NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Koridor istana masih diterangi cahaya sore yang hangat, bukan gelap malam. Sinar matahari miring masuk dari jendela-jendela tinggi, membuat lantai marmer tampak berkilau lembut.

Yua dan Jinsei berdiri di persimpangan lorong utama, setelah turun dari kereta. Yua melirik ke arah Jinsei sebentar, lalu berkata tenang, seperti mengingatkan hal kecil yang penting.

“Jangan sampai salah kostum,” ucap Yua singkat, tapi nada suaranya tidak setegas biasanya, lebih seperti perhatian yang disamarkan.

Jinsei tersenyum kecil. “Tenang. Aku ingat.”

Yua mengangguk sekali. Sejenak dia terdiam, lalu menambahkan pelan, “Kalau begitu… sampai nanti malam.”

“Sampai juga nanti,” jawab Jinsei.

Tidak ada tambahan kata lagi. Namun ada jeda kecil yang terasa berbeda. Seolah keduanya sama-sama menyadari bahwa pertemuan berikutnya akan berada dalam suasana yang jauh lebih formal.

Yua berbalik lebih dulu, berjalan menyusuri lorong menuju kediamannya. Siluetnya perlahan menjauh, melewati cahaya sore yang masuk dari jendela.

Jinsei menyusul arah berbeda, menuju tempatnya sendiri.

Dari balkon atas yang agak jauh, Ryujin berdiri diam.

Matanya mengikuti dua arah yang berbeda itu, Yua dan Jinsei yang perlahan menghilang dari pandangannya di bawah cahaya sore.

Di tangannya, sebuah kipas lipat elegan terbuat dari kayu hitam dan kain sutra terbuka perlahan. Dia menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan sorot mata tajam yang tidak lepas dari pemandangan di bawah.

"Jadi benar dugaanku..." gumamnya sambil menaikkan alis.

Kipas itu ditutup kembali dengan cepat.

Srekkk.

Sudut bibirnya terangkat tipis. Untuk pertama kalinya, dia merasa ingin mengenal Jinsei lebih jauh. Karena jika ada seseorang yang mampu membuat Yua tersenyum seperti tadi. Maka orang itu jelas bukan orang sembarangan bagi Yua.

“Bukan hubungan biasa...” gumamnya lagi, lebih pelan dari sebelumnya.

Sementara itu, jauh di bawah sana. Jinsei dan Yua sama sekali tidak menyadari bahwa rahasia kecil mereka perlahan mulai diketahui oleh orang lain.

---

Malam akhirnya turun di atas istana.

Langit yang tadi berwarna jingga kini berubah menjadi biru tua pekat, dihiasi cahaya bintang yang samar. Lentera-lentera di sepanjang jalan utama istana menyala satu per satu, membentuk jalur cahaya yang megah menuju aula acara.

Di gerbang utama, suasana mulai ramai.

Kereta-kereta bangsawan berdatangan tanpa henti. Kuda-kuda meringkik pelan, roda besi berderak di atas batu paving yang rapi, lalu berhenti tepat di depan tangga masuk.

Para pelayan istana segera bergerak sigap. Pintu kereta dibukakan satu per satu.

“Selamat datang.”

“Silakan menuju aula utama.”

Suara sambutan terdengar berulang, sopan namun tegas.

Para bangsawan turun dengan pakaian terbaik mereka gaun berkilau, mantel panjang berhias lambang keluarga, serta perhiasan yang memantulkan cahaya lentera seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi. Mereka melangkah dengan penuh wibawa, saling menyapa, sebagian tersenyum tipis, sebagian lain hanya mengangguk formal.

Di antara keramaian itu, satu kereta berhenti lebih tenang dari yang lain.

Dari dalamnya, Nona Yuna turun terlebih dahulu.

Gaunnya sederhana namun elegan, mencerminkan kedudukan dan pendidikan yang dia miliki. Dia berhenti sejenak di tangga, menatap istana yang terang benderang di depannya.

