Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 24: Diana
Gagang itu turun semakin dalam di depan mereka berdua.
Arya meraih pintu sebelum terbuka penuh. Tubuhnya menghalangi pandangan ke dalam kamar.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
Diana berdiri membawa map. Matanya bergerak dari rambut Arya yang berantakan ke bibirnya, lalu mencoba melihat melewati bahu pria itu.
“Saya mau memberi materi untuk besok. Kirana di dalam?”
“Tinggalkan di saya.”
“Kenapa kamu ada di kamarnya tengah malam?”
“Kamar lama bocor. Saya memeriksa listrik.”
Kirana sudah berdiri di dekat meja, gaunnya rapi meski wajahnya masih panas. “Terima kasih materinya, Bu Diana.”
Diana menatapnya lama. “Saya harap saya tidak mengganggu.”
“Mengganggu,” jawab Arya.
Ia mengambil map dan menutup pintu.
Kirana memukul lengannya pelan. “Mas kasar.”
“Dia memutar gagang pintu kamar orang tanpa izin.”
“Sekarang Mas harus pergi.”
Arya menyentuh bibir Kirana sekali dengan ibu jari. “Kali ini kamu benar-benar menyuruh?”
“Iya.”
Arya mundur. “Kunci setelah saya keluar.”
Kirana melakukannya. Saat bersandar pada pintu, lututnya masih lemas oleh ciuman yang bukan lagi bagian dari drama.
***
Seminar hari Minggu dimulai dengan suasana yang tampak normal. Hanya Kirana, Arya, dan Diana yang tahu apa yang terjadi di balik pintu malam sebelumnya.
Diana memimpin sesi tentang risiko reputasi perusahaan. Dalam salah satu studi kasus, ia sengaja meminta Kirana menjawab bagaimana konflik kepentingan memengaruhi keputusan investasi.
“Konflik kepentingan harus dinyatakan dan keputusan diverifikasi pihak independen,” jawab Kirana. “Seperti penilaian akademik yang diperiksa dua pengajar.”
Beberapa peserta mengangguk. Prof. Hartono tersenyum tipis karena memahami arah jawaban.
“Bagaimana kalau hubungan pribadinya sendiri merusak kepercayaan publik?” desak Diana.
“Maka yang dinilai adalah tindakan dan bukti, bukan asumsi tentang siapa dekat dengan siapa.”
Arya duduk di sisi panggung, tidak membantu. Ia membiarkan Kirana mempertahankan argumennya sendiri. Sikap itu justru membuat Kirana lebih kuat.
Setelah sesi, Prof. Hartono menghampiri Diana. “Pertanyaan kritis bagus. Tapi jangan gunakan mahasiswa untuk percakapan pribadi.”
“Saya membahas studi kasus.”
“Saya sudah cukup tua untuk mengenali sindiran.”
Diana tidak membalas. Ia pergi membawa laptop.
Kirana mendekati Arya di meja kopi. “Kenapa Mas diam?”
“Karena kamu tidak butuh diselamatkan.”
“Kalau saya gagal menjawab?”
“Saya koreksi sebagai pengajar, bukan mengambil alih sebagai laki-laki yang mengejarmu.”
Jawaban itu bertolak belakang dengan gambaran Diana tentang lelaki yang akan membuat Kirana mengecil. Namun rahasia tetap ada, dan Kirana tidak bisa terus menilainya hanya dari momen manis.
Saat sesi penutup, setiap kelompok mempresentasikan rencana tindak lanjut. Kirana menjadi juru bicara timnya dan mendapat komentar positif dari dua universitas. Diana tidak bisa meremehkan hasil tersebut tanpa melawan penilaian seluruh forum.
Winda memeluk Kirana ketika mereka mengemas barang. “Kalau ada yang bilang lo nggak sejajar, lempar sertifikat seminar ini.”
“Belum ada yang bilang.”
“Wajah Bu Diana sudah pidato.”
Mereka tertawa, tetapi Kirana tahu pertempuran sebenarnya belum dimulai.
Di parkiran, Diana sudah berdiri di samping mobilnya dengan wajah cemas yang terlalu rapi.
Sesaat kemudian, Diana mengumumkan bannya kempis di parkiran vila.
“Aneh sekali,” katanya. “Semalam masih baik.”
Pengelola memeriksa dan menemukan bekas tusukan kecil. Prof. Hartono meminta staf memanggil bengkel terdekat.
Diana mendekati Arya. “Saya bisa ikut mobil kamu ke Jakarta. Nanti mobil saya dibawa orang kampus.”
“Tidak bisa.”
