Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Namamu Siapa?
"Laras."
Nama itu keluar bersama rasa perih di tenggorokannya.
Bram mengulanginya sekali, pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Laras."
Entah mengapa, namanya terdengar berbeda saat keluar dari mulut lelaki itu. Lebih utuh. Bukan panggilan kasar yang biasa diteriakkan Pak Rusdi dari ujung gang.
Lelaki di depannya mengangguk singkat. "Saya Bramantya Adiprawira. Panggil Bram. Kapten TNI Angkatan Darat, berdinas di Yonif Wira Dharma. Rumah saya di Malang."
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Belum menikah. Tidak punya pasangan."
Laras berkedip.
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan wajah setenang orang membacakan identitas di pos pemeriksaan. Justru karena itulah telinga Laras terasa panas.
"Kenapa bilang begitu?" Suaranya masih seperti radio kehabisan baterai.
"Karena situasi kita membuat informasi itu penting."
Jawaban yang sangat masuk akal. Juga sangat menyebalkan.
Laras meraih botol air. Segelnya sudah terbuka, tetapi ia masih ragu. Bram menangkap tatapannya, lalu mengambil botol itu, menuangkan sedikit air ke tutup, dan meminumnya sendiri.
"Tidak ada apa-apa di dalamnya," ucapnya.
Laras menerima botol itu kembali. "Aku tidak menuduh."
"Kamu memang harus curiga setelah kejadian semalam."
Tidak ada sindiran di wajahnya. Ia sungguh menganggap kewaspadaan Laras sebagai sesuatu yang wajar.
Setelah dua teguk, tenggorokannya terasa sedikit lebih baik. Ia menarik selimut lebih rapat, lalu memaksa diri menatap Bram.
"Bubuk itu, aku yang memasukkannya ke gelasmu."
"Saya tahu."
"Aku belum selesai."
"Kamu memasukkannya agar saya tertidur dan kamu bisa keluar lewat jendela. Minumanmu sudah lebih dulu dicampur orang lain. Kita sudah menyimpulkan itu semalam."
Laras mengerutkan kening. Ingatannya tentang percakapan tersebut hanya berupa suara yang datang dari tempat jauh.
"Kamu masih ingat?"
"Tugas saya menuntut saya mengingat hal penting, bahkan saat kondisi buruk."
"Kalau begitu kamu juga ingat aku mencoba menjebakmu."
"Tidak." Nada Bram turun. "Kamu mencoba kabur dari orang yang menjualmu. Itu berbeda."
Jari Laras mengencang di badan botol.
Satu kalimat itu membelah pertahanannya tepat di bagian yang paling rapuh. Ia sudah menyiapkan banyak kemungkinan sejak membuka mata. Bram bisa melapor polisi, menuntut uang, memakinya, atau menyerahkannya kembali kepada Pak Rusdi. Ia tidak menyiapkan jawaban untuk seorang lelaki yang mengerti tanpa memaksanya membuka semua luka.
"Pak Rusdi bukan ayah kandungku," katanya akhirnya.
"Baik."
"Itu saja responsmu?"
"Kamu belum siap bercerita. Saya tidak akan memaksa."
Bram duduk lebih tegak. Ada ketegangan di bahunya yang sejak tadi ia sembunyikan.
"Tapi ada hal yang harus kita putuskan sekarang."
Laras langsung waspada lagi. "Soal polisi?"
"Soal kita."
Kamar mendadak terasa lebih sempit.
Bram meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha, seperti sedang melapor kepada atasan. "Apa pun yang terjadi semalam tidak boleh membuatmu kehilangan pilihan. Kalau kamu ingin pergi setelah kondisi aman, saya akan membantu. Kalau kamu ingin melapor, saya akan jadi saksi."
Laras menunggu lanjutan yang terasa menggantung di udara.
"Tapi saya akan menyampaikan sikap saya lebih dulu," katanya. "Saya ingin menikahimu."
Air yang baru ditelan Laras hampir keluar lagi.
"Apa?"
"Saya akan mengurus izin kawin dari komandan, pemeriksaan latar belakang, dan pencatatan di KUA. Prosesnya tidak bisa selesai hari ini. Kamu bisa tinggal di rumah keluarga saya selama dokumen diurus."
Laras menatapnya lama. "Kamu selalu melamar perempuan seperti sedang menyusun rencana operasi?"
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Bram bergerak tipis. "Saya belum pernah melamar perempuan."
"Aku mungkin penipu."
