Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Keesokan paginya Zafana terbangun, ia sangat bersyukur karena posisi bangun nya normal, tidak dalam pelukan Oliver.
Zafana melangkahkan kaki keluar kamar dan melihat setiap ruangan yang sepi. Enzi dan Aileen tentu saja masih tertidur didalam kamarnya.
Zafana melangkahkan kakinya menuju dapur dan melihat bahan masakan yang berada didalam kulkas.
Zafana menghela, “gue gak bisa masak juga, malu dong kalau gue gak bikin apa-apa buat sarapannya pak Oliver sama anak-anaknya”
Zafana memilih beberapa bahan masakan yang ada disana lalu memutuskan untuk membuat sayur sup telur puyuh. Mungkin dengan bantuan internet ia akan bisa membuatnya dengan baik.
Matanya menatap apron berwarna navy tergantung didekat rak piring. Dengan segera Zafana memakainya lalu merebus telur puyuh dalam panci dengan air yang mendidih.
“Mami...masak apa?”Zafana menoleh saat menyadari suara bangun tidur Aileen.
“Ai sudah bangun?”tanya Zafana yang diangguki oleh Aileen.
Matanya masih setengah terbuka dan bibirnya mengerucut gemas, “mami, masak apa?”Aileen bertanya sekali lagi.
“Mami masak sayur sup, Ai suka sayur kan?”jawab Zafana.
Aileen mengangguk polos dengan sebelah tangan menggosok matanya dan sebelah tangannya lagi memeluk boneka unicorn, “Ai mau minum susu”
“Susu ya? Botolnya dimana?”tanya Zafana sembari berjongkok dihadapan Aileen.
“Dilemari gantung”jawab Aileen.
“Yaudah, mami bikinin ya, Ai tunggu diruang tamu”ucap Zafana.
Aileen mengangguk lalu berjalan kearah ruang tamu lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa setelah menyalakan televisi.
“Ini gimana caranya bikin susu?”
Greepp
Zafana sontak menegang saat melihat sepasang tangan melingkar didepan perutnya dan sebuah kepala yang bersandar pada bahunya.
“P-pak Oliver—”Zafana menjeda ucapannya, jantungnya berdegup sangat kencang sekarang.
Oliver berdehem dengan mata terpejam lalu semakin menenggelamkan kepalanya di pundak Zafana.
“P-pak ini gimana caranya buat susu? Saya gak bisa”tanya Zafana.
“Kamu masukin dulu air hangat kedalam botol, habis itu tuang susunya 2 sendok aja, terus tambahin air dingin segini”jawab Oliver dengan suara yang parau sambil menunjuk botol yang dipegang Zafana.
“Susunya dimana pak?”tanya Zafana.
Oliver menunjuk kearah kulkas, dan dengan segera Zafana berjalan bersusah payah untuk mengambilnya.
“Ini tuangnya berapa sendok, pak?”tanya Zafana.
Oliver mengangkat tangannya memperlihatkan dua jari telunjuk dan jari tangan yang berdiri bersamaan.
“Ini air nya segimana, pak?”Zafana kembali bertanya.
“Satu buku jari air panas, lalu kocok, terus tambahin pakai air biasa tiga buku jari”jawab Oliver.
Zafana menggeser tubuhnya ke dekat dispenser lalu mengikuti arahan Oliver. Dirasa sudah selesai Zafana ingin beranjak untuk menghampiri Aileen diruang tamu, namun langkahnya tertahan oleh kaki Oliver.
“P-pak, saya mau anterin dulu susu Aileen”ucap Zafana.
Oliver menghela lalu membalikan tubuh Zafana menghadap kearahnya, “saya mau tanya sesuatu”
Zafana mengerti dnegan sesuatu yang dimaksud oleh Oliver, maka dengan segera ia berusaha untuk melepaskan tangan Oliver pada pinggangnya.
“P-pak tapi Aileen nungguin susunya”jawab Zafana.
"Papa udah bangun?"tanya Aileen sontak membuat Zafana mendorong tubuh Oliver secara kasar.
“Ai tepat waktu hehehe..ini susunya sudah jadi’ucap Zafana sambil memberikan botol susu pada Aileen.
Setelah menerimanya Aileen tersenyum menggoda lalu kembali berlari menuju ruang tamu dan menikmati susunya disana sambil menonton tayangan kartun.
Oliver kembali menarik Zafana untuk berdiri dihadapannya, “kenapa---”
“Mama sama papa sedang apa?”tanya Enzi sontak membuat Oliver mengerang pelan.
Zafana berjongkok, “mama sama papa emang selalu begini sayang, Enzi butuh sesuatu?”
Enzi mengangguk, “Enzi mau susu”
“Yaudah, mama buatin ya, Enzi tunggu diruang tamu aja sama Aileen ya”jawab Zafana yang langsung diangguki oleh Enzi.
Enzi berlari menuju ruang tamu dengan senyuman gelinya. Ia merasa sangat senang melihat Oliver dan Zafana tadi. Melihat itu Zafana segera bangkit dan membuatkan susu untuk Enzi yang serupa dengan susu milik Aileen.
