NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Pertemuan dengan Pedang Langit

Kabut pagi menyelimuti jalur pegunungan yang dipilih Ryosuke setelah meninggalkan persimpangan jalan sehari sebelumnya. Berbeda dengan jalan utama menuju Greenville yang masih sesekali dilalui pedagang maupun utusan militer, jalur ini tampak seolah telah ditelan waktu. Pepohonan tua tumbuh rapat di kedua sisi jalan setapak, akar-akar besar menjalar di atas bebatuan, sementara lumut tebal menutupi sisa-sisa bangunan kuno yang sesekali muncul di antara rimbunnya hutan. Tidak ada suara roda kereta, tidak ada percakapan para pengelana, hanya desir angin dan kicauan burung yang sesekali memecah keheningan.

Ryosuke melangkah perlahan sambil mengamati keadaan di sekelilingnya. Pengalaman beberapa bulan hidup sebagai ronin mengajarkannya bahwa tempat yang terlalu sunyi justru sering kali menyimpan bahaya yang tidak terlihat. Tangannya tidak pernah jauh dari gagang Nichirin-gatana, bukan karena ia berharap bertemu musuh, melainkan karena kebiasaan untuk selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Menjelang siang, jalur pegunungan mulai berubah menjadi kawasan berbatu yang dipenuhi reruntuhan. Pilar-pilar batu yang telah patah berdiri miring di berbagai sudut, sebagian telah ditelan akar pohon yang tumbuh selama ratusan tahun. Pecahan dinding dengan ukiran simbol-simbol kuno berserakan di tanah, memperlihatkan bahwa tempat itu dahulu pernah menjadi bangunan megah sebelum akhirnya ditinggalkan oleh sejarah.

Ryosuke berhenti sejenak di depan sebuah gerbang batu yang telah runtuh sebagian.

"Aneh..."

Ia memperhatikan ukiran pada salah satu pilar.

Ukiran itu menggambarkan dua bilah pedang yang saling bersilangan di bawah langit yang dipenuhi bintang, sementara di bagian bawahnya terdapat gambar matahari dan bulan yang mengapit sebuah meteor berukuran besar. Meskipun sebagian besar pahatan telah terkikis oleh hujan dan angin, hasil pengerjaannya masih menunjukkan tingkat keahlian yang luar biasa.

"Apa sebenarnya tempat ini?"

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Ia kembali melanjutkan langkah memasuki reruntuhan tersebut.

Semakin jauh ia berjalan, semakin kuat pula aliran mana yang dapat ia rasakan. Ryosuke bukan penyihir, sehingga kemampuannya merasakan mana tidak sepeka para pengguna sihir, tetapi bahkan dirinya dapat merasakan bahwa energi di tempat itu berbeda dari tempat-tempat lain yang pernah ia kunjungi. Mana di udara terasa lebih padat, lebih tua, dan mengandung tekanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Belum lama ia menelusuri lorong batu yang dipenuhi puing, suara geraman berat tiba-tiba bergema dari balik reruntuhan.

Tanah bergetar pelan.

Beberapa batu kecil menggelinding turun.

Seekor monster perlahan muncul dari balik bayangan.

Tubuhnya menyerupai beruang raksasa, tetapi seluruh punggungnya dipenuhi kristal-kristal hitam yang memancarkan cahaya redup. Kedua cakarnya begitu besar hingga mampu menghancurkan bongkahan batu hanya dengan sekali ayunan, sementara mata merahnya menatap Ryosuke seolah menganggap manusia yang berdiri di hadapannya hanyalah penyusup yang harus disingkirkan.

Ryosuke segera mengenali makhluk itu dari cerita para pemburu.

Crystal Fang Bear.

Monster yang dikenal sangat teritorial dan sering menjadikan reruntuhan kuno sebagai sarangnya karena kandungan mana di tempat-tempat seperti itu jauh lebih tinggi daripada hutan biasa.

Monster itu mengaum keras sebelum menerjang.

Ryosuke segera menghindar ke samping, membiarkan cakar besar lawannya menghantam tanah hingga bebatuan di sekitarnya retak. Tanpa membuang kesempatan, ia mengayunkan Nichirin-gatana ke arah kaki depan monster tersebut. Bilah pedangnya berhasil mengenai sasaran, tetapi hanya meninggalkan goresan tipis pada lapisan kristal yang melindungi tubuh lawannya.

"Sekeras itu..."

Ryosuke segera mundur.

Crystal Fang Bear kembali menyerang tanpa memberi waktu baginya untuk berpikir. Pertarungan berlangsung jauh lebih berat daripada ketika menghadapi Stone Fang Wolf beberapa hari sebelumnya. Setiap kali monster itu mengayunkan cakarnya, tanah di sekitar mereka bergetar hebat. Bebatuan runtuh dari langit-langit reruntuhan, memaksa Ryosuke terus berpindah tempat agar tidak terjebak.

Ia mulai menyadari bahwa kekuatan lawannya bukan hanya berasal dari ukuran tubuhnya, melainkan juga dari kristal-kristal hitam yang menyelimuti punggungnya. Selama kristal itu tetap utuh, serangan Nichirin-gatana hampir tidak mampu memberikan luka berarti.

