NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BOS YANG SUKA MENGUBAH KEPUTUSAN

Hari kedua Alya di Mahendra Group dimulai dengan satu kesimpulan.

Bosnya benar-benar menyebalkan.

Pukul 07.45, Alya sudah duduk di mejanya.

Laptop menyala.

Kopi di samping tangan.

Jadwal Raka untuk hari itu sudah dia susun ulang sejak pukul enam pagi.

Dia bahkan membuat tiga versi.

Versi pertama kalau meeting berjalan sesuai rencana.

Versi kedua kalau investor datang terlambat.

Dan versi ketiga kalau Raka tiba-tiba membatalkan salah satu agenda.

Alya menatap tiga lembar jadwal itu.

“Semoga hari ini tidak ada drama.”

Maya yang duduk di meja sebelah menoleh.

“Kamu ngomong begitu setiap pagi?”

“Baru hari kedua.”

“Justru itu.”

Alya mengerutkan kening.

“Apa?”

Maya menunjuk ke arah pintu ruang Raka.

“Selama dua tahun aku kerja di sini, belum pernah ada asisten yang membuat Pak Raka terlihat…”

Dia berhenti.

“Terlihat apa?”

“Sedikit lebih manusia.”

Alya tertawa.

“Dia tetap menyebalkan.”

Maya ikut tertawa.

“Berarti masih normal.”

Alya kembali menatap layar.

Pukul 07.59.

Satu menit sebelum Raka biasanya datang.

Dia membuka email.

Ada enam belas email baru.

Sebagian besar berkaitan dengan agenda hari itu.

Alya mulai memilah.

Pukul 08.03.

Pintu lift terbuka.

Raka keluar.

Seperti biasa.

Kemeja putih.

Celana hitam.

Wajah tanpa ekspresi.

Dia berjalan melewati meja Alya tanpa berhenti.

Alya berdiri.

“Selamat pagi, Pak.”

Raka berhenti.

“Pagi.”

Kemudian dia melanjutkan langkah.

Alya duduk kembali.

Maya berbisik,

“Dia menjawab.”

“Memangnya kenapa?”

“Biasanya cuma angguk.”

Alya mengangkat bahu.

“Berarti mood-nya bagus.”

Maya tersenyum.

“Semoga.”

PUKUL 08.15

Alya baru selesai membuka email ketika telepon di mejanya berdering.

“Selamat pagi, ruang Direktur Raka. Alya berbicara.”

Suara di seberang terdengar panik.

“Bu Alya, dari tim legal. Meeting dengan Pak Raka pagi ini bisa dimajukan?”

Alya membuka jadwal.

“Jam sepuluh?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Pak Dimas harus ke bandara siang ini.”

Alya berpikir.

“Baik. Saya cek dulu.”

Dia menutup telepon.

Kemudian berdiri.

Masuk ke ruangan Raka.

Raka sedang membaca dokumen.

“Pak.”

“Ya?”

“Tim legal meminta meeting dimajukan ke pukul sembilan.”

“Tidak.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia berbalik.

“Alya.”

Dia menoleh.

“Kenapa tidak?”

“Karena jam sembilan saya ada panggilan dengan Singapura.”

Alya melihat tabletnya.

“Benar.”

“Jadi?”

“Kalau begitu tetap jam sepuluh.”

“Ya.”

Alya keluar.

Belum sampai lima menit, teleponnya kembali berbunyi.

Tim legal.

“Bu Alya?”

“Iya?”

“Pak Dimas benar-benar tidak bisa jam sepuluh.”

Alya menutup mata sebentar.

“Baik. Saya coba cari waktu.”

Dia melihat jadwal Raka.

Tidak ada ruang.

Satu-satunya waktu kosong adalah pukul 12.30.

Alya masuk lagi.

“Pak.”

Raka mengangkat wajah.

“Apa lagi?”

“Meeting legal tidak bisa jam sepuluh.”

“Lalu?”

“Bisa pukul dua belas tiga puluh.”

Raka menggeleng.

“Saya makan siang.”

Alya diam.

Kemudian berkata,

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak makan siang berapa lama?”

“Empat puluh lima menit.”

“Kalau tiga puluh menit?”

“Tidak.”

“Dua puluh lima?”

Raka menatapnya.

“Tidak.”

“Dua puluh?”

“Tidak.”

Alya menarik napas.

“Lima belas?”

Raka meletakkan pena.

“Anda sedang menawar waktu makan siang saya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena saya sedang berusaha menyelamatkan jadwal Bapak.”

Raka diam.

Alya menunjuk tabletnya.

“Kalau meeting legal tidak dilakukan hari ini, kontrak ini tertunda.”

“Kontraknya bisa menunggu.”

“Bisa.”

“Lalu masalahnya?”

“Masalahnya, pihak legal sudah menunggu sejak minggu lalu.”

Raka terdiam.

Alya menambahkan,

“Dan mereka meminta waktu Bapak hanya tiga puluh menit.”

