Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Ketemu orang tua angkat
Urusan kecoak selesai. Mereka lanjut ke tugas berikutnya, menjemur pakaian. Tumpukan baju basah masih menggunung di ember plastik biru.
Di samping rumah mereka yang agak sempit, tali jemuran dibentangkan di antara dua dinding bata. Matahari Jakarta pukul 10 pagi mulai terasa menyengat, tapi suasana di antara mereka bertolak belakang.
Aquilla bertugas menyodorkan jepitan, sementara Altair yang menggantung baju ke tali. Tubuh tinggi Altair sangat membantu. Mereka bekerja dalam diam. Beberapa kali bahu mereka tidak sengaja bersentuhan, dan Altair sama sekali tak berusaha menghindar.
"Perih banget tangan gue," keluh Aquilla sambil mengibas-ngibaskan jarinya. "Gara-gara lo nggak mau beliin mesin cuci, nih."
"Gak usah ngomel," sahut Altair santai sambil menjepit kaos Aquilla. "Tahan sebentar. Nanti juga gue beliin."
"Janji, ya?"
"Iya, janji. Tapi lo-nya harus nurut," balas Altair melirik sekilas, menyunggingkan senyum tipis.
Ketenangan itu mendadak buyar.
Teriakan keras memecah suasana dari rumah sebelah. Karena tembok pembatas hanya setinggi dada, semua suara terdengar sangat jelas.
"Dasar anak gak guna!"
PRANG!
Suara piring pecah terdengar menyusul. Keributan pecah di teras sebelah. Nenek Sari dan ibu Bian sedang adu mulut hebat. Ini pertama kalinya Aquilla mendengar kejadian itu, beda dengan Altair yang sudah beberapa kali melihatnya.
Sang ibu makin kalap dan melemparkan barang apa saja di sekitarnya, botol plastik hingga pot bunga.
Di sudut teras, Bian bocah kecil berambut botak, meringkuk ketakutan. Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat sambil menangis sesenggukan. Boneka nailong kesayangannya tergeletak kotor di tanah.
Hati Aquilla mencelos melihat pemandangan itu. Tanpa pikir panjang, ia bergegas ingin menyeberang ke rumah sebelah, sampai jepitan baju di tangannya terjatuh.
"Al, Bian nangis! Gue mau tolongin," pamit Aquilla panik.
Namun, Altair langsung menahan lengan Aquilla. Genggamannya kuat dan cekatan.
"Jangan. Bukan urusan lo," tahan Altair datar. Matanya menatap lurus ke arah keributan di sebelah dengan rahang mengeras.
"Tapi Bian..."
"Gue bilang jangan," potong Altair pelan namun tegas. "Nanti malah kita yang disalahin. Diem aja di sini."
Aquilla menarik napas panjang dan terpaksa menurut. Ia berdiri kaku di samping jemuran sambil mengepalkan tangan, menahan emosi yang membakar dadanya melihat Bian diperlakukan seperti itu.
Sayangnya, situasi makin tak terkendali.
Ibu Bian yang terbakar emosi mengambil kursi plastik merah dan melemparnya ke arah ibunya sendiri. Lemparan itu melenceng dan malah menghantam kepala Bian dengan keras!
DUK!
Bian ambruk, kepalanya membentur dinding teras. Isak tangisnya mendadak terhenti, berganti rintihan lemah.
Detik itu juga, batas kesabaran Aquilla habis. Masa bodoh dengan larangan Altair, ia berlari kencang menerobos pagar sebelah yang tak terkunci.
"BIAN!" teriak Aquilla panik.
Melihat kehadiran Aquilla, emosi ibu Bian justru makin meluap. Merasa urusan keluarganya dicampuri, ia melepas sepatu high heels-nya dan melemparnya kuat-kuat ke arah Aquilla!
Sret!
Altair bergerak cepat memasang badan.
BUK!
Sepatu bertumit tinggi itu mendarat telak di punggungnya. Punggungnya terasa panas, tapi ia tak bergeming sedikit pun.
"Gila lo, ya?!" bentak Altair tajam. Ia berdiri pasang badan di depan Aquilla. Sorot matanya dingin, memperlihatkan aura dominan khas mantan ketua geng motor yang biasa ia sembunyikan.
