NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Suami yang Tak Pulang

Pagi pertama setelah menikah, Keira Sutanto sarapan sendirian dan merasa hidupnya nyaris sempurna.

Di seberang meja makan Apartemen Verde, kursi yang semalam diduduki suaminya sudah kosong. Tidak ada koper di dekat pintu. Tidak ada sikat gigi laki-laki di kamar mandi. Nathan Halim telah terbang ke Amerika sebelum matahari Jakarta sempat membuat kaca gedung-gedung Kuningan berkilau.

Keira menyendok telur setengah matang, lalu memandangi cincin berbentuk ular yang melingkar di jari manisnya. Tubuh ular kecil itu penuh berlian. Kepalanya bertemu dengan ekor cincin pasangan Nathan, pilihan Keira sendiri tiga hari lalu.

Cantik, mahal, dan tidak merepotkan. Persis seperti pernikahan ini, setidaknya untuk sementara.

Semalam mereka hanya mengadakan acara makan sederhana di apartemen. Nathan tidur di sisi kanan ranjang, Keira di sisi kiri. Pagi buta, laki-laki itu mencium keningnya dan berkata harus membereskan tim di Cambridge.

Sebelum pergi, ia sempat berdiri di ambang pintu dengan wajah seolah menunggu sesuatu.

Keira hanya berkata, "Hati-hati di jalan."

Nathan mengangguk, tetapi sudut bibirnya turun sedikit.

Mereka sudah sepakat sejak awal. Masing-masing punya pekerjaan, uang, dan ruang sendiri. Tidak perlu laporan setiap jam. Tidak perlu berpura-pura mesra. Pernikahan hasil perjodohan kilat ini seharusnya memberi mereka ketenangan, bukan menambah beban.

Keira menghabiskan kopinya, meraih tas kerja, lalu memastikan tongkat kejut lipat masih berada di saku dalam. Kebiasaan enam tahun tinggal sendiri tidak lenyap hanya karena status di KTP berubah.

Ia juga memeriksa pintu dua kali, mematikan kompor, dan memotret meteran listrik sebelum pergi. Rutinitas kecil itu membuat dunia terasa berada di tempatnya. Nathan belum tahu, dan Keira belum merasa perlu menjelaskan.

Empat puluh menit kemudian, ia sudah duduk di depan tablet gambar di Studio Nebula. Layar menampilkan seorang kesatria berambut perak dengan zirah terbuka di bagian dada. Bella muncul dari balik penyekat sambil membawa dua gelas kopi susu.

"Mbak Keira." Bella menangkap tangan kirinya sebelum ia sempat menjauh. "Ya ampun, ini cincinmu?"

"Kalau bukan cincinku, berarti aku mengambilnya dari meja orang."

"Jangan datar begitu. Ini luar biasa." Bella memutar tangan Keira ke bawah lampu. Pantulan berlian berlari di meja kerja. "Boleh kupotret? Tim kostum sedang cari referensi aksesori untuk karakter baru."

"Boleh. Jangan unggah ke akun pribadi."

Bella langsung membuka kamera. "Suamimu yang pilih?"

"Aku. Dia cuma bayar."

"Pekerjaan suamimu apa, sih?"

Keira menarik tangannya setelah tiga foto. "Programmer."

Itu bukan kebohongan. Hanya versi yang sangat dipangkas.

Bella tidak perlu tahu bahwa programmer tersebut adalah putra kedua keluarga Halim. Ia juga tidak perlu tahu Keira bukan sekadar ilustrator bergaji tetap, melainkan anak angkat Mariana Sutanto, pemegang kendali Grup Kencana. Di kantor, Keira menyukai hidup tanpa orang yang mendadak membungkuk lebih rendah setelah mendengar nama keluarganya.

"Programmer mana yang memberi cincin seperti ini lalu langsung pergi ke luar negeri?" Bella menyipitkan mata. "Jangan-jangan kau menikah dengan buronan pajak."

Keira tertawa kecil. "Kalau benar, setidaknya rumah akan tetap tenang."

"Pengantin baru macam apa malah senang suaminya tidak pulang?"

Pengantin baru yang baru bertemu calon suaminya pada hari Selasa, menjalani pemeriksaan kesehatan pada Rabu, lalu menandatangani dokumen pernikahan pada Kamis.

Keira menggerakkan pena digitalnya. "Pengantin baru yang punya tenggat ilustrasi hari Jumat."