Raka melihat jam.

“Dua belas tiga puluh.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

“Lima belas menit makan siang.”

Alya berhenti.

“Bapak serius?”

“Ya.”

“Bapak mau makan dalam lima belas menit?”

“Bisa.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia keluar.

Namun baru dua langkah dari pintu—

“Alya.”

Dia menoleh lagi.

“Ya, Pak?”

“Jangan terlalu banyak mengatur.”

Alya tersenyum.

“Saya dibayar untuk mengatur jadwal Bapak.”

Raka terdiam.

Alya langsung keluar.

Dari luar dia bisa mendengar Maya menahan tawa.

PUKUL 12.25

Alya berdiri di depan ruang meeting.

Semuanya sudah siap.

Tim legal sudah datang.

Dokumen sudah tersedia.

Laptop sudah terhubung.

Raka keluar dari ruangannya.

“Ayo.”

Mereka berjalan bersama.

Di tengah jalan, ponsel Raka berbunyi.

Dia melihat layar.

“Meeting ini dibatalkan.”

Alya berhenti.

“Apa?”

“Investor Singapura meminta video conference sekarang.”

“Tapi meeting legal—”

“Pindahkan.”

Alya memandangnya tidak percaya.

“Pak.”

“Apa?”

“Kita sudah sampai depan ruang meeting.”

“Saya tahu.”

“Tim legal sudah menunggu.”

“Saya tahu.”

“Bapak sendiri yang menyetujui.”

“Saya berubah pikiran.”

Alya menatapnya.

Untuk beberapa detik dia tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian menarik napas.

“Baik.”

Raka berjalan kembali.

Namun baru beberapa langkah, Alya berkata,

“Pak.”

Raka berhenti.

“Kenapa?”

“Bapak mau saya mengubah semuanya?”

“Ya.”

“Baik.”

Alya mengambil tabletnya.

“Kalau begitu saya juga berubah pikiran.”

Raka menoleh.

“Apa maksudnya?”

Alya tersenyum.

“Meeting legal tetap jalan.”

Raka mengerutkan kening.

“Saya bilang—”

“Saya dengar.”

“Lalu?”

“Bapak punya dua pilihan.”

Alya mengangkat dua jari.

“Pertama, Bapak tetap ikut meeting legal selama tiga puluh menit.”

“Dan kedua?”

“Bapak ikut video conference investor dari ruang meeting legal.”

Raka menatapnya.

“Tidak bisa.”

“Bisa.”

“Kenapa?”

“Karena saya sudah menghubungi pihak Singapura.”

Raka terdiam.

“Mereka setuju menunggu tiga puluh menit.”

Alya tersenyum.

“Masalah selesai.”

Raka menatapnya.

“Bagaimana Anda bisa membuat mereka setuju?”

“Saya bilang direktur kami sedang menyelesaikan masalah kontrak yang nilainya jauh lebih besar.”

Raka terdiam.

Alya melanjutkan,

“Tidak bohong.”

Raka menatapnya lama.

Kemudian berkata,

“Baik.”

Alya tersenyum.

“Terima kasih.”

Mereka masuk ke ruang meeting.

Dimas, kepala tim legal, berdiri.

“Pak Raka, maaf—”

“Tidak apa-apa.”

Raka duduk.

Alya berdiri di belakangnya.

Dimas menatap Alya.

“Bu Alya yang mengatur semuanya?”

Alya mengangguk.

Dimas tersenyum.

“Bagus.”

Raka langsung menoleh.

“Kenapa?”

Dimas tertawa.

“Tidak apa-apa.”

Namun Alya melihat sesuatu.

Dimas seperti sedang menggoda Raka.

Dan anehnya—

Raka terlihat sedikit tidak nyaman.

PUKUL 13.10

Meeting selesai.

Raka keluar.

Alya mengikuti.

“Pak.”

“Ya?”

“Video conference lima menit lagi.”

“Baik.”

“Bapak belum makan.”

“Saya tahu.”

“Jadi makan dulu.”

“Tidak sempat.”

Alya berhenti.

“Bapak.”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

“Kalau Bapak pingsan di depan investor, saya tidak akan ikut mengangkat.”

Raka menatapnya.

Kemudian—

dia tertawa kecil.

Sangat kecil.

Hampir tidak terdengar.

Alya membeku.

Dia belum pernah melihat Raka tertawa.

“Bapak…”

“Apa?”

“Bapak bisa tertawa juga?”

Wajah Raka kembali datar.

“Tidak.”

“Tadi tertawa.”

“Tidak.”

Alya tersenyum.

“Saya lihat.”

“Anggap saja tidak pernah terjadi.”

“Baik.”

Alya berjalan pergi.

Raka mengikutinya.

“Dan jangan cerita kepada siapa pun.”

Alya menoleh.

“Rahasia?”

“Ya.”

Alya tersenyum.

“Baik, Pak.”

