Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dibalik gengsi sang kakak
“Loh, kok kamu yang bawa, Vin? Lily yang nyuruh kamu?” tanya Papi Jaya heran saat melihat Javin mengambil alih kantong belanjaan.
“Enggak, Om. Kasihan aja lihat Lily keberatan bawanya, makanya Javin bantuin,” balas Javin sopan sembari tersenyum tipis.
Di dekat pintu depan, Rafa yang berdiri bersandar langsung merangkul bahu adiknya. “Lihat, Ly... cowok tuh harus gitu, bisa diandalkan,” bisik Rafa jahil. Lily tidak merespon, memilih memutar bola matanya malas.
Tak lama kemudian, rombongan Owen tiba. Suasana rumah yang tadinya tenang mendadak ramai oleh celotehan Ell dan Kino. Ell yang masih mogok bicara dengan Lily langsung menghampiri Jaya dan sibuk menceritakan harinya di sekolah.
Jaya yang sedang menata barang di meja mendadak mengedarkan pandangan. “Wafa!” panggilnya, membuat Wafa yang tengah sibuk mengunyah camilan menoleh kaget.
“Malik enggak ikut?” tanya Jaya.
“Ikut, Pih! Cuma dia pulang dulu buat mandi besar. Mau ketemu Lily harus rapi dan wangi dong, Pih!” jelas Wafa diakhiri tawa tertahan.
Papi Jaya menunjuk-nunjuk Wafa dengan jari telunjuknya, mengulas senyum lebar. “Papi demen banget sama tuh anak.”
Lily yang mendengar percakapan itu spontan membalikkan badan, menatap papinya dengan raut kesal. “Apaan sih, Pih...”
“Dia itu gentle banget kayak Papi! Dulu waktu Papi masih muda dan setia ngapelin Mami kalian, Papi selalu bawa makanan,” jelas Papi Jaya serius, membela Malik.
“Berarti memang jodoh tuh, Pih!” sahut Wafa menyiram bensin ke dalam api, lalu tertawa terbahak-bahak.
Ding... dong...
Bunyi bel rumah mendadak menginterupsi.
“Masuk!” teriak Wafa dari dalam.
Tak lama, seseorang melangkah masuk dengan ragu. “Selamat malam, Om... Kak...” ucapnya sopan.
“Malam, Lian,” balas Papi Jaya singkat dengan intonasi agak datar.
Di sudut lain, Sean menyenggol lengan Wafa. “Waf, gue mau mandi,” bisiknya.
“Elah, Yan, pergi aja sendiri ke atas!” balas Wafa tanpa mengalihkan pandangan dari makanan.
“Gue kan belum tahu kamar lu yang mana! Ayo anterin gue, Waf...” mohon Sean pasrah.
Wafa akhirnya menghela napas dan berdiri. “Ya udah ayo, sekalian gue mandiin lu!” gurau Wafa asal, membuat suasana di ruang tengah kembali pecah oleh tawa.
Di halaman rumah, Malik baru saja mematikan mesin motornya. Ia tidak langsung turun, melainkan sibuk merapikan rambutnya lewat pantulan spion.
“Gue udah ganteng kan, ya?” tanyanya pada diri sendiri seraya menyunggingkan senyum tebar pesona.
Merasa penampilannya sudah sempurna, Malik melangkah mantap ke pintu depan dan menekan bel.
Ding...dong...
“Masuk!” teriak seseorang dari dalam.
Karena pintu memang sudah terbuka, Malik melangkah masuk penuh percaya diri.
“Selamat malam, Om Jaya! Ini saya bawakan Martabak Telur Spesial. Wafa bilang Om Jaya suka makan martabak telur, makanya Malik bawain!” ujar Malik mantap.
“Nah! Ini dia yang dari tadi Papi tunggu-tunggu!” Jaya menepuk-nepuk pundak Malik penuh keakraban lalu menerima kantong itu. “Makasih ya, Lik.”
