NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Bab 18: Keputusan di Ujung Perpisahan

Udara malam di dalam ruang pemeriksaan kantor kepolisian sektor kota terasa begitu pengap dan menyesakkan. Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Bapak Danendra Aldebaran menggema tajam di dalam kepala Rangga, menghantam kesadarannya bagaikan hantaman palu besi yang mematikan.

London. Dikeluarkan secara paksa dari sekolah, dibebaskan dari jerat hukum dengan harga yang sangat mahal, dan diasingkan sejauh ribuan kilometer ke luar negeri. Semua itu dirancang khusus oleh sang ayah untuk memutus total segala aksesnya dari dunia jalanan, dari kelompok Black Raven, dan yang paling menyakitkan—dari Keisha Zahra Aurellia.

Rangga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah luar biasa yang membakar dadanya. Sorot mata kelamnya menatap tajam kepada sang ayah tanpa berkedip sedikit pun.

"Bapak pikir hidup saya ini boneka yang bisa digerakkan dan dikendalikan sesuka hati Bapak?" suara rendah Rangga menggema di ruangan itu, dingin, tajam, dan sarat akan ancaman pemberontakan mutlak. "Saya tidak akan pernah pergi ke mana pun. Dan saya tidak akan pernah keluar dari SMA Nusantara!"

Danendra mendengus keras, wajah paruh baya itu memerah karena amarahnya yang kembali tersulut oleh sikap keras kepala sang anak. "Kamu pikir ini permintaan, Rangga?! Ini adalah sebuah keputusan mutlak! Kalau kamu menolak syarat pembebasan ini, biarkan laporan kepolisian atas kasus penusukan dan penganiayaan berat itu dilanjutkan ke pengadilan. Lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di dalam sel tahanan kotor ini!"

"Tuan Muda Rangga, mohon bersabarlah," sang pengacara keluarga buru-buru menengahi, mencoba mencairkan ketegangan yang kian membahayakan. "Tuan Danendra melakukan semua ini demi masa depan Anda juga. Kasus di pelabuhan itu melibatkan senjata tajam dan korban luka parah. Tanpa intervensi dan pengaruh besar keluarga Aldebaran, catatan kriminal ini akan menghancurkan seluruh hidup Anda secara permanen."

Rangga terdiam. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan beban emosional yang teramat berat. Ia tahu persis bahwa apa yang dikatakan oleh sang pengacara adalah sebuah kebenaran pahit. Ayahnya memiliki kekuasaan penuh untuk membungkus kasus hukum ini dalam sekejap, namun harga yang harus dibayar adalah kebebasannya dan kebersamaannya dengan Keisha.

"Beri saya waktu..." ucap Rangga akhirnya dengan suara berat yang hampir berbisik, memecah kesunyian ruangan dengan nada keputusasaan yang tertahan rapat. "...beri saya waktu sampai besok pagi sebelum saya memberikan keputusan akhir."

Danendra menatap anak laki-lakinya itu dengan pandangan menyelidik selama beberapa detik, seolah membaca setiap inci keraguan di balik sorot mata keras kepala Rangga. Pria paruh baya itu kemudian mengibaskan tangan kanannya ke udara.

"Baiklah. Besok pagi jam delapan, pengacara saya akan datang lagi ke sini untuk mengurus surat pembebasanmu," ujar Danendra dingin sambil merapikan jasnya. "Gunakan malam ini untuk berpikir jernih. Jangan biarkan kebodohan masa remaja menghancurkan sisa hidupmu."

Tanpa menunggu balasan dari Rangga, Danendra berbalik dan melangkah keluar dari ruang pemeriksaan diikuti oleh sang pengacara keluarga, meninggalkan sang ketua Black Raven seorang diri di dalam ruangan yang kembali sunyi mencekam.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, malam di kediaman sederhana Keisha terasa jauh lebih panjang dan menyiksa. Gadis itu duduk di atas tepi tempat tidurnya di kamar sempitnya. Matanya bengkak dan merah karena menangis tanpa henti sejak sore tadi. Di atas meja belajarnya, jaket kulit hitam besar berlogo sayap gagak milik Rangga terlipat rapi, menjadi satu-satunya benda yang memancarkan kehadiran pria itu di sisinya.

Pikiran Keisha dipenuhi oleh bayangan Rangga yang kini sedang mendekam di kantor kepolisian. Rasa bersalah menghujam ulu hatinya tanpa ampun. Ia merasa menjadi sumber kehancuran bagi masa depan seorang pemuda yang selama ini mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.

Tok... tok... tok...

Ketukan pelan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Keisha. Pintu bergeser perlahan, memperlihatkan sosok sang ibu yang membawa segelas air hangat dengan senyuman lembut di wajah lelahnya.

"Belum tidur, Nak?" tanya sang ibu lembut, melangkah mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur di samping putrinya. "Ibu lihat dari tadi sore kamu mondar-mandir terus di kamar. Ada masalah besar di sekolah? Atau... tentang pemuda yang sering mengantar kamu pulang itu?"

Mendengar pertanyaan ibunya, pertahanan emosional Keisha runtuh seketika. Ia langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat, menumpahkan segala tangis dan ketakutan yang tertahan di dalam dadanya selama berhari-hari.

