Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Pembersihan
Besok adalah hari perhitungan.
Kalimat itu terdengar keren di kepala sebelum aku benar-benar bangun pagi dan sadar bahwa perhitungan berarti menghadapi satu dapur penuh orang yang mungkin sudah menganggapku musuh.
Jam tujuh tepat, aku turun ke ruang makan.
Bibi Yanti sudah berdiri di dekat meja dengan wajah bengkak kurang tidur. Rina berada di belakangnya, matanya merah, mungkin semalam dimarahi karena kunci cadangan. Bibi Susi tampak lebih tenang, tapi jemarinya terlalu sering menyentuh ponsel.
Reynard duduk di ujung meja.
Ia tidak membaca tablet pagi ini.
Hanya duduk, diam, dan menatap semua orang seperti hakim yang belum mengetuk palu.
Aku menarik kursi di sisi kanannya.
"Pagi," kataku.
"Pagi," jawab Reynard.
Singkat. Tenang.
Tapi aku merasa, entah bagaimana, ia sudah tahu hari ini akan ramai.
Tentu saja dia tahu. Dia mendengar isi kepalaku semalam? Tidak, Naomi, jangan mulai lagi. Fokus pada orang yang meracuni suamimu, bukan teori horor rumah tangga.
Jari Reynard bergerak kecil di atas meja.
Hampir seperti menahan senyum.
Aku membuka map yang kubawa.
"Bibi Yanti."
Perempuan itu langsung menunduk. "Iya, Nyonya Muda."
"Saya ingin bertanya soal laporan belanja rumah."
Rina menegang.
Bibi Yanti memasang wajah bingung yang, kalau dijual di pasar seni, judulnya mungkin Tidak Tahu Apa-Apa.
"Laporan belanja, Nyonya? Semua sudah sesuai prosedur."
"Bagus." Aku mengeluarkan salinan pertama. "Kalau begitu, Bibi bisa jelaskan kenapa pembelian beras, daging, dan obat herbal naik hampir empat puluh persen, sementara jumlah penghuni rumah tidak berubah?"
Udara di ruang makan berhenti.
Bibi Susi mengangkat mata.
Bibi Yanti tertawa kecil. "Nyonya Muda mungkin belum paham harga pasar. Sekarang semuanya mahal."
"Benar." Aku mengangguk. "Tapi harga pasar tidak mentransfer uang ke rekening Dodi."
Wajah Bibi Yanti berubah.
Rina menunduk terlalu cepat.
Aku meletakkan slip transfer di atas meja. Satu. Dua. Tiga. Semua dengan nominal berbeda, tapi pola tanggalnya sama, selalu dua hari setelah pencairan dana belanja.
"Dodi anak Bibi, kan?"
"Itu..." Bibi Yanti menjilat bibir. "Itu uang pribadi saya."
"Dari selisih belanja rumah?"
"Nyonya Muda menuduh saya?"
Nah, akhirnya keluar juga.
Aku tersenyum lembut. "Saya bertanya."
"Saya sudah bekerja di keluarga Wijaya bertahun-tahun!" Suara Bibi Yanti mulai meninggi. "Sebelum Nyonya datang, rumah ini baik-baik saja. Jangan karena Nyonya baru sehari di sini, Nyonya merasa bisa menghakimi orang lama."
Kalimatnya membuat beberapa staf di area belakang saling lirik.
Ini teknik klasik: ubah bukti menjadi masalah senioritas.
Aku mengambil botol kecil dari kotak di samping kursi. Cairan cokelat gelap di dalamnya memantulkan cahaya lampu.
"Kalau begitu, kita bicara soal ini."
Bibi Yanti langsung pucat.
Bibi Susi membuka mulut. "Nyonya Muda, itu ramuan dari Nyonya Besar. Tidak baik kalau dibahas di depan staf."
"Justru karena dari Nyonya Besar, saya ingin memastikan tidak ada yang menyalahgunakannya."
Aku tidak menuduh Veronica.
Belum.
Reynard menatap botol itu. Matanya menggelap.
[Analisis selesai.]
[Kandungan: senyawa penurun suhu darah dosis rendah, akumulatif.]
[Efek pada target dengan Racun Dingin: memperparah gejala, mempercepat penurunan suhu tubuh.]
Aku membaca panel itu dan punggungku dingin.
Jadi benar.
"Ramuan ini," ucapku pelan, "bukan penghangat tubuh."
Bibi Yanti mundur setengah langkah. "Nyonya tidak punya hak bicara begitu. Nyonya bukan dokter."
"Tapi saya bisa mengirim sampel ke dokter."
Aku menoleh pada Sari. Gadis itu melangkah maju, tangannya sedikit gemetar, lalu meletakkan amplop hasil uji cepat yang dibantu Si Kepo susun dari data analisis dan catatan kandungan obat.
Tentu saja ini bukan laporan laboratorium resmi lengkap.