Di belakangnya, sang ayah menyusul turun.

Sosoknya langsung menarik perhatian beberapa pejabat yang berdiri tak jauh. Wibawanya terasa kuat, bahkan tanpa perlu banyak bicara.

Dia melirik sekilas ke arah Yuna. Tanpa banyak percakapan lagi, keduanya mulai melangkah menuju pintu utama istana.

Di sekitar mereka, para bangsawan lain masih terus berdatangan, menciptakan suasana yang semakin padat dan hidup. Suara tawa sopan, percakapan formal, dan langkah kaki di atas marmer berpadu menjadi satu irama malam yang mewah.

---

Kamar Yua tenang, jauh dari riuh aula istana.

Cahaya lentera malam masuk lembut dari jendela besar, jatuh di lantai kayu yang bersih dan tenang. Suasana di dalamnya terasa lebih pribadi, lebih jujur, seolah dunia di luar istana untuk sementara tidak ada.

Yua berdiri di depan meja rias.

Dia sudah mengganti pakaian malamnya. Gaun yang tadi mereka pilih di butik. Warna dan potongannya membuat siluetnya terlihat lebih anggun dari biasanya, tanpa berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya langsung paham bahwa ini bukan pakaian biasa.

Tangannya bergerak pelan membuka kotak kecil di atas meja. Di dalamnya, sebuah jepit rambut sederhana namun elegan terletak rapi.

Hadiah dari Jinsei.

Yua menatapnya sebentar tanpa berkata apa-apa.

“Bunga porana..” gumamnya pelan.

Bukan nada tidak suka. Lebih seperti bingung dengan perasaan yang tidak biasa.

Pelan-pelan dia mengangkat jepit itu, lalu menyelipkannya ke sisi rambutnya. Gerakannya hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang sebenarnya tidak rapuh sama sekali.

Yua menatap pantulan dirinya di cermin.

Untuk beberapa detik, dia tidak bergerak. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit berbeda. Lebih lembut, lebih hidup, tapi tetap membawa wibawa yang tidak hilang begitu saja hanya karena satu hiasan kecil.

“…Jadi ini kelihatannya,” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Matanya tidak langsung berpaling dari cermin. Dia melihat detail kecil itu di rambutnya. Lalu melihat dirinya secara keseluruhan. Dan untuk sesaat, Yua benar-benar diam.

“Cocok..” gumamnya akhirnya, lebih pelan dari sebelumnya.

Lalu sudut bibirnya naik sedikit nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk disebut senyum. Dia menyandarkan satu tangan di meja rias, masih menatap pantulan dirinya.

“Jinsei…”

Namanya terucap pelan, seperti tidak sengaja keluar. Yua menghela napas kecil, lalu memiringkan sedikit kepalanya, memastikan jepit itu tetap terpasang rapi.

“Seleranya tidak buruk.”

Namun meski nada suaranya terdengar datar seperti biasa, tatapannya di cermin tidak bisa menyembunyikan satu hal sederhana. Dia menyukainya. Bukan hanya jepitnya. Tapi juga perasaan senang saat Jinsei membelikannya tanpa dia harus meminta.

---

Aula istana malam itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul di pilar-pilar marmer putih. Aroma harum bunga porana menguasai seluruh aula. Suara gesekan pakaian sutra, tawa halus para bangsawan, dan percakapan kecil saling bertaut seperti musik latar yang teratur. Semua orang tampak menunggu sesuatu atau seseorang.

Di salah satu sisi aula, Tuan Satoshi berdiri bersama Tuan Yamato. Keduanya berbicara pelan, namun sorot mata mereka sesekali mengarah ke pintu utama, seolah sama-sama tahu bahwa malam ini akan menjadi penting.

Di sisi aula yang sedikit lebih tenang, Yuna berdiri bersama beberapa putri bangsawan lain. Mereka mengamati ruangan dengan penuh perhatian, sesekali melirik ke arah pusat aula di mana para pejabat tinggi dan pemburu elit akan tiba.

