NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang Mafia

Penyesalan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.

Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.

"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."

Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.

"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.

"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.

"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."

"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.

Plak Plak Plak

"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.

Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seseorang yang menginginkan kematiannya

"Tuan, untuk sementara... sebaiknya Anda menjauh dari sisi Nyonya Eva. Karena... kondisi beliau belum sepenuhnya pulih. Saya khawatir trauma yang beliau alami akan semakin memperburuk keadaannya." ujar dokter.

Jose terdiam. Ia membeku sesaat. Bagaimana mungkin ia mampu meninggalkan wanita yang kini menderita karenanya.

"Jadi... maksudmu aku harus meninggalkannya?" ucap Jose.

"Bukan begitu, Tuan. Anda bisa kapan saja menemui pasien. Tapi jangan terlalu lama menemaninya. Kalau saja saya tidak datang tadi... apakah mungkin Anda bisa menghindari pertanyaan yang sama, yang Nyonya Eva tanyakan?" terang dokter.

Jose kembali membeku. Kali ini Jose mengerti apa yang dimaksud dokter.

"Jika demi kebaikan Eva... aku mengerti. Tapi... jangan biarkan orang lain masuk tanpa izin dariku. Aku hanya meminta kau yang merawat istriku," ucap Jose, suaranya tegas.

Dokter mengangguk pelan, "Saya mengerti, Tuan."

"Kalau begitu saya permisi." ucap dokter lalu meninggalkan Jose.

Jose berbalik, namun saat ia akan membuka pintu, ucapan Dokter tadi terngiang di telinganya.

"Apa aku harus meninggalkannya?" batinnya.

Perlahan Jose memutar gagang pintu.

KLIK

Saat pintu itu terbuka, terlihat jelas Eva sudah tertidur pulas di ranjangnya. Jose terdiam di ambang pintu. Tatapannya tak lepas dari wajah Eva yang kini tampak tenang dalam tidurnya. Napasnya teratur. Wajah yang beberapa hari lalu dipenuhi luka dan lebam kini mulai kembali bersih, meski masih terlihat pucat.

Jose melangkah perlahan menghampiri ranjang. Ia takut suara langkahnya akan membangunkan Eva. Sesampainya di sisi ranjang, ia hanya bersirip memandangi wanita yang selama ini telah ia sia-siakan.

"Maafkan aku... " bisiknya lirih.

Tanpa sadar tangannya terulur ingin mengusap pipi Eva. Namun...ia menghentikan gerakannya di udara. Ucapan Dokter kembali terngiang. Perlahan Jose menarik kembali tangannya.

"Aku bahkan tidak pa tas menyentuhmu lagi."

Ia tersenyum pahit. Kemudian, Jose melepas cincin hitam yang selama ini selalu melingkar di jari telunjuknya. Cincin itu adalah simbol janji yang pernah ia ucapkan kepada Eva saat hari pernikahan mereka.

Dengan hati-hati, ia meletakkan cincin itu di atas meja kecil di samping ranjang.

"Kalau suatu hari kau mengingat semuanya... dan memilih meninggalkanku... maka aku tidak akan menghalangi mu."

Jose menatap Eva untuk waktu yang lama. Lalu ia berbalik dan berjalan keluar. Untuk malam ini, Jose memutuskan meninggalkan Eva demi kebaikannya.

Pintu tertutup perlahan, Jose akhirnya pergi. Ruangan kembali sunyi. Beberapa menit kemudian ... kelopak mata Eva bergerak pelan.Tanpa membuka mata sepenuhnya, air mata bening mengalir dari sudut matanya. Seolah mengetahui bahwa seseorang baru saja pergi dengan membawa penyesalan yang begitu dalam.

Tangannya perlahan menarik selimut,lalu tanpa sengaja jemarinya menyentuh meja kecil di samping ranjang. Ujung jarinya mengenai cincin yang ditinggalkan Jose. Saat cincin itu berada dalam genggamannya... seketika sebuah kilasan muncul dibenaknya.

"Mulai hari ini... aku berjanji akan menjagamu seumur hidup "

Seorang pria dingin dan seperti terpaksa menikahi muncul. Bayangan itu hanya berlangsung sesaat.

"Akh..."

Eva memegangi kepalanya. Rasa nyeri kembali menyerang.

Di luar ruangan, dari ujung lorong rumah sakit, sepasang mata sedang mengawasi. Orang suruhan Luna berdiri di balik pilar menatap dingin ke arah kamar. Melihat Jose akhirnya keluar dari kamar Eva, senyum tipis kembali terukir. Ia mengambil ponsel dari saku. Lalu menekan angka satu yaitu Luna.

"Halo, Nona... Tuan Jose sudah pergi. Sekarang waktunya?"

Luna tersenyum tipis, "Lakukan!"

Ponsel itu langsung mati. Pria itu perlahan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Sambil memperhatikan ke sekeliling, perlahan pria itu berjalan mendekati kamar Eva.

Pria itu berjalan dengan langkah tenang menyusuri loro g rumah sakit. Dengan memakai pakaian lengkap seperti perawat agar tak dicurigai siapapun pria itu akhirnya sampai di depan pintu kamar Eva.

Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri memastikan keadaan aman. Perlahan ia memutar gagang pintu.

Pintu itu terbuka, ruangan tampak sunyi dan sedikit gelap. Hanya diterangi oleh lampu tidur. Ia berjalan pelan menghampiri ranjang. Namun, ia tak menemukan Eva di ranjangnya.

"Sial! Kemana wanita itu?!" gerutunya pelan.

Langkahnya menuju kamar mandi, namun saat hendak berjalan ke arah kamar mandi itu, seketika pintu kamar mandi terbuka.

KLIK

Eva terpaku, lalu pria itu berjalan lebih cepat ke arahnya. Namun entah dari mana, naluri Eva mengatakan jika bahaya sedang mendekatinya. Seketika Eva kembali menutup pintu kamar mandi dan segera menguncinya.

BRAK!

Pria itu langsung menghantam pintu kamar mandi dengan bahunya.

"Keluar!" desisnya pelan.

Di balik pintu, napas Eva memburu. Dadanya berdegup sangat kencang.

"Si... siapa Anda?" tanyanya dengan suara bergetar.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara seseorang mencoba memutar gagang pintu.

KREK... KREK...

Eva mundur beberapa langkah. Tubuhnya masih sangat lemah. Kepalanya kembali berdenyut hebat.

"Ada orang... tolong..." bisiknya lirih.

Ia mencoba berteriak, tetapi suaranya nyaris tak keluar. Di luar, pria itu mengeluarkan sebuah benda tipis dari saku seragamnya.

"Ayo... cepat terbuka..." gumamnya sambil berusaha mencongkel kunci.

Tangannya gemetar ia sadar setiap detik yang berlalu semakin memperbesar kemungkinan dirinya ketahuan. Sementara itu, diujung lorong rumah sakit. Seorang perawat asli berjalan sambil membawa obat-obatan menuju kamar Eva.

Saat melihat pintu kamar sedikit terbuka, ia mengernyit.

"Kenapa pintunya terbuka?"

Ia mempercepat langkahnya. Begitu hampir sampai, ia melihat seseorang berseragam perawat sedang membungkuk di depan pintu kamar mandi.

"Maaf..."

Pria itu langsung menoleh. Perawat tersebut mengernyit.

"Anda siapa? Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya."

Jantung pria suruhan Luna langsung berdegup kencang.

"Anu... saya perawat pengganti."

"Perawat pengganti?"

Belum sempat percakapan berlanjut...

"Tolong!"

Suara Eva terdengar dari dalam kamar mandi.

"Tolong... tolong saya. Ada orang di luar! Tolong saya...!"

Jantung pria suruhan Luna langsung berdegup kencang. Mata perawat itu langsung membelalak.

"Siapa Anda sebenarnya?"

Pria itu sadar penyamarannya telah terbongkar. Tanpa pikir panjang, ia mendorong perawat itu hingga terjatuh ke lantai.

BRUK!

"Lepaskan!"

Perawat itu berteriak sekuat tenaga.

"Keamanan! Tolong!"

Suaranya menggema di lorong rumah sakit. Dalam hitungan detik, beberapa petugas keamanan dan pengawal Jose yang baru saja berganti shift langsung berlari menuju sumber suara. Sementara itu, mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, pria itu menggertakkan giginya.

"Sial!"

Ia menatap pintu kamar mandi dengan penuh amarah. Tanpa menyelesaikan misinya, ia berbalik dan berlari keluar kamar, berusaha melarikan diri sebelum para pengawal berhasil mengepungnya.

Di dalam kamar mandi, Eva terduduk lemas sambil memeluk kedua lututnya. Air matanya menetes tanpa henti. Entah mengapa, meski ingatannya telah hilang, satu hal terasa begitu gelas di dalam hatinya. Bahwa ada seseorang yang benar-benar menginginkan kematiannya.

1
Anonim
Mantap
Anonim
Menstik
Dark Mystic
Eva, jgn tolol yaa
Anonim
Lanjut
Anonim
💪💪💪💪
Dark Mystic
Hei, Luna.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣

pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
Dark Mystic
kembaran Luna?
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
Anonim
Baper 😄😄
shanie shaniee: kiw kiw 🤭🤭
total 1 replies
Anonim
Tegang ni ye 😄😄😄
Anonim
Wah semakin seru 🤭🤭
Anonim
Heeeemmm
Dark Mystic
aku suka ama kebaikanmu, Jose.
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
Dark Mystic
sejauh ini, tulisannya rapi, alurnya mudah dipahami.
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
Anonim
Seru nya
Anonim
Mantap
Dark Mystic
halah, pret.
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
Dark Mystic
heh, Jose. sepertinya kau perlu diterapi nih.
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
Dark Mystic
harusnya Jose bisa bedain suara orang bohong dan jujur.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
Dark Mystic
mafia nya kok gini ya?
mudah banget dikibulin
Dark Mystic
Erick, kau pintar.
nggak kayak bosmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!