Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETEMU
Malam masih panjang di lantai atas Loyalty Hotel. Di ruangan yang penuh asap dan tawa keras, ponsel di saku Billy bergetar pelan. Ia mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit goyah karena minuman, lalu membaca pesan yang baru saja masuk — pesan dari ibunya. Isinya: "Mama pulang duluan ya Billy, soalnya Mama capek. Kamu masih di sini kan?" Billy hanya tersenyum miring, meletakkan ponselnya kembali ke meja tanpa membalas sepatah kata pun. Di tempat yang jauh dari keramaian, wanita yang mengirim pesan itu menatap layar ponselnya yang gelap. Ia nggak terkejut sama sekali saat nggak ada balasan. Ia sudah paham betul bagaimana keadaan anaknya malam ini — terlalu asyik menikmati dunia di sekelilingnya untuk memedulikan pesan dari rumah. Wanita itu hanya menghela napas pelan, lalu berjalan menuju lift untuk pulang sendiri.
Saat ia berdiri tepat di depan pintu lift yang tertutup rapat, tiba-tiba Rey muncul dari arah lorong yang agak gelap. Langkahnya sedikit goyah, bahunya sedikit miring, dan matanya berbinar samar — jelas dia sudah lama menikmati minuman di dalam sana, kondisinya setengah sadar karena mabuk. Namun senyum menggoda di wajahnya justru makin lebar saat melihat wanita itu. Ia berjalan mendekat dengan santai, meski bahunya sesekali bergoyang tak seimbang.
"Malam... malam yang indah sekali, Tante," ucap Rey dengan suara yang sedikit berat dan lambat, seakan harus menyusun kata perlahan-lahan. Matanya menatap lekat-lekat wajah wanita itu, berbinar penuh senyum yang nggak bisa disembunyikan. "Lagi... mau ke mana ya Tante?"
Wanita itu — mama Billy — langsung tertawa renyah mendengar nada bicaranya yang sedikit berbelit, wajahnya terlihat senang dan terhibur. "Tante mau pulang karena sudah larut dan Tante capek," jawabnya dengan nada ramah yang hangat, menatap pemuda itu dengan senyum geli.
Rey tertawa kecil sambil menyandarkan satu tangannya ke dinding di sampingnya agar tetap tegak berdiri. "Pulang... begitu ya," ucapnya pelan namun tegas, lalu mencondongkan badannya sedikit ke depan. "Tapi... sebelum Tante pergi... gue mau bilang sesuatu..."
Mendengar itu, mama Billy tertawa lebih keras lagi, matanya menyipit karena senang melihat keberanian Rey yang makin liar saat mabuk. "Bilang saja, Rey. Tante dengar," ucapnya sambil tertawa lebar, sama sekali nggak merasa tersinggung malah terasa senang dan terhibur.
"Gue... gue cuma mau bilang... Tante cantik sekali malam ini," jawab Rey dengan wajah berusaha serius namun bibirnya tetap melengkung ke atas. "Benar-benar cantik."
Mama Billy masih tertawa lebar, lalu pintu lift terbuka perlahan di hadapan mereka. Ia melangkah masuk sambil masih tersenyum lebar ke arah Rey yang berdiri agak terhuyung-huyung. "Terima kasih pujiannya, Rey. Tante duluan ya. Loe juga hati-hati berdiri di sana, jangan sampai jatuh," ucapnya dengan nada yang sangat ramah dan hangat.
Pintu lift pun perlahan menutup, membawa wanita itu turun ke bawah. Rey tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan senyum samar yang masih menempel di wajahnya. Kepalanya terasa berat, namun bayangan senyum wanita itu seakan masih ada di depannya. Ia berdiri diam cukup lama sambil menggeleng pelan untuk menenangkan pandangannya, sebelum akhirnya berbalik perlahan dan kembali masuk ke ruangan.
Keesokan harinya, pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela kelas. Jam pelajaran sudah dimulai, namun tiga kursi di sudut belakang masih kosong — tempat yang biasa diduduki oleh Alex, Rey, dan Billy. Niko melirik ke arah kursi-kursi itu sambil membuka buku catatannya. Ia menggeleng pelan dalam hati. Kenapa mereka nggak datang hari ini? Biasanya sudah berisik sejak jam pertama, pikirnya. Namun tak lama kemudian ia tersenyum sendiri. Sudahlah, biarkan saja. Selama mereka nggak mengganggu gue, itu sudah cukup baik. Niko pun kembali memusatkan perhatiannya ke papan tulis, berusaha melupakan ketiga orang itu sepenuhnya.
Di sisi lain kelas, Joe duduk diam menatap halaman bukunya, namun matanya nggak benar-benar membaca satu baris pun. Pikirannya melayang jauh — kembali ke dua foto yang ada di laptopnya, ke rumah bercat biru dengan tiang lampu dan kotak pos di depannya. Ia terus berpikir, menyusun rencana dalam benaknya, sampai bel pulang berbunyi. Selama berjam-jam di kelas, ia sama sekali nggak fokus belajar. Yang ada di kepalanya hanyalah satu hal: harus segera pergi ke alamat itu.
Begitu jam perkuliahan selesai, Joe langsung bergegas keluar gedung kampus tanpa menunggu siapa pun. Ia naik ke kendaraannya dan melaju cepat menuju sebuah kompleks perumahan yang cukup jauh dari pusat kota — tempat tinggal seseorang yang ia percaya. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam penuh, namun ia nggak pernah sekalipun merasa ragu. Sesampainya di depan rumah yang cukup besar dan tertata rapi, Joe langsung membuka pagar dan melangkah masuk tanpa berhenti sejenak untuk mengetuk pintu.
