NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Ketika Kerumunan Mulai Takut

Seminggu setelah somasi pertama, Waringin belajar kata baru: tanggung jawab digital.

Di warung kopi, orang membicarakannya sambil menurunkan suara. Di grup RT, admin tiba-tiba rajin menghapus komentar kasar. Di kampus Ratna, beberapa mahasiswa yang dulu paling berani mengirim stiker hinaan sekarang menghindari tatapannya.

Ratna pulang siang itu dengan wajah aneh: antara puas dan jijik.

"Mas," katanya, meletakkan tas di kursi, "admin kelas minta maaf. Tapi dia minta aku bilang ke kamu jangan masukkan namanya ke daftar."

"Dia minta maaf ke kamu atau ke daftar?"

Ratna terdiam, lalu tertawa pendek. "Ke daftar."

"Kalau begitu, jawab dia lewat prosedur. Datang ke kantor Pak Wisnu, bawa pernyataan tertulis, bukti sudah menghapus konten, dan daftar orang yang dia izinkan ikut menyerang."

"Kamu dingin banget."

"Dia membuat grup kampusmu jadi ruang pengadilan tanpa bukti. Kita balas dengan ruang prosedur dengan bukti. Itu bukan dingin. Itu rapi."

Hari itu, Pak Wisnu mengadakan konferensi kecil. Itu klarifikasi hukum kecil di depan beberapa wartawan lokal. Bima tidak berdiri di tengah. Ia duduk di samping, membiarkan pengacara bicara.

Pak Wisnu menjelaskan bahwa laporan tidak menyasar orang yang sekadar melihat atau menyukai unggahan. Sasaran adalah akun yang aktif membuat tuduhan palsu, menyebar alamat, mengancam, atau menambah narasi setelah klarifikasi tersedia.

"Kritik dilindungi," kata Wisnu di depan kamera. "Fitnah tidak. Ketidaktahuan bisa dijelaskan. Ancaman tidak bisa disebut bercanda."

Kalimat itu dipotong oleh media lokal menjadi judul berita.

KRITIK DILINDUNGI, FITNAH TIDAK: KUASA HUKUM BIMA SIAP KEJAR 1.317 AKUN.

Angka itu meledak.

Berita itu membuat pihak lain ikut bergerak. Platform media sosial mengirim balasan otomatis untuk beberapa permintaan preservasi data yang diajukan penyidik. Sebagian belum terbuka. Jumlah yang tertahan sudah cukup untuk menahan penghapusan. Pak Wisnu menyebutnya langkah kecil yang menentukan.

"Kalau data dibekukan, mereka tidak bisa pura-pura akun itu tidak pernah ada," katanya.

Bima menandai status baru: preservation requested. Birokrasi dulu membuatnya muak. Sekarang ia melihat kegunaannya. Amarah bisa membuat orang berteriak hari ini. Surat resmi membuat server menyimpan jejak besok.

Di sisi lain, serangan balik mulai muncul lebih terorganisir. Satu akun besar membuat thread panjang: Bima dianggap menakut-nakuti rakyat kecil. Thread itu rapi, bahasanya seolah peduli demokrasi. Namun Peretas Tingkat Tinggi menemukan bahwa pemilik akun itu pernah menerima materi mentah video Siska dari Melati sebelum video asli keluar.

Bima tidak langsung menyerang. Ia memasukkan akun itu ke klaster khusus: provokator berpengaruh.

Sebagian publik mendukung. Banyak yang puas melihat warganet kasar akhirnya takut. Sebagian lain menyerang dengan pola lama.

"Terlalu kejam."

"Orang kecil kok dilawan pakai pengacara."

"Kalau tidak mau dikomentari, jangan viral."

Bima membaca komentar itu di kantor Wisnu. Ia tidak tersinggung. Justru ia menandai beberapa akun yang ternyata ikut dalam daftar lama.

Pak Wisnu memperingatkan Bima agar tidak menjawab semua komentar. "Biarkan saya yang bicara dalam kerangka hukum. Anda bicara hanya saat perlu, dengan kalimat pendek. Semakin terkenal kasus ini, semakin banyak orang ingin memancing Anda keluar jalur."

Bima setuju. Ia sudah melihat pola Siska. Orang yang kalah bukti akan mencari emosi. Kalau Bima terpancing, mereka mendapat potongan baru. Kalau Bima diam terlalu lama, mereka membuat narasi sendiri. Maka jawabannya adalah ritme: cukup sering untuk mengunci fakta, cukup jarang agar tidak memberi panggung.

"Mereka membuat bukti tambahan," kata Ratna.

"Gratis," jawab Bima.

Di grup keluarga jauh, suara juga berubah. Orang yang dulu mengirim tanda tanya kepada Bu Sri kini mengirim doa. Ada yang menulis, "Ternyata Bima benar-benar serius." Bu Sri menunjukkan pesan itu kepada Bima dengan senyum yang tidak sepenuhnya senang.

"Mereka dulu tidak percaya," katanya.

"Mereka percaya pada keadaan yang paling ramai, Bu."

"Apa harus dibalas?"

"Tidak. Tidak semua orang pantas dapat energi kita. Yang punya bukti masuk daftar. Yang cuma pengecut, biarkan malu sendiri."

Bu Sri mengangguk. Ia mulai memahami perbedaan antara membalas semua orang dan menghukum yang perlu dihukum.

Gelombang kedua somasi dikirim: 230 surat. Alamatnya meluas ke tempat kerja, kampus, dan kantor komunitas tempat pelaku memakai jabatan untuk memperkuat hinaan. Pak Wisnu memastikan semua sesuai aturan. Penerima dibuat tidak bisa berpura-pura akun itu milik hantu.

Efeknya lebih besar.

Seorang guru honorer yang memakai akun anonim untuk menyebut Bu Sri "ibu penipu" datang menangis bersama kepala sekolah. Seorang pemilik toko online yang menyebar alamat rumah Bima memohon agar tokonya tidak ikut rusak. Seorang mahasiswa hukum yang menulis thread panjang menuduh Bima memalsukan bukti datang dengan wajah pucat setelah tahu thread-nya menjadi contoh fitnah lanjutan.

Bima menerima mereka satu per satu hanya jika Pak Wisnu hadir. Tidak ada pembicaraan di luar catatan. Tidak ada janji lewat telepon. Tidak ada air mata yang menghapus screenshot.

Di sisi pidana, Pak Wanto mengabarkan lima orang klaster doxing resmi naik pemeriksaan intensif. Dua orang pengirim ancaman mengaku karena "terbawa emosi". Satu orang terbukti mengoordinasikan pelemparan telur lewat grup kecil.

Nama terakhir membuat Pak Harto diam lama.

Orang itu tetangga dua gang dari rumah mereka. Orang yang pernah membeli beras di warung.

Bu Sri duduk di teras malam itu, memandang jalan. "Ternyata orang dekat juga bisa begitu."

Bima duduk di sebelahnya. "Karena merasa dekat kadang membuat orang merasa berhak ikut menghakimi."

"Kamu capek?"

"Capek."

Bu Sri menoleh, terkejut karena Bima menjawab jujur.

Bima tersenyum kecil. "Tapi capek tidak bisa menjadi alasan berhenti. Kalau kita berhenti di tengah, yang lain belajar bahwa cukup bertahan beberapa minggu, korban akan lelah."

Bu Sri memegang tangan anaknya. "Mama tidak mengerti hukum seperti kamu. Tapi Mama mengerti satu hal. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu karena mengejar mereka."

Kalimat itu masuk lebih dalam daripada semua komentar publik. Bima menatap ibunya lama.

"Aku tidak mengejar karena benci, Bu. Aku mengejar supaya lain kali orang berpikir sebelum menghancurkan keluarga orang."

Panel SBE muncul lembut.

[Stabilitas mental terjaga.]

[Prinsip tindakan: hukum, bukan balas dendam liar.]

[Poin +1.000]

Malamnya, Pak Wisnu mengirim laporan mingguan.

Somasi terkirim: 302.

Permintaan maaf terbuka: 89.

Proses pidana prioritas: 11 orang.

Gugatan perdata siap diajukan: 146 nama.

Identitas masih diverifikasi: 734 akun.

Di bagian bawah, ada catatan khusus.

Besok pukul 10.00, tiga puluh tujuh pelaku klaster doxing dipanggil bersama untuk pemeriksaan awal di Polres. Media kemungkinan hadir.

Bima membaca pesan itu dan menutup mata sebentar.

Besok urusannya sudah melewati Siska.

Besok, kerumunan akan melihat bentuk aslinya di kursi tunggu kantor polisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!