Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
Gedung pertemuan utama Universitas Surabaya pagi itu diselimuti atmosfer yang luar biasa megah. Riuh rendah suara obrolan dari ribuan wisudawan berbalut toga hitam bercampur dengan tangis haru para orang tua yang memadati barisan kursi tribun belakang. Alunan musik instrumental gamelan Jawa bertempo lambat mengalun dari sistem pengeras suara gantung, memberikan kesan sakral pada upacara kelulusan akbar semester genap ini.
Di barisan kursi baris paling depan, tepat di bawah panggung utama yang dihiasi hamparan bunga mawar dan lili segar, Anya Kirana duduk dengan tegak. Pakaian wisuda resminya—kebaya brokat modern berwarna merah marun pas badan dipadukan dengan kain jarik lilit belah tengah tinggi—membingkai siluet tubuh proporsionalnya setinggi 165 cm dan berat 55 kg dengan teramat sempurna. Kulit putih cerahnya tampak begitu bersih, bersinar lembut di bawah siraman lampu sorot LED panggung. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut membingkai wajah oriental tegasnya. Di pundak toganya, tersampir selempang emas bertuliskan bordir kuning mengilap: Summa Cum Laude.
"Selanjutnya, mari kita dengarkan pidato kelulusan dari perwakilan lulusan terbaik utama universitas, mahasiswi dari Fakultas Seni dan Desain, Anya Kirana Bramantyo," suara lantang sang rektor bergaung memecah keheningan ruangan.
Duar!
Tepuk tangan riuh seketika bergemuruh dari tribun barat tempat Ririn dan anak-anak tim DKV Surabaya duduk. Anya menarik napas dalam-dalam, meraba ulu dadanya sejenak untuk menstabilkan debaran hangat yang bergulung di sana. Dia bangkit berdiri dari kursinya dengan keanggunan seorang wanita dewasa yang seksi, anggun, sekaligus berkarakter kuat. Langkah kakinya yang mantap membawanya menaiki anak tangga panggung menuju podium emas utama.
Di barisan kursi VIP orang tua, Anya sempat menangkap lambaian tangan Mamanya yang menangis haru, Joana yang tersenyum lebar, dan Papanya yang duduk di kursi roda dengan binar kebanggaan yang teramat besar. Namun, di sudut terjauh dekat pintu keluar VIP, sepasang mata elang yang sangat tajam dan familier ikut mengunci pandangannya seutuhnya.
Edgard Baskoro berdiri di sana.
Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu mengenakan setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna pada tubuh tegap atletisnya. Jam tangan perak mewahnya berkilau di pergelangan tangan kirinya. Tatapan mata Edgard memancarkan samudra cinta, kebanggaan, dan kehangatan yang begitu membuncah, menghapus seluruh sisa keangkuhannya sebagai CEO utama di masa lalu.
Anya menyesuaikan letak mikrofon di hadapannya, lalu menatap ribuan pasang mata di depannya dengan tatapan yang tenang dan jernih.
"Selamat pagi dewan rektorat, dosen, orang tua, dan seluruh rekan wisudawan yang saya banggakan," suara bariton Anya mengalun tenang, stabil, dan penuh karisma melalui pengeras suara. "Tiga setengah tahun yang lalu, saya tiba di kota Surabaya ini sebagai seorang gadis delapan belas tahun yang linglung, hancur, dan membawa koper penuh dengan air mata rasa sakit hati. Saat itu, saya berpikir bahwa dunia telah berakhir karena orang-orang yang saya sayangi membuang saya ke dalam pengasingan sepi."
Anya menjeda kalimatnya, melirik sekilas ke arah Papa Bramantyo yang mengangguk lemah dengan air mata penyesalan yang luruh di pipinya, lalu pandangannya beralih menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Edgard Baskoro yang bergetar menahan haru.
"Namun, di kota Pahlawan ini, di bawah terik matahari yang membakar kulit, saya terpaksa belajar satu hal yang paling berharga: bagaimana cara bertahan hidup menggunakan kaki saya sendiri," lanjut Anya, suaranya naik satu oktav, memancarkan ketegasan yang memukau seluruh isi gedung. "Kemandirian bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah perisai yang saya tempa sendiri di atas altar kerja keras. Dan hari ini, saat saya berdiri di mimbar ini dengan predikat terbaik, saya menyadari bahwa luka masa lalu bukanlah akhir dari takdir saya, melainkan sebuah gerbang pembuka yang menempa saya menjadi wanita yang jauh lebih kuat, berkelas, dan mandiri. Terima kasih kepada Surabaya, terima kasih kepada dosen-dosen hebat saya, dan terima kasih... kepada mereka yang telah memberikan saya kekuatan untuk membuktikan siapa diri saya yang sesungguhnya."
Begitu Anya menutup pidatonya dengan anggukan hormat yang anggun, keheningan sesaat di dalam gedung langsung pecah oleh gemuruh tepuk tangan yang luar biasa dahsyat. Beberapa dosen senior bahkan bangkit berdiri memberikan standing ovation. Anya melangkah turun dari panggung dengan senyuman termanis dan paling lega yang pernah menghiasi wajah cantiknya seumur hidup.