Setelah selesai Zafana berbalik hendak memberikan susu itu pada Enzi, namun urung karena Oliver yang menahan tangannya.
“Pak, tunggu sebentar ya..saya mau kasih susu ini ke----”
“Enzi susu kamu sudah jadi”sela Oliver membuat Zafana menghela panjang.
Enzi menghampiri mereka lalu menerima botol susu itu dan kembali berlari menuju ruang tamu duduk disamping Aileen.
“Ai, kamu tau gak mama sama papa lagi apa?”tanya Enzi dengan polos.
“Ai lihat tadi papa mau cium mama”jawab Aileen tak kalah polosnya.
Zafana menyengir, “pak, saya mau ke kamar mandi dulu ya"
Laki-laki itu menyipitkan matanya menatap kearah kompor dengan air yang meluber. Dengan sorot mata yang tajam Oliver segera bergeser dan mematikan kompor itu dan kembali mengunci Zafana dikekangannya.
“Saya mau tanya sesuatu ke kamu aja susah banget sih?”tanya Oliver yang langsung mendapatkan kekehan kecil dari Zafana
"Mas, kamu lagi ngapain?"
Keduanya menoleh saat mendapati Sintya yang tengah berdiri menatap keduanya dengan tatapan terkejut, disampingnya ada Rina yang menatap kearah Zafana dengan tajam.
"Lo sendiri ngapain disitu?"tanya balik Oliver.
"Ya aku kesini mau jemput kamu, kan hari ini kita mau jalan"jawab Sintya.
Zafana yang mendengar itu hendak berjalan meninggalkan mereka, tapi urung saat Oliver kembali menariknya. Dengan helaan yang cukup panjang Zafana kembali ke samping Oliver dengan senyuman yang dibuat-buat pada Sintya dan Rina.
"Kita gak pernah janji buat jalan”jawab Oliver.
"Oliver kamu jadi kasar gitu sama Sintya?"tanya Rina. Sorot matanya masih tertuju pada Zafana.
"Ya siapa suruh ganggu orang pacaran"jawab Oliver sambil menatap wajah Zafana dengan senyuman manisnya.
Zafana hanya bisa diam tanpa ekspresi sekarang, ia bingung harus berbuat apa, mengiyakan kah? Atau malah....ah sudah lah
"Lho? Dia pacar kamu, mas?"tanya Sintya yang diangguki oleh Oliver.
"Oliver, mama gak terima kalau kamu pacaran sama jalang seperti dia”ucap Rina sontak membuat Zafana termenung.
"Siapa yang mama sebut jalang? Wanita yang disamping mama itu?"jawab Oliver.
"Mas, kamu kok jahat banget sama aku? Coba sekarang buktiin kalau dia emang pacar kamu”ucap Sintya berapi-api.
"Buktiin gimana?"tanya Oliver
"Terserah, aku mau lihat respon dia”jawab Sintya
“Cium dia, Oliver!”ucap Rina
"Hah?"Zafana terkejut
"Kenapa? Kok kaget? Bukannya kamu sudah biasa dicium oleh banyak laki-laki?"tanya Rina sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Oke, lihat ini baik-baik ya ma, Sin"
Oliver menangkup wajah Zafana yang sudah menatapnya dengan tatapan khawatir. Ia tersenyum berusaha meyakinkan Zafana dengan senyumannya itu.
"Kamu gak perlu takut”bisik Oliver
Zafana tidak merespons apapun, detik berikutnya Oliver mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Zafana membuat Zafana segera memejamkan matanya rapat-rapat. Merasakan benda kenyal dan hangat menempel dibibirnya sontak membuat jantung Zafana berdegup sangat kencang.
Ini ciuman pertamanya! Bahkan dengan perlahan Oliver mulai menggerakan bibirnya membuat Zafana mencengkram kuat baju Oliver.
"Oliver, kamu itu keterlaluan banget ya!”ucap Rina membuat Oliver segera melepaskan ciumannya dengan Zafana.
“Keterlaluan gimana sih ma? Kan mama yang nyuruh Oliver nyium Zafana, kenapa masih dibilang keterlaluan?”jawab Oliver.
“Keterlaluan karena kamu mau-maunya mencium jalang seperti dia!”ucap Rina lalu menarik tangan Sintya untuk pergi dari sana.
Hati Zafana mencelos mendengar itu, dengan sekuat tenaga ia tersenyum meski air mata sudah membendung dipelupuk matanya.
“Pak, maaf saya harus siap-siap pulang sekarang”gumam Zafana yang masih bisa terdengar oleh Oliver.
“Kamu belum selesai masak”jawab Oliver sambil menahan tangan Zafana.
“Saya...saya sebenernya gak bisa masak, saya Cuma lihat tutorialnya di yutub aja”ucap Zafana sendu.
Oliver menatap layar ponsel Zafana yang menyala lalu kembali menatap puncak kepala Zafana yang sejak tadi menunduk.
