NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peretas di Balik Dinding

Pukul delapan pagi, ketenangan lantai paling atas Al-Maktoum Group pecah oleh dering telepon interkom yang berbunyi tanpa henti. Cahaya merah berkedip kencang di layar monitor utama ruang kerja CEO, menampilkan peringatan tebal berlatar hitam: CRITICAL SECURITY BREAK – BACKUP SERVER LOCKED.

Shanum berdiri kaku di balik meja kerjanya. Wajahnya yang biasa tenang dan penuh percaya diri kini tampak pucat. Jemarinya yang menekan tombol keyboard bergetar halus. Seluruh berkas digital penawaran harga dan data teknis tender proyek Senayan—dokumen vital senilai triliunan rupiah—telah terkunci total oleh program penyandera data.

"Bagaimana bisa server cadangan jebol?!" suara Shanum meninggi saat tiga teknisi IT utama perusahaan masuk tergesa-gesa ke ruangannya, diikuti oleh Devan Sastro.

Devan masuk dengan setelan jas yang sedikit kusut di bagian lengan. Pelipisnya dibasahi bulir keringat dingin. "Shanum, tenang dulu. Saya baru saja mendapat laporan dari tim cyber security. Ini serangan ransomware tingkat tinggi dari peretas luar negeri. Pihak musuh tampaknya melancarkan serangan siber skala besar sejak pukul tiga dini hari tadi."

"Luar negeri?" Shanum menatap Devan dengan pandangan menuntut. "Sistem pertahanan siber kita dibayar miliaran rupiah tiap tahun, Devan! Bagaimana bisa serangan dari luar menembus enkripsi berlapis tanpa ada peringatan awal?"

"Mereka menggunakan protokol baru yang sangat kompleks, Shanum. Saya sudah menyuruh tim IT untuk melacak IP peretasnya, tapi—"

"Permisi, Mbak Shanum."

Sebuah suara berat, tenang, dan amat teratur menyela pembicaraan panik itu.

Aran, yang sejak tadi berdiri tegap mematuhi jarak dua meter di dekat pintu kaca, melangkah mendekat. Pria itu tidak menunjukkan sedikit pun riak kepanikan di wajahnya. Langkah kakinya yang tenang di atas karpet mahal seolah membawa udara dingin yang langsung menurunkan tensi ruangan yang memanas.

Devan menoleh dengan tatapan tajam dan menyindir. "Aran, ini masalah teknis tingkat tinggi korporat. Tugas kamu cuma menjaga pintu dan keamanan fisik Shanum. Jangan memotong pembicaraan!"

Aran sama sekali tidak mengacuhkan sindiran Devan. Ia berhenti tepat dua meter di samping meja Shanum, lalu menatap layar monitor dengan pandangan yang tajam dan analitis.

"Mbak Shanum," ujar Aran santai, bahasa tubuhnya begitu rileks namun sangat santun. "Bisa saya pinjam konsol keyboard-nya sebentar?"

Shanum menatap Aran dengan keraguan yang membuncah. Namun, mengingat peringatan tepat Aran mengenai gestur Devan kemarin sore, Shanum menggeser posisi duduknya. "Lakukan."

"Shanum! Apa-apaan ini?!" Devan memprotes keras, langkah kakinya maju satu tindak. "Dia itu pengawal pribadi! Dia tidak punya kualifikasi untuk menyentuh server utama perusahaan!"

Aran tidak membalas. Jemari tangannya yang kekar dan terlatih menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan. Layar hitam berkedip cepat, digantikan oleh barisan command line berwarna hijau yang meluncur deras.

Di dunia Viper, operasi tidak hanya dilakukan dengan senapan jitu di atas atap gedung, tetapi juga analisis perang siber untuk melumpuhkan radar musuh. Bagi Aran, struktur enkripsi di depannya adalah mainan anak-anak.

Hanya dalam waktu empat puluh detik, Aran menghentikan ketukan jarinya pada tombol Enter.

"Penyusupan ini bukan dilakukan dari peretas luar negeri, Mbak Shanum," kata Aran pelan. Suaranya terdengar jernih, menghantam keheningan ruangan bagai pukulan godam. "IP asal penyusup memang menggunakan server proxy di Eropa Timur, tetapi kunci akses utamanya dibuka dari jaringan internal lantai ini."

Shanum membelalakkan mata. "Internal?"

"Tepatnya kemarin sore pukul empat lebih lima belas menit," lanjut Aran seraya memutar monitor ke arah Shanum dan Devan. "Seseorang menggunakan kata sandi tingkat direksi untuk mematikan firewall cadangan selama tiga menit. Waktu yang sangat cukup untuk menyuntikkan virus Trojan ke dalam sistem."

Wajah Devan Sastro berubah dari pucat menjadi seputih kertas. Tangannya yang berada di dalam saku celana mengepal erat, dan ibu jarinya kembali mengetuk-ngetuk telapak tangannya secara konstan—gestur mikro yang kemarin ditunjuk oleh Aran.

"I-itu tidak mungkin!" Devan bersuara gagap, matanya bergetar hebat. "Bisa saja ada peretas yang mencuri kata sandi direksi secara jarak jauh!"

Aran berdiri kembali dengan posisi tegap, melipat kedua tangannya di belakang pinggang, lalu menatap Devan dengan senyum tipis yang amat bersahaja.

"Kata sandi tingkat direksi di perusahaan ini menggunakan verifikasi dua faktor yang terhubung ke perangkat fisik individual, Pak Devan," sahut Aran dengan intonasi santai dan teramat sopan. "Dan menurut jejak log digital di layar ini, perangkat yang memberikan otorisasi penyuntikan virus berada di ruangan Vice President."

