NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cintapertama / Fantasi
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.

Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.

Takdir memperte

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tertinggal

Sebelum melangkahkan kaki menerobos batas luar Kerajaan Imperial, Zass menyempatkan diri kembali ke gubuk tuanya untuk yang terakhir kali. Suasana gubuk terasa begitu dingin dan hening. Bau arang, debu besi, dan minyak tempaan yang biasanya memberikan rasa hangat kini justru memicu kepedihan mendalam di dadanya. Pemuda itu melangkah pelan mendekati sudut meja kayu milik almarhum ayahnya.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Zass meraih sebuah pedang berbingkai besi hitam sederhana—pedang terakhir yang ditimpa oleh tangan ayahnya sebelum mengembuskan napas terakhir. Selain pedang itu, ia membuka kotak kayu kecil berdinding kusam di bawah meja. Di dalamnya terbaring sebuah liontin unik berbentuk belah ketupat dengan batu permata berwarna ungu gelap yang memancarkan pendar redup. Liontin itu adalah satu-satunya peninggalan paling berharga dari sang ayah, sebuah rahasia yang tak pernah sempat dijelaskan secara tuntas sebelum kelahirannya ditinggalkan sebatang kara.

Zass mengalungkan liontin ungu itu di lehernya, lalu menyematkan sarung pedang di pinggangnya. Sambil mengemas sedikit bekal, ia menatap sekeliling gubuk tua tersebut. Tempat tempat ia tumbuh besar, belajar memegang palu, dan tempat ia pertama kali melihat tawa lepas Putri Celestia kini harus ia tinggalkan selamanya. Tanpa menoleh lagi, Zass mengunci pintu gubuk dan berjalan mantap menembus kabut tipis di luar batas kerajaan.

Sementara itu, di dalam kemewahan Istana Imperial, kehidupan Putri Celestia berubah total menjadi bayangan kelam. Kamar mewahnya yang seluas aula terasa seperti penjara yang sangat menyiksa. Raja David meningkatkan penjagaan hingga dua kali lipat. Empat prajurit berzirah berdiri konstan di depan pintu kamarnya, dan beberapa pengawal pribadi mengawasi dari area taman di bawah jendela.

Celestia menolak menyentuh makanan lezat yang dibawakan oleh para pelayan. Gaun-gaun indahnya teronggok di sudut ruangan, tak tersentuh. Sepanjang hari, sang putri bungsu hanya duduk bertengker di tepi jendela, menatap jauh ke luar benteng istana dengan mata yang membengkak karena air mata yang tak kunjung mengering.

Kedua kakaknya, Putri Aurelia dan Putri Beatrice, bergantian masuk ke kamar untuk menghibur adik kesayangan mereka.

"Celestia, makanlah sedikit sup ini," bujuk Aurelia lembut seraya duduk di tepi tempat tidur. "Ayahanda melakukan semua ini demi kebaikanmu. Dia hanya ingin melindungimu dari orang-orang asing yang berniat buruk."

Celestia memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah cakrawala. "Kalian tidak mengerti... Zass bukan orang jahat. Dia satu-satunya orang yang melihatku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai 'putri istana' yang harus dipajang."

"Tapi dia hanya seorang pemuda jelata, Celestia," sela Beatrice dengan nada prihatin. "Dunia luar sangat keras dan berbeda dengan kita. Kau adalah putri raja, takdirmu berada di sini, bukan di gubuk kusam di ujung kota."

"Aku tidak peduli dengan tahta atau status ini!" jerit Celestia lirih dengan suara serak. "Aku lebih memilih hidup sederhana di gubuk tua itu daripada harus terkurung di dalam kemewahan kaku yang membunuh jiwaku!"

Melihat keteguhan hati adiknya, kedua kakak perempuan itu hanya bisa mendesah pasrah. Mereka tahu, kepribadian Celestia yang bebas dan jujur tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh jeruji emas istana.

