Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Keluarga Santoso datang dengan wajah orang yang merasa sedang memberi kehormatan.
Ketika Alya, Maya, dan Dinda tiba di rumah Wiratama, tiga mobil sudah terparkir di halaman. Baskara berdiri di ruang tamu bersama Pak Hendra Santoso dan istrinya. Kevin duduk di sofa dengan kaki disilangkan, memainkan ponsel seolah semua orang di ruangan itu hanya dekorasi.
Raka berdiri dekat jendela. Wajahnya gelap.
Alya tahu sesuatu sudah terjadi.
Begitu ia masuk, Kevin mengangkat wajah. Tatapannya berhenti pada gaun biru gelap yang masih dikenakan Alya. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya terlalu lancang.
"Ternyata calon tunanganku bisa tampil juga."
Dinda menegang.
Maya cepat berkata, "Kevin, jangan bercanda begitu. Alya baru pulang. Dia masih malu."
"Aku tidak malu," kata Alya.
Semua orang menoleh.
Alya meletakkan tas belanja di meja samping, lalu berdiri dengan tenang. "Aku hanya belum pernah setuju menjadi calon tunangan siapa pun."
Ruang tamu mendadak sunyi.
Pak Hendra tertawa pendek. "Anak muda sekarang memang suka bicara langsung. Bagus. Tapi urusan keluarga tidak selalu perlu persetujuan anak sejak awal. Orang tua membicarakan yang terbaik."
"Kalau yang terbaik untuk saya, saya perlu tahu dulu apa yang sedang dibicarakan," jawab Alya.
Baskara menatapnya memberi peringatan. "Alya."
Kevin meletakkan ponsel. "Santai saja, Pak Baskara. Aku suka dia."
Dinda menunduk lebih dalam.
Di kehidupan lalu, Kevin tidak pernah mengatakan suka pada Alya di awal. Ia hanya menatapnya seperti barang yang sudah dibeli, lalu beberapa bulan kemudian mulai menunjukkan wajah asli. Kali ini, karena skandal semalam, keluarga Santoso membutuhkan pertunangan cepat. Kevin harus terlihat tertarik.
Alya duduk di sofa seberang Kevin. "Kenapa keluarga Santoso datang lebih cepat dari rencana?"
Bu Santoso tersenyum kaku. "Kami kebetulan punya waktu."
"Oh."
Alya mengeluarkan ponsel, membuka satu tautan berita gosip yang tadi dikirim Rafi. Judulnya masih samar karena pihak Santoso bergerak cepat menurunkannya, tetapi jejak tangkapan layar sudah tersebar di beberapa akun kecil.
Putra Keluarga S Terseret Keributan di Klub Kawasan Senopati.
Alya tidak menunjukkan layar itu. Ia hanya berkata, "Aku kira karena ada berita semalam."
Kevin berdiri. "Berita apa?"
Pak Hendra menatap Kevin tajam. "Duduk."
Baskara jelas belum tahu detailnya. "Ada apa ini?"
Maya menahan napas. Dinda melirik Kevin, lalu cepat membuang muka. Tatapan itu terlalu cepat, tetapi Alya melihatnya.
Jadi Dinda sudah tahu.
Menarik.
Pak Hendra berdeham. "Hanya kesalahpahaman kecil. Anak muda berkumpul, ada orang mabuk, nama Kevin ikut terseret."
"Nama saja?" tanya Raka tiba-tiba.
Kevin menatap Raka. "Mas Raka juga mau menghakimi aku?"
Raka menjawab dingin, "Aku hanya tidak suka adikku dijadikan alat penutup berita."
Kalimat itu membuat wajah Baskara berubah. "Raka, jaga ucapanmu."
"Mas Raka benar," kata Alya.
Kali ini, Baskara benar-benar menatapnya marah.
Alya melanjutkan, "Kalau keluarga Santoso ingin mempercepat pertunangan karena ada berita buruk, itu berarti nama saya akan dipakai untuk membersihkan nama Mas Kevin. Saya berhak tahu."
Bu Santoso meletakkan cangkirnya agak keras. "Kamu bicara seolah keluarga kami meminta bantuan."
"Memang bukan?"
Dinda spontan menyentuh lengan Alya. "Kak, jangan begitu. Mereka tamu."
Alya menatap tangan itu sampai Dinda melepaskan.
"Tamu yang datang membicarakan hidupku," katanya. "Aku tidak mungkin pura-pura tidak dengar."
Kevin tiba-tiba tertawa. "Kamu menarik. Biasanya perempuan akan senang kalau keluargaku datang melamar."
"Mungkin biasanya kamu mendatangi perempuan yang tidak punya pilihan."
