Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Yang Indah
DUG
Chloe terkejut. "Itu... itu bukan cinta. Itu paksaan dan penjara."
Erivo menyipitkan mata. "Oh? Jadi menurutmu cinta itu apa?"
Chloe menarik napas. Memberanikan diri. "Cinta itu percaya. Cinta itu melepas, bukan mengikat. Cinta itu... membiarkan orang yang kita sayang punya pilihan, meski pilihannya bisa menyakiti kita."
Erivo terdiam. Kata-kata itu... sama persis dengan kata-kata yang dulu diucapkan Queen Daisy kepadanya.
Tak lama kemudian, Erivo tertawa. Tapi tawanya kosong. "Teori yang indah. Dari buku?"
"Bukan," jawab Chloe tegas. "Dari pengalaman."
DUG
Erivo mendekat satu langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal.
"Pengalaman?" ucap Erivo pelan. "Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya? Kalau belum, jangan sok tahu."
Chloe tidak mundur. Ia mendongak, menatap mata Erivo lurus. "Sebagai Chloe Weiss, memang aku belum pernah merasakan apa itu cinta... tapi sebagai diriku, aku pernah merasakan ditinggal karena tidak mendapatkan restu dari ibunya."
DUG
Rahang Erivo mengeras. "Kau..."
Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Erivo memicingkan mata, menatap Chloe dari atas sampai bawah. Seolah mencoba menemukan seseorang di dalam diri wanita itu.
"Caramu berbicara sama persis seperti dia," bisik Erivo. Suaranya serak. "Kalimatnya. Nadanya. Bahkan caramu marah saat berdebat denganku."
Chloe menahan napas. Dalam hati ia berkata, "Sial... aku hampir keceplosan."
Dengan cepat Chloe tersenyum, menutupi kegugupannya. "Mungkin karena aku terlalu banyak baca novel, Tuan. Jadi aku sedikit tahu kata-kata bijak."
Erivo tidak menjawab. Ia mengangkat tangan, menyentuh poni Chloe. Menyingkapnya pelan.
Jantung Chloe berdegup kencang.
"Chloe Weiss," gumam Erivo. "Putri Tuan Alexander Weiss. Cerdas, keras kepala, pemberani, dan tidak takut kepadaku."
Jemarinya turun ke pipi Chloe. "Tapi kenapa... aku merasa sudah mengenalmu jauh sebelum itu?"
Chloe memejamkan mata. Air matanya hampir jatuh. "Mungkin... karena kita ditakdirkan bertemu."
DUK
Erivo menarik tangannya. Kembali berbalik ke pagar teras.
"Aku tidak percaya takdir," ucap Erivo dingin. "Tapi aku hanya percaya kendali."
Chloe mengangguk pelan. "Baik, aku mengerti, Tuan... Sudah larut malam. Sebaiknya Anda tidur. Begadang tidak baik untuk kesehatan."
---
DI KAMAR, TENGAH MALAM.
Chloe menahan napas. Air matanya jatuh ke bantal. Dalam hati ia kembali berkata, "Erivo... ini aku. Queen-mu."
KLIK
Tak lama kemudian pintu terbuka pelan. Erivo masuk dan langsung membaringkan dirinya di samping Chloe. Menjaga jarak.
Hening.
Hanya suara napas mereka berdua dan detak jam di dinding yang terdengar.
Chloe pura-pura tidur. Tapi jantungnya berdegup kencang.
Erivo melirik Chloe yang tidur membelakanginya. Dan tanpa berkata apa-apa, Erivo langsung menarik tubuh Chloe ke dalam pelukannya.
DUG
Tubuh Chloe menegang. "Tuan..."
"Diamlah," bisik Erivo di telinga Chloe. Napasnya hangat. "Aku hanya ingin memelukmu sebentar... Aku merindukannya, Chloe. Dan berada di sampingmu rasanya aku berada di dekatnya."
Pelukannya erat. Tapi tidak menyakiti. Dagunya bersandar di bahu Chloe.
Chloe menahan napas. Air matanya jatuh ke bantal. Dalam hati ia kembali berkata, "Erivo... ini aku."
Erivo mengencangkan pelukannya sedikit lagi. "Kau dingin," gumamnya. "Dia juga selalu seperti ini kalau merasa ketakutan."
Chloe terkejut. Dalam hati ia berkata, "Dia... dia sadar?"
Erivo mengusap lengan Chloe pelan. "Tidur... Aku di sini."
Beberapa detik kemudian, napas Erivo terdengar teratur di belakang leher Chloe. Pria itu sudah tertidur.
Tapi Chloe tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Air matanya terus jatuh.