Saat malam makin larut dan suara bisik-bisik di istana perlahan mereda, Celestia berjalan menuju meja kecil di sudut kamarnya. Dari balik lipatan kain di dasar laci rahasia, ia mengeluarkan sebuah benda. Benda itu adalah belati kecil bersarung kayu terukir indah—hadiah kenang-kenangan yang diberikan Zass saat pertama kali mereka berkunjung ke gubuk tempa.

Celestia memeluk belati itu erat-erat di dadanya. Usapan jemarinya pada ukiran kayu yang halus itu seolah-olah menghadirkan kembali kehangatan senyuman Zass dan harum bau kayu manis dari gubuk sang pemuda. Air mata kembali menetes, membasahi permukaan kayu belati tersebut.

"Di mana pun kau berada sekarang, Zass... aku berjanji tidak akan pernah melupakanmu," bisik Celestia penuh penyesalan dan rindu yang membakar. "Aku akan mencari cara untuk menemuimu lagi, apa pun taruhannya."

Ratusan mil dari perbatasan Kerajaan Imperial, Zass terus berjalan menyusuri jalanan berbatu yang membelah bukit-bukit asing. Angin malam yang dingin berembus kencang, menerpa wajahnya yang lesu. Namun, setiap kali rasa lelah dan putus asa mencoba menguasai pikirannya, jemarinya secara refleks memegang liontin belah ketupat warna ungu di dadanya.

Batu permata ungu itu terasa hangat saat menyentuh kulit dadanya, seolah-olah menyalurkan daya tahan dan energi misterius yang menjaga semangatnya tetap menyala. Pedang peninggalan ayahnya yang terikat di pinggang terasa mantap, menjadi pengingat bahwa ia bukan lagi sekadar anak kecil yang meratapi nasib.

Zass menghentikan langkahnya di atas puncak sebuah bukit tinggi. Dari kejauhan, di balik bayangan kegelapan malam, ia masih bisa melihat titik-titik cahaya lampu dari menara Istana Imperial tempat Celestia berada.

Pemuda itu menggenggam erat gagang pedangnya. Hukuman pengusiran oleh Raja David mungkin telah merenggut rumah dan kehidupannya di Kerajaan Imperial, tetapi hal itu tidak mampu menghapus ukiran nama Celestia dari hatinya.

"Tunggulah aku, Celestia," tekad Zass bergema pelan di tengah kesunyian malam. "Suatu hari nanti, aku akan kembali. Bukan sebagai anak penempa besi yang bisa diusir begitu saja, melainkan sebagai seseorang yang pantas berdiri di sampingmu tanpa ada seorang pun yang bisa memisahkan kita."

Dengan tekat bulat yang membara di dalam dada, sang penempa pedang muda melanjutkan perjalanannya menembus kegelapan malam, melangkah menuju dunia luar yang luas untuk menempa takdirnya sendiri.

1
Guzzie
next
Guzzie
lanjut
Guzzie
💪💪💪
Guzzie
keren
Ayyasying
TIDAKKKKK CELESTIAAA!!!
Ayyasying
lah! tiba-tiba berubah pikiran nih orang?
Ayyasying
ga ekspet ternyata temen bapaknya
Ayyasying
bau bau adventure nih
Ayyasying
celestia mimpin perang? terkejut aku wak
Ayyasying
kapan romance nya bg
Ayyasying
akhirnya ketemu arwah bapaknya
Ayyasying
segala di puyengin Ama labirin
Ayyasying
🔥🔥🔥🔥
Ayyasying
update terus bang. resep bet ceritanya
Ayyasying
rasain lu David! malu malu sonoh
Ayyasying
apakah zass bakalan sama celestia lagi?
Ayyasying
si bro pake nama samaran euy
Ayyasying
woy lah! hampir aja itu!
Ayyasying
semangat zass!!!🔥🔥🔥
Ayyasying
zass kuat kuat ya😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!