Senyum Kevin lenyap.
Pak Hendra mencondongkan badan. "Baskara, putrimu perlu belajar tata krama."
Baskara berdiri. "Alya, minta maaf."
Alya tidak bergerak.
Raka berkata, "Pa, Alya tidak salah."
"Kamu diam." Baskara menunjuk Raka, lalu kembali ke Alya. "Minta maaf."
Alya menatap ayah kandungnya.
Di kehidupan lalu, suara seperti ini cukup membuatnya gemetar. Ia akan berdiri, meminta maaf, lalu menangis sendiri di kamar belakang. Semua orang akan lega karena anak yang dibuang itu akhirnya ingat tempatnya.
Sekarang, ia hanya merasa bosan.
"Maaf," kata Alya.
Dinda tampak lega.
Kevin tersenyum menang.
Alya melanjutkan, "Maaf karena saya belum tahu di rumah ini tamu boleh menghina, tetapi anak pemilik rumah tidak boleh bertanya."
Raka menutup wajahnya dengan tangan, entah menahan tawa atau pusing.
Baskara membeku.
Pak Hendra bangkit. "Kalau begini caranya, pembicaraan ini tidak perlu dilanjutkan."
"Silakan," jawab Alya.
Maya cepat berdiri. "Pak Hendra, mohon jangan tersinggung. Alya baru kembali, emosinya belum stabil. Dia dibesarkan jauh dari lingkungan seperti ini."
Kalimat itu halus, tetapi beracun.
Alya menatap Maya. "Tante benar. Aku dibesarkan jauh dari lingkungan yang memakai perempuan untuk menutup skandal laki-laki."
Dinda hampir berteriak, "Kak!"
Kevin maju satu langkah. "Cukup. Kamu pikir kamu siapa?"
Rafi muncul dari arah koridor sebelum siapa pun menyadari kapan ia masuk rumah.
"Jangan mendekat," katanya.
Kevin menatapnya dari atas ke bawah. "Pengawal kampung ikut bicara?"
Rafi tidak menjawab. Ia hanya berdiri di antara Kevin dan Alya.
Pak Hendra tertawa dingin. "Baskara, ini rumahmu atau rumah anak itu?"
Baskara tampak berada di ujung kesabaran. "Alya, masuk ke kamar."
Alya berdiri. "Baik."
Semua orang mengira ia akhirnya menyerah.
Namun sebelum naik tangga, ia berhenti dan berkata, "Kalau keluarga Santoso masih ingin membicarakan pertunangan, kirim dulu klarifikasi tertulis tentang berita semalam, laporan medis korban, dan perjanjian pra-nikah. Setelah itu baru kita bicara."
Bu Santoso wajahnya merah. "Laporan medis korban?"
Alya menoleh. "Bukankah tadi katanya hanya kesalahpahaman kecil? Seharusnya tidak masalah."
Kevin menatap Alya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Alya naik tangga tanpa menoleh lagi.
Di kamar, ia melepas sepatu dan duduk di kursi. Rafi masuk beberapa menit kemudian.
"Kamu membuat tiga keluarga marah dalam satu sore."
"Dua," kata Alya. "Wiratama dan Santoso. Keluarga mana yang ketiga?"
"Aku."
Alya menatapnya.
Rafi menyilangkan tangan. "Kamu hampir membiarkan Kevin menyentuhmu."
"Aku tahu kamu akan muncul."
"Bagaimana kalau aku terlambat?"
"Kamu tidak pernah terlambat."
Rafi terdiam.
Alya membuka ponsel. Ada pesan dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya satu foto: Kevin di klub, memegang lengan seorang perempuan yang tampak menangis.
Di bawah foto ada kalimat pendek.
Kalau kamu ingin selamat, jangan menikah dengannya.
Alya menatap foto itu lama.
Siapa pun pengirimnya, ia baru saja memberinya senjata.
Dan keluarga Santoso belum tahu bahwa senjata itu sudah berada di tangannya.
Malam itu, Alya menyimpan foto tersebut di tiga tempat berbeda. Satu di ponselnya, satu di server kecil yang dikelola Rafi, dan satu lagi ia kirim ke alamat surel kosong yang hanya ia tahu. Ia tidak lagi percaya pada satu jalan keluar. Di kehidupan lalu, satu bukti hilang berarti seluruh kebenaran ikut mati.
Rafi memperhatikan caranya bekerja tanpa suara. "Kamu sudah lama menyiapkan cara seperti ini?"
"Sejak aku sadar orang baik bisa kalah hanya karena tidak punya salinan."
"Dan kamu?"
Alya menutup laptop. "Aku tidak berniat kalah karena alasan semurah itu."
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