Tak jauh dari mereka, terlihat jelas kedekatan informal antara Tuan Satoshi dan Tuan Yamato yang sedang berbicara dengan tenang. Cara mereka berdiri berdampingan, tanpa jarak kaku seperti biasanya antar keluarga besar, cukup mencolok di mata para bangsawan muda.

Putri bangsawan ke 1 berbisik pelan, sedikit iri. “Kau sangat beruntung Yuna… bisa dekat dengan keluarga Tuan Yamato.”

Yuna menoleh sedikit, ekspresinya tenang.

Putri bangsawan ke 2 tersenyum kecil, dengan nada menggoda dia berkata. “Itu kesempatan bagus. Kalau aku jadi kau, aku akan mengambil kesempatan itu untuk dekat dengan Tuan muda Jinsei, hahaha…”

Dia tertawa kecil, sedikit malu dengan ucapannya sendiri, tapi jelas ada maksud bercanda sekaligus iri disana.

Yuna terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada lembut tapi tegas.

“Dekat dengan seseorang karena kesempatan… bukan berarti itu akan membuat hubungan menjadi berarti.”

Dia menatap teman-temannya satu per satu.

“Kalau memang ada sesuatu yang ditakdirkan, itu tidak perlu dipaksakan. Dan kalau tidak, seberapa dekat pun kita mencoba… tetap akan terasa jauh.”

Beberapa detik hening. Teman-temannya saling pandang. Seolah tidak menyangka jawaban Yuna akan sejernih itu.

Putri bangsawan ke 3 menatap Yuna dengan senyum kecil yang tulus, berbeda dari nada iri yang sebelumnya muncul dari beberapa temannya.

Putri bangsawan 3 berkata “Kau sangat bijaksana Yuna. Pantas saja orang-orang sepertimu memiliki koneksi yang luas dibandingkan dengan orang lain.”

Yuna tersenyum kecil mendengar pujian dari temannya itu.

Suasana aula yang sebelumnya tenang mulai berubah. Percakapan para bangsawan meredup sedikit demi sedikit, tergantikan oleh rasa penasaran yang sama: pintu utama.

Pintu besar itu terbuka.

Dari arah cahaya lorong, beberapa sosok melangkah masuk dengan wibawa yang berbeda dari para bangsawan. Langkah mereka tidak tergesa, tidak pula ragu. Semua terukur, seperti orang yang terbiasa berdiri di garis depan dunia nyata, bukan sekadar di ruang jamuan.

Dari balik cahaya lorong, melangkah seorang pria yang membawa aura ketenangan sekaligus kewibawaan yang sulit digambarkan. Dia adalah Master Seijun.

Langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap pijakan terasa seperti menegaskan kehadirannya. Dia tidak tersenyum. Tidak mencari perhatian.

Matanya hanya lurus ke depan, tenang, tajam, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat batas antara hidup dan mati.

Setiap langkahnya terasa seperti keputusan, bukan sekadar gerakan. Di belakangnya, tiga sosok mengikuti dengan formasi rapi. Yua, Ryujin, dan Haru.

Tidak ada kata-kata berlebihan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat seluruh aula terasa lebih berat.

Bangsawan tua berkata, "Itu dia… Master Seijun. Bahkan tanpa berbicara, dia sudah seperti menekan seluruh ruangan ini dengan kehadirannya."

Tuan Satoshi menatap ke arah mereka dengan ekspresi datar, tapi sorot matanya mengeras sedikit.

Sementara Tuan Yamato hanya menghela napas pelan, senyum tipisnya tetap ada, namun kini lebih dingin dari sebelumnya.

Tuan Satoshi berkata, "Seijun… selalu datang seperti ini. Tidak pernah berusaha menyatu dengan istana. Tapi entah kenapa, justru dialah yang paling mudah menguasai ruangan ini."

