NovelToon NovelToon
Sistem Check-in Petani Sultan

Sistem Check-in Petani Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Hampir seluruh warga desa memang masih bergantung pada pinjaman uang dari Pak Bowo untuk menyekolahkan anak atau membeli pupuk.

Jika Pak Bowo memutus jalur kredit dan menolak membeli panen mereka maka mereka sekeluarga bisa mati kelaparan.

"B-baik Pak Bowo, saya janji tidak akan pernah lagi menerima tawaran kerja dari Arga." Mang Udin menundukkan kepalanya dalam-dalam terpaksa menyerah pada keadaan.

"Bagus, ini baru namanya kekompakan warga desa yang patuh pada orang tua." Pak Bowo tertawa keras merasa sangat puas dengan keberhasilan rencananya.

"Biarkan saja anak sombong itu mengurus kebunnya sendirian sampai tulangnya patah."

Pak Bowo yakin seratus persen bahwa tanpa bantuan tenaga kerja warga desa Arga tidak akan sanggup mengelola ladang yang terus meluas.

Pemuda itu pasti akan kelelahan dan akhirnya gagal memenuhi kuota kontrak dengan restoran kota yang cerewet itu.

Menjelang siang hari Arga berniat mencari Mang Udin untuk membuatkan rak-rak kayu tambahan di dalam kebun sengnya.

Dia berencana memperluas jenis tanaman dan membutuhkan tempat penyimpanan sementara yang layak.

Arga mengayuh sepeda ontel tuanya menuju rumah Mang Udin yang terletak di ujung desa karena jaraknya tidak terlalu jauh.

Kring kring.

Arga membunyikan bel sepedanya saat sampai di depan rumah Mang Udin yang sederhana.

"Mang Udin, ada di rumah tidak Mang." Arga berteriak ramah dari luar pagar bambu.

Mang Udin keluar dari pintu rumahnya dengan raut wajah yang sangat canggung dan terlihat ketakutan.

Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah takut ada mata-mata yang sedang mengawasinya.

"Eh Nak Arga, ada perlu apa ya tumben siang-siang kemari." Mang Udin menjawab dengan suara yang dibuat pelan.

"Ini Mang, saya mau minta tolong buatkan rak kayu panjang di halaman belakang saya hari ini."

Arga mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyodorkannya ke arah Mang Udin.

"Ini uang muka untuk beli kayu dan ongkos lelah mamang, kalau kurang nanti saya tambah lagi." Arga tersenyum tulus memberikan uang tersebut.

Namun reaksi Mang Udin justru sangat di luar dugaan Arga.

Pria paruh baya itu buru-buru menolak dan mendorong kembali tangan Arga dengan wajah panik.

"Aduh jangan Nak Arga, tolong simpan lagi uangnya mamang tidak berani menerimanya." Mang Udin mundur selangkah menolak rezeki nomplok tersebut.

Arga mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap Mang Udin yang sangat tidak biasa ini.

"Loh kenapa Mang, apakah bayarannya kurang besar atau mamang sedang banyak kerjaan lain." Arga bertanya dengan sabar.

Mang Udin menghela napas panjang dan menatap Arga dengan pandangan penuh rasa bersalah yang mendalam.

"Maafkan mamang Nak Arga, tapi seluruh desa pagi ini sudah diancam keras oleh Pak Bowo."

"Dia melarang kami semua membantu pekerjaanmu, kalau kami melanggar dia tidak akan mau lagi meminjamkan uang atau membeli panen kami." Mang Udin menjelaskan semuanya dengan suara bergetar nyaris menangis.

"Mamang punya tiga anak yang masih sekolah Ga, mamang tidak berani mengambil risiko dimusuhi oleh Pak Bowo si penguasa desa itu."

Mendengar penjelasan jujur dari Mang Udin wajah Arga langsung berubah menjadi datar tanpa ekspresi.

Dia tidak marah kepada Mang Udin karena dia tahu posisi warga miskin memang sangat lemah jika dihadapkan pada ancaman lintah darat.

Amarah Arga justru semakin membara tertuju pada Pak Bowo yang kini mulai bermain kotor menggunakan jalur boikot sosial.

"Begitu rupanya, lintah darat tua itu mencoba memutus rantai tenaga kerjaku agar bisnisku hancur perlahan." Arga bergumam sinis di dalam hatinya.

Arga tersenyum maklum dan memasukkan kembali uang merah itu ke dalam dompetnya.

"Tidak apa-apa Mang Udin saya sangat mengerti posisi mamang, jangan pertaruhkan nasib keluarga mamang demi saya."

Arga mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya secara paksa ke tangan Mang Udin.

"Ini buat jajan anak-anak mamang di rumah anggap saja hadiah dari saya, saya pamit pulang dulu Mang." Arga langsung memutar sepedanya sebelum Mang Udin sempat menolak.

"Terima kasih banyak Nak Arga, mamang doakan semoga kamu kuat menghadapi si Bowo jahat itu." Mang Udin menatap kepergian Arga dengan mata berkaca-kaca.

Sepanjang perjalanan pulang Arga hanya tersenyum tipis meremehkan rencana licik Pak Bowo yang menurutnya sangat konyol.

Tengkulak itu berpikir bahwa Arga adalah petani biasa yang membutuhkan puluhan tenaga buruh untuk mengurus kebun.

Pak Bowo tidak pernah tahu bahwa Arga memiliki Sarung Tangan Tenaga Badak dan Cangkul Pembelah Bumi Mini.

"Pak Bowo si tua bangka itu benar-benar menggali kuburannya sendiri dengan menantangku." Arga tertawa pelan mengayuh sepedanya.

"Dia pikir aku butuh bantuan warga desa? Aku bisa membajak satu hektar tanah sendirian dalam waktu satu jam tanpa berkeringat."

Setibanya di rumah Arga langsung masuk ke kebun belakang dan menatap area tanah hitam magisnya yang masih sangat luas.

"Boikot ini justru menguntungkan karena tidak akan ada warga yang curiga melihat kebunku terus meluas tanpa ada tukang yang bekerja."

Arga mengeluarkan cangkul mini berwarna perak dari inventarisnya dan memakai sarung tangan tenaga badaknya.

"Mari kita hancurkan harapan Pak Bowo dengan memperluas kerajaan bisnis ini seratus kali lipat hari ini juga."

Hanya dengan ayunan ringan tangan kirinya Cangkul Pembelah Bumi Mini itu menghancurkan tanah keras di sudut kebun menjadi gembur seketika.

Trak trak trak. Arga bekerja seperti mesin otomatis yang tidak memiliki rasa lelah sedikit pun.

Dalam waktu kurang dari dua jam seluruh halaman belakang yang luasnya mencapai setengah hektar itu sudah berubah menjadi petak-petak tanah tanam yang sangat rapi.

"Luar biasa, tenaga dari sarung tangan ini membuat badanku seringan kapas meskipun baru saja mencangkul berjam-jam."

Arga membersihkan tangannya dan berjalan menuju Sumur Air Suci Kehidupan.

Dia menimba air bercahaya biru itu dan mulai menyirami seluruh petak tanah kosong yang baru saja dibuatnya.

[Tanah Hitam Magis berhasil disirami dengan Air Suci Kehidupan.]

[Efek Resonansi Alam Aktif: Tanah kini siap menerima benih tingkat tinggi dengan jaminan keberhasilan tumbuh seratus persen.]

Arga tersenyum lebar membaca notifikasi sistem yang sangat membantunya itu.

Sekarang dia hanya perlu membeli bibit-bibit baru dari Toko Sistem dan menanamnya di atas tanah ajaib ini.

"Sistem buka Toko Sistem sekarang aku butuh sayuran dengan harga jual yang jauh lebih gila dari sekadar tomat dan cabai." Arga bergumam dengan mata berbinar dipenuhi ambisi yang menyala-nyala.

Layar biru transparan langsung terbuka menampilkan deretan benih aneh dengan harga yang luar biasa menguras kantong.

Namun Arga kini tidak perlu khawatir karena dia memiliki saldo lebih dari seratus tiga puluh juta rupiah untuk berbelanja.

"Pak Bowo ingin aku hancur miskin dan kelelahan, maka akan kutunjukkan padanya bagaimana caranya menjadi penguasa agribisnis mutlak tanpa butuh bantuan siapa pun."

Arga mulai memilih-milih benih di layar sistem layaknya seorang bos besar yang sedang berbelanja mobil mewah.

Malam ini kebun seng Arga akan dipenuhi oleh tanaman-tanaman monster baru yang akan membuat Siska semakin gila dan Pak Bowo semakin menderita.

1
irena
hancurkan wiratama sampai ke akarnya thor.. Arga dilawan
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
irena
seru banget thor.. kapok si baskoro... klo perlu kasih jadi gembel si baskoro kusuma
Cherlly: iya kaka nanti tunggu bab selanjut nya ya kaka😍
total 1 replies
Cherlly
sangat menarik dan kejutan tk terduga oleh sistem
Gege
emas dunia 1 gram sudah 2.7juta paling murah Thor...🤣
Gege
duit Baru ratusan juta kok bangun villa mewah..🤣
Cherlly: ya kaka, kan itu uang dr awal dia dapet sistem di kumpulin sampe bisa bangun villa mewah,dan masih ada lanjutaan bab yg mengejutkan si pembaca😊
total 1 replies
Gege
perasaan masih ratusan juta belom milyaran kok disebut milyarder Thor..🤣
Sayekti 0519
waah ... udah bisa bantu bikin rumah sakit khusus kanker gratis,mesjid panti.kan udah punya pohon uang
Sayekti 0519
lah rumah nya g d bagusin,klw d dobrak orang jahat gmana??
Cherlly: dia kan punya sistem yg bisa menghasil kan uang dan bisa buat beli rumah baru kaka
nanti di tunggu bab selanjut nya kaka semakin seru nanti nya,saya lagi mikir untuk bab selanjut nya biar lebih menarik😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!