Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Harga Sebuah Keajaiban dan Keputusan Pemimpin
Serpihan formasi pelindung yang hancur jatuh layaknya hujan salju yang terbuat dari kristal bercahaya. Ubin Giok Bintang di bawah kaki Awan dipenuhi kawah retakan.
Seluruh Arena Bintang Jatuh jatuh dalam keheningan yang mencekik. Puluhan ribu murid menahan napas, mata mereka terpaku pada pemuda yang berdiri di tengah arena dengan sebilah pedang berkarat yang bersandar santai di bahunya.
Namun, di balik penampilannya yang tampak tak tergoyahkan, sebuah peperangan brutal sedang terjadi di dalam tubuh Awan.
Srrrtt...
Tiba-tiba, garis-garis merah halus bermunculan di sekujur kulit perunggunya. Darah segar merembes keluar dari pori-porinya, menciptakan kabut darah tipis di sekitar tubuhnya.
Awan mengertakkan giginya rapat-rapat, menelan kembali rasa amis darah yang naik ke tenggorokannya. Otot paha dan betisnya berkedut kejang, sementara pembuluh darah kapiler di mata dan telinganya pecah.
Kecepatanku melampaui batas toleransi fisik terhadap gesekan udara, batin Awan, diam-diam menancapkan pedang Bumi Pijar ke lantai untuk menopang berat badannya yang mendadak terasa goyah.
Kultivator spiritual bisa terbang dengan kecepatan suara karena mereka dilindungi oleh perisai Qi yang membelah angin. Awan tidak memiliki perisai itu. Melompat dengan kecepatan hipersonik murni menggunakan otot berarti ia memaksa tubuh telanjangnya menabrak dinding udara yang memadat. Jika bukan karena kepadatan dari Esensi Darah Fana Purba, lompatan tadi tidak akan membunuh sang manticore; lompatan itu justru akan merobek daging Awan dari tulangnya sendiri.
Aku tidak boleh menunjukkannya, Awan menegakkan punggungnya, menolak untuk berlutut meski rasa sakit meremukkan seluruh sendinya. Di tempat yang penuh dengan musuh ini, kelemahan setitik pun adalah undangan bagi maut.
"K-Kecurangan! Dia menggunakan artefak terlarang tipe peledak!"
Teriakan melengking Tetua Wu akhirnya memecah kesunyian. Pria tua itu menunjuk ke arah Awan dengan jari bergetar. "Formasi Pelindung Bintang Giok dirancang untuk menahan ledakan Inti Emas! Tubuh fana tidak mungkin menghancurkannya! Tangkap iblis itu dan geledah Dantiannya!"
Beberapa Tetua dari faksi Wu dan Zhao segera bangkit, berniat turun ke arena.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, sebuah tekanan spiritual yang tak tertandingi menyapu seluruh arena. Udara seketika terasa seberat timah. Puluhan ribu murid tanpa sadar jatuh berlutut, dan para Tetua yang berniat turun langsung terpaku di tempat mereka, wajah mereka pucat pasi.
Itu bukan tekanan dari Inti Emas. Itu adalah tekanan dari Alam Jiwa Baru (Nascent Soul).
Pemimpin Sekte Daun Angin, Feng Wuji, tiba-tiba menghilang dari singgasananya. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada ledakan udara. Ia sekadar berada di tengah arena, berdiri hanya dua langkah di hadapan Awan. Ruang dan waktu seolah melengkung di sekitarnya.
Awan menatap pria paruh baya berjubah putih bersih itu. Insting predatornya berteriak histeris, menyuruhnya untuk lari sejauh mungkin. Jika Tetua Wu adalah seekor serigala tua, maka pria di depannya ini adalah samudra tanpa dasar.
Pemimpin Sekte Feng menatap Awan. Matanya yang sedalam jurang menelusuri setiap inci tubuh pemuda fana itu.
"Tidak ada artefak yang diledakkan. Tidak ada fluktuasi Qi," suara Pemimpin Sekte terdengar pelan, namun bergema di benak setiap orang di arena. Ia lalu mengangkat tangan kirinya, menangkap sehelai angin yang berhembus di dekat Awan. "Hanya bau keringat, darah yang mendidih, dan... daya tolak bumi yang sangat murni."