“Kursinya masih kosong.”
“Rian sudah mengatur teknisi dan mobil pengganti untukmu.”
Ponsel Diana berbunyi hampir bersamaan. Seorang pengemudi menunggu di gerbang dengan mobil sewaan.
“Kamu menyiapkan itu kapan?”
“Saat melihat bekas tusukan.” Tatapan Arya jatuh pada kunci kecil yang mencuat dari saku mantel Diana. “Lain kali gunakan cara yang tidak merusak barang sendiri.”
Wajah Diana berubah sesaat. “Kamu menuduh saya?”
“Saya memberi saran.”
Arya berjalan menuju bus mahasiswa, meninggalkannya.
Sebelum keberangkatan, Diana menemukan Kirana sendirian di koridor belakang aula.
“Kamu senang?” tanyanya.
“Tentang apa?”
“Arya menolak saya di depan semua orang.”
“Itu keputusan beliau.”
Diana menyilangkan lengan. “Kamu masih sangat muda. Mungkin perhatian dosen terlihat romantis sekarang, tapi nama buruk akan tinggal lebih lama daripada hubungan.”
“Kalau Ibu peduli etika, laporkan lewat jalur resmi.”
“Saya peduli kepadamu.”
“Kita baru bertemu kemarin.”
Senyum Diana mengeras. “Saya mengenal dunia Arya. Keluarganya, lingkarannya, standar hidupnya. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu dekati.”
Kalimat itu mengenai kegelisahan yang sudah ada.
“Arya butuh perempuan yang bisa berdiri sejajar, bukan mahasiswa yang masih mencari arah.”
“Apakah berdiri sejajar berarti menusuk ban sendiri demi menumpang mobilnya?”
Mata Diana menyala. “Hati-hati bicara.”
“Ibu yang datang memberi nasihat tanpa diminta.” Kirana menjaga suaranya tetap datar. “Hidup saya bukan urusan Ibu.”
“Saya hanya tidak ingin kamu menjadi ngengat yang terbakar karena mendekati cahaya terlalu besar.”
“Kalau saya terbakar, itu tetap risiko yang saya pilih.”
Kirana pergi sebelum Diana melihat kata-katanya benar-benar melukai.
Di bus pulang, Kirana memilih kursi dekat jendela bersama Winda. Arya duduk di seberang lorong bersama Prof. Hartono. Jarak hanya satu meter, tetapi terasa seperti dunia berbeda.
“Diana ngomong apa?” bisik Winda.
“Katanya saya nggak sejajar.”
“Perempuan yang nusuk ban sendiri ngomong soal kelas?”
“Dia benar soal satu hal. Saya nggak tahu hidup Mas Arya.”
Winda memutar tubuh menghadapnya. “Tapi lo tahu cara dia memperlakukan orang. Status bisa disembunyikan, kebiasaan sulit.”
“Kebiasaan Mas Arya termasuk membeli apartemen dan menggerakkan tim keamanan dalam empat jam. Itu bukan kebiasaan dosen biasa.”
“Nah, itu yang harus lo tanyakan langsung.” Winda menurunkan suara. “Kalau jawabannya terus nanti, lo boleh memutuskan berapa lama mau menunggu. Jangan menyerahkan tenggat ke dia.”
Kirana mengangguk. Ia membutuhkan jawaban, bukan versi Diana dan bukan dugaan sendiri.
“Dan jangan biarkan saingan menjelaskan pacar lo.”
“Belum pacar.”
“Detail.”
Bus mulai turun dari Puncak. Hujan membuat kaca berembun. Kirana menatap pemandangan tanpa berani melihat Arya.
Sebuah botol minuman hangat berpindah dari seberang lorong. Arya meletakkannya di meja kecil Kirana.
“Tanganmu dingin.”
“Terima kasih, Prof.”
Sapaan formal itu membuat mata Arya menyempit. Ia tidak memaksa bicara. Hanya membuka telapak tangannya di antara kursi, tersembunyi di bawah jaket.
Kirana ragu, lalu meletakkan jemari di atasnya.
Arya menggenggamnya dan menghangatkan tanpa kata.
Winda pura-pura tidur.
Kirana memandang dua tangan yang tersembunyi dari seluruh bus. Diana mungkin benar bahwa dunia Arya lebih besar daripada yang ia pahami. Usia, posisi, dan rahasia tetap berdiri di antara mereka.
Namun tangan lelaki itu tidak melepaskan.
Pertanyaan yang mengganggu Kirana kini menjadi semakin jelas: mereka sebenarnya sedang menuju hubungan seperti apa setelah semua ini?