Satu jam kemudian, upacara wisuda resmi ditutup. Pintu-pintu ganda gerbang keluar utama gedung pertemuan dibuka lebar-lebar, menumpahkan ribuan wisudawan yang berhamburan keluar untuk menemui keluarga mereka yang sudah menunggu di pelataran luar yang luas dan rindang.
Anya berjalan keluar didampingi oleh Ririn yang terus mengoceh riang tentang rencana perayaan mereka nanti malam. Toga hitamnya sengaja dia buka kancing atasnya karena hawa siang Surabaya yang mulai menyengat, menampilkan keindahan kebaya marun berkerah rendah yang membingkai kulit putih cerahnya dengan sangat seksi. Tas ransel kulit hitam minimalisnya kini digantikan oleh map ijazah kulit beludru biru.
Langkah kaki Anya mendadak melambat, lalu terhenti sepenuhnya tepat di undakan teratas tangga selasar luar gerbang utama.
Di tengah pelataran taman yang ramai oleh kerumunan orang, area melingkar selebar tiga meter mendadak kosong, menyisakan ruang steril yang sengaja dilewati oleh orang-orang dengan tatapan mata penuh kekaguman dan bisik-bisik penasaran.
Di pusat area steril itu, berdirilah Edgard Baskoro.
Jas hitam formalnya telah dilepas, kini dia hanya mengenakan kemeja putih sutra pas badan dengan beberapa kancing atas yang dibuka, menampilkan siluet tubuh tegap atletisnya yang kokoh di bawah terik matahari siang. Di kedua tangan tegapnya, pria itu mendekap sebuah buket bunga raksasa yang dibungkus kain sutra hitam eksklusif. Buket itu dipenuhi oleh ratusan tangkai bunga lili putih kualitas premium yang mekar sempurna tanpa ada satu pun kelopak yang cacat, memancarkan wangi dewasa yang misterius—wangi yang melambangkan identitas baru Anya Kirana saat ini.
Di belakang Edgard, Papa Bramantyo yang duduk di kursi roda bersama Mama Mirna dan Joana tersenyum lebar dengan air mata kebahagiaan yang masih basah di pipi mereka, memberikan ruang penuh bagi sang CEO utama untuk menunaikan janjinya.
Edgard mendongak. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci pandangannya tepat pada sosok Anya yang berdiri di atas tangga. Sorot mata pria sedingin es itu tampak bergetar hebat karena debaran cinta yang teramat membuncah di dalam dadanya. Di hadapan ribuan pasang mata wisudawan, orang tua, dan jajaran dewan dosen yang melangkah keluar, Edgard membalikkan seluruh poros keangkuhannya. Pria yang biasanya selalu ditakuti dan dihormati di dunia bisnis kelas atas Jakarta itu melangkah maju tiga langkah dengan teratur, lalu perlahan menurunkan tubuh tegapnya—berlutut dengan satu kaki di atas paving blok pelataran kampus yang panas.
Edgard mengangkat buket bunga lili putih raksasa itu ke udara, menyodorkannya ke hadapan Anya dengan tangan yang sedikit gemetar karena luapan emosi yang tidak tertahankan.
"Tiga setengah tahun yang lalu, saya adalah pria bodoh dan pengecut yang menolak bekal makananmu di Jakarta, Anya..." suara bariton Edgard yang berat, dalam, dan serak menggema di antara keheningan pelataran yang mendadak sunyi karena semua orang terkesiap menyaksikan aksi nekat sang konglomerat. "Hari ini, di bawah langit Surabaya yang menjadi saksi kesuksesan murnimu, saya memenuhi janji saya untuk berdiri di depan gerbangmu. Saya menyerahkan seluruh sisa hidup saya, posisi saya, dan ego saya di bawah kakimu. Anya Kirana... maukah kamu memberikan hak protokoler kepada pria yang paling bucin di dunia ini untuk mendampingi sisa langkah hidupmu sebagai kekasih resmimu?"
Mendengar pernyataan cinta yang begitu megah, dramatis, sekaligus teramat tulus dari seorang Edgard Baskoro yang telanjur luluh sepenuhnya, air mata kebahagiaan akhirnya luruh membasahi pipi putih cerah Anya. Senyuman termanis yang pernah ada di dunia mengembang sempurna di bibir indahnya. Dia melangkah turun dari undakan tangga dengan keanggunan yang memikat, memangkas jarak di antara mereka hingga dia berdiri tepat di hadapan pria yang dulu paling sulit dia gapai.
Anya menerima buket bunga lili putih raksasa itu dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya yang lentik terulur menyentuh garis rahang kokoh Edgard, memaksa pria itu untuk bangkit berdiri kembali. Anya menatap lurus ke dalam manik mata elang Edgard dengan binar ketulusan yang utuh.
"Iya, Kak Edgard... Anya mau," bisik Anya lirih namun teramat manis.
Edgard tidak menunggu sedetik pun lagi. Dia langsung menarik tubuh proporsional Anya ke dalam pelukan hangat dan protektifnya, mendekap wanita itu erat-erat di dadanya di hadapan sorak-sorai riuh dan tepuk tangan gemuruh dari seluruh isi pelataran kampus Surabaya siang itu. Di bawah terik matahari kota pengasingannya, perisai dingin di hati Anya telah runtuh seutuhnya, berganti menjadi sebuah takdir baru yang penuh dengan kehangatan cinta sejati yang akan mereka bawa pulang kembali ke Jakarta.
semangat nulisnya 💪