hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 24
Suara Elizabeth yang tadinya lembut dan penuh haru tiba-tiba berubah menjadi seruan yang gemetar, penuh amarah sekaligus kepedihan yang mendalam.
Air mata yang baru saja kering kembali tumpah membasahi pipinya, namun kali ini bukan air mata kelegaan, melainkan air mata kesakitan yang tertahan selama lima tahun penuh penderitaan sendirian.
Ia menatap tajam ke mata Draven, napasnya memburu hebat seakan seluruh beban yang dipikulnya selama ini tiba-tiba meledak keluar seketika.
"Ke mana kau selama ini?!" bentaknya dengan suara bergetar namun tegas, menatap lurus ke manik mata Rajanya tanpa berani berpaling sedikit pun
. "Lima tahun... Lima tahun lamanya aku menanggung semuanya SEORANG DIRI! Aku mengandung anakmu sendirian... melahirkannya sendirian... membesarkannya sendirian! Sementara aku diburu dan dikejar ke segenap penjuru benua ini, dibenci dan diancam nyawanya di mana pun aku berpijak... DI MANA KAU SAAT ITU?!"
Elizabeth melangkah selangkah mendekat, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat namun teguh.
Setiap kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan belati yang tajam namun memancarkan luka yang tak terlihat di hatinya.
"Saat aku dicambuk oleh ayahku sendiri... saat aku diusir dan tak diakui lagi... saat aku bertahan hidup di tengah hutan belantara yang dingin dan sepi... saat gubuk tempat tinggalku dibakar dan aku lari ketakutan membawa anakmu yang masih bayi... DI MANA KAU SAAT ITU?!
Di mana kekuatanmu saat aku dan anakmu hampir mati?! Di mana janjimu saat aku berjuang mempertahankan nyawa darah daging kita sendirian?!"
Suaranya pecah di sela isak tangis yang mencekik lehernya, namun ia tak menunduk sedikit pun.
Ia menatap mata Draven lekat-lekat, seakan ingin menuntut jawaban atas segala malam panjang yang ia lalui dengan gemetar ketakutan sendirian.
"Kau baru muncul saat semuanya hampir hancur... saat anakmu hampir mati di hadapan matamu... LIMA TAHUN! Selama itu aku hidup dalam ketakutan dan kesendirian! Aku membesarkan anakmu sambil terus lari dari kematian! Dan kau... kau di mana?!"
Draven berdiri terpaku di tempatnya, wajahnya pucat seketika mendengar setiap kalimat yang meluncur dari bibir wanita itu.
Setiap kata yang terucap bagaikan palu godam yang menghantam dadanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada serangan maut mana pun. Ia menyadari sepenuhnya .
wanita di hadapannya ini menanggung penderitaan yang tak terbayangkan selama lima tahun itu sendirian, dan ia tak ada di sisinya. Ia tak mampu melindungi mereka.
Rasa bersalah yang begitu berat seketika menindih pundaknya, membuatnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun sebagai pembelaan. Ia hanya menatap Elizabeth dengan pandangan penuh penyesalan yang tak terhingga, mata merahnya perlahan berkaca-kaca, menyadari betapa besarnya luka yang telah ia biarkan menganga di hati wanita yang dicintainya itu.
Draven berdiri diam, menatap Elizabeth dengan pandangan yang penuh kepedihan dan penyesalan yang mendalam.
Ia menarik napas panjang, seakan sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan untuk menceritakan kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Dengan suara yang rendah, berat, dan penuh penyesalan yang tak terhingga, ia mulai berbicara:
"Malam itu... malam ketika kita bertemu..." suaranya bergetar, matanya tak lepas dari wajah Elizabeth yang masih basah oleh air mata.
"Saat aku meninggalkanmu... aku tak pernah menyangka bahwa itu adalah awal dari segalanya. Malam itu... aku dijebak. Aku diracun dengan sihir yang sangat kuat dan kuno, yang merampas seluruh kesadaranku dan ingatanku."
Draven melangkah pelan mendekat, namun berhenti saat melihat Elizabeth masih menatapnya penuh amarah dan kesakitan. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap mata wanita itu dengan pandangan yang tulus dan jujur:
"Aku tak ingat apa yang terjadi malam itu... aku tak ingat siapa dirimu... aku tak ingat bahwa kau telah mengandung darah dagingku. Aku terbangun di tempat yang jauh asing, tanpa ingatan, tanpa arah, tanpa tahu bahwa di suatu tempat di benua ini... ada wanita yang sedang menanggung beban berat sendirian... ada anakku yang sedang tumbuh dan berjuang hidup."
Suaranya pecah, rasa bersalah menindih dadanya begitu berat hingga napasnya terasa sesak. "Selama lima tahun itu... aku hidup seakan bayangan, tersesat dan bingung, tak tahu siapa jati diriku sendiri. Hingga perlahan-lahan ingatanku kembali... namun saat aku kembali sadar dan bergegas mencarimu... kau sudah hilang. Tak ada siapa pun yang tahu ke mana kau pergi. Aku mencarimu ke segenap penjuru benua ini... menembus hutan belantara, mendaki gunung tertinggi, menyusuri sungai terdalam... namun tak ada jejakmu. Aku merasa begitu hancur menyadari bahwa kau dan anakku sedang menderita sendirian... sementara aku tak mampu menemukanmu."
Draven menatapnya lekat-lekat, air mata penyesalan akhirnya menetes dari sudut matanya yang merah menyala. "Aku menyesal... sungguh, aku menyesal tak terhingga. Andai aku tak dijebak... andai aku tetap di sisimu... kau tak akan pernah menderita sedemikian rupa. Kau tak akan diburu, kau tak akan kesepian, dan anak kita tak akan pernah terluka. Tolong... maafkanlah ketidakhadiranku itu. Bukan karena aku tak ingin... melainkan karena aku tak sadar... dan tak mampu menemukanmu."
Ia merentangkan kedua tangannya perlahan, seakan takut wanita itu akan menjauh darinya. "Sekarang... saat aku akhirnya menemukanmu... dan menyadari segalanya... aku berjanji tak akan pernah lagi membiarkanmu sendirian. Tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Tak ada siapa pun yang berani menyakiti kalian. Biarlah sisa hidupku... kupergunakan untuk menebus segala kesalahan dan penderitaan yang pernah kau tanggung sendirian."