NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Le Pacte

Janji yang Belum Selesai

BOOOM!

Ledakan mengguncang lorong.

Debu memenuhi udara.

Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.

Aku refleks menutup kepala.

"Maël!"

teriak Léo.

"Aku di sini!"

Henri menarik Camille menjauh dari reruntuhan.

Pierre melindungi Chloé dan Jules yang sejak tadi bersembunyi di belakang dinding batu.

Suara ledakan perlahan menghilang.

Yang tersisa hanyalah gema...

Dan bau mesiu.

Aku batuk beberapa kali.

Debu membuat mataku perih.

"Lucien!"

teriakku.

Tak ada jawaban.

Kami menyorot lorong dengan senter.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Seolah pria tua itu tidak pernah berdiri di sana.

Yang tertinggal hanya tongkat hitamnya.

Aku berjalan mendekat.

Mengambil tongkat itu perlahan.

Kepala tongkat berbentuk rubah.

Kayunya terasa hangat.

Seakan baru saja dilepaskan dari genggamannya.

Henri langsung menghampiri.

"Jangan disentuh terlalu lama."

"Kenapa?"

"Lucien..."

"...tidak pernah meninggalkan sesuatu tanpa alasan."

── Maël kepada kalian ──

Aku mulai sadar.

Musuh yang paling berbahaya...

Bukan orang yang membawa senjata.

Melainkan orang yang membuatmu terus bertanya-tanya.

Dan Lucien...

Sangat ahli melakukan itu.

── Kembali ke cerita ──

Étienne memeriksa dinding yang runtuh.

"Lorong ini sengaja diledakkan."

katanya.

"Bukan untuk membunuh kita."

"Lalu?"

"Untuk memutus jalan."

Pierre mengernyit.

"Berarti..."

"...dia memang ingin pergi."

Henri mengangguk.

"Dia hanya ingin berbicara."

Aku menggertakkan gigi.

"Kalau memang begitu..."

"...kenapa tidak bicara yang jelas?"

Henri menatapku.

"Karena..."

"...Lucien selalu percaya bahwa manusia akan lebih mengingat pertanyaan daripada jawaban."

Aku menghela napas panjang.

"Mulai hari ini..."

"...aku benci filsuf."

Léo mengangguk mantap.

"Aku juga."

Kami memutuskan keluar dari lorong itu sebelum terjadi runtuhan susulan.

Perjalanan kembali terasa lebih sunyi.

Tak ada yang banyak bicara.

Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Aku terus memutar-mutar jam saku pemberian Lucien.

Klik.

Tutup.

Klik.

Tutup.

Sampai akhirnya...

Aku menemukan sesuatu yang aneh.

"Henri."

"Iya?"

"Lihat ini."

Aku memperlihatkan bagian dalam rantai jam.

Ada ukiran yang sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Henri menyipitkan mata.

"Itu koordinat."

"Koordinat?"

Étienne langsung mengambil buku catatan.

Ia menyalin angka-angka itu.

"Ini bukan alamat di Paris."

katanya pelan.

"Di mana?"

Étienne tampak ragu.

"Normandia."

Aku mengernyit.

"Pantai?"

Henri mengangguk.

"Ya."

"Apa hubungannya dengan keluargaku?"

Tak ada yang bisa menjawab.

Kami akhirnya berhasil keluar dari terowongan melalui sebuah pintu besi tua yang tersembunyi di balik semak-semak.

Sinar matahari sore langsung menyilaukan mata.

Aku menghirup udara dalam-dalam.

Rasanya aneh.

Setelah berjam-jam berada di bawah tanah...

Langit terasa seperti sesuatu yang baru.

Paris kembali terlihat ramai.

Sepasang turis sedang berfoto.

Seorang pemain biola memainkan lagu La Vie en Rose.

Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun.

Sulit dipercaya...

Beberapa meter di bawah mereka...

Baru saja terjadi ledakan.

── Maël kepada kalian ──

Inilah yang aneh dari kota besar.