Pemimpin Sekte menoleh ke arah tribun Tetua. Matanya menyapu Tetua Formasi dan Tetua Wu dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kalian merusak keseimbangan formasi ujian untuk memanggil ilusi Singa Manticore Api Neraka tingkat Inti Emas Semu," Pemimpin Sekte berbicara. Nada suaranya datar, namun membuat Tetua Wu dan Tetua Formasi gemetar ketakutan. "Dan formasi pelindung ini hancur bukan karena serangan sihir, melainkan karena ia tidak bisa menahan gelombang kejut fisik (shockwave) dari kepadatan udara yang terbelah. Aturan adalah aturan, dan mata kursi utama tidak buta."
Pemimpin Sekte mengarahkan pandangannya kembali ke sekeliling arena.
"Ujian selesai!" pengumumannya menggelegar. "Murid Langsung Awan telah mengalahkan ujian ini secara sah. Hak dan kedudukannya sebagai Murid Langsung di Puncak Daun Gugur dikukuhkan. Mulai hari ini, siapa pun yang berani mempertanyakan statusnya, atau melakukan intrik murahan di dalam wilayah sekte..."
Pemimpin Sekte memancarkan sepercik tekanan Jiwa Baru, membuat retakan di lantai Giok Bintang semakin melebar. "...akan berhadapan langsung dengan kursi utama."
Tetua Wu dan Tetua Formasi menundukkan wajah mereka dalam-dalam. "K-Kami mengerti, Pemimpin Sekte."
Pemimpin Sekte kembali menatap Awan. Ekspresinya melunak sedikit, menyiratkan secercah rasa hormat. "Jalan Fana Purba... Aku sudah membaca dari literatur kuno bahwa manusia prasejarah menaklukkan siluman hanya dengan raga mereka. Kau menghidupkannya kembali, Nak. Namun, ingatlah ini..."
Pemimpin Sekte melangkah maju, berbisik hanya agar Awan yang mendengarnya.
"Langit tidak akan pernah mentolerir apa pun yang menolak untuk tunduk padanya. Di dalam sekte ini, hukumku melindungimu. Namun di luar sana, ototmu tidak akan bisa menghentikan kutukan jiwa maupun sihir pemotong ruang. Tumbuhlah lebih kuat, atau mati sebagai keajaiban yang berumur pendek."
Tanpa menunggu balasan Awan, Pemimpin Sekte menghilang, kembali ke singgasananya seolah ia tidak pernah bergeser.
Penatua Kuang seketika melayang turun ke arena. Ia mendarat di samping Awan, mengabaikan ribuan tatapan mata yang kini dipenuhi campuran antara ketakutan dan kekaguman.
Sang Penatua menepuk pundak Awan dengan lembut. Hanya dengan sentuhan itu, Qi murni milik Penatua Kuang meresap ke dalam tubuh Awan, tidak untuk mengisi tenaga, melainkan untuk mendinginkan otot-otot Awan yang nyaris terbakar akibat suhu gesekan.
"Cukup pamer untuk hari ini. Ayo kita pulang," ucap Penatua Kuang pelan.
Awan mengangguk kaku. Ia menarik pedang Bumi Pijar-nya dari lantai, memanggulnya dengan gerakan lambat, lalu berjalan mengikuti sang guru memasuki lorong gelap meninggalkan sorotan arena.
Begitu mereka tiba di paviliun kayu Puncak Daun Gugur yang sepi, Awan melepaskan pedangnya dan langsung ambruk telentang di lantai.
Darah hitam kental akhirnya dimuntahkannya. Seluruh tubuhnya kini bergetar hebat. Rasa sakit yang tertunda kini menghantamnya seperti gelombang pasang. Kulit perunggunya terasa seperti disiram air keras, memerah matang akibat bergesekan dengan kecepatan suara.
Penatua Kuang menggelengkan kepala. Ia mengeluarkan botol giok berisi Salep Es Sumsum Teratai dan mulai mengoleskannya ke dada serta lengan Awan.
