Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti wilayah timur Jurang Kematian Naga. Ketiga jenius Pelataran Dalam Sekte Pedang Azure itu masih terpaku di tanah, menatap gundukan kulit kering raksasa yang beberapa detik lalu adalah monster Tingkat Lima.
"T-tingkat lima awal... dibelah hanya dengan satu ayunan pedang mentah..." Lei Luo bergumam, rahangnya nyaris menyentuh tanah.
Chu Feng menelan ludah dengan susah payah, segera bangkit dan menepuk debu dari jubahnya. Ketakutannya pada sang kapten kini telah bermutasi menjadi sebuah fanatisme buta. Ia memberi isyarat pada Mu Qing dan Lei Luo untuk membedah kepala kadal-kadal itu dan mengambil inti monsternya. Saat Chu Feng mencongkel inti monster dari Raja Kadal, ia menyadari tidak ada setetes pun darah yang tersisa di sana. Pedang hitam raksasa milik Ye Xuan telah menghisapnya hingga tandas.
"Selesai, Kapten," lapor Chu Feng sambil menyerahkan inti monster seukuran kepalan tangan yang memancarkan energi pekat kepada Ye Xuan.
Ye Xuan hanya meliriknya sekilas. "Simpan saja. Benda fana bermutu rendah seperti itu tidak berguna bagiku. Gunakan untuk memulihkan Qi kalian, karena tekanan di depan sana akan puluhan kali lipat lebih berat dari tempat ini."
Tanpa membuang waktu, Ye Xuan kembali melangkah menembus kabut hijau kehitaman.
Semakin jauh mereka bergerak ke arah timur, pemandangan berubah drastis. Tanah merah karat berangsur-angsur menjadi ungu kehitaman, lengket, dan memancarkan suhu panas yang tidak wajar. Tulang belulang yang berserakan tidak lagi berasal dari monster-monster biasa. Beberapa rusuk raksasa melengkung tinggi menembus kabut menyerupai pilar-pilar kuil kuno.
Gravitasi di zona ini meningkat tajam. Jika di luar jurang berat tubuh mereka adalah standar, di sini tekanannya menyerupai mengenakan baju besi seberat seribu kati. Mu Qing mulai terengah-engah, dan keringat membanjiri wajah Lei Luo. Bahkan Chu Feng harus memutar Qi Bintang Tiga-nya hingga batas maksimal hanya untuk mengangkat kakinya.
Namun, yang paling mengerikan adalah Miasma Naga. Kabut racun itu kini telah memadat menjadi tetesan-tetesan cairan asam yang melayang di udara. Setiap kali tetesan itu mengenai perisai Qi Chu Feng dan yang lainnya, terdengar suara desisan keras, menggerus energi mereka dengan sangat cepat.
Sebaliknya, Ye Xuan berjalan dengan postur sempurna. Pakaian hitamnya yang terbuat dari sutra ulat emas memang tahan terhadap korosi tingkat rendah, namun yang sebenarnya menetralisir miasma itu adalah pusaran tak kasat mata di sekeliling tubuhnya. Benih Naga di Dantiannya terus menghisap sisa-sisa aura purba dari udara dengan rakus.
"Kapten..." Mu Qing berbicara dengan suara bergetar. "Perisai Qi kami akan hancur dalam waktu kurang dari satu jam jika miasma ini terus menebal. Apa sebenarnya yang kita cari di wilayah mati ini?"
Ye Xuan menghentikan langkahnya di puncak sebuah bukit yang terbentuk dari tengkorak binatang raksasa. Ia mendongak ke depan.
"Kita sudah sampai," ucapnya pelan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman buas yang jarang ia perlihatkan.
Chu Feng dan yang lainnya memaksakan diri naik ke puncak bukit dan melihat ke bawah. Pemandangan di hadapan mereka membuat napas mereka tercekat.
Di bawah bukit tersebut, terdapat sebuah lembah kawah yang sangat luas. Di tengah kawah, bukan sekadar tulang belulang, melainkan kerangka utuh seekor naga raksasa sepanjang seratus meter yang melingkar. Tulang naga itu memancarkan kilau perak redup, tak lapuk meski telah mati ribuan tahun yang lalu.
Tepat di tengah lilitan kerangka naga itu, terdapat sebuah kolam kecil berdiameter sepuluh meter. Kolam itu tidak berisi air biasa, melainkan cairan kental berwarna emas kemerahan yang mendidih pelan. Gelembung-gelembung meletup dari permukaannya, melepaskan uap yang membentuk ilusi naga-naga kecil yang terbang ke udara sebelum menghilang.
"I-itu... energi spiritualnya sangat murni hingga bisa dilihat dengan mata telanjang!" Chu Feng berseru tertahan, matanya membelalak lebar. "Apakah itu... mata air spiritual legendaris?"
"Itu adalah Kolam Darah Sumsum Naga," jawab Ye Xuan, matanya berkilat dengan keserakahan kaisar yang tak ditutupi. "Darah murni dari naga bersayap yang mati ribuan tahun lalu, terkondensasi oleh tekanan bumi dan sumsum tulang purba. Jika kalian meminum setetes saja, meridian kalian akan meledak. Tapi bagiku... ini adalah kolam pemandian yang sempurna untuk berevolusi."
Otot Perak Darah Emas. Tahap kedua dari Tubuh Fisik Tirani Naga. Ye Xuan yakin seratus persen, berendam di kolam itu akan membantunya menembus dinding penghalang fisik fananya.
Namun, saat Ye Xuan hendak melangkah turun, kesadaran spiritualnya yang setajam silet menangkap fluktuasi asing di sekitar kolam tersebut.