Dalam hati: "Pelukan ini... yang paling aku rindukan."
Seketika terngiang di ingatan Chloe pada saat di kehidupan sebelumnya sebagai Queen Daisy.
FLASHBACK ON
"Aku lelah, sayang. Temani aku tidur malam ini," suara manja Erivo memeluk Queen Daisy dari belakang.
Queen Daisy tersenyum, mengusap tangan Erivo yang melingkar di perut datarnya.
"Aku kira malam ini kau akan kembali ke Geneva?" tanya Queen.
Erivo menggelengkan kepalanya. "Tidak... Aku masih ingin bersama denganmu. Kalau aku kembali ke Geneva, Mama akan melarangku lagi untuk datang ke Zurich menemuimu."
Queen Daisy tertawa kecil. "Kau ini sudah menjadi CEO dan pemimpin Klan Mafia, tapi masih takut Mama."
Erivo mengecup bahu Queen. "Aku tidak takut sama siapa pun. Kecuali kehilanganmu."
DUK
Erivo memutar tubuh Queen hingga menghadap ke arahnya. Dalam gelap, mata mereka bertemu.
"Queen," bisik Erivo. "Janji ya. Jangan pergi dariku. Apa pun yang terjadi, tetaplah berada di sisiku. Kita akan menghadapinya bersama."
Queen tersenyum. "Aku tidak bisa berjanji apa pun... karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
Erivo diam, menatap wajah cantik kekasihnya. "Ayo tidur. Katanya kau lelah."
Erivo menurut. Keduanya tidur saling berpelukan. Tidak ada yang tahu bahwa dua minggu kemudian, hubungan mereka terpaksa berakhir karena tidak adanya restu dari Eleanor.
Mulai dari situlah Queen Daisy dan Erivo tidak pernah bertemu lagi. Bahkan sampai akhir hidup wanita itu.
FLASHBACK OFF
Chloe berbalik, menatap wajah tampan Erivo yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.
Wanita itu tersenyum. "Selamat tidur, Tuan Harimau," bisik Chloe.
Ia membalas pelukan Erivo. Mengencangkan genggamannya di dada pria itu.
Dalam tidur, Erivo mengerutkan kening. Seolah merasakan sesuatu. Lalu tangannya secara refleks mencari tangan Chloe. Menggenggamnya erat.
"Jangan pergi..." gumam Erivo mengigau.
Chloe menahan isak. "Aku tidak akan pergi. Tidurlah."
---
PAGI - JAM 6.30
Alarm berdering pelan. KRING
Erivo bangun pertama. Begitu membuka mata, ia melihat Chloe masih memeluk lengannya.
Untuk sedetik, Erivo terpaku. Ekspresinya melembut. Sesuatu yang jarang sekali muncul.
Chloe masih terlihat tidur dengan nyenyak, tidak terusik sedikit pun.
Rambut panjangnya sedikit berantakan menutupi wajahnya.
Erivo mengulurkan tangan. Menyingkap rambut itu pelan. Jemarinya berhenti di pipi Chloe.
"Sama," batin Erivo. "Caranya tidur. Caranya memeluk. Sama persis."
Tiba-tiba bulu mata Chloe bergetar. Wanita itu membuka mata.
DUG
Mereka bertatapan. Jaraknya hanya sejengkal.
Chloe langsung panik. "A-aku... maaf, Tuan. Aku tidak sengaja," ia dengan cepat menarik tangannya yang memeluk lengan kekar Erivo.
Erivo tidak menjawab. Ia malah mengangkat tangan, mengusap pipi Chloe dengan ibu jarinya.
"Bersiaplah. Bukankah hari ini kau dan Mama ingin ke butik?" ucap Erivo. Suaranya serak.
Chloe menghela napas pelan. "Sepertinya hari ini aku tidak bisa, Tuan... Hari ini aku ada meeting bersama karyawan di perusahaan."
Erivo duduk. Mengusap wajahnya. Rambutnya berantakan. Tapi tetap terlihat... berbahaya.
"Hmm..." Erivo berdehem pelan. "Tidak masalah. Acara gala dinner-nya juga masih ada satu minggu."
Chloe juga duduk. Ia beranjak turun dari tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa, Chloe melangkah masuk ke kamar mandi.
Erivo terus memperhatikannya hingga pintu kamar mandi itu tertutup rapat.
"Queen Daisy. Chloe Weiss..." gumam Erivo. "Wajah mereka mempunyai kemiripan... tapi tidak mungkin dia adalah Queen..."
Erivo menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Matanya kosong.
"Tidak. Queen sudah mati..."
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🤗🤗🥰
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,