Ibu Bian hendak kembali berteriak, tapi Altair memotongnya lebih dulu dengan nada suara rendah namun menusuk.
"Bu," panggil Altair tenang tapi mematikan. "Ibu macam apa yang tega nyakitin anaknya sendiri? Bian itu anak Ibu, bukan pelampiasan emosi."
"Dia itu beban! Tiap bulan bikin repot minta obat mahal!" tangkas sang ibu dengan suara bergetar.
"Kalau ngerasa terbebani, titipin ke panti asuhan. Jangan disiksa," pangkas Altair santai. "Neneknya aja masih peduli. Ibu malah main tangan. Nggak malu sama tetangga?"
Ibu Bian mendadak bungkam. Wajahnya merah padam menahan malu. Ia meludah kesal ke tanah, lalu berbalik pergi menuju mobil sedan yang terparkir di ujung gang.
Teras itu seketika hening, menyisakan isak tangis samar Nenek Sari.
Altair cepat-cepat berjongkok di dekat Bian. Wajah bicaranya mulai menampakkan rasa panik. Bian pingsan, dan darah segar mengalir dari hidungnya mengotori baju.
"Bian? Bian, bangun," panggil Altair menepuk pelan pipi bocah itu.
Aquilla ikut berjongkok di sampingnya. Ia sangat menyukai anak-anak, dan melihat Bian terluka seperti ini membuat hatinya hancur.
Nenek Sari menghampiri dengan lutut lemas. "Nak Al... tolong bawa Bian ke rumah sakit..."
"Sekarang ke rumah sakit," putus Altair cepat. "Illa, ambil jaket gue buat alas kepalanya. Nenek, carikan kendaraan."
Aquilla buru-buru mengambil jaket kulit Altair dari kursi. Dengan tangan gemetar, ia menata jaket itu di bawah kepala Bian.
"Gue yang bawa," kata Altair menggendong Bian ala bridal style. Tubuh bocah itu terasa sangat ringan di tangannya. "Naik motor gue. Nunggu kendaraan lewat, lama"
Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Aquilla menumpang di belakang sambil memangku Bian dan menutupi kepalanya dengan jaket. Tangannya terus mengelus dada Bian tanpa henti.
"Pegangin yang kuat," ujar Altair memacu motor sport-nya secara stabil melintasi jalanan. Aquilla mengangguk cepat sambil meremas kaos Altair.
Tiba di IGD RSUD Dr. Pirngadi, Altair langsung berteriak memanggil petugas. "Suster! Ada anak pendarahan!"
Petugas medis langsung membawa Bian ke ruang tindakan. Aquilla dan Altair menunggu di lorong luar. Aquilla duduk bersandar di kursi penunggu, menutup wajahnya yang masih gemetar.
"Semoga Bian nggak apa-apa..." bisiknya serak.
Altair duduk di sebelahnya, lalu menepuk paha Aquilla dengan lembut.
"Dia anak yang kuat. Nggak bakal menyerah gampang gitu aja," ujar Altair dengan nada suara yang tak biasa, begitu tenang dan hangat.
Aquilla mengusap air matanya. "Hidup Bian kasihan banget, ya... Punya penyakit berat, nggak diharapin ibunya, hidup pas-pasan juga. Untung masih ada Nenek Sari."
Altair menghela napas panjang, lalu merangkul bahu Aquilla dan mengelusnya pelan.
"Makanya, syukuri apa yang lo punya sekarang," bisik Altair. "Jangan gampang ngeluh."
Aquilla bersandar di dada Altair. "Gue cuma belum terbiasa, Al. Lo gak bakal ngerti."
"Gue ngerti kok. Sangat ngerti," jawab Altair jujur. "Gue pernah ada di posisi lo. Lagi enak-enaknya hidup berkecukupan, tiba-tiba kehilangan orang tercinta dan jatuh miskin."
Aquilla mendongak. "Lo? Kok gue gak tahu kalau dulu lo kaya?"
"Nggak penting. Yang jelas gue pernah ngerasain jadi tuan muda," kekeh Altair pelan.