"Kau gila," tegur Penatua Kuang. "Melepas beban delapan ton secara instan membuat ototmu kehilangan penahan. Kau tidak bisa mengendalikan ledakan kecepatanmu sendiri. Beruntung tulang lehermu tidak patah akibat dorongan lompatanmu tadi."
"Hah... hahaha..." Awan tertawa parau di sela-sela rasa sakitnya. "Saya sadar, Guru. Begitu saya di udara... saya sadar saya sama sekali tidak bisa mengubah arah. Jika singa itu tidak membuang waktu menembakkan bola api dan memilih untuk bergeser menghindar... saya pasti akan meleset dan menghantam kubah formasi itu dengan kepala saya sendiri."
Penatua Kuang tersenyum tipis. "Bagus. Setidaknya matamu masih bisa melihat kelemahanmu sendiri. Apa yang kaumiliki saat ini hanyalah meriam baja tanpa alat bidik. Kekuatan yang tidak bisa dikendalikan bukanlah kekuatan, melainkan bom bunuh diri."
Awan memaksakan diri untuk duduk, meringis saat salep es itu mendinginkan kulitnya yang terbakar. "Ilusi itu bodoh. Ia diam di tempat untuk merapal mantra raksasa. Bagaimana jika yang saya hadapi tadi adalah manusia ahli Inti Emas sejati?"
Penatua Kuang menghela napas panjang, menatap lautan awan dari tepi tebing.
"Jika yang kau lawan tadi adalah Tetua Wu, maka sebelum kau sempat melepas gelangmu, ia sudah mengurung ruang di sekitarmu dengan Domain Api miliknya," jelas Penatua Kuang. "Seorang ahli Inti Emas tidak perlu memukulmu secara fisik. Mereka akan menggunakan sihir racun jiwa, ilusi pikiran, atau menjeratmu dalam ruang hampa. Kecepatanmu tidak ada artinya jika pikiranmu sudah dihancurkan sebelum kakimu melangkah."
Awan mengepalkan tangannya. Rasa puas akan kemenangannya di arena lenyap seketika, digantikan oleh dahaga yang lebih besar.
"Otot saya sudah mencapai batas biologis yang bisa saya tangani saat ini," kata Awan, menatap pedang berkaratnya. "Saya butuh cara untuk bertahan dari serangan yang tidak bisa disentuh oleh pedang ini."
Penatua Kuang berbalik, melemparkan gulungan usang [Pemahaman Niat Pedang: Pengantar Menuju Hampa] kembali ke pangkuan Awan.
"Fisikmu adalah pedangmu, tapi jiwamu adalah yang menggerakkannya," kata Penatua Kuang serius. "Selama ini kau menggunakan Niat Pedang murni untuk menyerang. Kau memaksa pikiranmu membelah udara. Itu sangat kasar dan menguras energi mentalmu. Jika kau ingin selamat dari ahli langit sejati, kau harus belajar mengubah Niat Pedangmu menjadi sebuah Domain Niat (Intent Domain)."
"Domain Niat?" Awan mengerutkan dahi.
"Gunakan niatmu bukan sebagai panah yang ditembakkan ke luar, melainkan sebagai zirah tak kasat mata yang menyelimuti kulitmu. Jika niat pedangmu menutupi pikiran dan tubuhmu, maka tidak ada ilusi atau sihir pengunci jiwa yang bisa menyentuhmu. Kau akan benar-benar terisolasi dari hukum spiritual musuh."
Awan mengusap gulungan kulit binatang itu. Konsepnya berlawanan dengan apa yang ia pelajari. Ia terbiasa melampiaskan tenaga ke luar, menghancurkan segala rintangan. Kini, ia diminta untuk menarik seluruh kekuatannya ke dalam, menciptakan tameng absolut dari pikirannya sendiri.
"Mulai besok," Penatua Kuang menyentil pelan dahi Awan. "Kau akan bermeditasi di bawah air terjun es di belakang gunung, sambil menahan pedang seberat tiga ratus kilogrammu itu... dengan menggunakan satu jari. Kita akan menjahit kesabaran ke dalam jiwa liarmu itu."