Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Rahasia yang Tak Terduga
Senin pagi, Felicia Kho datang ke Menara Kho dengan sepatu baru dan semangat yang terlalu besar untuk ukuran anak magang.
Semangat itu runtuh sebelum makan siang.
"Feli, revisi terjemahan ini. Bagian klausul kedua masih terlalu literal. Lalu buat ringkasan rapat dalam bahasa Inggris, maksimal dua halaman. Setelah itu cek email dari klien Spanyol."
Evelina Lim meletakkan tiga map di meja Feli.
Feli menatap map itu, lalu menatap perempuan di depannya. Cantik, rapi, wajah tenang, suara lembut, tetapi instruksinya seperti komandan latihan.
"Baik, Bu Eve."
"Kalau tidak mengerti, tanya. Jangan menebak."
"Siap."
Eve berhenti sebentar. "Kamu bukan tentara, Feli."
Feli nyaris menjawab, di rumahku ada satu. Untung lidahnya masih selamat.
Di International Business Division, nama Evelina Lim sudah dikenal. Usianya baru dua puluh empat, tetapi ia bisa berpindah dari bahasa Indonesia ke Inggris, Mandarin, dan Spanyol tanpa kehilangan nada. Ia tidak galak, hanya tidak memberi ruang untuk kerja asal-asalan.
Feli mengeluh dalam hati sampai membuka salah satu file internal.
Di halaman depan, nama Edric Kho tercetak sebagai salah satu direktur grup.
Tangannya berhenti.
Edric Kho.
Koh Edric.
Ia menatap punggung Eve yang sedang berdiri di depan printer. Lalu ingat ucapan kakaknya di Rumah Besar, mungkin sebentar lagi saya bawa seseorang pulang.
Tidak mungkin.
Atau justru sangat mungkin.
Saat jam makan siang, Feli menyelinap ke pantry dan membuka WhatsApp status Edric. Kakaknya jarang mengunggah apa pun. Namun pagi itu ada satu foto buram, hanya meja sarapan, dua piring, dua gelas, dan sudut taplak meja yang sangat ia kenal.
Itu meja apartemen Menteng Park milik Edric.
Feli hampir menjatuhkan ponsel.
Ia mengetik cepat.
Koh, Bu Eve itu... ci iparku ya?
Balasan datang lima menit kemudian.
.
Satu titik.
Feli menutup mulut, tetapi jerit kecil tetap lolos.
"Feli?" Eve menoleh dari meja kerja.
"Tidak apa-apa, Bu Eve. Spreadsheet saya mengejutkan."
Eve mengerutkan kening. "Spreadsheet tidak bisa mengejutkan kalau kamu baca pelan-pelan."
Feli menunduk. Mati. Ci ipar pertamaku ternyata galak.
Sepanjang sore, Feli hidup seperti pencuri di ruang sendiri. Setiap kali Eve lewat di belakang kursinya, ia otomatis ingin berdiri lebih rapi. Setiap kali Eve membungkuk untuk membetulkan kalimat terjemahan, Feli ingin bertanya apakah kakaknya sudah makan siang, apakah mereka tinggal bersama, apakah Eve tahu bahwa laki-laki yang semalam mungkin mencuci piring bersamanya bisa membeli satu lantai gedung ini tanpa berkedip.
"Feli," kata Eve saat melihat hasil revisinya, "ini lebih baik. Tapi jangan pakai kata yang terlalu manis untuk kontrak. Kontrak itu bukan puisi."
"Baik, Bu Eve."
"Kamu gugup sekali hari ini."
"Saya selalu gugup kalau dekat orang pintar."
Eve menatapnya tiga detik, lalu tersenyum tipis. "Pujian tidak mengurangi jumlah revisi."
Feli menunduk lagi. Ia makin yakin, jika suatu hari Eve benar-benar menjadi Nyonya Besar kecil di keluarga Kho, semua orang malas akan musnah.
Malamnya, Edric menerima telepon dari Oma Kho sebelum sempat membuka sepatu.
"Kamu menikah dan Oma tahu dari Feli?"
Edric menutup mata. "Feli."
Di seberang, suara Oma tajam. "Jangan salahkan adikmu. Salahkan dirimu yang diam seperti batu. Siapa namanya? Cantik? Kerja apa? Dari keluarga mana? Kapan dibawa pulang?"
"Oma, pelan-pelan."
"Oma sudah pelan. Kalau cepat, kamu sudah disuruh pulang sekarang."
Edric duduk di sofa apartemen. Dari dapur, Eve sedang menghitung daftar belanja di ponsel, tidak tahu bahwa namanya sedang diadili oleh matriark keluarga Kho.
"Namanya Evelina Lim. Dia belum tahu saya siapa."
Hening tiga detik.
"Maksudmu?"
"Di depan dia, saya hanya mantan tentara. Bukan Edric Kho dari Kho Group."
Oma tidak langsung marah. Justru suaranya turun. "Bagus."
Edric membuka mata.
"Oma justru ingin lihat kalau dia tidak tahu kamu siapa, dia memperlakukan kamu seperti apa."
"Oma."