"Ibu... Kak Rangga ditangkap polisi..." isak Keisha tertahan di pelukan ibunya. "Semua ini gara-gara aku, Bu... Kalau aku nggak ceroboh dan nggak diserang sama anak-anak Viper di pelabuhan malam itu, Kak Rangga nggak bakal ketusuk pisau dan nggak bakal dibawa ke kantor polisi... Aku takut kehilangan dia, Bu..."

Sang ibu mengelus lembut rambut dan punggung putrinya dengan penuh kasih sayang, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa Keisha yang sedang hancur.

"Ssst... tenanglah, Nak," bisik sang ibu menenangkan. "Setiap manusia punya takdir dan jalan perjuangannya masing-masing. Pemuda itu memilih melindungimu bukan karena terpaksa, melainkan karena ketulusan hatinya. Percayalah kepada Yang Maha Kuasa, badai sebesar apa pun pasti akan berlalu pada waktunya."

Kata-kata bijak dari sang ibu sedikit demi sedikit meredakan gemetar di sekujur tubuh Keisha. Ia mengangguk pelan dalam pelukan hangat ibunya, menghapus air matanya, dan bertekad di dalam hatinya bahwa ia tidak boleh menyerah pada keadaan begitu saja.

Keesokan paginya, matahari terbit dengan sinar yang pucat di balik kabut tipis sisa hujan semalam. Tepat pukul delapan pagi, sesuai dengan janjinya, pengacara keluarga Aldebaran menyelesaikan seluruh urusan administrasi pembebasan bersyarat di kantor kepolisian sektor kota.

Rangga melangkah keluar dari pintu utama gedung kepolisian, mengenakan kaos hitam polos dan jaket kulit kesayangannya. Udara pagi langsung menyapa wajahnya. Di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam mewah milik ayahnya sudah menanti untuk membawanya pulang atau langsung ke bandara sesuai ultimatum sang ayah.

Namun, sebelum Rangga sempat melangkah mendekati mobil tersebut, matanya menangkap sesosok bayangan familiar yang berdiri di dekat halte bus kecil tidak jauh dari kantor polisi.

Seorang gadis dengan kacamata berbingkai tipis berdiri di sana, memegang erat tali ranselnya dengan tangan gemetar. Gadis itu tampak pucat, namun sorot matanya memancarkan keteguhan hati yang luar biasa.

Keisha.

Rangga terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sama sekali tidak menyangka Keisha akan nekat datang menunggunya di tempat ini sepagi ini.

Tanpa memedulikan panggilan sopir pribadi ayahnya dari dalam mobil, Rangga langsung berlari kecil menyeberangi jalan raya, menghampiri sosok gadis yang telah mengubah seluruh arah hidupnya dalam beberapa minggu terakhir.

Begitu jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa jengkal, Keisha mendongak. Air mata haru langsung menggenang di pelupuk matanya saat melihat Rangga berdiri di hadapannya dalam keadaan utuh—meskipun perban di lengan kanannya masih tersembunyi di balik jaket.

"Kak Rangga..." cicit Keisha parau, suaranya bergetar hebat. "Kakak... Kakak beneran dibebasin...?"

Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik tubuh mungil Keisha ke dalam dekapan pelukannya, mendekap gadis itu erat-erat seolah-olah ia tidak ingin pernah melepaskannya lagi ke dunia luar. Pelukan itu begitu hangat, begitu penuh kerinduan dan kelegaan yang teramat besar.

"Aku baik-baik saja, Keish..." bisik Rangga parau tepat di dekat telinga Keisha, menghirup aroma wangi khas dari rambut gadis itu. "Aku nggak akan ke mana-mana. Aku nggak akan biarin siapa pun misahin kita."

Keisha memejamkan matanya, membalas pelukan tersebut dengan seluruh tenaga yang ia miliki, membenamkan wajahnya ke dada bidang Rangga. "Jangan pergi ke London, Kak... Jangan tinggalin aku..." isaknya pelan.

Mendengar permohonan yang begitu tulus itu, Rangga melepaskan pelukannya perlahan, lalu menangkup kedua pipi Keisha dengan kedua tangannya, menatap lekat-lekat manik mata gadis di hadapannya dengan sorot mata yang menyiratkan keputusan final yang sudah bulat di dalam hatinya.

"Ayah mau ngirim aku ke luar negeri hari ini juga, dan maksa aku keluar dari sekolah..." ucap Rangga tenang namun tegas. "Tapi dengerin aku baik-baik, Keish. Aku udah bikin keputusan. Aku lebih baik kehilangan segalanya—kehormatan keluarga, fasilitas mewah, bahkan status sosial aku sebagai pewaris Aldebaran—daripada harus kehilangan kamu."

Keisha membelalakkan matanya tidak percaya mendengar pernyataan revolusioner tersebut. "Kak... apa maksud Kakak?!"

"Aku bakal ninggalin rumah keluarga malam ini juga," lanjut Rangga dengan senyuman miring yang penuh keyakinan. "Aku bakal berdiri di atas kaki aku sendiri, ngelepas semua fasilitas mereka, dan milih buat bertahan di kota ini... di sisi kamu."

Di bawah langit pagi yang kelabu namun perlahan mulai menampakkan cerahnya, dua jiwa yang berasal dari dunia yang sangat berbeda itu mengambil sumpah tak tertulis: melawan arus takdir yang mencoba memisahkan mereka, menyatukan langkah menatap masa depan baru yang jauh lebih terang di hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!