NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Petir Itu Pernah Menyelamatkanku

“Aku tidak pergi.”

Sebastian menutup tangannya di atas jemari Vivi yang mencengkeram lengan kemeja. Ia tidak melepaskannya. Ia hanya mengangkat perlahan sampai Vivi berdiri, lalu menuntunnya kembali ke ranjang.

Lampu senter diletakkan menghadap dinding agar cahayanya lembut. Pintu kamar dibiarkan terbuka. Sebastian duduk di tepi ranjang, sementara Vivi masuk ke bawah selimut dengan boneka beruang di pangkuan.

Petir bergemuruh lagi.

Vivi refleks meraih lengan Sebastian dan menariknya ke dada. Pipi pria itu nyaris menyentuh rambutnya.

“Jangan bergerak,” katanya serak.

Vivi langsung membeku. “Aku menyakitimu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Rahang Sebastian menegang. “Kalau kamu terus bergerak, aku tidak bisa menjamin akan tetap duduk dengan tenang.”

Panas merambat ke wajah Vivi meski kamar tanpa pendingin udara mulai pengap. Ia memahami maksud itu cukup jelas untuk berhenti bertanya.

Namun, ketika kilat menyala lagi, tubuhnya kembali merapat tanpa izin dari akal.

Sebastian mengembuskan napas panjang melalui hidung. Tangannya tetap berada di atas selimut, terlihat jelas, tidak mengambil keuntungan dari ketakutannya.

“Lihat aku,” katanya.

Vivi mengangkat wajah.

“Kita akan bicara sampai hujan reda.”

“Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kamu tidak suka bicara.”

“Malam ini aku suka.”

Vivi hampir tersenyum. Petir berikutnya terdengar sedikit lebih jauh, tetapi jemarinya belum berani melepas lengan pria itu.

“Kenapa kamu tidak takut petir?” tanyanya.

Tatapan Sebastian beralih ke jendela gelap.

“Karena dulu petir pernah menyelamatkanku.”

Vivi menunggu. Ia mengira itu hanya kalimat untuk mengalihkan perhatian, sampai Sebastian mulai bicara lagi.

“Aku tidak dibesarkan di rumah utama keluarga Gunawan.”

Suaranya datar, seperti sedang membacakan laporan milik orang lain.

“Ayahku tidak mengakui aku selama bertahun-tahun. Ibuku bekerja malam dengan jam yang tidak menentu. Setiap kali pergi, dia mengunci semua pintu karena takut aku keluar dan diketahui tetangga.”

“Berapa usiamu?”

“Delapan.”

Jari Vivi mengencang di lengannya.

“Rumah kontrakan kami punya ruang bawah tanah kecil untuk gudang. Kalau aku dianggap mengganggu, aku disuruh menunggu di sana.”

Ia tidak menggambarkan hukuman lain. Tidak perlu. Cara bahunya menjadi kaku sudah cukup memberi tahu Vivi bahwa ruang itu bukan sekadar gudang.

“Suatu malam, hujan turun seperti ini. Saluran di belakang rumah tersumbat. Air masuk melalui ventilasi bawah.”

Suara hujan di luar berubah dalam telinga Vivi. Ia membayangkan anak delapan tahun di ruangan gelap, pintu terkunci, air dingin naik tanpa seorang pun datang.

“Aku tidak bisa berenang,” lanjut Sebastian. “Saat air mencapai dada, aku berdiri di atas peti. Ketika peti itu mulai mengapung, kepalaku beberapa kali membentur langit-langit.”

Vivi menutup mulut dengan tangan.

“Tidak ada yang mendengar?”

“Hujan terlalu keras. Ibuku tidak pulang.”

“Lalu bagaimana kamu keluar?”

Kilat memutihkan tirai. Sebastian tidak berkedip.

“Petir menyambar pohon di samping rumah. Batangnya jatuh mengenai dinding ventilasi dan merusak jerujinya. Tetangga mendengar suara tembok pecah. Mereka datang setelah melihat air keluar dari celah.”

“Mereka menyelamatkanmu?”

“Mereka membuka ruang itu. Aku merangkak keluar sendiri.”

“Apa yang terjadi setelahnya?”

“Tetangga membawaku ke rumah sakit dan melapor. Ibuku baru pulang keesokan pagi.” Sebastian menatap titik gelap di luar jendela. “Catatan rumah sakit akhirnya sampai kepada keluarga Gunawan karena nama ayahku tercantum di dokumen kelahiran. Mereka membawaku ke rumah utama agar perkara itu tidak menjadi berita.”

“Mereka merawatmu?”

