Bella Oceana adalah istri kedua dari Alan Elvis. Alan menikahi Bella karena Tevy sudah tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Alan. Tevy sudah lumpuh sejak tiga tahun terakhir karena kecelakaan. Karena alasan tersebut, Alan menikah lagi dengan wanita yang ia kenal dari sebuah restaurant. Karena pada saat itu Bella adalah Manager Restaurant tersebut. Pernikahan Alan dengan Bella tentunya tidak di ketahui oleh Tevy. Alan sangat menyayangi Tevy, ia tidak akan sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepada istrinya. Namun Alan juga pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita. Sudah satu minggu ini sikap Tevy begitu berbeda kepada Alan, menjadi sangat manja dan tidak ingin ditinggal terlalu lama. Tentu saja sikap Tevy membuat Alan serba salah karena ia juga harus bekerja dan tentunya menemui Bella, istri keduanya. Setiap Tevy mulai menyentuh tubuh Alan, yang terbayang dalam benaknya adalah wajah Bella, desahan Bella, dan juga erangannya diatas ranjang. Dan itu semua membuat Alan memiliki hasrat berlebih untuk bersama dengan Bella. "Sayang, aku pikir kamu udah gak bergairah, ternyata sentuhanku masih bisa membuat kamu seperti ini" ucap Tevy Seketika mata Alan terbuka, ia menyadari jika yang sedang menyentuh miliknya bukanlah Bella, melainkan Tevy istri sahnya sejak tujuh tahun ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Tevy begitu panik karena Alan tidak berada di kantor, namun Tevy enggan untuk pulang dan tetap ingin menunggu Alan sampai kembali.
Helia kemudian memberanikan diri untuk menjelaskan, jika Helia izin pulang karena harus packing untuk agenda business trip.
"A-apa?" mata Tevy terbelalak mendengar penjelasan Helia
"Benar Bu, saya dan Pak Ghaly akan melakukan business trip besok"
"Pak Alan?"
"Saya kurang tahu Ibu, karena hanya ada dua tiket. Saya dan Pak Ghaly saja"
"Dimana Ghaly?"
"Sudah pulang Bu"
"Suruh kembali ke kantor"
"Mohon maaf Ibu, tapi kami juga perlu waktu untuk packing. Kami melakukan pekerjaan ini karena permintaan Pak Alan"
"Oh, kamu berani melawan saya? Atau saya harus laporkan kepada Pak Alan?" ucap Tevy arogan.
"Tidak apa-apa Ibu, kami hanya bersikap profesional dan mengikuti arahan Pak Alan. Kalau memang setelah ini kami di salahkan, kami akan menerima konsekuensinya. Terimakasih" ucap Helia.
"Kuranng ajar kamu Helia!" triak Tevy
Helia meninggalkan ruangan Alan, meninggalkan Tevy di kursi rodanya bersama dengan Intan, yang membantunya selama ini.
Tevy merasa sangat kesal, ancaman demi ancaman Tevy kirimkan kepada Alan. Namun Alan sama sekali tidak merespon.
Sementara sore ini di hotel dekat bandara, Bella dan Alan sedang menikmati tidur siang bersama. Bella terlelap dalam pelukan Alan, sementara Alan yang sudah bangun dari tidurnya hanya memperhatikan Bella yang masih memejamkan matanya.
"Cantik" gumam Alan
Alan mencium kening Bella, dan memejamkan matanya kembali. Tapi tiba-tiba pikirannya tertuju pada Tevy. Ia sudah mengabaikan Tevy sejak siang, Alan juga penasaran masalah apa saja yang sudah Tevy buat selama ia mengabaikannya.
Meraih ponselnya di nakas dengan hati-hati, Alan memmbaca pesan semua pesan Tevy namun anehnya, Alan tidak terpancing sedikitpun oleh amarah Tevy. Matanya kemudian menatap Bella, dan Alan berfikir mungkin karena ada Bella bersamanya, jadi Alan merasa sedikit tenang.
Karena memang pembawaan Bella yang cukup tenang, mungkin itu semua berpengaruh kepada kontrol diri Alan saat ini yang terbawa untuk tetap tenang.
Bella mulai bergerak, ia membuka matanya perlahan lalu menatap Alan dengan tatapan sayunya.
"Sudah banguns dari tadi sayang?" tanya Bella
"Gak, barusan sayang. Tidur aja lagi, masih jam 5"
"Gak sayang, nanti aku gak bisa tidur"
"Mau bangun?"
"Iya, mau ke kamar mandi. Kamu mau ngapain?"
"Aku kerja bentar ya sayang"
"Ke kantor?"
"Oh gak, disini aja. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang ya"
"Okey sayang"
Bella mulai baranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi. Lalu Alan kembali membuka laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Mendengar suara air, Alan berfikir jika Bella sedang mandi.
Lalu Alan berinisiatif untuk memesankan Bella makanan dan mengirimkan ke kamar mereka. Tiga puluh menit kemudian Bella keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya.
"Sayang, aku sudah pesankan makanan untuk kamu"
"Oh, thank you baby"
"You're welcome"
Bella kembali masuk ke kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya dan merias wajahnya dengan riasan tipis, setelah itu ia keluar dengan wajah yang sangat fresh. Alan masih menatap Bella, kemudian ia mendengar suara bell kamar.
"Aku saja" ucap Alan
Bella hanya mengangguk kemudian duduk di sofa, dan menunggu makanan dibawa masuk. Setelah staff hotel keluar, Alan memanggil Bella untuk makan.
"Kamu suka ini gak sayang? Kalau gak kita pesan yang lain"
"Aku suka, kamu?"
"Aku makan buah"
"Okey sayang"
Alan membantu menyajikan untuk Bella, kemudian mereka makan bersama di dalam ruangan tersebut.
Momen yang sangat sulit untuk mereka lakukan adalah makan bersama tidur bersama dan bersama dengan aman tanpa rasa hawatir.
Namun Bella tetap memahami kondisi hubungannya dengan Alan, meskipun sesekali terbesit di benak Bella, jika ia ingin memiliki Alan sepenuhnya tanpa menghiraukan Tevy.
Namun hati kecil Bella masih memiliki rasa kasihan karena kondisi Tevy saat ini, tapi jika harus meninggalkan Alan, bahkan Bella tidak yakin jika ia bisa melakukannya.
"Are you okay baby?" tanya Alan
"Sure, why baby?"
"Kamu kelihatannya lagi stress"
"Oh, gak kok sayang. Mungkin lagi capek"
"Kamu yakin?"
"Iya sayang"
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita. Apapun itu, kamu juga istriku apapun yang kamu hadapi kamu bisa bilang. Mungkin kamu cemburu sama Tevy atau apapun, kamu bisa bilang sayang"
Bella tersenyum dan mengangguk perlahan. Kemudian ia kembali fokus dengan makanannya. Bella berfikir ingin sekali menyampaikan apa yangs edang ia pikirkan, namun ia hawatir jika itu hanya akan mengganggu kenyamanan Alan, mengingat hubungan Alan dengan Tevy saat ini sedang tidak baik.