tempat makanmu ini ramai karena ludah jin!"

Kata-kata Bu Tejo sangat menyinggung dan tidak sopan. Sari menghela napas panjang, mengepalkan tangannya di balik celemek. Sebelum Sari sempat menjawab, Si Mbah sang kera hitam rupanya sudah tidak tahan melihat keangkuhan Bu Tejo.

Si Mbah berjalan pelan dari balik dapur. Di tangannya, ia memegang sebuah gayung kecil berisi air cuci piring bekas benturan bumbu yang berwarna agak keruh.

Dengan gerakan tanpa suara bagaikan ninja hutan, Si Mbah naik ke atas rakitan bambu di atas kepala Bu Tejo. Tepat saat Bu Tejo membuka mulutnya lebar-lebar untuk kembali mencerca:

"Lagipula ya, kalau bukan karena bekas dukun, mana mun—"

Pyaar!

Si Mbah menyiramkan air cuci piring tepat ke atas sanggul besar Bu Tejo. Air keruh itu mengalir deras merusak tatanan rambutnya, membasahi wajahnya yang penuh bedak tebal, dan menetes anggun dari ujung hidungnya.

"Kyaaaa! Air apa ini?!" jerit Bu Tejo histeris sambil melompat dari kursi. Sanggul indahnya kini melempem bagai kerupuk tersiram kuah.

Si Mbah duduk santai di atas rakitan bambu sambil mengunyah pisang, lalu melambaikan tangan dengan wajah polos tanpa dosa: "Uuk! Uuk!"

Seluruh pengunjung warung—termasuk Marno dan Pak Karto—meledak dalam tawa yang tidak bisa ditahan lagi. Suasana warung menjadi sangat riuh. Bu Tejo yang merasa sangat malu dan basah kuyup akhirnya berlari keluar warung sambil memegangi sanggulnya yang miring, diiringi gelak tawa hangat warga desa.

"Mbah! Kamu ini ada-ada saja!" bisik Sari sambil menepuk jidatnya, namun tak mampu menahan senyum geli di bibirnya.

Ketika sore menjelang dan pelanggan warung mulai surut, sebuah delman tua berhenti di depan rumah. Dari dalam delman, turun seorang perempuan tua dengan pakaian batik bersahaja. Matanya yang buta sebelah tertutup kain halus, sementara tangan sebelahnya memegang tongkat kayu.

Itu adalah Mbok Sumi.

Sari bergegas berlari menyambutnya. "Mbok Sumi! Mari, Mbok... biar Sari tuntun."

Mbok Sumi tersenyum lembut, meraba tangan Sari. "Tidak usah terlalu cemas, Nak Sari. Mataku yang sebelah masih bisa melihat indahnya sore ini."

Mbok Sumi duduk di teras rumah panggung, memandangi halaman yang kini diterpa cahaya matahari terbenam. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma kegelapan di tempat itu. Angin sore membawa wangi bunga melati dan aroma tanah yang segar.

"Rumah ini... akhirnya bernapas," gumam Mbok Sumi pelan.

"Semua ini berkat bantuan Mbok Sumi, Kang Marno, dan Nyi Pertiwi yang sudah mau memaafkan Nyai Seruni," kata Sari tulus sambil menyodorkan secangkir teh hangat.

Mbok Sumi menggeleng pelan. "Kami hanya membukakan pintu, Sari. Yang merobohkan tembok kegelapan itu adalah ketulusan hatimu sendiri. Kalau bukan karena keberanianmu menyeret bibimu untuk bertobat, mungkin rumah ini masih menjadi sarang kutukan."

Mbok Sumi meminum tehnya perlahan, lalu menatap Sari dengan mata sehatnya yang penuh kearifan.

"Sari, ketahuilah... dalam hidup ini, penyakit paling berbahaya bukanlah racun yang diminumkan ke tubuh, melainkan racun yang kita biarkan tumbuh di dalam raga kita sendiri yaitu sifat iri, dengki, dan kesombongan."

Kejadian yang dialami oleh Bu Tejo yang sombong dan menuduh tanpa bukti, serta kisah perjalanan hidup Nyai Seruni yang telah usai, menyisakan sebuah nasehat penting bagi kita semua tentang bahaya kesombongan dan buruk sangka (fitnah).

Janganlah kita merasa lebih tinggi, lebih kaya, atau lebih suci dari orang lain hingga dengan mudah merendahkan usaha halal sesama dan menuduh mereka dengan prasangka buruk. Kesombongan hanya akan mendatangkan kehinaan bagi pelakunya, baik melalui cara yang tak terduga di dunia maupun pembalasan yang adil di akhirat.

Allah SWT melarang keras hamba-Nya untuk bersikap sombong dan membanggakan diri di atas bumi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."

(QS. Luqman: 18)

Malam kembali turun di Desa Karang Tumpuk. Namun kali ini, tidak ada lagi ketakutan yang mencekam. Di teras rumah panggung tua itu, Sari, Mbok Sumi, dan Si Mbah si kera hutan duduk menikmati angin malam yang sejuk.

Di tempat pemakaman desa yang jauh di sana, tanah bumi telah merengkuh jasad Seruni dalam kedamaian. Dosa masa lalunya telah menjadi pelajaran berharga bagi seluruh warga desa: bahwa dengki hanya akan membusukkan raga, sementara maaf dan ketulusan hati adalah satu-satunya obat yang sanggup menyembuhkan jiwa.

- TAMAT -

Tapi bohong, ☺️

Terima kasih, masih membaca cerita ini.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!