Beberapa saat kemudian, Bian dipindahkan ke ruang observasi anak. Tangan mungilnya kini terpasang infus, dengan Nenek Sari yang setia menggenggam jemarinya di samping ranjang.
Melihat kondisi Bian yang sudah stabil, Aquilla dan Altair berpamitan untuk pulang. Koridor RSUD Dr. Pirngadi tampak ramai riuh.
"Mau minum dulu?" tawar Altair pelan.
"Enggak usah," jawab Aquilla singkat.
Altair mengangguk paham dan berdiri merapat di sebelah Aquilla hingga lengan mereka bersentuhan.
Namun belum sempat melangkah jauh, suara ketukan high heels bergema dari arah lobi. Suara langkah yang sangat dihafal Aquilla hingga sukses membuat tubuhnya mendadak kaku.
Daniel dan Melinda muncul di ujung lorong.
Wajah Aquilla seketika pucat pasi. Tubuhnya membeku di tempat.
Daniel berdiri tegap dengan jas mewahnya, disamping Melinda yang tampil berkelas memegang tas bermerek.
Dulu, Aquilla mengira mereka adalah orang tua kandungnya. Ia tumbuh besar mempercayai hal itu. Namun ternyata, ia hanyalah anak angkat yang dibohongi, yang tak pernah mendapat kasih sayang utuh karena semuanya ditumpahkan pada Ruby. Ironisnya, Aquilla bahkan tidak tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya.
Rasa sakitnya kian bertambah saat ia diusir, diputus hubungan, dan dipaksa menikah dengan Altair atas dalih balas budi.
Melinda menatap Aquilla dari atas ke bawah dengan senyum menyindir.
"Tumben ada di rumah sakit," celetuk Melinda datar. "Tapi penampilan kamu... ya ampun. Kusam banget. Kaos oblong, celana santai, rambut berantakan. Dulu waktu ikut kami, kamu selalu rapi. Sejak hidup pas-pasan, selera kamu makin anjlok, ya?"
Melinda sengaja melirik Aquilla dari ujung kepala ke ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
Aquilla hanya diam, menatap mereka dengan pandangan kosong. Ia sadar ia tak punya posisi untuk membela diri. Tapi refleks tangannya meremas kuat jaket kulit Altair sampai kusut.
Altair menyadari itu. Tanpa melepas cengkeraman tangan Aquilla pada jaketnya, ia menggeser posisi berdirinya sedikit maju untuk pasang badan.
"Apa suamimu ini nggak sanggup beliin baju yang decent? Kasihan banget hidup kamu," sindir Melinda lagi, memancing reaksi.
Altair menatap Melinda secara penuh. Sorot matanya tidak menunjukkan amarah, melainkan ketenangan yang justru intimidasi.
"Permisi, Nyonya," sela Altair santai tapi tegas. "Saya rasa Nyonya salah tempat kalau mau menilai penampilan istri saya. Ini ruangan IGD, bukan acara pesta. Istri saya baru aja menolong anak kecil yang terluka, jadi wajar kalau penampilannya agak berantakan."
Melinda bungkam, rahangnya terkatup rapat.
"Soal selera..." pangkas Altair lagi dengan sopan, "saya nggak perlu istri saya tampil mewah di depan orang lain. Yang penting dia sehat, aman, dan ada di samping saya. Dan menurut saya, orang yang beneran dewasa nggak bakal sibuk ngomentari penampilan orang di situasi darurat seperti ini."
Ia lalu melirik Daniel sekilas. "Satu lagi... berhubung Anda sendiri yang memutuskan hubungan dengan Illa, anggap saja kita ini orang asing."
Kata-kata Altair tepat menohok. Wajah Melinda memerah menahan malu, sementara Daniel memilih membuang muka.
Tanpa basa-basi lagi, Altair menggenggam jemari Aquilla yang masih meremas jaketnya. Genggamannya hangat dan protektif.
"Ayo balik," bisik Altair lembut. "Gak usah didengerin."
Aquilla mendongak menatap Altair. Tatapannya kembali fokus. Ia mengangguk pelan, membiarkan Altair menuntun langkahnya menjauh dari sana.