Tuan Yamato berbisik pelan, hampir seperti sindiran.

“Para pemburu selalu masuk dengan cara yang sama… seolah mereka tidak perlu menghormati suasana.”

Tuan Satoshi menjawab tanpa menoleh.

“Karena mereka tidak hidup di dalam suasana. Mereka hidup di dalam kenyataan.”

Beberapa bangsawan tanpa sadar menahan napas.

Bangsawan muda di sudut aula berkata, "Mereka… para pemburu elit? jadi mereka yang selama ini hanya kudengar dari cerita… ternyata benar-benar ada di sini…"

Tuan Satoshi langsung menegakkan punggungnya sedikit. Sementara Tuan Yamato menatap dengan sorot yang lebih dingin.

Di belakang Seijun, Yua melangkah dengan sikap yang jauh lebih tenang. Tidak ada keraguan. Tatapannya lurus, tenang, dan terlalu fokus untuk terlihat sebagai seseorang yang hadir di sebuah jamuan.

"Dia… wanita itu… auranya seperti pedang yang disarungkan. Cantik, tapi kalau disentuh sedikit saja… bisa melukai." ucap salah satu pria bangsawan muda.

"Jadi dia adalah Yua… pemburu elit yang namanya sering disebut di perbatasan utara…" sahut pemuda bangsawan lain.

Ada rasa kagum yang bercampur dengan sedikit takut.

Bukan takut pada orangnya. Tapi pada apa yang pernah dia lakukan di luar sana.

Di sisi lain aula, seorang gadis bangsawan yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan tiba-tiba membeku.

Itu Yuna.

Matanya membesar saat pandangannya jatuh tepat pada Yua.

"Wajah itu…"

Wanita yang tadi pagi dia lihat di luar istana, yang dengan santai mengantri kue bersama seorang pria, tertawa kecil, bahkan terlihat… biasa saja.

Dan sekarang...

Wanita itu berdiri di aula istana sebagai salah satu pemburu elit kerajaan.

"Dia..? wanita tadi pagi… yang berdiri di depan kios kue… Ternyata dia adalah Sang Pemburu Elit? Yua Geisyuku itu?" ucapnya didalam hati.

Yua tidak menyadari tatapan itu. Atau mungkin, dia menyadarinya tapi tidak menganggapnya penting. Fokusnya tetap lurus ke depan, mengikuti langkah Master Seijun.

Lalu perhatian para bangsawan wanita mulai bergeser.

Haru melangkah dengan santai, namun tetap rapi dalam formasi. Wajahnya tenang dan justru ketenangan itulah yang membuatnya menonjol.

Rambutnya tertata, sorot matanya lembut namun tajam di saat bersamaan.

Senyumnya tipis tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat beberapa bangsawan muda tanpa sadar terdiam.

"Lihatlah.. itu Tuan Muda Haru.. kenapa rasanya dia seperti tokoh dalam lukisan bangsawan yang hidup?" ucap seorang putri bangsawan.

Beberapa gadis bangsawan saling berbisik pelan, menahan senyum gugup.

“Dia tampan sekali…”

“Aku baru lihat pemburu setampan itu…”

Lalu datang sosok berikutnya.

Ryujin melangkah dengan percaya diri yang nyaris santai. Dia tidak terlihat tegang sedikit pun. Bahkan ada kesan seperti dia sedang berjalan di jalan biasa, bukan di tengah aula bangsawan.

Namun justru itu yang membuatnya mencolok.

Tatapannya tajam, dan sesekali senyumnya muncul ringan seolah dunia ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

"Dia membuatku terpana.." ucap wanita bangsawan.

"Dia benar-benar tipeku.."

"Lihatlah keanggunan Tuan muda Ryujin..."

Beberapa bangsawan muda wanita mulai menunduk sedikit, tapi mata mereka tetap mencuri pandang.

Tuan Yamato masih menunggu kehadiran Jinsei yang saai ini belum muncul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!