NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

Jarum jam di dinding perlahan melewati angka sebelas malam. Rumah kecil milik Rina semakin sunyi, hanya suara angin sesekali menggoyangkan ranting pohon di luar.

Anindiya masih duduk di kursi samping tempat tidur, matanya merah menahan kantuk. Sejak dokter pulang, ia hampir tidak beranjak—sesekali mengganti kompres di dahi Rina, lalu memastikan napas gadis itu masih teratur meski masih berat. Demamnya belum juga turun, tapi setidaknya wajah Rina tak lagi seteganda beberapa jam lalu.

"Kamu ini keras kepala banget, sih," gumam Anindiya sambil membenarkan selimut yang melorot. "Udah dibilang jangan maksa kerja kalau badan lagi drop, tetep aja ngeyel." Ia tersenyum tipis—separuh gemas, separuh khawatir. Rina memang selalu begitu. Dulu, waktu masih magang di sanggar, gadis itu pernah ngotot menata dua puluh gaun sendirian cuma supaya Anindiya nggak perlu lembur. Kebiasaan keras kepala yang sama yang bikin Anindiya sayang sekaligus sering geregetan setengah mati.

Rasa lelah mulai benar-benar menguasai tubuhnya. Pagi ia masih di sanggar, sore bergegas ke sini begitu dengar kabar Rina demam tinggi, dan sekarang ia masih berjaga tanpa sempat menutup mata barang sebentar. Matanya sudah sulit terbuka. Ia menoleh ke jam dinding sekali lagi, meyakinkan diri sendiri—sebentar saja, cuma merem sebentar, nanti kalau Rina butuh sesuatu pasti kedengaran, toh pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka.

Ia berbaring di kasur lipat di samping tempat tidur Rina. "Semoga besok kamu udah baikan," bisiknya, lebih ke diri sendiri daripada ke Rina yang tak sadarkan diri. Tak lama, kelelahan menariknya jatuh ke tidur yang jauh lebih dalam daripada biasanya—terlalu dalam, sampai-sampai ia sendiri tak akan pernah bisa menjelaskan kenapa malam itu ia tidur seperti orang yang dibius.

Udara di kamar perlahan berubah. Angin dari ventilasi membuat tirai bergerak pelan, dan entah hanya perasaan atau bukan, malam itu terasa jauh lebih berat dari biasanya—seolah sesuatu di luar sana sedang menahan napas, menunggu.

Aroma bunga melati menyusup masuk, samar lalu makin lama makin pekat. Kemudian terdengar suara lirih, seperti seseorang memanggil dari kejauhan.

"Rina..."

Suara itu hilang sebentar, lalu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

"Rina..."

Tubuh Rina yang sejak tadi tak bergerak perlahan bangkit duduk. Matanya terbuka, tapi kosong—tak ada sorot kesadaran, seolah ada sesuatu yang sudah masuk dan mengambil alih tempatnya. Ia turun dari tempat tidur pelan-pelan, melewati Anindiya yang tetap terlelap tanpa bergeming sedikit pun—tidur yang bukan tidur biasa, seolah sengaja dibuat supaya tak ada yang menghalangi.

Rina berjalan keluar kamar, keluar rumah. Pintu depan yang tadinya terkunci terbuka sendiri, tanpa suara, seakan sudah tahu ke mana ia akan pergi.

Di luar, jalanan sepi total. Rina terus melangkah tanpa ragu, tanpa menoleh, seperti benang yang ditarik oleh tangan tak kelihatan. Beberapa langkah di belakangnya, sesosok perempuan bergaun putih ikut berjalan, rambut panjang menutupi wajah, aroma melati mengikuti di setiap jejaknya. Tak seorang pun—bahkan anjing atau jangkrik yang biasanya ribut di gang itu—seolah sengaja dibuat tak menyadari kehadirannya. Seluruh lingkungan seakan ikut ditidurkan, seperti Anindiya.

Tak lama, Rina berdiri di depan sanggar. Pintu yang seharusnya terkunci terbuka sendiri, dan ia melangkah masuk. Hanya cahaya bulan dari jendela besar yang menerangi jalannya menuju ruang koleksi, tempat sebuah gaun pengantin sudah tergantung rapi di gantungan—seolah memang sudah menunggu, sudah tahu siapa yang akan datang malam itu.

Rina mendekat, tangannya menyentuh kain putih yang lembut itu. Di belakangnya, sosok perempuan tadi kini berdiri sangat dekat, lalu berbisik dingin.

"...pakai gaunku..."

Rina mengenakan gaun itu. Begitu kain menutupi tubuhnya, aroma melati membanjiri ruangan dan udara berubah dingin menusuk. Lampu-lampu yang mati berkedip sesaat, seolah ruangan itu sendiri ikut merespons sesuatu yang baru saja terjadi.

Dalam cermin besar di ruang koleksi, Rina tak lagi sendirian—perempuan bermata hitam itu berdiri tepat di belakangnya, lalu mengangkat tangan pelan. Rina melangkah ke sudut ruangan, mengikuti perintah yang tak terdengar siapa pun. Setelah itu, kesunyian kembali turun. Tidak ada lagi langkah, tidak ada lagi bisikan—hanya gaun putih yang bergoyang pelan dalam gelap, seakan baru saja selesai menyelesaikan sesuatu yang sudah lama ia tunggu.

 

Menjelang subuh, seorang warga yang hendak ke pasar melihat pintu sanggar terbuka sedikit—hal yang tidak biasa, karena sanggar itu selalu tertutup rapat di jam segitu. Ia berhenti sejenak, merasa ada yang tidak beres, lalu melangkah mendekat.

"Permisi..."

Tak ada jawaban. Ia memanggil sekali lagi sambil mendorong pintu perlahan. Ruangan masih gelap, hanya cahaya subuh yang baru muncul menyusup lewat celah jendela.

Beberapa langkah kemudian, pandangannya terpaku ke ruang koleksi. Tubuhnya membeku, wajahnya pucat pasi. Dalam hitungan detik, jeritan keras memecah kesunyian pagi.

"Tolong...! Tolong...!"

Suara itu membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah, berlari menuju sanggar satu per satu. Beberapa yang memberanikan diri masuk hanya bisa terdiam—lalu ada yang menutup mulut dengan tangan gemetar begitu mengenali wajah di bawah gaun putih itu. Bukan cuma karena gaunnya, tapi karena semua orang di kampung itu tahu betul siapa Rina, asisten perias yang tiap pagi selalu lewat sambil menyapa siapa saja yang ditemuinya di jalan.

Di ruang koleksi, Rina ditemukan tak bernyawa, tergantung di atas kusen pintu, gaun pengantin putih masih melekat rapi di tubuhnya. Tak ada yang berani mendekat. Beberapa ibu menangis sambil menutup mulut, ada yang memalingkan wajah karena tak sanggup melihat.

Suasana yang biasanya tenang berubah panik total. Seseorang menghubungi pihak berwajib, yang lain berusaha mencari Anindiya—satu-satunya orang yang mereka tahu paling dekat dengan Rina, orang yang seharusnya tahu di mana gadis itu semalam. Kabar menyebar cepat, dan dalam waktu singkat, halaman sanggar sudah dipenuhi orang.

Tak seorang pun di antara mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa jam sebelumnya. Yang mereka lihat hanya kenyataan pahit di depan mata: asisten perias yang dikenal ramah itu kini pergi untuk selamanya.

Dan di tengah keramaian itu, gaun pengantin putih tetap tampak bersih, anggun, tak berubah sedikit pun—seolah tragedi yang baru saja terjadi tak pernah benar-benar menyentuhnya.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!