NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Tak Terduga

Kata-kata Narendra menggantung di udara laboratorium yang dingin. Senyum miring cowok itu terasa asing sekaligus mengerikan bagi Cassandra. Seluruh sendi tubuh Cassandra mendadak membeku di depan pintu yang terkunci rapat.

"Lu... lu bohong, kan?" bisik Cassandra dengan napas tercekat. Matanya menatap tajam, berusaha menemukan sisa-sisa kejujuran dari pria di hadapannya. Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan yang utuh dan penuh perhitungan.

Narendra tidak langsung menjawab pertanyaannya. Cowok itu melangkah santai menuju meja server di sudut ruangan. Ia menekan satu tombol pada sakelar manual, membuat lampu darurat berdinding redup menyala remang.

Cahaya kekuningan itu memperlihatkan profil Narendra yang berdiri tegak. Ekspresi wajahnya begitu tenang, sangat kontras dengan kepanikan yang membakar dada Cassandra. Ia menatap Cassandra tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya.

"Gue enggak pernah bohong sama lu, Cas," ujar Narendra pelan.

Suaranya bergema halus di antara barisan komputer yang mati. "Gue cuma menyembunyikan bagian cerita yang enggak perlu lu tahu lebih awal."

Cassandra menggelengkan kepala, mencoba menyusun kembali kepingan logika di kepalanya. Rencana peretasannya empat bulan lalu disusun dengan sangat rapi dan tertutup. Tidak mungkin ada orang luar yang bisa mendeteksinya tanpa meninggalkan jejak digital.

"Empat bulan lalu di minimarket..." suara Cassandra bergetar hebat. "Lu sengaja jatuhkan dompet lu di depan gue?"

Narendra menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. "Bukan cuma dompet, Cas. Gue sengaja pilih minimarket itu karena tahu lu sudah berdiri di seberang jalan selama dua puluh menit."

Ia melangkah satu tindak mendekati Cassandra. Langkah kakinya berbunyi teratur di atas lantai keramik. Cahaya redup menegaskan raut wajahnya yang tak lagi memancarkan kehangatan polos.

"Lu pikir lu cewek paling licik di sekolah ini?" tanya Narendra dengan nada meremehkan. "Lu pikir lu yang pegang kendali waktu lu kasih gue susu cokelat di parkiran? Itu semua skenario yang udah gue siapkan buat lu ikuti."

Dada Cassandra terasa dihantam ombak besar yang menghancurkan seluruh harga dirinya. Papan catur yang selama ini ia banggakan ternyata bukan miliknya. Ia hanyalah bidak yang digerakkan oleh pemain lain dari balik layar.

"Kenapa, Ren?" air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Cassandra. "Kalau lu udah tahu siapa gue dari awal, kenapa lu berpura-pura jadi pahlawan? Kenapa lu harus nampung semua drama gue sama Anggita?!"

Narendra menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depan Cassandra. Tinggi badannya yang menjulang membuat bayangannya menutupi seluruh tubuh cewek itu. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam mata Cassandra.

"Karena bokap gue terlalu kuat buat dihancurkan dari luar," jawab Narendra datar. "Bokap punya sistem keamanan berlapis dan pengacara mahal yang bisa menyapu bersih semua kejahatan finansialnya."

Ia memiringkan kepalanya, menatap raut syok di wajah Cassandra. "Gue butuh seseorang yang punya dendam kesumat buat memicu kejatuhan bokap. Gue butuh lu, Cassandra."

"Lu... manfaatin dendam keluarga gue?" bisik Cassandra tak percaya. Suaranya terdengar sangat rapuh di tengah keremangan ruangan.

"Bukan cuma memanfaatkan, tapi mengarahkan," ralat Narendra tanpa rasa bersalah. "Gue sengaja biarkan Anggita menyebar dokumen masa lalu lu. Gue sengaja dorong Rizal buat datang ke atap sekolah membawa rekaman itu."

Ia menarik napas panjang, menatap mantel tebal yang dikenakan Cassandra. "Gue butuh tekanan publik yang cukup besar supaya bokap gue panik. Waktu bokap gue panik, dia bakal akses server rahasianya buat mengamankan aset, dan di detik itulah pintu peretasan gue terbuka."

Cassandra membelalakkan matanya, menyadari kebenaran yang sangat brutal. Kejadian di atap sekolah, ancaman Rizal, hingga pengusiran Anggita bukanlah kemenangan murni darinya. Semua itu adalah pertunjukan yang dirancang Narendra untuk memancing Baskoro keluar dari sarangnya.

"Lu monster, Narendra..." umpat Cassandra seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Lu jatuhin bokap lu sendiri dan lu jadiin gue umpan!"

Narendra merapatkan jemarinya pada tepian meja kayu di dekat mereka. Emosi yang ditahannya sejak lama perlahan meluap ke permukaan.

"Bokap gue adalah penjahat yang merusak banyak hidup orang, termasuk keluarga lu!" bentak Narendra dengan napas memburu. "Gue harus menghancurkan dia sebelum dia menghancurkan masa depan orang lain lebih jauh!"

Cassandra menatap dada Narendra yang naik turun dengan cepat. Untuk pertama kalinya, ia melihat keutuhan sosok Narendra yang sebenarnya, seorang pria yang terluka namun berani bertindak dingin demi keadilan.

"Tapi ada satu hal yang meleset dari hitungan gue," lanjut Narendra, suaranya mendadak melunak hingga hampir menyerupai bisikan.

Cassandra mengernyitkan dahi, menahan napasnya. "Apa?"

"Gue enggak pernah memperhitungkan kalau gue bakal bener-bener jatuh cinta sama umpan gue sendiri," kata Narendra jujur.

Manik mata cokelat cowok itu mengunci pandangan Cassandra. Tidak ada lagi kebohongan di sana, hanya kejujuran mentah yang membuat dinding pertahanan Cassandra runtuh seketika.

Narendra meraih saku jaketnya, mengeluarkannya sebuah kunci perak kecil, lalu menaruhnya di telapak tangan Cassandra.

"Gue enggak bakal kunci lu di sini," kata Narendra pelan. "Kuncinya ada di tangan lu. Lu bisa buka pintu itu, pergi, dan benci gue seumur hidup lu."

Cassandra memandang kunci perak di genggamannya. Rasa sakit akibat dikhianati beradu dengan ketulusan emosi yang baru saja diakui oleh Narendra.

Sebelum Cassandra sempat melangkah ke pintu, sebuah ledakan keras dan lengkingan sirine memecah keheningan sore dari arah luar gedung sekolah.

BOOM!

Getaran ledakan itu membuat kaca-kaca laboratorium bergetar hebat. Cassandra refleks memegang lengan Narendra, sementara cowok itu langsung memasang badan melindunginya.

Dari balik jendela laboratorium, kepulan asap hitam membumbung tinggi dari arah gerbang utama SMA Garuda.

Langkah kaki panik terdengar berlarian di lorong lantai tiga. Seorang murid berteriak kencang dari luar, "Baskoro kabur dari tahanan! Dia ada di gerbang sekolah!"

Narendra dan Cassandra saling berpandangan dengan mata membelalak. Papan catur yang mereka kira sudah selesai, kini berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya.

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!