“Sama-sama, Om,” balas Malik bangga. Ia lalu beralih menatap Lily yang sedang sibuk menata mangkuk di meja. “Kak, ini Malik ada bawain makanan juga. Tapi bukan roti kesukaan Kakak, soalnya kemarin kan Kakak bilang enggak usah dibawain makanan kesukaan Kakak lagi. Yaa jadi sekarang Malik bawain makanan kesukaan Malik!”
Malik menyerahkan kantong plastik itu pada Lily.
Lily menghela napas pelan, raut wajahnya terlihat agak jengkel. “Kenapa masih repot-repot bawa makanan sih, Lik?”
Malik tidak menghiraukan nada kesal itu. Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan Lily dan meletakkan kantong plastik tersebut di atas telapak tangannya. “Justru kalau Malik datang tangan kosong jadi enggak enak, Kak. Om Jaya kan ngajak kita party, masa kita datang cuma modal badan?” ujar Malik jujur meski sebenarnya ini murni ide mamanya di rumah.
Papi Jaya yang melihat aksi itu langsung merangkul pundak Malik. “Ini baru namanya laki-laki!”
Malik tersenyum malu-malu mendapat pujian dari calon mertua idamannya. Namun, ia kemudian tersadar akan sesuatu. “Kak Lily bersih-bersih aja dulu sana, biar itu Malik yang selesaikan.”
Sebelum sempat menolak, Lily sempat melirik ke arah Julian yang berdiri tak jauh dari sana. Cowok itu tampak cemberut dengan lipatan tangan di dada.
“Enggak usah, Lik, ini tinggal sedikit lagi kok,” tolak Lily halus.
Julian melangkah mendekat, mengambil alih mangkuk dari tangan Lily untuk membantunya.
“Kamu ngobrol aja sama, sama yang lain,” bisik Lily pelan pada Julian. Julian menggeleng tegas.
“Kamu baru pulang kerja kan? Pasti capek,” lanjut Lily khawatir. Namun Julian tetap bergeming.
“Eh, Ly,” panggil Julian tiba-tiba, membuat Lily menghentikan gerakannya dan menengadah.
“Kamu bau sesuatu enggak, sih?” tanya Julian dengan wajah serius.
Lily refleks mengendus-endus udara di sekitarnya. “Bau apa?”
“Bau orang yang belum mandi,” ledek Julian seraya tertawa kecil.
Pipi Lily mendadak memerah. Rasa kesal dan gemas bercampur jadi satu. Tanpa berpikir panjang, Lily maju dan merangkul tubuh Julian erat-erat. “Nih! Biar kamu juga ikut bau!”
Julian tertawa renyah sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan jahil Lily.
Dari jarak beberapa meter, mata Papi Jaya memicing tajam menatap interaksi manja itu. 'Bener-bener ya kamu, Ly...' batin Papi Jaya panas dingin.
“Eh, tapi kamu kan juga belum mandi dari tadi. Mau mandi enggak?” tanya Lily melepas rangkulannya.
“Lily, pergi mandi sana! Biar ini Papi yang lanjutin!” potong Jaya tiba-tiba dengan nada tegas dari arah meja makan.
Lily mengangguk setuju, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Julian.
Jaya yang melihat itu langsung melotot. “Kenapa Julian ikut-ikutan?”
“Dia mau mandi juga, Pih,” jawab Lily polos tanpa beban.
Pikiran Jaya seketika traveling ke mana-mana. Wajahnya menegang tajam.
“E-enggak bareng kok, Om!” sela Julian buru-buru dengan nada panik dan ragu saat melihat perubahan raut wajah Papi Jaya.
“Lily cuma mau anter dia ke kamar Kak Owen, Pih,” tambah Lily menjelaskan.
Papi Jaya menghembuskan napas lega yang teramat panjang, lalu mengangguk kaku. “O-oh... ya sudah.”
