Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bagi mereka yang hanya memakai baju kulit binatang kasar, pakaian Raka terlihat persis seperti jubah perang dewa yang bersinar elegan.
"Dewa Hutan! Beliau benar-benar datang dari langit menyelamatkan kita!" teriak Karta kegirangan sambil menangis mencium tanah.
Lin buru-buru membuka matanya dan menatap Raka dengan pandangan penuh rasa takjub sekaligus lega yang luar biasa.
"Siapa kau orang asing? Beraninya kau melempar batu padaku!" bentak pria berwajah luka yang dahinya berlumuran darah itu.
"Aku? Aku adalah dewa yang memberikan botol pusaka itu padanya," jawab Raka santai menunjuk ke arah Karta.
Pria kekar pemimpin kelompok itu memicingkan matanya menilai tingkat kekuatan Raka dari atas sampai bawah.
Ia melihat Raka tidak membawa senjata tajam apa pun selain pakaiannya yang aneh mengkilap itu.
"Jangan takut padanya kawan-kawan! Dia cuma pemuda nyasar yang tidak bawa senjata, bunuh dia dan kita ambil pakaian mengkilapnya itu sekalian!" teriak si pria kekar memprovokasi teman-temannya.
Ketiga pemburu itu langsung mengarahkan tombak kayu tajam mereka ke arah Raka dan berlari menyerang serentak.
Raka tidak panik sama sekali karena gerak-gerik mereka terlihat sangat lambat dan kaku di matanya.
"Kalian pikir tombak kayu busuk itu bisa menembus kulitku?" ejek Raka tersenyum miring sangat meremehkan.
Raka merogoh saku jaketnya dengan cepat dan mengeluarkan sebuah korek api gas berwarna merah cerah yang baru ia beli.
Di saat pria kekar itu sudah berjarak dua meter darinya, Raka mengacungkan ujung korek api itu tepat ke depan wajah si pemburu.
Cetek!
Api kecil berwarna biru dan kuning menyala seketika dari ujung korek gas tersebut membakar udara di depan wajah si pria kekar.
Langkah pria kekar itu terhenti mendadak seolah ia baru saja menabrak tembok tak kasat mata yang sangat tebal.
Matanya melotot lebar nyaris keluar menatap api kecil yang menyala abadi dari kotak plastik kecil di tangan Raka.
"A-api? Bagaimana dia bisa memanggil api hidup tanpa menggunakan kayu dan batu gosok?" gagap si botak ketakutan setengah mati hingga giginya gemeretak.
Di dunia primitif yang keras ini, menciptakan api adalah pekerjaan yang sangat sulit dan butuh waktu lama untuk memulainya.
Seseorang yang bisa menciptakan api dalam sekejap mata dari telapak tangannya pastilah seorang entitas suci atau siluman sakti dari legenda.
"Ini baru percikan api kecil dari jariku. Kalian mau lihat api neraka yang bisa membakar seluruh tubuh kalian jadi abu?" gertak Raka dengan suara menggema yang sengaja ia buat-buat.
Raka menatap mereka tajam dengan tatapan membunuh seolah ia benar-benar bersiap mengeluarkan sihir mematikan.
Tentu saja itu cuma gertakan kosong semata karena korek gas murahan itu jelas tidak bisa mengeluarkan api lebih besar dari itu.
Tapi bagi ketiga pemburu primitif berotak sempit tersebut, ancaman magis Raka adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dibantah.
Klontang!
Pria kekar itu menjatuhkan tombaknya ke tanah dan langsung berlutut lemas dengan tubuh bergetar sangat hebat.
"Ampun! Ampuni nyawa kami yang bodoh ini, Tuan Dewa Api! Kami benar-benar tidak tahu kalau pusaka botol itu dilindungi oleh Anda!" mohon si kekar sambil bersujud mencium tanah berulang kali.
Dua temannya yang lain langsung ikut membuang senjata mereka jauh-jauh dan ikut bersujud ketakutan di samping bosnya.
"Tolong jangan bakar tubuh kami, Dewa Api! Kami bersumpah demi leluhur tidak akan berani mengganggu Karta lagi!" tangis si pria berwajah luka melupakan rasa sakit di dahinya.
Raka mendengus pelan menahan tawa meledak melihat betapa mudahnya membodohi orang-orang zaman purba yang malang ini.
"Pergi dari wilayahku sekarang juga! Kalau aku sampai melihat wajah menjijikan kalian lagi di hutan ini, aku akan membakar desa kalian sampai rata dengan tanah menyisakan abu!" usir Raka tegas membesarkan volume suaranya.