PUKUL 17.30

Hari mulai sore.

Alya sedang merapikan dokumen ketika Dimas datang.

“Bu Alya.”

“Iya?”

“Terima kasih tadi.”

“Untuk?”

“Sudah menyelamatkan meeting.”

Alya tersenyum.

“Sama-sama.”

Dimas meletakkan sebuah kotak kecil di meja.

“Ini.”

Alya membuka.

Kue.

“Untuk saya?”

“Iya.”

“Wah, terima kasih.”

Dimas tersenyum.

“Besok saya traktir makan siang.”

Alya tertawa.

“Tidak perlu.”

“Tidak apa-apa.”

Dimas pergi.

Alya tidak menyadari bahwa dari balik kaca ruangannya, Raka melihat semuanya.

Raka menatap kotak kue di meja Alya.

Kemudian kembali ke laptop.

Namun entah kenapa—

dia tidak bisa berkonsentrasi.

Beberapa menit kemudian, dia keluar.

“Alya.”

Alya berdiri.

“Ya, Pak?”

“Dokumen investor sudah dikirim?”

“Sudah.”

“Yang legal?”

“Sudah.”

“Jadwal besok?”

“Sudah.”

Raka melihat meja Alya.

Kotak kue.

“Dapat dari siapa?”

Alya mengangkat alis.

“Dimas.”

“Kenapa?”

“Katanya terima kasih.”

Raka mengangguk.

“Oh.”

Dia berbalik.

Alya menatap punggungnya.

“Pak.”

Raka berhenti.

“Ya?”

“Bapak mau?”

Dia menunjuk kotak kue.

Raka menoleh.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Padahal enak.”

Raka diam.

Alya tersenyum.

“Kalau berubah pikiran, ambil saja.”

Raka mengangguk.

Kemudian kembali ke ruangannya.

Lima menit kemudian—

dia keluar lagi.

Alya menatapnya.

“Pak?”

Raka mengambil satu potong kue.

“Ini untuk saya.”

Alya tertawa.

“Katanya tidak mau?”

“Saya berubah pikiran.”

Alya menggeleng.

“Bapak memang suka berubah pikiran.”

Raka menatapnya.

“Masalah?”

“Tidak.”

Alya tersenyum.

“Sudah saya duga.”

PUKUL 18.20

Kantor mulai sepi.

Alya mematikan laptop.

Maya sudah pulang lebih dulu.

Dia mengambil tas.

Saat melewati ruang Raka, pintunya masih terbuka.

Raka sedang bekerja.

Alya mengetuk.

“Pak.”

“Ya?”

“Saya pulang.”

Raka melihat jam.

“Jam berapa?”

“Enam lewat dua puluh.”

“Besok datang pukul delapan.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia berbalik.

Namun Raka memanggilnya.

“Alya.”

Dia menoleh.

“Besok pagi…”

Raka berhenti sebentar.

“Buatkan jadwal saya lebih longgar.”

Alya mengangkat alis.

“Bapak yang kemarin bilang jangan terlalu banyak mengatur?”

Raka menatapnya.

“Saya berubah pikiran.”

Alya tertawa kecil.

“Baik, Pak.”

Dia pergi.

Raka kembali bekerja.

Namun beberapa menit kemudian, dia melihat ke arah pintu.

Kosong.

Entah kenapa, hari itu terasa sedikit berbeda.

Biasanya dia tidak peduli ketika karyawan pulang.

Tetapi sekarang…

dia baru menyadari bahwa meja di luar ruangannya sudah kosong.

Dan untuk pertama kalinya—

Raka merasa ruangan itu terlalu sunyi.

Dia mengerutkan kening.

“Kenapa saya memperhatikan itu?”

Dia kembali bekerja.

Tidak menemukan jawabannya.

Belum.

MALAM ITU

Alya sedang berada di dalam bus ketika ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Raka Mahendra.

Alya langsung duduk tegak.

Pesannya singkat.

Besok jangan terlambat.

Alya mengetik:

Saya tidak pernah terlambat, Pak.

Pesan berikutnya masuk.

Hari ini hampir.

Alya membalas:

08.47 bukan terlambat.

Raka:

Jam kerja 08.00.

Alya:

Bapak sendiri datang 08.03.

Tidak ada balasan.

Alya tersenyum.

“Menang.”

Beberapa detik kemudian—

ponselnya berbunyi lagi.

Besok saya datang lebih awal.

Alya tertawa.

Dia mengetik:

Bagus. Saya tunggu.

Raka membaca pesan itu cukup lama.

Kemudian tanpa sadar tersenyum.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

dia menantikan hari kerja berikutnya.

Bukan karena meeting.

Bukan karena investor.

Bukan karena bisnis.

Tetapi karena seseorang akan datang ke mejanya pukul delapan pagi—

dan kemungkinan besar akan membuatnya kesal.

Dan anehnya…

Raka mulai menyukai itu.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!