Ryosuke menarik napas panjang.

Ia mengingat kembali pelajaran yang selalu diajarkan Haruto.

("Setiap lawan memiliki kelemahan. Jangan melawan kekuatannya. Temukan celahnya.")

Pandangan Ryosuke bergerak cepat mengamati tubuh monster itu.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

Kristal-kristal yang menutupi punggung Crystal Fang Bear tidak sepenuhnya menyelimuti bagian lehernya. Ada celah kecil yang hanya terlihat ketika monster itu mengangkat kedua kaki depannya untuk menyerang.

"Itu dia..."

Monster itu kembali mengaum lalu menerjang.

Kali ini Ryosuke tidak menghindar terlalu jauh. Ia justru maju beberapa langkah tepat ketika kedua kaki depan lawannya terangkat. Dalam satu gerakan cepat, tubuhnya berputar melewati sisi kanan monster, lalu Nichirin-gatana meluncur menuju celah yang telah ia incar.

Bilah pedang menembus bagian yang tidak terlindungi.

Crystal Fang Bear mengaum keras.

Tubuh raksasanya kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya roboh menghantam lantai reruntuhan dengan suara yang menggema ke seluruh kompleks kuno itu.

Ryosuke berdiri diam sambil mengatur napasnya.

Pertarungan itu jauh lebih melelahkan daripada yang ia duga.

Ia menyarungkan kembali Nichirin-gatana, lalu mulai memperhatikan bagian terdalam reruntuhan yang sebelumnya dijaga oleh monster tersebut.

Di sana berdiri sebuah bangunan berbentuk kuil kecil yang masih utuh meskipun bangunan-bangunan lain telah runtuh dimakan usia. Berbeda dengan reruntuhan di luar, dinding kuil itu hampir tidak ditumbuhi lumut, seolah ada sesuatu yang terus melindunginya selama ratusan tahun.

Rasa penasaran mendorong Ryosuke melangkah masuk.

Bagian dalam kuil sangat sederhana.

Tidak terdapat patung dewa ataupun altar persembahan.

Hanya sebuah ruangan bundar dengan lantai batu yang dipenuhi lingkaran sihir kuno.

Di tengah ruangan itu berdiri sebuah batu hitam setinggi dada orang dewasa.

Sebuah pedang tertancap di dalamnya.

Bilahnya berwarna hitam pekat dengan semburat kebiruan yang hanya terlihat ketika terkena cahaya. Gagangnya dibalut anyaman hitam dan emas, sementara pelindung tangannya berbentuk sepasang sayap yang mengembang ke arah langit. Meskipun telah tertancap di sana selama entah berapa abad, tidak ada sedikit pun tanda karat pada permukaannya.

Saat Ryosuke melangkah semakin dekat, udara di dalam ruangan mendadak berubah.

Mana yang memenuhi kuil bergerak menuju pedang itu.

Lingkaran sihir di lantai mulai memancarkan cahaya redup.

Tanpa sadar Ryosuke mengulurkan tangan.

Begitu jemarinya menyentuh gagang pedang, cahaya hitam kebiruan memenuhi seluruh ruangan.

Suara gemuruh bergema dari dalam batu tempat pedang itu tertancap.

Retakan-retakan kecil mulai menjalar ke seluruh permukaannya.

Ryosuke mencoba menarik pedang tersebut.

Awalnya tidak bergerak sedikit pun.

Ia menarik napas dalam, lalu kembali mengerahkan seluruh tenaganya.

Retakan pada batu semakin banyak.

Cahaya yang keluar dari lingkaran sihir berubah semakin terang.

Hingga akhirnya...

Craaak!

Batu penyangga itu pecah.

Pedang tersebut perlahan terangkat dari tempatnya.

Pada saat yang sama, gelombang mana yang sangat besar menyapu seluruh ruangan hingga membuat jubah Ryosuke berkibar. Tekanan energi itu begitu kuat sehingga reruntuhan kuil bergetar, debu-debu berjatuhan dari langit-langit, dan cahaya hitam kebiruan memancar tinggi menembus atap bangunan menuju langit.

Ryosuke memandang pedang yang kini berada di tangannya.

Entah mengapa, tidak ada rasa asing ketika menggenggamnya.

Justru sebaliknya.

Seolah-olah pedang itu telah menunggu dirinya sejak waktu yang sangat lama.

Di pangkal bilahnya terukir beberapa huruf kuno.

Meskipun belum pernah mempelajari bahasa tersebut, kata-kata itu secara perlahan muncul di dalam benaknya, seakan disampaikan langsung oleh mana yang mengalir melalui pedang itu.

Tenkū Matō.

Pedang Iblis Langit.

Ryosuke memandang bilah hitam itu dalam diam.

Ia belum memahami kekuatan yang baru saja memilihnya.

Ia juga belum mengetahui bahwa sejak pedang legendaris itu terbangun dari tidur panjangnya, roda takdir Aldabaron mulai bergerak menuju babak baru yang jauh lebih besar daripada perang yang sedang berkecamuk di daratan utama.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!