“Yaudah lanjut, kamu udah terlanjur rebus telurnya tadi”jawab Oliver.
Zafana menghela, “gak usah pak, yang pasti nanti makanannya jadi kebuang kalau saya lanjutin masaknya”
“Zafa, jangan dengar omongan mama saya, dia memang begitu---”
“Mamanya bapak benar, saya gak pantas buat bapak dan anak-anak bapak”sela Zafana.
Enzi dan Aileen yang memperhatikan Zafana dan Oliver sejak mereka berciuman pun segera berlari menuju dapur dan memeluk kaki Zafana.
“Mama jangan pergi”ucap Enzi.
“Mami...”
“Enzi, Ai, kita bantuin mami masak yuk”ucap Oliver.
Aileen mengangguk, “Horee masak, ayo mami”
zafana mendongak lalu mengusap pipinya yang sudah basah karena air matanya yang tidak bisa ia tahan. Oliver yang melihat itu mengusak rambut Zafana lalu menggendong tubuh Aileen untuk duduk disalah satu tempat duduk didekat pantry.
Mereka benar-benar membantu Zafana memasak sambil sesekali bergurau. Zafana yang sedang berada dalam mood yang buruk pun hanya bisa tersenyum simpul. Sampai beberapa menit terakhir Zafana terlihat kebingungan dengan bumbu yang berada didepannya. Melihat itu Oliver menghampirinya.
“Kenapa?”tanya Oliver dengan sebelah tangan ia pakai untuk merangkul pinggang Zafana.
“Supnya terlalu asin pak, tambahin apa ya?”jawab Zafana.
“Mana coba”ucap Oliver.
Zafana mengambil sendok yang ia gunakan tadi namun tidak jadi ia berikan pada Oliver karena berpikir Oliver tidak akan mau memakainya. Lalu membuka laci untuk mengambil sendok yang baru.
“Ini aja”Oliver segera mengambil sendok yang sebelumnya sudah dipakai oleh Zafana.
“Pak tapi itu bekas---”
“Tambahin gula aja sedikit”sela Oliver.
Zafana terdiam sejenak, “gula ya...gula..”
Oliver tersenyum lalu mencubit pipi Zafana gemas,
“nih”
Zafana terkekeh lalu menuangkannya sesuai takar yang diberitahukan oleh Oliver. Setelah diaduk beberapa kali Oliver kembali mencicipinya lalu tersenyum.
“Tunggu sebentar lagi juga matang kok”ucapnya.
Zafana mengangguk lalu kembali berbalik menatap Enzi dan Aileen yang sedang asik mengigiti wortel mentah. Tadi Oliver yang menyarankan mereka untuk memakannya.
“Udah lapar banget ya?”tanya Zafana yang diangguki oleh Enzi dan Aileen lalu keduanya kembali fokus menatap layar televisi yang menyala.
“Kapan saya bisa menanyakan itu sama kamu?”bisik Oliver.
Enzi melirik dari ujung matanya lalu segera memberi kode pada Aileen untuk berlari menuju ruang tamu. Aileen mengangguk lalu keduanya melompat turun dari tempat duduk dan segera berlari menuju ruang tamu.
Zafana yang melihat itu justru bingung.
“Zafa”panggil Oliver.
“Pak, saya gak enak sama anak-anak..nanti aja ya”jawab Zafana.
Air wajah Oliver berubah drastis lalu segera melepaskan genggamannya pada pinggang Zafana membuat Zafana menghela pelan. Beberapa menit kemudian Zafana mematikan kompor.
“Yeaayyy makan!!!”Aileen dan Enzi sontak berlari ke meja makan saat Zafana membawa mangkuk besar yang sudah terisi penuh oleh sayur sup buatannya bersama Oliver.
“Ai mau disuapin”ucap Aileen dengan antusias.
Zafsna tersenyum, “Enzi juga mau?”
Enzi mengangguk lalu beringsut mendekat kearah Zafana. Oliver hanya diam dengan tatapan datarnya menatap kedua anaknya dan juga Zafana yang sangat terlihat senang. Zafana mulai menuangkan nasi dan sayur sup buatannya keatas piring dihadapannya dan juga milik Oliver.
“Saya gak makan”ucap Olivercepat.
Rheyna tertegun lalu mengambil piring Oliver dan menuangkan kembali nasi yang belum tercampur sayur itu kedalam tempat nasi.
Dengan senang Zafana menyuapi Enzi dan Aileen secara bergantian, tatapannya tertuju pada Oliver yang hanya menatapnya dingin. Zafana menghela lalu menyodorkan satu sendok nasi berkuah kehadapan Oliver.
“Saya tau bapak gak nafsu buat makan makanan saya karena penampilannya yang kayak gini, tapi paling enggak bapak ada buat ganjal perut bapak dulu, sedikit aja”ucap Zafana
Oliver melirik Enzi dan Aileen secara bergantian yang sudah tersenyum kearahnya. Dengan helaan pelan ia menyantap nasi yang berada didepan bibirnya itu lalu mengunyahnya perlahan.