Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Kepulan asap putih gas air mata perlahan tertiup keluar melalui celah ventilasi kasino Naga Hitam yang hancur. Di dalam aula bawah tanah itu, puluhan preman bersenjata hanya bisa merintih kesakitan sambil memegangi mata mereka yang memerah.
Tuan Naga berbaring tak berdaya di atas lantai dingin dengan kedua lengan yang terkulai tidak wajar. Pria paruh baya yang tadinya sangat ditakuti itu kini menangis tersedu-sedu meratapi hancurnya kekuasaan dan fisiknya secara bersamaan.
Gibran melangkah keluar dari pintu utama kasino dengan gaya berjalan yang sangat santai dan elegan. Udara malam ibu kota provinsi langsung menyapu wajah tampannya yang sama sekali tidak meneteskan keringat setetes pun.
Aurel yang sedari tadi mondar-mandir cemas di samping mobil langsung menghembuskan napas lega yang luar biasa. Wanita cantik itu berlari kecil menghampiri Gibran dan tanpa sadar langsung memeluk lengan pemuda itu dengan erat.
"Kau terlalu lama di dalam sana Gibran, jantungku rasanya hampir copot menunggu suara tembakan yang tidak kunjung berhenti." "Lain kali tolong bawa aku masuk agar aku tidak mati berdiri karena kecemasan konyol ini," omel Aurel dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Gibran membiarkan lengan kekarnya dipeluk oleh Aurel sambil membalas tatapan khawatir wanita itu dengan senyuman hangat. "Maaf membuatmu cemas Nona Aurel, tapi tempat kotor seperti itu sangat tidak pantas dimasuki oleh ratu secantik dirimu."
Bima yang bersembunyi di balik pintu mobil ikut menelan ludah melihat bos barunya keluar tanpa sehelai benang pun yang sobek. "Bos Gibran benar-benar monster, lima puluh orang bersenjata di dalam sana dihabisi tanpa ampun," gumam Bima menatap takjub.
"Kapten Codet, perintahkan anak buahmu untuk mengamankan kasino ini dan membuang Tuan Naga ke rumah sakit terdekat." "Mulai malam ini, seluruh jaringan pasar giok di ibu kota provinsi resmi berada di bawah kendali kita," deklarasi Gibran dengan suara lantang.
Pasukan tentara bayaran itu langsung bersorak kegirangan dan memberikan hormat militer serempak ke arah Gibran. Malam itu menjadi saksi bisu perpindahan kekuasaan terbesar dalam sejarah dunia bawah tanah ibu kota provinsi.
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik menyinari sebuah kompleks pergudangan raksasa di pusat distrik perdagangan. Gudang raksasa seluas dua hektar ini sebelumnya adalah urat nadi perputaran giok ilegal milik Sindikat Giok Hitam.
Kini, gerbang besi raksasa itu terbuka lebar menyambut kedatangan konvoi mobil mewah milik Gibran dan Aurel. Ratusan pekerja tambang dan pedagang grosir sudah berbaris rapi di halaman gudang dengan kepala tertunduk takut.
Gibran melompat turun dari mobil disusul oleh Aurel yang tampil memukau dengan setelan jas kerja merah marun. Bima berjalan di belakang mereka sambil memeluk sebuah papan dada berisi dokumen data aset yang baru saja disita.
Seorang pria tua perwakilan pedagang maju selangkah dengan tubuh gemetar hebat dan langsung berlutut di depan Gibran. "Selamat datang Tuan Gibran, kami semua siap mengabdi kepada Tuan sebagai penguasa baru wilayah ini," ucap pria tua itu tergagap.
Gibran menatap hamparan lautan manusia di depannya dengan tatapan mata yang sangat tenang namun mendominasi. "Bangunlah Paman, aku bukan bos mafia seperti Tuan Naga yang suka memeras keringat rakyat kecil."
"Mulai hari ini, pajak keamanan liar dihapuskan dan semua transaksi batu di gudang ini akan dilegalkan sepenuhnya," janji Gibran dengan suara berat yang menenangkan. Para pekerja dan pedagang itu langsung mengangkat kepala mereka dengan mata terbelalak tidak percaya mendengar kabar gembira tersebut.
Mereka seketika bersorak sorai dan bertepuk tangan gemuruh merayakan runtuhnya rezim pemerasan Tuan Naga. Aurel tersenyum bangga melihat cara Gibran mengambil hati massa hanya dengan satu kalimat sederhana namun mematikan.
"Kau selalu tahu cara membuat orang rela mati untukmu Gibran, ini adalah taktik kepemimpinan yang sangat brilian," puji Aurel berbisik pelan. Gibran membalas pujian itu dengan kekehan ringan lalu menoleh ke arah Bima yang masih berdiri kaku.
"Bima, ini adalah panggung pertamamu untuk membuktikan bahwa gaji seratus jutamu tidak terbuang sia-sia." "Tata ulang seluruh sistem penyortiran batu di gudang raksasa ini sebelum makan siang tiba," perintah Gibran menepuk bahu pemuda kurus itu.