Baru saja ia melangkah masuk ke teras, pintu depan terbuka lebar dan seorang lelaki berdiri di sana dengan wajah tak senang. Itu Arthur — teman sekolah Joe.
"Kebiasaan loe nggak pernah berubah, ya? Masuk saja tanpa mengetuk pintu dulu!" bentak Arthur dengan suara keras, meski matanya menyiratkan kegembiraan melihat sahabatnya datang. "Siapa yang mengajarkan loe begitu?"
Joe hanya tersenyum tipis sambil menggaruk belakang lehernya yang nggak gatal. "Maaf deh sob, gue buru-buru. Ada hal penting yang harus kita periksa sekarang juga," jawabnya cepat tanpa bertele-tele.
Arthur menatapnya curiga, lalu melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. "Penting sampai nggak sempat mengetuk pintu? Wah, kalau begitu gue harus pikir-pikir dulu deh," ucapnya dengan nada bercanda yang sengaja dibuat serius. "Gue ikut asal bayarannya setimpal. Jangan harap gue mau capek-capek jalan jauh cuma demi senyum loe doang. Harus ada bayaran yang setimpal, tahu?"
Joe tertawa kecil mendengar tingkah sahabatnya. "Sudah, jangan banyak alasan. Nanti gue beliin makan enak sepuas loe, bagaimana? Itu sudah cukup setimpal kan?" tawarnya sambil tersenyum lebar.
Arthur langsung menurunkan tangannya dan tersenyum lebar mendengar tawaran itu. "Nah, begitu baru namanya teman sejati! Tunggu sebentar, gue siap-siap dulu," jawabnya dengan antusias.
Tak lama kemudian Arthur keluar lagi — ia hanya mengenakan kaus dalam putih polos dan celana pendek kain berwarna hitam, tanpa kemeja luar, tanpa sepatu yang rapi. Joe meliriknya dari atas sampai bawah sambil menggeleng kepala.
"Heh, kenapa loe cuma pakai kaus dalam sama celana kain hitam begitu?" tanya Joe heran sambil menunjuk pakaian sahabatnya. "Kita mau pergi jauh loh, bukan sekadar ke warung depan rumah."
Arthur tertawa lebar sambil membuka pintu mobilnya. "Kita kan bukan pergi ke pesta pejabat, Joe! Cuma cari alamat doang, kenapa harus pakai baju rapi-rapi?" jawabnya santai seakan hal itu sudah jelas sekali.
Joe hanya menggeleng sambil tersenyum pasrah. "Ya sudah, terserah loe saja yang penting kita berangkat sekarang."
Joe langsung mengeluarkan selembar kertas catatan dari saku jaketnya — alamat yang sudah ia salin dari foto lama dengan susah payah. Ia menunjuk tulisan itu ke arah Arthur. "Ini alamat rumah yang ada di foto Paman sebelum beliau berpulang. Gue yakin ini berkaitan dengan apa yang terjadi pada Ayah dan Ibu gue dulu. Kita harus ke sana sekarang."
Mendengar itu, wajah Arthur perlahan berubah menjadi serius. Ia menatap alamat yang ditunjuk Joe cukup lama, lalu mengangguk mantap. "Baik. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Dan jangan lupa janji makan enaknya ya!" serunya sambil tertawa.
Mobil sedan mewah berwarna hitam itu pun melaju keluar kompleks perumahan dengan cepat. Sepanjang perjalanan, mereka nggak pernah berhenti berbicara — kadang berdebat soal jalan yang lebih cepat, kadang bercanda soal kebiasaan Joe yang terburu-buru, kadang Arthur bercerita sedikit tentang masa sekolah mereka dulu. Suasana di dalam mobil terasa hangat meskipun tujuan yang mereka tuju mungkin menyimpan rahasia yang berat.
Dua jam berlalu begitu saja. Mobil mewah itu akhirnya memasuki jalan yang semakin sempit dan kurang terawat, hingga sampai di sebuah daerah yang berupa perkampungan sederhana — rumah-rumahnya berdekatan, jalannya belum rata, dan suasananya tenang namun terlihat kurang terjaga. Mereka berkeliling perlahan, memeriksa setiap papan nama jalan dan nomor rumah dengan teliti, memastikan alamat yang mereka cari benar-benar ada di sana. Joe menatap ke luar jendela dengan napas tertahan, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Tiba-tiba Arthur mengerem pelan di pinggir jalan. Ia menunjuk ke arah sebuah rumah yang letaknya agak menjorok ke dalam. Rumah itu berwarna biru yang sudah mulai pudar dimakan waktu, di depannya berdiri tegak sebuah tiang lampu jalan tua, dan di samping gerbangnya terpasang kotak pos berwarna merah yang sedikit berkarat — persis seperti yang terlihat di kedua foto itu.
"Ketemu," ucap Arthur pelan namun tegas. "Itu rumahnya, Joe."
Joe menatap rumah itu lekat-lekat, seakan ingin menembus dindingnya dengan pandangan. Inilah titik awal yang selama ini ia cari — di balik dinding bercat biru itu, mungkin tersimpan jawaban atas segala pertanyaan yang menghantui hidupnya selama belasan tahun.