Tanpa disuruh dua kali, ketiga pemburu itu langsung bangkit serentak dan berlari terbirit-birit menembus semak belukar tanpa peduli kulit mereka tergores duri.
Mereka bahkan tidak berani menoleh ke belakang sedetik pun saking takutnya dikejar bola api neraka.
Setelah memastikan ketiga orang bodoh itu pergi jauh, Raka mematikan korek apinya dan menyimpannya kembali ke saku.
Ia berjalan santai mendekati Karta dan Lin yang sedari tadi masih terduduk mematung di atas tanah.
"Kalian berdua tidak apa-apa kan?" tanya Raka dengan nada suara yang jauh lebih lembut dan manusiawi.
Karta berusaha keras untuk bangkit agar bisa bersujud pada Raka, tapi Raka menahan bahu pria tua itu agar tetap duduk.
"Tidak perlu repot-repot bersujud lagi, lukamu itu sedang berdarah parah," cegah Raka cepat melihat luka di betis Karta.
"Terima kasih yang tak terhingga, Tuan Dewa Api. Anda telah berkenan menyelamatkan nyawa hamba dan putri hamba untuk yang kedua kalinya hari ini," isak Karta menangkupkan kedua tangannya penuh haru.
Lin ikut menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap wajah Raka secara langsung karena merasa tidak pantas.
"Terima kasih, Tuan Dewa Agung. Kalau Tuan tidak datang tepat waktu, hamba pasti sudah dibawa paksa oleh para penjahat itu," bisik Lin dengan suara gemetar halus.
"Panggil aku Raka saja, aku bukan dewa api apalagi dewa hutan seperti yang kalian kira," koreksi Raka merasa sedikit risih dan berlebihan dengan panggilan itu.
Karta terbelalak ngeri bercampur kaget mendengar permintaan Raka barusan.
"Mana berani hamba yang kotor ini memanggil nama suci Anda begitu saja? Itu adalah penghinaan besar bagi dewa yang bisa mengundang kutukan langit!" tolak Karta panik menggelengkan kepalanya.
"Ya sudahlah terserah kalian saja mau panggil apa. Ngomong-ngomong, siapa namamu gadis kecil?" tanya Raka menatap Lin dengan lembut.
"N-nama hamba Lin, Tuan Dewa," jawab gadis itu masih menunduk malu meremas ujung baju kasarnya.
Raka mengangguk pelan lalu kembali menatap kaki Karta yang terluka lebar karena goresan ranting tajam saat melarikan diri tadi.
"Luka ayahmu harus segera dibersihkan agar tidak terkena infeksi. Apa kalian punya tempat berlindung yang aman dari binatang buas?" tanya Raka memastikan.
Karta menunjuk ke arah tebing batu tinggi yang ada di sebelah timur hutan lebat ini.
"Hamba menemukan sebuah goa kecil yang tersembunyi di sana, Tuan Dewa. Kami berencana bersembunyi di sana sementara waktu sampai keadaan aman."
"Bagus, ayo kita bergerak ke sana sekarang sebelum ada pemburu desa lain yang datang menyusul," ajak Raka sambil membantu Karta berdiri tegak.
Lin segera memapah tubuh ayahnya dari sisi lain dan mereka bertiga berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju gua tersebut.
Goa batu itu ukurannya tidak terlalu besar tapi bagian dalamnya cukup kering dan pintu masuknya tertutup rapi oleh tanaman merambat.
Di dalam goa yang remang-remang itu, Karta duduk bersandar pada dinding batu dingin sambil meringis menahan sakit di kakinya.
Lin buru-buru mengambil segenggam daun herbal dari keranjang bambunya yang ia bawa lari lalu mengunyahnya cepat di dalam mulut.
Setelah hancur menjadi pasta hijau, Lin menempelkan kunyahan daun berbau menyengat itu tepat ke atas luka ayahnya sebagai obat penahan darah.
Raka memperhatikan cara pengobatan tradisional yang terkesan jorok itu dengan alis terangkat tinggi.
"Buka penyimpanan sistem," batin Raka memanggil layar biru transparan di kepalanya tanpa bersuara.
[Kapasitas Penyimpanan: 10 Meter Kubik. Terisi: 0.5 Meter Kubik]
Raka memikirkan sebotol air mineral dingin yang ia beli di pom bensin pagi tadi lalu memberi perintah.
"Keluarkan botol air."
Wush.
Sebotol air mineral dingin utuh mendadak muncul begitu saja di telapak tangan kanan Raka dari udara kosong.