"Dengar. Semua orang tutup mulut. Feli tidak boleh panggil dia ci ipar di kantor. Jerry jangan bodoh. Fajar jangan terlalu kelihatan seperti pengawal. Siapa pun yang bocor, Oma usir dari rumah."
"Itu rumah Oma."
"Memang. Jadi Oma bebas usir."
Edric hampir tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Fajar mengirim foto Eve kepada Oma. Foto itu dari kamera kantor, Eve berdiri di depan ruang rapat dengan map di tangan.
Oma membalas pendek.
Mirip Lilian.
Edric membaca pesan itu lama, tetapi tidak bertanya. Belum waktunya.
Rabu siang, Jakarta Convention Center penuh dengan stan perdagangan internasional. Eve berdiri di bilik penerjemah, headset menempel di telinga, suara tenang mengalir cepat dari bahasa Spanyol ke Indonesia.
Di sisi lain aula, Jerry Oei hampir kehilangan jiwanya.
"Pak, ini sudah keterlaluan," bisiknya.
Edric berdiri di sampingnya dengan setelan gelap, wajah tanpa rasa bersalah. "Mulai sekarang kamu bos saya."
"Saya memang kerja untuk Anda, Pak, tapi bukan begitu konsepnya."
"Eve ke sini."
Jerry langsung mengubah wajah menjadi senyum profesional.
Eve berhenti di depan mereka, terkejut. "Edric? Kamu ngapain di sini?"
"Kerja."
"Kerja?"
Jerry mengulurkan tangan. "Nona Lim, saya Jerry. Edric kepala keamanan saya untuk acara ini."
Eve menjabat tangannya. "Oh. Jadi kamu kerja sambilan juga?"
Edric menatap Jerry.
Jerry menatap lantai.
Eve justru terlihat lega. "Bagus dong. Tambah penghasilan. Tapi jangan terlalu capek, ya. Kamu baru pindah ke Jakarta."
"Saya akan ingat."
Jerry batuk kecil. Kalau ia tidak menggigit lidah, ia mungkin sudah tertawa dan dipecat pada detik yang sama.
Seorang staf Kho Group lewat dan hampir menyapa Edric dengan "Pak Direktur". Jerry bergerak lebih cepat dari refleks normal manusia. Ia menepuk bahu staf itu sambil tertawa keras.
"Pak, laporan yang saya minta sudah siap?"
Staf itu bingung. Edric menoleh sedikit. Tatapan satu detik saja cukup membuat staf malang itu mengangguk seperti mesin rusak.
"Siap, Pak Jerry."
Eve melihat adegan itu sambil tersenyum. "Bosmu galak juga."
Edric menjawab tanpa ekspresi. "Sangat."
Jerry ingin mengundurkan diri dari hidup.
Dari kejauhan, Valen Kho melihat pemandangan itu.
Ia berjalan mendekat dengan senyum halus. "Ko Edric. Tidak menyangka bertemu di sini."
Edric menoleh. "Valen."
Mata Valen bergerak cepat ke Eve. "Rekan kerja?"
"Interpreter acara."
Eve mengangguk sopan. "Evelina Lim."
"Valen Kho." Senyumnya rapi. "Senang bertemu."
Tidak ada yang salah dari kalimat itu. Namun setelah Valen pergi, Eve merasa udara di sekitar Edric sedikit berubah.
"Keluarga?" tanyanya.
"Sepupu."
"Dia terlihat baik."
"Dia memang terlihat begitu."
Jawaban itu membuat Eve menoleh, tetapi Edric sudah menatap panggung.
Sesi utama dimulai. Eve kembali ke bilik penerjemah. Lampu aula jatuh di wajahnya. Ia tidak melihat Edric berdiri di belakang kerumunan, menatapnya dengan mata yang lebih sunyi dari biasanya.
Suara Eve mengalir lewat headset para peserta, jelas, hangat, tepat. Ia mengubah kalimat-kalimat kaku perdagangan menjadi bahasa yang hidup. Saat seorang delegasi dari Amerika Latin bicara terlalu cepat, Eve tidak panik. Ia menahan ritme, memilih kata, lalu mengembalikan maknanya dengan mulus.
Edric pernah melihat mata seperti itu.
Dua tahun lalu, di sebuah tenda penerjemah di Afrika Selatan, seorang perempuan muda berdiri di antara tangis anak-anak dan bahasa yang saling bertabrakan. Ia berbicara dalam bahasa Spanyol, menenangkan sekelompok pengungsi yang ketakutan, sementara di luar tenda seorang perwira TNI dengan kode Elang Hitam berhenti selama sepuluh menit hanya untuk mendengarkan.
Perempuan itu tidak pernah tahu ia sedang dilihat.
Hari ini pun, Eve tidak tahu.
Di layar ponsel Edric, pesan dari Feli masuk.
Koh, ci ipar keren banget. Oma harus lihat langsung.
Edric mengetik singkat.
Jangan panggil dia begitu.
Feli membalas dengan stiker menangis.
Edric menyimpan ponsel. Matanya tetap pada Eve.
Kali ini, ia tidak ingin hanya melihat dari luar tenda.