Tapi cukup untuk membuat orang bersalah kehilangan warna wajah.
"Bibi Yanti," kataku, "selama ini siapa yang menyiapkan ramuan untuk Reynard?"
"Saya hanya mengikuti perintah."
"Perintah siapa?"
Ia membeku.
Bibi Susi menajamkan suara. "Nyonya Muda, cukup."
Reynard akhirnya berbicara.
"Biarkan dia menjawab."
Empat kata itu jatuh seperti batu.
Bibi Susi langsung diam.
Bibi Yanti menatap Reynard, lalu aku. Matanya mulai basah, tapi bukan karena menyesal. Karena takut tertangkap.
"Saya tidak tahu isinya," katanya cepat. "Saya hanya menerima paket. Saya hanya masak sesuai instruksi."
"Instruksi dari siapa?"
"Dari..." Matanya bergerak ke arah Bibi Susi.
Bibi Susi menatapnya tajam.
Oh. Cantik sekali. Dua tikus mulai saling menggigit.
Rina tiba-tiba berlutut.
"Nyonya Muda, saya tidak tahu soal ramuan!" suaranya pecah. "Saya cuma disuruh Bibi Yanti ambil uang belanja lebih, terus sebagian dikirim ke Dodi. Saya cuma ikut. Saya takut dipecat."
Bibi Yanti berputar. "Anak kurang ajar! Kamu yang mencuri!"
"Saya punya chat-nya!" Rina menangis. "Bibi yang suruh!"
[Bukti tambahan terdeteksi: percakapan WhatsApp di ponsel Rina.]
Aku menatap Rina. "Kirim ke Sari."
Rina mengangguk cepat.
Dalam dua menit, tangkapan layar masuk ke ponsel Sari. Nama Bibi Yanti terpampang jelas, lengkap dengan instruksi nominal dan jadwal transfer.
Reynard mengambil ponsel itu, melihat sekali, lalu meletakkannya di meja.
"Bibi Yanti," katanya, "mulai hari ini kau tidak bekerja di rumah ini."
Wajah Bibi Yanti hancur. "Tuan Muda, saya sudah melayani keluarga ini bertahun-tahun..."
"Dodi juga dilarang masuk area PIK villa."
"Tuan Muda!"
"Anto."
Anto muncul dari pintu samping seperti bayangan. "Siap, Tuan Muda."
"Pastikan mereka keluar. Simpan semua rekaman CCTV, dokumen, dan sampel. Kirim ke tim legal."
"Baik."
Bibi Yanti menangis keras sekarang. Ia mencoba mendekat pada Reynard, tapi Anto sudah berdiri di depannya.
Bibi Susi tampak pucat, tapi ia masih berusaha menjaga suara. "Tuan Muda, mungkin sebaiknya Nyonya Besar diberi tahu dulu. Bibi Yanti orang lama..."
"Aku sudah memberi tahu Hendra."
Satu kalimat itu membuat Bibi Susi kehilangan suara.
Ponsel Reynard bergetar di meja. Ia menyalakan speaker.
Suara Hendra Wijaya terdengar rendah dan dingin. "Bibi Susi."
Perempuan itu langsung menunduk walau Hendra tidak bisa melihatnya. "Pak Hendra."
"Kembali ke Menteng hari ini."
"Tapi, Pak..."
"Hari ini."
Tidak ada ruang tawar.
Telepon terputus.
Untuk pertama kalinya, Bibi Susi terlihat benar-benar tua.
Aku duduk diam, tapi di dalam kepalaku sudah menyalakan kembang api.
Satu mata-mata pergi. Satu pencuri keluar. Satu dapur dibersihkan. Belum menang perang, tapi minimal rumah ini tidak lagi terasa seperti warung racun layanan 24 jam.
Reynard menoleh padaku.
"Mulai hari ini," katanya, "kau yang mengatur rumah."
Aku terdiam.
Semua staf menatapku.
Sari menahan senyum di belakangku.
Aku menegakkan punggung. "Baik."
Satu kata sederhana.
Tapi untuk Keira yang dulu selalu disuruh menunduk, kata itu terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Siang itu, Bibi Yanti dan Dodi keluar dari PIK villa dengan dua koper dan wajah pucat. Rina dipindahkan ke tugas paling rendah sambil menunggu keputusan, karena aku belum ingin menghukum orang yang masih bisa dipakai sebagai saksi. Bibi Susi berangkat ke Menteng tanpa menatapku.
Menjelang sore, kabar itu sampai pada Veronica.
Di ruang duduk Menteng yang harum teh mahal, Veronica membaca pesan dari Bibi Susi sampai selesai.
Tangannya diam.
Lalu cangkir porselen di genggamannya menghantam lantai.
Pecahannya menyebar seperti kelopak putih yang mati.
"Keira," bisiknya.
Senyumnya hilang.
"Perempuan itu lebih sulit daripada yang kupikirkan."
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih