NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Kalung dari Dunia Lain

Dia melihat sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal. Sebuah istana besar, taman bunga, pelayan yang berlutut, dan dirinya sendiri berjalan mengenakan gaun putih. Seorang pria berdiri di ujung taman. Pria itu tersenyum kepadanya. “Alena.”

Alena dalam ingatan itu berlari menghampirinya. “Yang Mulia.”

Raka memegang tangannya. “Jangan panggil aku seperti itu ketika hanya ada kita berdua.”

“Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?”

“Raka.”

Wanita itu tersenyum. “Baik, Raka.”

Gambaran berubah, istana terbakar, suara pedang beradu terdengar dari segala arah.

Raka menggenggam tangan Alena. “Kau harus pergi.”

“Aku tidak mau!”

“Kalau kau tetap di sini, mereka akan membunuhmu.”

“Aku tidak peduli!”

Raka memeluknya erat. “Aku peduli.”

Air mata mengalir di wajah Alena. “Kapan kau akan menyusulku?”

“Begitu semuanya aman.”

“Janji?”

“Janji.”

Cahaya putih muncul. Alena perlahan menghilang. Raka berteriak, “Alena!”

Alena tersadar. Dia sudah berada di sebuah ruangan pribadi di museum. Raka berdiri di depannya. “Alena.”

Air mata mengalir di pipinya. “Aku...”

Ia memegang kepalanya. “Aku melihat semuanya.”

Raka menahan napas. “Apa yang kau lihat?”

“Kita.” Alena menatapnya. “Kita pernah hidup bersama.”

Raka mengangguk perlahan. “Kau adalah...”

Alena kesulitan mengucapkannya. “Tunanganmu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Raka berubah lega. Namun Alena segera bertanya, “Kalau memang aku tunanganmu, kenapa aku bisa berada di dunia ini?”

Raka terdiam.

“Dan kenapa aku tidak mengingatmu?”

Raka menatapnya cukup lama. “Ada alasan.”

“Alasan apa?”

Raka mengepalkan tangannya. “Aku belum bisa mengatakannya.”

“Kenapa?”

“Karena jika kau mengingat semuanya sekarang, kau mungkin tidak akan pernah memaafkanku.”

Alena terdiam. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar. Seorang pria masuk dengan tergesa-gesa. “Yang Mulia.”

Alena membeku. Pria itu langsung berlutut di hadapan Raka.

Raka menatapnya dingin. “Berdiri.”

Pria itu bangkit. “Portal sudah terbuka.”

Alena menatap mereka bergantian. “Portal?”

Pria tersebut mengangguk. “Jalan menuju kerajaan sudah terbuka kembali.”

Raka menoleh kepada Alena. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, seluruh museum tiba-tiba bergetar. Lampu-lampu padam. Kalung merah di tangan Alena menyala semakin terang. Di tengah ruangan muncul lingkaran cahaya. Alena mundur. “Apa itu?”

Raka berdiri di depannya. “Jalan pulang.”

Alena menatap cahaya tersebut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mimpi-mimpi yang selama ini menghantuinya bukanlah mimpi.

Itu adalah kehidupannya yang lain. Dan sekarang... dunia tersebut sedang memanggilnya kembali.

Namun tiba-tiba suara keras terdengar dari luar ruangan.

BRAK!

Pintu museum bergetar. Raka langsung berdiri di depan Alena. “Siapa?”

Tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara seorang pria dari balik pintu. “Serahkan wanita itu.”

Raka menatap pintu dengan wajah dingin. Alena bersembunyi di belakangnya. “Siapa mereka?”

Raka menggenggam tangannya. “Mereka adalah alasan kenapa aku kehilanganmu. Dan sekarang mereka sudah menemukanmu.”

Pintu kembali dihantam.

BRAK!

Raka menatap Alena. “Mulai sekarang, jangan pernah meninggalkanku.”

Alena belum sempat menjawab ketika pintu itu akhirnya jebol. Beberapa pria berpakaian hitam menyerbu masuk. Namun yang membuat Alena benar-benar ketakutan bukanlah jumlah mereka. Melainkan simbol merah yang terukir di pakaian mereka.

Simbol yang sama persis dengan lambang pada kalung antik itu. Raka berdiri di depannya. Tatapannya berubah dingin dan mengerikan.

Seperti tatapan seorang raja yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya. “Jadi kalian akhirnya datang.”

Salah satu pria tersenyum. “Yang Mulia...”

