Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Senin pagi, seluruh siswa Starline High School dikumpulkan di aula untuk pengumuman rutin mingguan. Kepala sekolah berdiri di podium, didampingi jajaran OSIS termasuk Kieran dan Sophia.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya," kepala sekolah memulai, "sekolah kita akan mengadakan Festival Starline bulan depan. Setiap kelas diminta menyiapkan satu stan atau pertunjukan, dan akan ada kompetisi antar kelas dengan hadiah khusus bagi pemenang."
Gemuruh antusias langsung terdengar dari seluruh penjuru aula. Festival Starline, seperti yang Rean ingat dari novel yang pernah ia baca, adalah salah satu acara terbesar sekolah — penuh dengan stan makanan, pertunjukan seni, dan berbagai lomba kreatif antar kelas.
"Kelas 10-B akan buka stan apa, ya?" bisik Ethan penuh semangat begitu mereka kembali ke kelas.
Diskusi kelas langsung ramai begitu wali kelas membuka forum ide.
"Stan makanan aja!"
"Nggak, drama musikal lebih seru!"
"Rumah hantu gimana?"
Di tengah keriuhan itu, Rean hanya duduk mendengarkan, sedikit takjub melihat betapa antusiasnya teman-teman sekelasnya merencanakan sesuatu bersama-sama. Ini jenis kebersamaan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat cerita.
"Rean, kamu ada ide?" tanya Lucas, tiba-tiba menoleh padanya.
Rean tersentak, tidak menyangka ditanya. "A-aku? Aku belum pernah ikut festival sebelumnya, jadi nggak begitu tahu..."
"Justru itu menarik," sela wali kelas mereka, tersenyum. "Kadang ide segar datang dari orang yang belum terbiasa dengan pola pikir lama."
Semua mata di kelas menoleh padanya, membuat Rean sedikit gugup. Ia berpikir sejenak, mengingat berbagai festival sekolah yang pernah ia baca di buku-bukunya dulu.
"Bagaimana kalau... stan kafe kecil?" usulnya pelan.
"Tapi temanya seperti perpustakaan. Jadi orang bisa makan sambil membaca, dan kita bisa pinjamkan buku-buku dari klub sastra juga."
Hening sejenak sebelum beberapa suara mulai bersahutan setuju.
"Eh, itu ide bagus juga!"
"Unik, beda dari kelas lain!"
Ethan menepuk punggung Rean bangga. "Lihat! Idemu langsung diterima!"
Rean tersenyum kecil, merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya — perasaan diterima, dihargai, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Di kelas sebelah, kabar tentang ide unik dari kelas 10-B sudah mulai menyebar, sampai juga ke telinga Elora yang sedang membahas rencana kelasnya sendiri.
"Ide kafe perpustakaan? Itu dari kelas 10-B?" tanyanya penasaran pada Lily.
"Katanya sih ide dari anak baru itu, si Rean," jawab Lily sambil menyeringai kecil, memperhatikan reaksi sahabatnya.
Elora tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum tipis sendiri, entah kenapa merasa bangga mendengarnya — seolah keberhasilan kecil Rean adalah sesuatu yang juga membuatnya ikut senang.
Sepulang sekolah, kelas 10-B berkumpul di ruang kelas untuk membahas detail stan kafe perpustakaan mereka. Meja-meja digeser membentuk lingkaran besar, papan tulis dipenuhi coretan denah dan daftar tugas.
"Kita butuh dekorasi rak buku palsu, meja-meja kecil, sama menu makanan ringan," Lucas mencatat sambil sesekali menyesuaikan kacamatanya. "Siapa yang mau urus dekorasi?"
Beberapa tangan terangkat. Rean, yang duduk di pojok bersama Ethan, mengangkat tangannya dengan ragu.
"Aku... bisa bantu pilih buku-buku yang mau dipajang," katanya. "Kebetulan aku sudah kenal beberapa anggota klub sastra, mungkin bisa pinjam koleksi mereka."
"Bagus banget!" Ethan menepuk bahunya.
"Sekalian kamu jadi penanggung jawab bagian buku, ya?"
Rean mengangguk, sedikit bangga diberi tanggung jawab pertamanya di sekolah. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya — menjadi bagian dari sebuah tim, memiliki peran yang jelas, dipercaya oleh orang lain.
Rapat berlangsung hingga sore, dipenuhi diskusi, perdebatan kecil soal warna dekorasi, dan tawa saat seseorang mengusulkan ide yang terlalu berlebihan seperti menyewa kostum maskot buku raksasa.
Ketika semua mulai berkemas, Ethan menghampiri Rean yang sedang merapikan catatannya.
"Eh, aku denger kamu deket sama Elora, ya?" tanyanya, nada jahil terselip di suaranya.
Rean mengerjap. "Deket? Kami cuma satu klub sastra sama-sama."
"Iya, tapi dia kelihatan beda kalau lagi sama kamu," Ethan menyeringai. "Biasanya dia nggak seramah itu ke anak baru."
"Mungkin dia memang orangnya ramah," jawab Rean polos, benar-benar tidak menangkap maksud tersirat di balik ucapan Ethan.
Ethan tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Ya sudahlah, nanti juga kamu ngerti sendiri."
Rean mengerutkan kening, bingung kenapa semua orang terus mengatakan hal serupa padanya belakangan ini — bahwa ia akan "mengerti sendiri" nanti. Namun karena tidak menemukan jawaban pasti, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan merapikan tasnya untuk pulang.
Di luar jendela kelas, langit sore mulai berwarna jingga, menyinari halaman sekolah yang perlahan sepi ditinggalkan siswa-siswa yang pulang satu per satu. Bagi Rean, hari-hari seperti ini — sederhana, penuh aktivitas kecil, dikelilingi teman — adalah harta yang paling berharga yang pernah ia miliki.