"Menarik. Lalat dari tumpukan sampah mana lagi yang mencium bau manis tempat ini?" gumam Ye Xuan santai, sama sekali tidak terkejut.
Di seberang kolam, bayangan kabut tersibak. Sembilan sosok berjubah merah darah melangkah keluar dari balik pilar rusuk naga purba. Pakaian mereka memancarkan bau anyir yang membuat perut mual.
Mereka adalah murid-murid dari Sekte Darah Neraka!
Pemimpin mereka bukanlah Xue Yin, pemuda berwajah pucat yang mengejek mereka di bibir jurang sebelumnya. Sosok yang berdiri paling depan adalah seorang pria bertubuh jangkung dengan rambut merah acak-acakan. Separuh wajahnya ditutupi oleh tato rune yang menyerupai aliran darah.
Melihat pria itu, kaki Lei Luo seketika lemas. "X-Xue Kuang?! Bagaimana mungkin dia ada di sini?!"
"Siapa dia?" tanya Ye Xuan tanpa menoleh, masih menikmati pemandangan kolam darahnya.
"D-dia adalah kakak seperguruan Xue Yin! Jenius nomor satu Sekte Darah Neraka!" Chu Feng menjawab dengan panik, wajahnya pucat pasi. "Tapi itu mustahil! Kudengar dia telah menerobos Pembentukan Fondasi Bintang Delapan setengah tahun yang lalu! Syarat masuk ke jurang ini adalah maksimal Bintang Enam. Bagaimana dia bisa melewati batasan hukum formasi purba jurang ini?!"
Di bawah sana, Xue Kuang tertawa keras. Suaranya bergema memantul pada tulang-tulang raksasa, membawa tekanan spiritual yang membuat dada Chu Feng sesak.
"Bagus sekali pengetahuanmu, tikus kecil dari Sekte Pedang Azure," Xue Kuang berteriak mengejek dari bawah. Ia menepuk sebuah jimat batu giok hitam yang menempel di dadanya. "Dengan Jimat Penekan Sukma, fluktuasi Qi-ku disembunyikan hingga batas Bintang Enam saat melewati gerbang. Sekte kami telah merencanakan ini selama lima tahun! Teratai Hati Bumi di utara hanyalah pengalih perhatian untuk sekte-sekte bodoh lainnya. Harta sesungguhnya dari jurang ini adalah Darah Sumsum Naga!"
Xue Kuang menatap Ye Xuan dan kelompoknya dengan pandangan meremehkan. "Tapi aku cukup terkejut melihat kelompok buangan yang dipimpin oleh murid Bintang Satu nyasar sampai ke wilayah timur. Kudengar kapten baru kalian cukup arogan di atas sana tadi."
Xue Kuang mencabut pedang besar bergerigi dari punggungnya. Ia melangkah mendekati kolam darah dengan sikap penguasa absolut. Delapan murid Sekte Darah Neraka di belakangnya menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran untuk memblokir jalan keluar Ye Xuan.
"Sayang sekali. Jika kalian pergi ke utara, kalian mungkin bisa hidup beberapa hari lebih lama," Xue Kuang menyeringai kejam, tato darah di wajahnya berdenyut. "Adikku Xue Yin sangat ingin mencicipi darahmu, Ye Xuan. Aku akan berbaik hati memotong keempat ekstremitasmu, menyegel meridianmu, dan membawamu padanya sebagai hadiah. Adapun ketiga temanmu... mereka akan menjadi persembahan darah untuk membuka segel alami kolam ini!"
Mendengar ancaman dari ahli Pembentukan Fondasi Bintang Delapan, semangat tempur yang baru saja terbentuk di dada Chu Feng, Lei Luo, dan Mu Qing langsung padam. Bintang Delapan! Itu adalah ranah yang hampir menyentuh level penatua luar!
Namun, Ye Xuan hanya menguap kecil. Ia memutar lehernya, lalu menuruni bukit tulang itu dengan langkah santai, memanggul Naga Bintang Pemakan Darah di bahunya. Setiap langkahnya menggema tenang di kawah yang sunyi.
Ia berjalan lurus menuju Xue Kuang, benar-benar mengabaikan tekanan aura Bintang Delapan yang sedang memancar liar dari tubuh lawannya.
"Kau bicara terlalu banyak untuk ukuran seekor serangga," ucap Ye Xuan datar, matanya terfokus pada kolam emas kemerahan di belakang Xue Kuang. "Kolam itu adalah milikku. Bau darah kotor sekte kalian mengganggu aromanya."
Ye Xuan berhenti sekitar sepuluh meter dari Xue Kuang. Ia menancapkan pedang hitamnya ke tanah.
"Tinggalkan kolam itu, potong leher kalian sendiri, dan aku mungkin akan membiarkan mayat kalian membusuk utuh," titah Ye Xuan dengan nada otoritas mutlak, seolah ia adalah kaisar yang sedang menjatuhkan vonis pada rakyat jelata. "Atau... kalian bisa menolak, dan aku akan menjadikan kalian pupuk tambahan untuk kolam pemandianku."
Xue Kuang tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang gila. "HAHAHA! Tikus Bintang Satu ini benar-benar kehilangan akal sehatnya! Baik! Biar kulihat seberapa keras tulangmu, Tuan Kapten!"
Xue Kuang menerjang maju, kecepatannya meninggalkan bayangan merah di udara. Pedang bergeriginya diselimuti oleh Qi pembunuh yang sangat pekat, menebas langsung ke arah pinggang Ye Xuan dengan niat membelahnya menjadi dua!