Bella mengangkat kedua tangan menyerah, tetapi masih menatap cincin itu saat kembali ke meja.

Keira menurunkan pandangan. Di antara kilau berlian, ia melihat bayangan jari Herman yang kasar karena bertahun-tahun memasak di warung kecil. Dua belas tahun lalu, Papa membawanya ke Jakarta dengan dua koper tua dan rasa bersalah yang terlalu besar untuk diucapkan.

Keira berusia enam belas tahun ketika pertama kali memasuki rumah keluarga Sutanto. Hari itu ia memanggil Mariana dengan sebutan Bu. Butuh waktu berbulan-bulan sampai kata Mama keluar dari mulutnya.

Tidak ada yang memperlakukannya sebagai beban setelah itu. Karena itulah saat Mariana menawarkan perjodohan dengan keluarga Halim, Keira bersedia melihat sendiri laki-laki yang datang. Bukan karena patuh tanpa suara, melainkan karena untuk pertama kalinya seseorang bertanya apakah ia mau.

Dan Nathan, dengan kemeja hitam serta tatapan yang terlalu fokus, berkata sebelum kopi mereka dingin, "Kalau Ci setuju, aku juga setuju."

Tiga tahun lebih muda, tetapi tidak terdengar ragu sedikit pun.

Ponsel Keira bergetar di samping tablet.

Nathan: Sudah sarapan?

Keira memotret kotak makan siangnya yang kosong.

Keira: Sudah. Kamu seharusnya tidur.

Balasan tidak langsung datang. Ia menunggu sepuluh detik, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah.

Di Cambridge, hari belum benar-benar terang.

Nathan berdiri di depan dinding layar yang dipenuhi grafik aliran data. Ruang rapat di vila Halim terasa terlalu dingin, tetapi Tim tetap berkeringat saat menyerahkan tablet.

"Perubahan parameter terjadi pukul dua lewat tujuh belas," kata Tim. "Sistem mengembalikannya otomatis, jadi tidak ada data pengguna yang keluar. Akun yang dipakai milik Carl."

"Milik Carl, atau dipinjam dari Carl?"

"Kami belum tahu."

Nathan memperbesar catatan akses. Semua orang di ruangan itu menunggu putusannya. NARA tinggal beberapa bulan dari peluncuran publik. Satu perubahan kecil pada data inti dapat merusak kerja lima tahun dan kepercayaan investor dalam semalam.

"Bekukan akses Carl. Jangan menuduh siapa pun sebelum audit selesai," katanya. "Pindahkan salinan inti ke server terpisah. Tim yang pulang ke Indonesia ikut gelombang pertama."

Tim terdiam. "Jadi rencana relokasi benar-benar dipercepat?"

"Ya."

"Karena insiden ini?"

Nathan menutup tablet. "Insiden ini membuktikan kita terlalu lama membiarkan pusat kendali terpecah."

Itu jawaban yang masuk akal. Tidak ada yang perlu tahu bahwa ada alasan lain bernama Keira Sutanto, perempuan yang baru sehari menjadi istrinya dan sudah membuat Cambridge terasa seperti kota transit.

Di ujung meja, ponselnya menyala merah.

Nathan meraihnya begitu cepat hingga Tim menghentikan kalimat berikutnya. Wajah Nathan yang dingin selama rapat berubah dalam sekejap. Matanya terang, lalu meredup saat layar terbuka.

Bukan pesan Keira.

Hanya notifikasi berita tentang pasar teknologi.

Tim menunduk, menyembunyikan senyum. "Saya lanjutkan auditnya."

Nathan menggeser notifikasi itu dengan jempol. Percakapan WhatsApp mereka masih terbuka. Foto kotak makan kosong menjadi pesan terakhir.

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Nathan: Aku belum mengantuk. Jam pulangmu kapan?

Tanda centang berubah biru, tetapi tidak ada balasan.

Nathan menunggu sambil membaca laporan. Lima menit. Tujuh menit. Sebelas menit.

Di Jakarta, Keira sedang menarik headset saat Dimas memanggil seluruh ilustrator ke ruang rapat. Ponselnya tertinggal di meja, cincin ularnya memantulkan cahaya layar yang terus menyala.

Di Cambridge, satu titik merah muncul lagi di sudut ponsel Nathan.

Ia menyentuhnya tanpa bernapas.

Senyumnya lenyap.

Berita lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!