NovelToon NovelToon
JADIAN YUK!!

JADIAN YUK!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.

Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.

Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Apakah dia Batman?

Kesadaran keduanya perlahan kembali, dan Laila langsung menarik tangannya sekuat tenaga. Namun ia kalah cepat, Arjuna justru mempererat genggamannya, tidak melepaskan sedikit pun.

Posisi mereka terlihat sangat aneh. Arjuna masih berlutut di lantai, tepat di hadapan Laila, seolah sedang berlutut melamar seseorang. Dengan senyum tengil yang tak pernah hilang, ia menatap mata gadis itu dalam-dalam dan berbicara dengan nada menggoda.

“Kenapa ditarik? Bukannya lo senang bisa pegang tangan gue? Nikmati aja dulu momen langka ini,” godanya sambil menyeringai, semakin mempererat cengkeramannya.

Wajah Laila memerah bukan karena malu, melainkan karena kesal. Ia sudah ingat jelas perlakuan Arjuna semalam di kafe, dan sekarang laki-laki ini berani bersikap seenaknya lagi. Tanpa berpikir panjang, Laila membuka mulutnya dan menggigit telapak tangan Arjuna sekuat tenaga tepat di bagian empuknya.

“AAAGRRHHH!!!”

Teriakan kesakitan Arjuna menggelegar di sepanjang koridor, sampai beberapa siswa di kelas terdekat menoleh kaget. Refleks ia melepaskan genggamannya, tangan kanannya langsung ditarik menjauh sambil mengguncang-guncangkannya.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Laila segera meraih buku terakhir itu, menatap Arjuna sekilas dengan pandangan menang, lalu berbalik dan melangkah pergi seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa kesal semalam sudah terbalas, pikirnya. Senyum tipis puas tersungging di bibirnya saat berjalan menjauh.

Sementara itu, Arjuna masih berjongkok di tempat sambil meringis kesakitan. Ia meniup-niup bekas gigitan itu berkali-kali, matanya menyipit menahan perih. Gibran, Rian, dan Bowo mendekat sambil mengintip telapak tangan itu terlihat jelas bekas gigi yang membekas kemerahan dan sedikit berdarah.

“Ngilu juga lihatnya, Bos… gigitannya beneran kuat,” gumam Rian sambil meringis ikut merasakan.

Arjuna masih meniup tangannya, wajahnya cemberut kesal. “Dasar cewek aneh! Apa dia Batman ya? udah dua kali gue di gigit sama dia.”

Bowo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat bingung. “Tunggu… kalau yang gigit biasanya kan Drakula, bukan Batman. Batman itu kan cuma pakai jubah dan pegas, dia nggak menggigit orang, Bos.”

Arjuna menoleh tajam, lalu menjitak kepala Bowo keras-keras. “Diem aja lo! gausah benerin kata kata gue!”

Ketiganya hanya tertawa kecil melihat ketua mereka yang kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Arjuna terus menggosok-gosok tangannya, tapi anehnya meski terasa perih, di dalam hatinya justru makin terasa tertantang.

 

...****************...

Bel berbunyi berkali-kali, menandakan jam pelajaran terakhir pagi telah usai dan tiba waktunya jam istirahat. Koridor sekolah yang tadinya hening seketika riuh dipenuhi siswa-siswa yang berhamburan menuju kantin atau keluar sebentar untuk membeli jajan.

Arjuna sudah duduk santai di bangku panjang di sudut halaman sekolah yang teduh, ditemani ketiga temannya. Tangan kanannya masih dibalut perban kecil dari ruang UKS, bekas gigitan itu masih terasa ngilu kalau digerakkan terlalu keras.

“Bos, mau pesan apa? Biar gue yang belikan,” tawar Rian sambil berdiri bersiap pergi ke kantin.

“Nasi goreng dan es teh manis. Yang manisnya pas, jangan terlalu banyak gula,” jawab Arjuna santai, tapi tiba-tiba ia teringat syarat yang dulu ia ucapkan ke Laila semalam. Bibirnya kembali menyeringai.

Saat Rian baru melangkah beberapa langkah, pandangan Arjuna menangkap sosok mungil yang melintas di seberang jalan setapak. Laila sedang berjalan beriringan dengan dua orang temannya, membawa bekal dari rumah dan berjalan menuju taman kecil yang jarang dikunjungi orang.

Tanpa ragu, Arjuna langsung berdiri dan menyusulnya. “gausah Ian, gue udah punya makanan.”

Gibran dan Bowo saling pandang, lalu mengangguk paham. “Sudah ditebak pasti mau ke mana dia.”

Di taman yang rindang pohon, Laila baru saja membuka kotak bekalnya bersama kedua temannya saat bayangan tinggi menutupi cahaya matahari di atas mereka. Saat mendongak, terlihat Arjuna sudah berdiri di hadapannya dengan tangan bersedekap dada dan senyum tengil yang tak berubah.

Laila langsung menghela napas panjang, matanya memutar malas. “Belum puas ganggu gue ya? Mau apa lagi?”

Arjuna duduk seenaknya di bangku kosong tepat di sebelah Laila, mengangkat tangannya yang dibalut perban itu ke depan wajah gadis itu.

“Mau apa? Tentu minta ganti rugi dong. Tangan gue digigit sampai begini, rasanya perih terus. Gimana? Mau ganti pakai uang atau mau ganti dengan melayani gue sampai luka ini sembuh?” godanya santai, tidak takut dimarahi lagi.

Teman-teman Laila langsung menatap terpesona melihat kedatangan Arjuna, tapi Laila justru tetap seperti biasa dengan gaya jutek. Ia menatap perban itu sebentar, lalu menatap mata Arjuna dengan datar.

“Ya itu akibat perbuatan lo sendiri. Kalau nggak pegang tangan orang sembarangan, nggak bakal digigit. Itu bukan ganti rugi, itu hukuman yang pantas buat orang yang suka ganggu,” jawabnya tegas tanpa ragu.

Arjuna tertawa kecil mendengar jawabannya. “Bagus… makin tajam mulutnya. Justru karena begini, gue makin nggak mau lepasin lo, Laila Arsyila. Mulai hari ini, anggap saja ini pertandingan kita siapa yang bisa bikin lawan menyerah duluan.”

Laila hanya menatapnya malas, lalu melanjutkan makannya seolah laki-laki di sampingnya itu tidak ada. Namun di dalam hatinya, ia sadar. hidupnya di sekolah mulai tidak akan tenang lagi sejak bertemu dengan Arjuna Baskoro.

1
Rafi Hafizh
hati hati Laila🫣
Rafi Hafizh
vampir kali jun🤣
Ananda Anggit
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!