Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Itu Seluruh Milikku
"Dua miliar?"
Karina memutar layar ponsel ke arah Nathan. "Jelaskan."
Nathan tetap santai. "Nilai kontraknya memang begitu."
"Untuk satu iklan ponsel?"
"Wajahku mahal."
Karina melempar bantal. Nathan menangkapnya sambil tertawa, lalu duduk lebih dekat.
"Kontraknya nasional. Mereka pakai wajahku untuk video, billboard, dan media sosial selama setahun. Angkanya wajar."
"Kenapa Ko Steven bisa memberimu pekerjaan sebesar ini?"
"Dia punya jabatan."
"Jabatan apa?"
"Bos."
"Bos bagian?"
Nathan mencium ujung jarinya sebelum Karina sempat menarik tangan. "Kamu terlalu banyak bertanya malam-malam."
Karina menahan napas lalu menjauh. "Jangan mengalihkan."
"Aku bukan kriminal. Uangnya legal, pajaknya tercatat, kontraknya kamu pegang."
Dia memang benar. Karina memeriksa setiap halaman dan tidak menemukan masalah. Yang mengganggunya adalah kemudahan Nathan memasuki dunia bernilai miliaran seolah itu ruang kelas biasa.
"Aku akan membuat rekening terpisah," katanya. "Tidak satu rupiah pun dipakai tanpa catatan."
"Terserah. Itu seluruh milikku."
"Jangan katakan seperti itu."
"Kenapa?"
"Kamu membuatnya terdengar seolah aku memiliki kamu."
Nathan menatapnya lama. "Kalau kamu mau, boleh."
Karina berpaling karena pipinya panas.
Keesokan paginya, dia menelepon bank lagi, memastikan sumber transfer dan meminta notifikasi ganda untuk setiap transaksi. Dia membayar biaya kontrol dari rekening tersebut, memotret kuitansi, lalu mengirim laporan kepada Nathan.
Karena jumlahnya besar, bank meminta Karina datang untuk verifikasi. Nathan menemaninya dan duduk dengan santai di depan petugas layanan nasabah.
"Sumber dana dari kontrak komersial atas nama Pak Nathan Hartawan," jelas petugas. "Untuk akses pengelolaan oleh pihak lain, kami memerlukan surat kuasa dan konfirmasi pemilik."
Nathan menyerahkan dokumen yang sudah disiapkan.
Petugas membaca hubungan penerima. "Apakah Ibu keluarga?"
Karina membuka mulut, tetapi Nathan lebih dulu menjawab, "Pasangan saya dan ibu dari anak-anak saya."
Karina menyikut pinggangnya. Petugas tetap profesional, hanya meminta tanda tangan dan rekaman persetujuan. Nathan menyatakan bahwa dana diberikan sukarela, bukan pinjaman, serta penggunaan dapat dipantau bersama.
Setelah keluar dari bank, Karina berhenti di trotoar. "Kenapa bilang anak-anak?"
"Memang tiga."
"Orang belum boleh tahu."
"Petugas bank terikat kerahasiaan."
"Tetap saja."
Nathan mengangkat kedua tangan. "Baik. Lain kali aku bilang cuma calon istri."
"Itu juga belum benar."
"Sebentar lagi."
Karina berjalan lebih cepat, tetapi Nathan melihat senyum yang gagal disembunyikan di sudut bibirnya.
Balasannya hanya satu emoji hati.
Karina menelepon. "Lihat laporannya."
"Aku percaya."
"Kepercayaan bukan alasan untuk ceroboh."
"Baik, Bu Manajer."
Di Hartawan Group, Steven membaca salinan instruksi pembayaran dengan wajah gelap. Sam, asistennya, berdiri di depan meja.
"Penerima bernama Karina Wijaya," kata Sam. "Tiga puluh tahun, bekerja di agensi iklan. Sedang mengajukan cerai dari Andri Kusnadi."
Steven mengangkat kepala. "Sedang cerai?"
"Putusannya belum keluar."
"Nathan tahu?"
"Kemungkinan."
Steven memijat pelipis. Sepupunya tidak pernah punya kekasih serius selama sekolah di Singapura. Pulang ke Jakarta beberapa minggu, rekening dibekukan setelah bertengkar dengan keluarga, lalu mendadak menyerahkan seluruh pendapatan kepada perempuan bersuami.
"Cari tahu secukupnya," katanya. "Jangan ganggu perempuan itu."
Sam mengangguk. "Apakah pembayaran ditahan?"
"Tidak. Kontrak sah. Aku hanya ingin tahu Nathan sedang menyelamatkan seseorang atau sedang ditipu."