Lily menuntun Julian menaiki anak tangga menuju kamar Owen di lantai dua. Ia menggetuk dan membuka pintu kamar kakak tertuanya.
“Kenapa?” tanya Owen yang sedang sibuk menyisir rambut di depan cermin.
“Julian mau ikut mandi, Kak. Nanti pinjamin baju Kakak, ya?” ujar Lily.
Owen melirik Julian dari pantulan cermin, lalu mengangguk singkat. “Masuk aja.”
Julian menghela napas lega, melangkah masuk ke kamar mandi Owen, sementara Lily berbalik menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap.
Belum sempat Lily benar-benar berbalik melangkah keluar, tangan Owen melayang cepat menarik lengan adiknya kembali masuk ke dalam kamar.
“Teman kamu ini niat bertamu enggak sih, Dek? Masa bertamu ke rumah orang dalam keadaan belum mandi begitu? Bikin malu aja,” ujar Owen dengan nada suara menajam kesal.
“Ya wajar aja lah, kan—”
“Wajar?!” potong Owen ketus, menaikkan alisnya tak percaya dengan pernyataan Lily.
“Iya! Dia baru pulang kerja kak!” jelas Lily seraya menghentakkan kakinya. “Dia bahkan minta izin pulang lebih awal dari shift-nya cuma gara-gara mau main dan ketemu sama keluarga kita di sini!”
Owen membisu di tempat.
“Kalau Kakak enggak ikhlas mau minjemin baju, nanti biar dia pakai baju Lily aja!” semprot Lily gusar. Tanpa menunggu balasan dari kakaknya, gadis itu berbalik dan menghantam pintu kamar Owen hingga tertutup.
Owen mematung di tengah kamar. Desis napas panjang keluar dari mulutnya seraya mengusap wajah kasar. Perasaan bersalah mendadak merayap menyelimuti dadanya.
“Ternyata dia... baru pulang kerja?” gumam Owen pelan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Owen melangkah menuju lemari bajunya, memilah selembar kaus putih dan celana pendek hitam yang masih bersih dan rapi, lalu meletakkannya di atas tempat tidur sebelum ia keluar kamar.
Owen lalu mengetuk pintu kamar mandi. "Bajunya di atas kasur dek," ujar Owen.
"Iya kak, maksih!" jawab Julian sedikit berteriak dari dalam.
Di ruang tengah bawah, suasana mulai agak riuh.
“Ini Bang Owen sama Lily Maemunah pada ke mana sih? Mandi aja lama banget kayak orang meditasi!” cerocos Wafa kesal sembari memandangi arah tangga.
“Sabar, Waf...” Malik merangkul pundak Wafa santai. Sejujurnya, Malik sama sekali tidak tahu kalau tadi Lily dan Julian naik ke lantai atas berdua.
Malik lalu berdeham, mencoba memasang wajah tebar pesona. “Tahu enggak kenapa Kak Lily mandinya lama?”
Sebenarnya Malik berniat mengeluarkan gombalan mautnya, tapi tiba-tiba Jaya yang duduk di sofa menoleh dan memotong ingin ikut nimbrung, “Emang kenapa, Lik?”
Raut percaya diri Malik seketika luntur menjadi salah tingkah. “E-eh... kenapa Lily mandinya lama, Om?” tanya Malik ulang, kini dengan tatapan mengintimidasi namun santai dari Jaya yang ikut merangkul pundaknya.
Jantung Malik berdegup kencang bak marawis. Ia memberanikan diri menatap Papi Jaya. “Soalnya... Kak Lily mau ketemu saya, Om.”
Papi Jaya terkekeh pelan menyimak kepedean anak itu, begitu pula Wafa yang menyeringai lebar.
“Bisa aja kamu, Lik. Om makin demen nih sama kamu!” puji Papi Jaya blak-blakan.
Wafa, Malik, dan Sean saling lempar pandangan dengan mata berbinar.