Bima menelan ludah menatap gunungan puluhan ribu batu alam yang menumpuk tidak beraturan di dalam gudang. Namun rasa takutnya perlahan menghilang digantikan oleh rasa tanggung jawab yang sangat besar untuk tidak mengecewakan bosnya.
"Baik Bos Gibran, saya akan menyelesaikan tugas ini dengan sempurna!" jawab Bima penuh semangat. Bima langsung berlari ke tengah gudang dan memanggil puluhan pekerja bongkar muat untuk mengikutinya.
Pemuda berkacamata tebal itu mulai memilah batu-batu tersebut dengan kecepatan dan akurasi yang sangat mengerikan. Tangan kurusnya bergerak lincah menyentuh, mengetuk, dan melihat serat halus dari setiap batu yang dilemparkan kepadanya.
"Batu merah ini zonk, masukkan ke karung limbah untuk bahan bangunan!" teriak Bima melemparkan batu ke keranjang kiri. "Batu hitam kusam ini punya serat giok putih di dalamnya, letakkan di keranjang kualitas menengah untuk dipoles!" lanjutnya dengan mata berbinar.
Gibran dan Aurel memperhatikan kinerja Bima dari balkon lantai dua gudang tersebut sambil menikmati secangkir teh hangat. Sistem Mata Sakti Raja Giok menyala pelan di mata Gibran untuk mengkonfirmasi setiap pilihan yang dibuat oleh Bima di bawah sana.
[Analisis akurasi penilaian objek oleh individu Bima mencapai sembilan puluh delapan persen.] [Bakat alamiah dalam mendeteksi tekstur material sangat luar biasa.]
"Mataku memang tidak pernah salah memilih orang Nona Aurel, anak itu adalah mesin pencetak uang yang sebenarnya," ucap Gibran tersenyum puas. Aurel menganggukkan kepalanya dengan sangat setuju melihat puluhan keranjang batu berkualitas tinggi mulai tersusun rapi.
"Dengan bakat Bima dan kekuatan matamu, perusahaan giok resmi kita tidak akan memiliki saingan lagi di provinsi ini." "Kita akan mendirikan Dirgantara Larasati Group minggu depan dan mengundang seluruh pejabat tinggi ibu kota untuk peresmiannya," rencana Aurel dengan ambisi menyala.
Gibran meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca dan menatap hamparan kota dari balkon tersebut. "Sebuah perusahaan besar yang sah akan menjadi tameng terkuat kita dari serangan balik para politikus busuk yang pernah disuap oleh Tuan Naga."
"Tapi sebelum kita merayakannya, pastikan Kapten Codet memperketat penjagaan di seluruh perbatasan kota Nona Aurel," ingat Gibran dengan kewaspadaan tinggi. Aurel sedikit mengerutkan keningnya karena tidak mengerti mengapa Gibran masih sewaspada itu setelah musuh mereka hancur.
"Sindikat Giok Hitam sudah rata dengan tanah Gibran, siapa lagi yang berani mencari masalah dengan kita saat ini?" tanya Aurel bingung. Gibran menoleh dan menatap mata Aurel dengan sorot yang jauh lebih tajam dari biasanya.
"Jatuhnya sebuah kerajaan kecil selalu memancing perhatian kekaisaran yang jauh lebih besar di luar sana." "Asosiasi Giok Nasional di ibu kota negara pasti sudah mendengar tentang Giok Salju Surgawi kita dan mereka tidak akan tinggal diam," jelas Gibran menyampaikan firasat buruknya.
Ucapan Gibran itu membuat bulu kuduk Aurel sedikit berdiri menyadari bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar tiba. Raja Giok muda ini memang selalu memikirkan sepuluh langkah ke depan menembus batas kewarasan manusia biasa.
Di sebuah gedung pencakar langit di ibu kota negara yang jaraknya ratusan kilometer dari sana. Seorang pria tua dengan setelan jas putih mewah sedang duduk di kursi kebesarannya menatap layar monitor.
Di layar itu, terpampang foto Gibran dan Aurel saat mereka berada di atas panggung pelelangan akbar beberapa hari yang lalu. "Jadi pemuda udik ini yang memegang Giok Salju Surgawi dan menghancurkan jaringan bisnis kita di daerah?" tanya pria tua itu dengan suara berat yang serak.
Seorang pria berjas hitam di sebelahnya langsung membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat. "Benar Ketua, dia menamakan dirinya Gibran dan baru saja mengambil alih wilayah Tuan Naga pagi ini," lapor bawahan itu dengan takut-takut.
Ketua Asosiasi Giok Nasional itu mendengus sinis lalu menghancurkan cerutu mahalnya ke asbak kristal. "Kirimkan perwakilan elit kita ke provinsi itu minggu depan saat mereka meresmikan perusahaan barunya."
"Beritahu pemuda sombong itu bahwa di negara ini, tidak ada satu pun orang yang boleh menyebut dirinya raja tanpa izin dariku," perintah pria tua itu dengan aura membunuh yang sangat menekan.
Babak baru dari pertarungan mempertahankan takhta kini mulai mengintai Gibran dari tempat yang paling tinggi.