"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PATUH DALAM INTRIK
Perkataan Pak Surya menggema di ruang tengah yang luas itu, meninggalkan keheningan mencekik yang membuat Elara mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun pengantinnya. Perasaan yang membuncah di dalam dadanya mendadak terbelah menjadi dua arus yang saling bertabrakan.
Di satu sisi, ada desahan napas lega yang membuncah pelan di relung hatinya. Keputusan Pak Surya yang memperlakukannya hanya sebagai pelengkap berarti satu hal besar: pria tua itu tidak akan menyentuhnya atau menuntut hak suami-istri kepadanya. Bayangan ketakutan akan harus berbagi tempat tidur dengan pria seusia ayahnya itu menguap seketika, menggantikan kepanikan yang sejak tadi pagi meremas jantungnya. Untuk fakta yang satu itu, Elara merasa bersyukur.
Namun, di sisi lain, api harga diri yang tertidur di dalam dirinya mendadak membara panas. Elara adalah putri seorang pengusaha—seorang wanita berpendidikan yang dibesarkan dengan kehormatan. Dijadikan jaminan utang sudah cukup mencoreng martabatnya, dan kini ia harus menerima hinaan baru dengan dijadikan pelayan bagi dua istri tua yang menatapnya penuh dendam?
Tidak, Elara sama sekali tidak sudi. Ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja menjadi pembantu di rumah ini.
"Kenapa diam saja?" cibir istri pertama Pak Surya, melangkah mendekat dengan dagu terangkat tinggi dan tatapan merendahkan. "Lepas gaun mahalmu itu sekarang dan cepat pergi ke dapur. Jangan harap kamu bisa bersantai di sini!"
Istri kedua ikut tertawa sinis, melipat kedua tangannya di dada. "Benar, jangan berlagak seperti ratu hanya karena kamu masih muda. Di rumah ini, kamu cuma selevel dengan tanah yang kami pijak."
Elara mendongakkan kepalanya tegak, menatap kedua wanita itu dan Pak Surya dengan tatapan mata yang tak lagi memancarkan ketakutan, melainkan dingin dan penuh ketegasan. Meski tak berdaya secara status, Elara bersumpah dalam hati tidak akan pernah membiarkan mereka merenggut sisa kehormatan yang masih ia genggam rapat.
"Baiklah," ucap Elara singkat dengan nada suara yang begitu datar.
Ia tak meluapkan amarah, tidak pula memohon belas kasihan. Elara sadar betul bahwa berdebat dengan dua wanita yang terbakar cemburu dan seorang pria tua yang memandangnya sebagai aset belaka hanya akan membuang tenaganya. Lebih baik ia mengalah untuk sementara, membiarkan mereka berpikir telah memenangkan permainan ini, sembari mencari celah untuk bertahan hidup di dalam neraka bertopeng rumah mewah tersebut.
Istri pertama dan kedua Pak Surya saling melempar pandangan puas, menyunggingkan senyum kemenangan yang licik saat melihat Elara berbalik arah menuju lorong belakang tanpa banyak kata. Bagi mereka, kepatuhan Elara adalah bukti bahwa wanita muda itu bisa ditundukkan dengan mudah. Pak Surya sendiri hanya terkekeh pelan sebelum melangkah naik ke lantai atas, tidak memedulikan nasib "istri barunya" yang kini resmi diturunkan derajatnya menjadi pekerja kasar di rumahnya sendiri.
Elara melangkah masuk ke sebuah kamar kecil berukuran sempit di dekat area dapur—kamar yang diperuntukkan bagi para pekerja. Ia menutup pintu kayu yang berderit itu rapat-rapat, membiarkan gaun pengantin mewahnya jatuh tergeletak di atas lantai semen yang dingin. Saat melepas satu per satu perhiasan yang menempel di tubuhnya, Elara menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung di dinding.
Tidak ada air mata lagi. Rasa sakit akibat tamparan ayahnya dan pengkhianatan takdir telah menempa hatinya menjadi lebih keras. Jika ia harus menyapu, membersihkan rumah, atau melayani kemauan dua wanita itu demi menjaga agar ayahnya tidak dipenjara, ia akan melakukannya. Namun, ia tidak akan pernah menyerahkan jiwanya.
Sementara itu, tepat di balik tembok tinggi yang mengelilingi mansion Pak Surya, sebuah mobil sedan hitam berlampu redup terparkir tenang di bawah bayangan pohon besar. Di dalamnya, salah satu anak buah kepercayaan Haidar sedang menggenggam teropong malam, mengamati setiap pergerakan di dalam rumah tersebut melalui lensa kacamata taktis.
"Bos, target sudah masuk ke dalam mansion bersama pria bernama Surya itu," ucap pria berjas hitam tersebut melalui perangkat komunikasi terselubung di telinganya.
Di tempat lain, di dalam ruang kerja mewahnya, Haidar mendengarkan laporan itu dengan mata terpejam dan jemari mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahogany.
"Bagaimana keadaannya?" suara Haidar mengudara, dingin dan menuntut.
"Informasi dari dalam menunjukkan dia tidak diperlakukan sebagai istri, Bos. Pria tua itu menjadikannya pembantu atas desakan dua istrinya yang lain."
Mata Haidar terbuka seketika. Kilatan berbahaya memancar dari iris gelapnya saat cangkir kopi di tangannya diletakkan dengan hentakan keras.
"Pengawasan tetap berjalan. Siapkan segalanya," perintah Haidar dingin. "Saat waktunya tiba, aku sendiri yang akan menjemput apa yang seharusnya menjadi milikku."