“Udah diestuin nih berarti, Pih?” celetuk Wafa tanpa beban.
“Kalau Papi sih yes! Cuma ya balik lagi ke Lily-nya, kan yang bakal jalani hubungannya Lily, bukan Papi. Tapi Papi bakal dukung seratus persen! Tetap berusaha ya, Lik!” ujar Papi Jaya menyemangati.
Kino yang duduk di sebelah Ell tak mau kalah, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kino juga suka sama Kak Lily, Om!”
Jaya menepuk jidatnya sendiri secara dramatis. “Aduh... makin banyak aja nih calon mantu Papi!”
“Apaan nih, rame-rame ngomongin calon mantu, calon mantu?” tanya Owen yang baru saja menuruni anak tangga dengan pakaian santai.
“Tuh, pada ngaku kalau pada suka sama Lily,” balas Rafa singkat sembari mengunyah kacang.
Sementara itu di lantai dua, Lily yang baru selesai mandi dan berganti pakaian membawa selembar baju milik miliknya sendiri yang menurut perkiraannya akan muat di tubuh Julian. Ia melangkah menuju kamar Owen.
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu kamar terbuka. Sosok Julian muncul dengan balasan senyum hangat. Namun, Lily tertegun melihat Julian sudah rapi mengenakan kaus putih polos dan celana hitam selutut.
“Kak Owen yang sediain baju ini?” tanya Lily kaget.
Julian mengangguk pelan, ikut bingung. “Iya, tadi Kak Owen ada menaruh baju ini di atas kasur.”
Julian lalu melirik pakaian di dekapan Lily. “Kamu... kenapa bawa baju juga?”
“E-eh... enggak kok!” refleks Lily menyembunyikan baju bawaannya di meja kamar Owen, lalu menyunggingkan senyum manis. “Ayo turun ke bawah, Lian.”
Kembali ke kerumunan di ruang tengah.
“Bukan cuma di rumah ini Kak, di sekolah juga banyak banget cowok yang naksir Kak Lily,” beber Sean memberi informasi tambahan.
“Nah! Bener itu, Yan! Gue curiga tuh anak pakai susuk kali ya? Masa di kelas gue aja ada tiga orang yang suka sama Lily!” tuduh Wafa dengan analisis asal-asalan.
“Apa nih? Pada ngomongin aku, ya?”
Suara lembut Lily mendadak menginterupsi. Lily menuruni tangga bersama Julian. Uniknya, kombinasi pakaian mereka sangat serasi, Lily dalam balutan gaun putih selutut yang anggun, dan Julian dengan kaus putih bersihnya.
Semua mata seketika tertuju ke arah tangga.
“Kak Lily cantik banget...” celetuk Malik spontan, mengabaikan fakta bahwa Julian berdiri tepat di samping gadis itu.
Papi Jaya tersenyum puas melihat penampilan putrinya. “Wah, dia udah siap foto prewedding sama kamu tuh, Lik!”
Malik tersenyum malu.
Namun, tatapan Jaya mendadak tertuju pada kaus yang dipakai Julian. “Eh bentar... itu bukannya baju yang waktu itu Papi beliin buat kamu, kak Wen?”
Owen berdeham canggung dari balik sofa. “Iya, Pih... cuma enggak muat di kakak.”
Wafa melotot mendengarnya. “Tapi kan waktu itu Lu bilang mau kasih baju itu ke gue, Bang?!”
“Halah, cuma kaus doang Waf! Besok gue beliin yang baru buat Lu,” balas Owen cepat, berusaha memotong perdebatan.
Melihat interaksi itu, sudut bibir Lily terangkat membentuk senyuman hangat. Di balik gengsi dan sikap serba protektif kakak tertuanya, Lily tahu bahwa Owen mulai membuka hati dan menerima kehadiran Julian di rumah mereka.
Tanpa mengatakan sepatah katapun Lily berlari dan langsung memeluk tubuh kakak tertuanya erat-erat.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat