Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: "Nikah, buat Dia"
"Ada omongan di kantor," jawab Laras akhirnya. "Bukan soal pekerjaanku. Aku jelaskan setelah kamu pulang."
"Tentang siapa?"
Laras melihat nama Tiara di tangkapan layar. "Tentang orang yang suka membuat cerita."
Arkan tidak puas, tetapi ia mendengar kelelahan Laras. "Besok aku pulang. Kita bicara langsung."
"Iya. Kamu tidur dulu."
"Kunci pintu."
"Sudah."
Panggilan berakhir tanpa nama Tiara disebutkan.
Keesokan dini hari, Laras keluar dari gedung JATSC setelah sif malam dan menemukan Land Rover Arkan di titik jemput. Arkan baru mendarat dari Makassar kurang dari satu jam sebelumnya. Kemeja seragamnya masih rapi, tetapi bayangan lelah terlihat di bawah mata.
Laras membuka pintu penumpang. "Kamu seharusnya langsung pulang."
"Jam begini susah cari GoCar."
Di belakang mereka, dua mobil dengan logo layanan transportasi daring baru saja menurunkan penumpang.
Laras menatap Arkan. "Susah?"
"Kadang-kadang."
Ia menahan senyum dan memasang sabuk pengaman. Alasan itu terlalu mudah dibongkar, tetapi ia tidak ingin merusaknya. Arkan datang karena ingin menjemput. Untuk pagi ini, Laras memilih menikmati kebohongan kecil tersebut.
Mobil melaju meninggalkan kawasan bandara. Matahari belum muncul penuh, dan jalan masih berwarna biru pucat.
"Sifmu bagaimana?" tanya Arkan.
"Ramai di awal, lalu sepi. Ada trainee yang observasi."
"Kamu jadi pendamping?"
"Belum resmi. Masih penilaian."
Nama Bagas tidak muncul, tetapi Arkan tetap bertanya, "Siapa yang menilai?"
"Tim instruktur. Mas Bagas salah satunya."
"Hm."
Laras menoleh sambil tersenyum. "Kamu mulai lagi."
"Mulai apa?"
"Nggak ada."
Mereka diam beberapa saat. Lalu Arkan bertanya mengapa Laras memilih approach, bukan tower yang memberi pandangan langsung pada runway.
Laras memandangi langit di atas jalan tol. Alasan pertama yang muncul di kepalanya adalah Arkan. Dulu ia ingin berada di ruang yang suaranya bisa mencapai kokpit laki-laki itu, meski mereka tidak saling mengenali.
Ia menyimpan jawaban tersebut.
"Aku suka gambaran yang lebih luas," katanya. "Di approach, pesawat masih tersebar jauh. Kita menyusun urutan, mengatur turun, kecepatan, dan arah sampai semuanya rapi sebelum diserahkan ke Tower. Rasanya seperti menyelesaikan teka-teki yang terus bergerak."
"Dan bisa menyuruh kapten berputar."
"Itu bonus." Laras tertawa. "Kayak kamu. Kapten sehebat itu, di udara tetap harus dengar aku."
Arkan meliriknya. "Iya."
"Iya apa?"
"Kamu hebat."
Tidak ada nada bercanda. Laras langsung menghadap jendela agar Arkan tidak melihat pipinya memerah.
Sesampainya di rumah, pembicaraan tentang rumor tertunda karena keduanya terlalu lelah. Arkan berjanji akan bertanya lagi setelah tidur. Laras masuk ke sisi kanan ranjang, Arkan ke sisi kiri, dan untuk pertama kalinya dua bantal pembatas bergeser tanpa ada yang merapikannya. Mereka tertidur hampir bersamaan.
Ketika Laras bangun menjelang sore, Arkan sudah duduk di tepi ranjang sambil memeriksa ponsel. Laras mengambil perangkatnya sendiri dari nakas dan membuka tangkapan layar yang disimpan Nindya.
"Ini yang kumaksud," katanya.
Arkan menerima ponsel itu. Ekspresinya berubah dingin ketika membaca caption Tiara. Ia memperbesar foto, lalu menunjuk sisa bahu dan lengan orang yang terpotong.
"Ini acara komunitas penerbangan waktu aku masih sekolah," katanya. "Foto aslinya grup besar. Aku bahkan nggak bicara sama Tiara hari itu."
"Jadi kalian bukan teman kecil?"
"Bukan. Aku tahu dia anak Pak Darmawan, itu saja."
Simpul di dada Laras mengendur. Jawaban itu sederhana, langsung, dan tidak menyisakan ruang kabur seperti caption Tiara.
"Kenapa kamu nggak bilang tadi malam?" tanya Arkan.
"Aku nggak mau menelepon lalu terdengar seperti menuduhmu berdasarkan gosip."
"Kalau menyangkut aku, tanya aku. Jangan biarkan cerita orang lain tinggal di kepalamu lebih lama daripada fakta."
Arkan mengirim tangkapan layar tersebut ke ponselnya sendiri. Story aslinya sudah kedaluwarsa, tetapi salinan lengkap dan percakapan grup masih ada.
"Kamu mau menghubungi Tiara?" tanya Laras.
"Belum. Aku mau tahu seberapa jauh dia membawa nama perusahaan dan apakah unggahan ini masih beredar."
"Di kantorku sudah ada yang bilang kamu belum mengumumkan istri karena masih dekat dengannya."
Rahang Arkan mengeras. "Itu bohong."
"Aku tahu sekarang."
Dua kata itu membuat tatapan Arkan kembali kepadanya. Ia menyerahkan ponsel, lalu berkata, "Kalau ada yang mengirim lagi, simpan. Kita hadapi berdasarkan apa yang benar-benar dia lakukan."
Rumor di luar belum hilang, tetapi setidaknya rumor itu tidak lagi berdiri di antara mereka.
Tak lama kemudian, Laras memasak sup jamur. Aroma bawang putih dan kaldu memenuhi dapur. Arkan ikut masuk dengan rambut masih berantakan, lalu tanpa diminta mengambil mangkuk dan sendok dari lemari.
"Tidurmu cukup?" tanya Laras.
"Lumayan."
"Kamu masih terlihat lelah."
"Kamu juga."
Mereka makan di meja kecil dekat dapur. Arkan mencicipi sup, lalu mengambil satu sendok lagi.
"Lebih enak daripada masakanku," katanya.
"Kamu cuma bisa steak dan mi rebus."
"Berarti perbandingannya tetap sah."
Laras tersenyum. Di meja ada dua mangkuk, dua gelas, dan ponsel yang menampilkan jadwal mereka. Kulkas yang dulu kosong kini penuh bahan belanja bersama. Handuk kecil sudah tidak lagi menggantung sebagai tanda darurat karena kamar mandi telah diperbaiki.
Arkan memandangi semua itu.
Ketika menerima perjodohan Ratna, ia mengira pernikahan hanya keputusan praktis untuk menghentikan desakan keluarga. Ia akan memberi Laras rumah, rasa hormat, dan ruang. Selebihnya bisa berjalan sendiri.
Namun, rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat yang ia pinjamkan kepada seseorang. Ada susu pilihan Laras di kulkas, catatan makanan di meja, serta satu suara yang ia cari setiap kali berada di luar kota.
Pernikahan itu bukan lagi sesuatu yang ia lakukan untuk memuaskan ibunya.
Ini hidup yang mulai menjadi milik mereka.
Ponsel Laras berdering. Wulan menelepon setelah kembali dari perjalanan singkat bersama komunitasnya.
"Mama sudah sampai rumah?" tanya Laras.
"Sudah. Kopi Wulan juga aman. Oh iya, Bu Ratna tadi telepon Mama."
Arkan yang sedang membawa mangkuk ke wastafel menoleh.
"Soal Pak Darmawan?"
"Iya. Bu Ratna sudah bicara langsung. Dia bilang jangan ada lagi yang mengganggu pekerjaan kamu atau memakai nama keluarga untuk menekan. Darmawan bilang cuma salah paham."
Laras mengembuskan napas lega. "Semoga dia benar-benar berhenti."
"Kalau ada apa-apa, bilang Mama. Jangan tunggu sampai sendirian."
"Iya, Ma."
Wulan lalu bercerita tentang perjalanan, pesanan kopi yang menumpuk, dan oleh-oleh yang harus Laras ambil akhir pekan nanti. Pembicaraan hampir selesai ketika ia teringat sesuatu.
"Oh iya, Reyhan sudah balik ke Jakarta, lho, Ras."
Tangan Laras yang memegang sendok berhenti.
"Mas Rey?"
"Iya. Dia lulus konversi B777 dan sekarang basisnya di Jakarta. Tadi dia menghubungi Mama. Katanya mau mampir ke Kopi Wulan."
Arkan berdiri diam di depan wastafel.
Nama laki-laki lain baru saja masuk ke rumah mereka melalui suara Wulan, dan dari cara Laras menyebutnya, jelas nama itu membawa sejarah yang belum Arkan ketahui.