Seluruh teknisi IT di ruangan itu terdiam mematung. Shanum perlahan berdiri dari kursinya, menatap Devan dengan pandangan tak percaya bercampur kemarahan yang membeku.

"Devan..." suara Shanum bergetar, dingin dan menekan. "Apa artinya ini?"

"Shanum! Ini jebakan! Pria ini pasti memanipulasi layarnya!" Devan menunjuk Aran dengan jari gemetar. "Dia baru dua hari di sini! Bagaimana bisa kamu lebih percaya pada tuduhan pengawal asing daripada saya yang sudah lima tahun membesarkan perusahaan ini?!"

Aran tidak terpancing emosi sedikit pun. Ia menatap Shanum dengan wajah netral.

"Mbak Shanum," panggil Aran lembut. "Sistem penyanderaan data ini belum sempat mengekstrak dokumen utama ke luar. Saya sudah mengisolasi server cadangan secara manual dan memotong jalur keluar data. Berkas tender proyek Senayan seratus persen aman."

Aran mengetuk satu tombol terakhir di keyboard. Layar merah berbahaya itu mendadak padam, berganti kembali dengan tampilan antarmuka normal Al-Maktoum Group. Data proyek Senayan kembali terbuka utuh tanpa ada satu pun dokumen yang hilang.

Para teknisi IT menghela napas lega luar biasa, sementara Devan melangkah mundur dengan tubuh bergetar hebat.

"Pak Devan," ujar Shanum dengan nada bicara yang amat dingin, matanya menatap tajam pria yang pernah dipercayainya itu. "Ikut tim keamanan internal ke ruang rapat bawah sekarang. Jangan ada yang meninggalkan gedung sebelum audit forensik selesai."

Devan hendak memprotes, namun dua petugas keamanan internal yang dipanggil Shanum segera berdiri di samping pintunya. Dengan wajah hancur dan menunduk dalam, Devan melangkah keluar ruangan dituntun oleh petugas keamanan dan tim IT.

Pintu kaca ruang kerja CEO kembali tertutup rapat. Keheningan yang sangat canggung dan tebal mendadak menyelimuti ruangan besar itu.

Shanum berdiri mematung di balik meja kerjanya. Pikirannya benar-benar kacau. Pembuktian di depan matanya baru saja menghancurkan kepercayaan lima tahunnya pada Devan Sastro, sekaligus membuktikan bahwa setiap perkataan, analisis, dan gestur yang dibaca oleh Aran kemarin sore adalah kebenaran mutlak.

Gengsi Shanum yang setinggi langit terasa runtuh berkeping-keping di lantai ruangan itu. Ia merasa sangat malu, bersalah, dan tertekan karena sebelumnya telah membentak, meragukan, dan menyudutkan Aran secara terang-terangan.

Aran melangkah mundur dengan ritme teratur, mengambil posisi berdiri tegap tepat dua meter di belakang sisi kiri meja kerja Shanum.

"Server sudah bersih dan aman, Mbak Shanum," tutur Aran santai, menyuntikkan nada bicara yang penuh kesantunan tanpa sedikit pun rasa jemawa atau nada menyindir. "Jadwal rapat persidangan tender nanti siang bisa tetap berjalan sesuai rencana."

Shanum membalikkan badan perlahan, menatap Aran. Pria bertubuh kekar itu berdiri dengan wajah tenang, matanya yang kelam menatap lurus ke depan seolah aksi penyelamatan siber bernilai triliunan rupiah yang baru saja dilakukannya adalah hal sepele seperti menyapu lantai.

Shanum meremas jemarinya kaku, berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa wibawa pimpinannya yang tercecer. Pipinya memerah halus antara malu dan rasa canggung yang luar biasa.

"Aran..." panggil Shanum pelan, suaranya agak tersendat di tenggorokan.

"Saya, Mbak Shanum?" sahut Aran tetap tegap.

"Soal... soal kemarin sore..." Shanum menggantungkan kalimatnya, memutar matanya ke sembarang arah asal tidak menatap mata Aran langsung. "Saya... saya minta maaf karena sudah meragukan analisismu. Dan... terima kasih sudah menyelamatkan data perusahaan."

Aran menyunggingkan senyum tipis yang teramat ramah dan bersahaja.

"Tidak perlu minta maaf, Mbak Shanum," jawab Aran dengan nada suara yang sangat teratur dan sejuk. "Tugas saya di sini memang untuk memastikan Mbak Shanum dan Al-Maktoum Group tetap aman dari ancaman, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi. Itu sudah menjadi kewajiban profesional saya."

Shanum berdehem keras untuk menutupi rasa haru dan malunya, lalu dengan cepat merapikan berkas-berkas di mejanya.

"B-bagus kalau kamu paham!" sembur Shanum kaku, berusaha mengembalikan citra pimpinan dinginnya meski tangannya agak canggung saat memegang pulpen. "Sekarang siapkan mobil. Kita berangkat ke lokasi persidangan tender sepuluh menit lagi. Dan ingat... jaga jarak dua meter!"

Aran menganggukkan kepalanya dengan tegap dan santun. "Siap, Mbak Shanum. Dua meter, persis di belakang bayangan Mbak."

Shanum melangkah keluar dari ruangan dengan dagu terangkat kaku. Di belakangnya, Aran berjalan mengiringi langkah atasannya—menjaga jarak dua meter dengan presisi tinggi, seraya mengawasi setiap sudut koridor dengan mata kelamnya yang dingin dan tajam, siap menghancurkan ancaman berikutnya yang mencoba mendekat.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!