Sam menyerahkan foto kamera keamanan studio. Nathan tampak memeriksa kontrak dengan teliti, bukan bertindak tanpa pikir. Steven mengenal ekspresi itu. Sepupunya hanya memasangnya saat mengambil keputusan yang tidak mungkin dibatalkan.
"Jangan gali catatan medis atau kehidupan pribadi Karina," tegas Steven. "Cukup pastikan tidak ada penipuan finansial."
"Baik, Pak."
Steven bersandar dan menatap nama penerima dana. Rasa curiga belum hilang, tetapi satu hal jelas: dia harus bertemu Karina dengan matanya sendiri.
Siang hari, Steven menelepon Nathan.
"Dua miliar masuk semuanya?"
"Sudah."
"Ke rekening perempuan itu."
"Namanya Karina."
"Dia masih bersuami."
Suara Nathan langsung dingin. "Jangan selidiki dia."
"Aku melindungimu."
"Perempuanku, aku yang tanggung."
"Kamu kenal dia belum genap dua bulan."
"Cukup untuk tahu dia tidak menyentuh uang itu kecuali biaya dokter."
Steven menangkap kata tersebut. "Dokter apa?"
Nathan diam.
"Kamu membuat masalah apa lagi?"
"Bukan urusan Ko."
"Aku mau lihat perempuan macam apa yang membuatmu menyerahkan semua uang dan berani melawan keluarga."
Nathan memutus sambungan.
Karina yang mendengar bagian akhir dari dapur menatapnya. "Dia menyelidikiku?"
"Aku hentikan."
"Wajar kalau keluargamu curiga."
"Dia bukan keluargaku yang harus mengatur semuanya."
"Dia memanggilmu seperti adik."
Nathan meraih apel dan memotongnya terlalu keras. "Ko Steven suka merasa paling tahu."
Karina mengambil pisau dari tangannya. "Dia benar soal satu hal. Kamu menyerahkan uang terlalu cepat."
"Aku dibesarkan dengan melihat Mami mengurus aset keluarga," kata Nathan. "Banyak properti dan saham atas namanya. Di keluargaku, mempercayakan uang kepada perempuan bukan hal aneh."
"Mami?"
Nathan sadar sudah terlalu banyak bicara. "Ibuku."
"Dia di Singapura?"
"Sering berpindah."
"Dia tahu soal aku?"
"Belum."
Karina tertawa hambar. "Keluargamu bahkan tidak tahu kamu akan punya tiga anak."
"Aku akan bilang setelah kalian aman."
"Bagaimana kalau mereka menolak?"
"Mereka boleh marah padaku. Bukan padamu."
"Hidup tidak sesederhana itu. Aku janda tiga puluh tahun, kamu pewaris keluarga yang jelas kaya."
Nathan menoleh tajam. "Jangan pakai kata janda seperti hinaan untuk dirimu sendiri."
"Orang lain akan memakainya."
"Biar aku yang jawab mereka."
Dia mengucapkannya tanpa ragu, membuat Karina membayangkan dunia keluarga Nathan yang belum pernah dilihatnya. Dua miliar mungkin hanya pintu kecil menuju sesuatu yang jauh lebih besar.
Malam itu, mereka menata dokumen dalam map terpisah: kontrak, pajak, kuitansi rumah sakit, dan dana darurat. Karina menempelkan label pada masing-masing. Nathan menulis satu label tambahan di map kosong.
Dana Pernikahan.
Karina mencabutnya.
Nathan menempel lagi.
Mereka mengulang tiga kali sampai Karina menyerah karena tertawa.
"Kalau kamu orang jahat, kamu sudah menghabiskannya."
"Kalau aku orang pintar, aku menunggu lebih lama supaya jumlahnya lebih besar."
Nathan tersenyum. "Berarti aku harus menghasilkan lebih banyak agar kamu tetap di sini."
Karina menghela napas dan menyerahkan potongan apel. "Aku tidak akan pergi membawa uangmu."
"Aku tahu."
"Dan aku akan mengembalikan semua yang tidak terpakai."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
Nathan menempelkan tangan ke perutnya dengan izin, lalu menunduk seolah berbicara kepada tiga titik kecil.
"Karena mulai sekarang, semua yang kupunya milik kalian."
Ponsel Karina kembali berbunyi. Kali ini pesan dari pengacara: putusan perceraian dijadwalkan dua minggu lagi.
Dia menunjukkan layar kepada Nathan.
Nathan membaca, lalu mengangkat wajah dengan mata menyala.
"Begitu putusan keluar, kamu nggak punya alasan untuk menolakku lagi," katanya, seolah masa depan mereka sudah diputuskan dan tak mungkin diubah oleh ketakutan siapa pun lagi sejak malam itu.