Alena membeku. "Yang Mulia?"

Raka mengepalkan tangan. Pria itu melanjutkan, “Ratu telah ditemukan.”

Alena menatap Raka. Dan pada saat yang sama, seluruh lampu museum padam. Dalam kegelapan, kalung merah di tangan Raka kembali menyala.

Cahayanya semakin terang. Lalu sebuah lingkaran cahaya terbentuk di belakang Alena. Sebuah pintu menuju dunia lain. Dan dari balik pintu itu... terdengar suara seseorang memanggilnya. “Ratu kami, kembalilah.”

Alena menggeleng, “Tidak.”

Raka menatapnya, “Alena...”

“Aku tidak mau!” Alena tiba-tiba melempar kalung itu ke sofa di sudut ruangan. “Tidak!”

Cahaya merah langsung meredup. Portal yang sebelumnya terbuka perlahan mengecil. Dalam hitungan detik, lingkaran cahaya itu menghilang sepenuhnya. Ruangan kembali sunyi.

Alena berdiri dengan napas memburu. “Tidak...”

Ia memegang kepalanya. “Aku tidak bisa menerima kenyataan ini.”

Raka menatapnya tanpa berkata-kata. Alena menggeleng berkali-kali. “Kerajaan? Ratu? Tunangan? Dunia lain?”

Ia tertawa kecil, tetapi terdengar seperti orang yang sedang berusaha menahan tangis. “Ini tidak masuk akal.”

“Alena.”

“Jangan panggil namaku!”

Raka terdiam.

“Aku hanya ingin hidup normal.” Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku punya pekerjaan. Aku punya kehidupan. Aku tidak pernah meminta semua ini.”

Raka mengepalkan tangan. “Aku tahu.”

“Tidak! Kau tidak tahu!”

Alena menatapnya marah. “Kau muncul begitu saja dalam hidupku dan mengatakan bahwa aku pernah menjadi seseorang yang bahkan tidak kuingat!”

Raka menundukkan kepala. “Aku tahu ini sulit.”

“Kalau begitu biarkan aku pergi.”

Raka hendak menjawab, tetapi suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Pria berjubah yang sebelumnya berdiri bersama mereka tiba-tiba bergerak maju. Tatapannya tertuju kepada Alena. “Yang Mulia harus kembali bersama kami.”

Alena mundur, “Aku bukan ratu kalian!”

Pria itu terus mendekat. “Ingatan Anda memang belum pulih sepenuhnya.”

Raka segera berdiri di depan Alena. “Berhenti.”

Pria berjubah itu tidak menghiraukannya. “Kerajaan membutuhkan ratunya.”

“Aku bilang berhenti.” Nada suara Raka berubah dingin.

Namun pria itu justru maju satu langkah lagi. “Kami tidak datang untuk meminta izin.”

Ia mengulurkan tangannya ke arah Alena, “Kami datang untuk membawanya pulang.”

Alena langsung mundur. “Jangan sentuh aku!”

Dalam sekejap, bayangan hitam bergerak dari bawah kaki Raka.

Whoosh!

Beberapa sosok berpakaian hitam muncul dari dalam bayangan. Mereka bergerak cepat dan langsung berdiri membentuk barisan di antara Alena dan pria berjubah tersebut.

Alena terkejut. “Dari mana mereka datang?”

Raka tidak menjawab. Ia hanya berkata, “Halangi mereka!”

Salah satu anak buahnya mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”

Alena menatap Raka. “Yang Mulia?”

Raka meraih tangannya. “Sekarang bukan waktunya menjelaskan.”

“Aku bisa berjalan sendiri.”

“Aku tahu.”

Raka tetap membawanya pergi.

Di belakang mereka terdengar suara benturan. Anak buah Raka menahan pria berjubah dan orang-orangnya. Raka membawa Alena keluar melalui pintu belakang museum. Begitu sampai di luar, udara malam menerpa wajah Alena.

Ia menarik tangannya dari genggaman Raka. “Aku tidak mau pergi bersamamu.”

“Kalau kau tetap di sini, mereka akan membawamu.”

“Biarkan!”

Raka menatapnya tajam. “Kau tidak tahu siapa mereka.”

“Aku juga tidak tahu siapa kau!”

Kalimat itu membuat Raka terdiam. Alena langsung merasa bersalah, tetapi ia masih terlalu bingung untuk meminta maaf. “Aku hanya ingin semuanya kembali seperti semula.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!