“Mereka memberiku kamar.”

Perbedaan jawaban itu terasa tajam. Kamar bukan berarti rumah. Di keluarga besar yang menganggap kelahirannya noda, Sebastian hanya dipindahkan dari ruang terkunci ke bangunan lebih indah yang tetap tidak menginginkannya.

“Tidak ada yang bertanya apakah kamu takut?”

“Mereka lebih sering bertanya apakah aku akan menceritakan ruang bawah tanah kepada media.”

Vivi tak mampu membayangkan seorang anak harus merangkak melewati air dan pecahan dinding untuk memperoleh napas.

“Jadi ketika orang lain mendengar petir sebagai ancaman,” ujar Sebastian, “aku mengingat cahaya yang menunjukkan jalan keluar.”

Ia menoleh kepada Vivi.

“Petir itu dulu adalah harapan hidupku.”

Mata Vivi panas. Air mata jatuh sebelum sempat ditahan dan mengenai punggung tangan Sebastian.

Pria itu menatap titik basah tersebut seolah tidak memahami benda apa yang baru menyentuhnya.

“Kenapa kamu menangis?”

“Kamu baru delapan tahun.”

“Itu sudah lama.”

“Lama bukan berarti tidak menyakitkan.”

Sebastian diam.

Vivi mengusap air matanya dengan bahu. Ia tidak berani melepaskan lengan pria itu.

“Semua sudah lewat,” katanya. “Kamu tidak ada di ruang itu lagi.”

“Aku tahu.”

“Sekarang kalau pintu terkunci, kamu punya kuncinya.”

Kalimat itu membuat sorot mata Sebastian berubah.

Vivi teringat Pulau Zamrud dan token merah yang kini berada di laci kamarnya. “Dan kalau suatu hari kamu lupa bagaimana rasanya memberi orang lain jalan keluar, aku akan mengingatkanmu.”

Sebastian memandangnya lama.

“Kamu berani mengingatkanku?”

“Aku sedang belajar.”

Sudut bibirnya terangkat sangat kecil. “Bagus.”

Suara mesin menyala dari kejauhan. Beberapa detik kemudian, lampu meja berkedip hidup dan pendingin udara kembali berembus.

Radio Sebastian berbunyi.

“Generator sisi timur sudah stabil, Pak,” lapor Pak Yanto. “Teknisi akan melakukan perbaikan permanen besok setelah cuaca aman.”

“Pastikan tidak ada kabel terbuka. Tunda pemeriksaan luar sampai petir berhenti.”

“Baik.”

Listrik telah kembali. Sebastian seharusnya bisa pergi.

Vivi belum melepaskan lengannya.

“Hujannya belum reda,” katanya pelan.

“Aku tetap di sini.”

Mereka bergeser hingga bersandar berdampingan pada kepala ranjang. Vivi masih memeluk lengannya, sekarang bukan hanya karena takut. Ada rasa nyeri lain di dadanya, rasa iba kepada anak kecil yang pernah menganggap petir sebagai satu-satunya pertolongan.

Dalam kehidupan pertama, ia tidak tahu apa pun tentang ini. Ia hanya melihat Sebastian sebagai pria yang terlahir dingin, seolah tidak memiliki tempat rapuh.

Ternyata dinginnya dibangun di sebuah ruang gelap yang dipenuhi air.

Rasa takut Vivi tidak hilang. Pria di sisinya tetap mampu melakukan hal-hal yang mengerikan. Namun, untuk pertama kalinya, rasa iba berdiri di samping ketakutan itu.

***

Sebastian merasakan air mata Vivi mengering di punggung tangannya.

Ruang bawah tanah mengajarinya satu hal: apa pun yang keluar dari jangkauan bisa tidak pernah kembali. Pintu, kunci, dan dinding adalah cara paling sederhana memastikan sesuatu tetap berada di tempatnya.

Sekarang Vivi berkata ia akan mengingatkan.

Perempuan itu tidak tahu betapa dekat dirinya dengan bagian Sebastian yang tak pernah diberi nama. Ia juga tidak tahu bahwa jika suatu hari benar-benar pergi, semua pelajaran lama akan bangun kembali.

Jari Sebastian bergerak, menyentuh ujung rambut Vivi.

Ia menunduk dan membenamkan wajah ke sana. Aroma sampo lembut menutup bau air kotor yang masih hidup dalam ingatannya.

“Vivi,” suaranya terdengar teredam.

“Hm?”

Lengannya mengikat tubuh perempuan itu sedikit lebih rapat.

“Jangan pernah tinggalkan aku.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!