Seseorang bisa kehilangan segalanya...

Sementara orang lain di jalan yang sama...

Sedang memilih rasa es krim.

Hidup memang tidak pernah berhenti hanya karena satu orang sedang terluka.

── Kembali ke cerita ──

Kami kembali ke bengkel Pierre.

Api sudah padam.

Pintu depannya hangus.

Beberapa kaca pecah.

Namun bangunan itu masih berdiri.

Anak-anak langsung bersorak saat melihat kami kembali.

"Kak Maël!"

"Kalian selamat!"

Chloé memelukku erat.

"Kupikir..."

"...kakak tidak pulang."

Aku tersenyum.

"Aku masih punya utang croissant sama Léo."

Léo menunjukku.

"Itu benar."

"Aku belum sempat bayar."

Anak-anak tertawa.

Untuk beberapa saat...

Semua terasa normal lagi.

Malam mulai turun.

Pierre membagikan sup hangat kepada semua orang.

Kami duduk melingkar.

Tak ada meja mewah.

Tak ada gelas kristal.

Hanya mangkuk logam penyok.

Namun...

Entah kenapa.

Aku merasa lebih nyaman di sini daripada di mana pun.

Henri tiba-tiba berdiri.

"Aku harus mengatakan sesuatu."

Semua orang menoleh.

Henri menarik napas panjang.

"Sudah terlalu banyak rahasia."

"Aku setuju."

kataku cepat.

Henri mengangguk.

"Karena itu..."

"...malam ini kalian akan mengetahui alasan sebenarnya kenapa Maël dikejar."

Jantungku kembali berdegup.

Akhirnya.

Jawaban.

Henri berjalan ke arah lemari tua.

Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu yang sudah dipenuhi goresan.

Kotak itu dikunci.

Menggunakan tiga anak kunci berbeda.

Satu dipegang Henri.

Satu dipegang Étienne.

Satu lagi...

Ternyata berada di saku Marcel.

Aku menatap mereka.

"Serius?"

Henri tersenyum tipis.

"Kalau satu orang mengkhianat..."

"...kotak ini tetap tidak bisa dibuka."

Mereka memasukkan ketiga kunci itu secara bersamaan.

Klik.

Kotak kayu terbuka perlahan.

Di dalamnya...

Bukan uang.

Bukan senjata.

Melainkan sebuah map kulit tua.

Di sampulnya tertulis dengan tinta emas yang mulai memudar.

DOSSIER ORPHÉE

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Henri mengangkat map tersebut dengan kedua tangannya.

Sorot matanya berubah.

Bukan takut.

Melainkan penuh penyesalan.

"Maël."

katanya lirih.

"Ayahmu..."

"...tidak pernah menjadi buronan."

Aku menatapnya tanpa berkedip.

"Lalu?"

Henri membuka halaman pertama map itu.

Di sana terdapat foto seorang pria muda.

Rambut hitam.

Mata abu-abu.

Tatapannya...

Sangat mirip denganku.

Di bawah foto itu tertulis sebuah nama.

Adrien Delacroix

Dan tepat di bawah nama itu...

Ada cap merah besar bertuliskan:

DÉCÉDÉ

Meninggal.

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

Henri menutup map itu perlahan.

Lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

"Kalau catatan ini benar..."

"...maka ayahmu sudah meninggal lima belas tahun yang lalu."

Aku menggenggam map itu erat.

Lalu teringat ucapan Lucien beberapa jam sebelumnya.

"Kalau ingin menemukan ayahmu..."

Kalau ayahku benar-benar sudah meninggal...

Lalu...

Siapa yang dimaksud Lucien?

Dan siapa sebenarnya yang sedang berbohong?

Di luar bengkel, angin malam bertiup pelan.

Lampu-lampu Paris mulai menyala satu per satu.

Sementara di dalam ruangan kecil itu...

Aku kembali kehilangan pijakan.

Karena setiap jawaban...

Selalu melahirkan misteri yang lebih besar.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!