"Kamu mengaku tentang obat saat bisa saja menyembunyikannya."
"Aku tidak punya KTP."
"Bisa diurus melalui Dukcapil."
"Aku tidak punya uang."
"Saya punya gaji."
"Aku tidak punya keluarga yang akan menjamin siapa aku."
Tatapan Bram tidak berubah. "Saya tidak meminta penjamin. Saya meminta jawabanmu."
Laras membuang napas kasar. Lelaki ini gila. Tampan, berseragam, kelihatannya berasal dari keluarga baik-baik, tetapi jelas gila.
"Kita bahkan tidak saling kenal."
"Karena itu saya tidak meminta kamu langsung percaya. Saya memberi tiga kepastian."
Ia mengangkat satu jari.
"Pertama, kalau setelah menikah kamu merasa tidak aman atau tidak bahagia, kamu boleh meminta cerai. Saya tidak akan menahanmu dengan ancaman, uang, atau nama keluarga."
Jari kedua terangkat.
"Kedua, gaji dan tunjangan saya akan saya serahkan untuk kebutuhan rumah tangga. Orang tua saya tidak bergantung pada uang saya. Kamu tidak perlu kembali kepada siapa pun hanya karena tidak punya biaya hidup."
Laras belum sempat mencerna, jari ketiga sudah menyusul. Namun kali ini Bram berdeham. Ujung telinganya memerah.
"Ketiga, kalau kamu belum siap menjalani hubungan sebagai suami istri, kita bisa tidur di kamar terpisah. Saya tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu."
Sunyi jatuh selama beberapa detik.
Laras menatap telinga merah itu, lalu wajahnya yang tetap sok tenang. Ada dorongan aneh untuk tertawa. Bukan karena kalimatnya lucu, melainkan karena lelaki bertubuh besar yang semalam melawan obat sambil menggenggam vas ini rupanya bisa malu saat mengucapkan pisah kamar.
"Kamu serius?"
"Sangat."
"Kalau tidak cocok, aku boleh minta cerai?"
"Boleh."
"Punya kamar sendiri?"
"Kalau itu yang kamu mau."
"Dan kamu akan membantu mengurus KTP-ku?"
"Ya."
Pikiran Laras mulai menghitung.
Ia tidak punya uang, dokumen, atau tempat aman. Pak Rusdi tahu tempat kos terakhirnya dan bisa menjualnya lagi kepada jaringan yang lebih kejam. Di sisi lain, Bram punya pekerjaan jelas, rumah di kota yang cukup jauh, serta keluarga yang kemungkinan tidak berani disentuh Pak Rusdi. Paling penting, ia memberikan pintu keluar sebelum Laras memintanya.
Menikah dengan orang asing tetap berisiko. Namun kembali ke Pak Rusdi bukan risiko. Itu kehancuran yang sudah pasti.
Laras mengangkat dagu. "Baik. Kita bekerja sama dulu."
Alis Bram terangkat. "Bekerja sama?"
"Kita jalani. Kalau cocok, lanjut. Kalau tidak, kamu sudah berjanji tidak akan menghalangiku pergi."
Bram mengembuskan napas melalui hidung. Ia sudah menawarkan tanggung jawab seumur hidup, sementara perempuan di depannya menerimanya seperti kontrak masa percobaan.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi satu hal perlu diluruskan."
"Apa?"
"Kamu tidak perlu kabur. Kalau ingin pergi, katakan. Saya akan mengantarmu."
Dada Laras terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ingin ia beri nama.
***
Mereka meninggalkan kamar 302 setelah matahari naik.
Bram telah membayar penginapan dan menyimpan foto dua gelas serta bungkus obat sebagai bukti. Pak Rusdi dan orang-orangnya tidak terlihat. Bram tidak mengejar mereka pagi itu karena Laras belum cukup kuat untuk memberi laporan, tetapi ia meminta pengelola menyimpan rekaman kamera dan data tamu.
Di depan pintu, Laras berhenti. "Kalau keluargamu bertanya kenapa aku memakai pakaian yang kamu beli?"
"Saya akan menjawab."
"Kalau mereka bertanya dari mana kita saling kenal?"
"Saya akan menjawab."
"Kalau mereka tidak menyukaiku?"
Bram mengambil jaket tipisnya dan menyampirkannya ke bahu Laras. Jaket itu terlalu besar, menutupi blus pinjaman dan pergelangan tangannya yang memar.
"Di rumah saya, tidak ada yang akan tanya soal semalam," katanya datar. "Itu urusan saya."