NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Yang Terungkap, Yang Tersimpan

Hampir dua jam berlalu sebelum Bima meninggalkan Klub Anggar Rajawali.

Petugas medis memeriksa bahu kiri dan rusuknya. Tidak ada tanda patah tulang, napas stabil, tetapi otot bahu memar dan bagian rusuk terasa nyeri saat ditekan. Ia diminta beristirahat, memakai kompres dingin, dan segera menjalani pemeriksaan lanjutan jika sesak atau nyeri memburuk.

Rekaman awal, Surat Tanding, foto pisau keramik, dan keterangan saksi disalin untuk proses laporan insiden. Darman masih harus memberikan keterangan sebelum menjalankan kewajiban meninggalkan Surabaya. Selvi menunggu di sisi lain gedung dengan wajah kosong.

Bima tidak menunggu mereka selesai.

Ia duduk di kursi belakang mobil Laras bersama Anindya. Laras berada di depan, sedangkan Wisnu mengemudi menuju kediamannya. Vanya dan Gita pulang dengan kendaraan terpisah untuk menangani kabar yang mulai beredar di Larissa.

Sepanjang sepuluh menit pertama, hanya suara pendingin udara yang terdengar.

Anindya memegang ujung lengan baju Bima yang robek. Ia tidak menangis lagi, tetapi jemarinya belum mau melepaskan kain itu.

Laras memandang mereka melalui kaca spion. "Sekarang saya akan bertanya sekali."

Bima sudah tahu pertanyaannya.

"Siapa sebenarnya Bang Bima?" lanjut Laras. "Seorang sopir tidak membaca Kebal Karang dalam beberapa menit. Seorang prajurit kontrak biasa juga tidak mempertaruhkan nyawa untuk perusahaan yang baru mempekerjakannya."

Bima menatap jalan melalui jendela. Ia bisa mengarang jawaban, tetapi Rp50 miliar yang baru saja diletakkan Laras di atas meja membuat kebohongan terasa lebih buruk daripada diam.

"Vanya punya kakak kandung," katanya. "Namanya Surya."

Anindya menoleh cepat. Nama itu pernah ia dengar sebagai orang yang dicari Bima, tetapi ia tidak tahu hubungan Surya dengan pemilik Larissa.

"Kami bertempur bersama di luar negeri. Dia bukan sekadar rekan. Dia saudara yang saya pilih sendiri." Bima berhenti sebentar. "Surya meninggal saat melindungi saya. Sebelum itu, dia meminta saya mencari adiknya dan memastikan tidak ada orang yang memaksanya lari dari hidupnya."

Laras tidak menyela.

"Jadi Vanya adalah orang yang kamu cari selama ini," kata Anindya.

"Ya. Saya masuk Larissa supaya bisa menjaganya dari dekat. Bukan untuk saham, bukan untuk rumah, dan bukan karena Darman."

"Kenapa Vanya tidak tahu?"

"Karena dia berhak hidup sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai utang terakhir seorang prajurit mati." Rahang Bima mengeras. "Saya juga belum siap memberinya setengah kebenaran. Ada bagian kematian Surya yang belum bisa saya jelaskan tanpa membuka bahaya lain."

Itu batas pengakuannya.

Ia tidak menyebut Serigala Merah. Tidak menyebut Sang Serigala atau Raja Serigala. Tidak menyebut pasukan, kekayaan yang pernah dibagikan, atau orang-orang yang masih akan datang jika ia mengirim satu pesan.

Laras mengangguk perlahan. "Saya mengerti cukup banyak untuk hari ini. Sisanya milikmu sampai kamu siap."

Anindya menggenggam tangannya. "Aku tidak akan memberitahu Non Vanya. Tapi jangan gunakan rahasia ini sebagai alasan untuk memutuskan semuanya sendirian lagi."

"Saya akan berusaha."

"Bukan jawaban yang bagus."

"Jawaban jujur jarang terdengar bagus."

Di kediaman Laras, Bima hanya beristirahat satu jam. Wisnu membawa kompres dingin, Bayu memastikan kendaraan pulang aman, dan Laras meminta asistennya memantau status surat jaminan yang kini tidak terpicu. Tidak ada pesta kemenangan.

Sebelum mereka berpisah, Pak Yudi mengirim pembaruan tertulis. Darman telah selesai memberikan keterangan awal dan menerima salinan putusan para sesepuh. Ia menandatangani pemberitahuan bahwa dirinya wajib meninggalkan Surabaya paling lambat setelah otoritas mengizinkannya pergi. PT Garda Hitam juga mengirim surat pencabutan penawaran serta penghentian seluruh pendekatan kepada Larissa. Selvi akan ikut keluar bersamanya. Dugaan serangan dengan pisau keramik tetap diproses terpisah; kewajiban pergi tidak menghapus tanggung jawab atas perbuatannya.

Sebelum Bima pergi, Laras berdiri di teras.

"Surya pasti sangat mempercayaimu."

Bima memandang perban elastis tipis di bahunya. "Kadang saya pikir dia terlalu percaya."

"Jangan menghina keputusan orang mati dengan menganggap dirimu tidak layak menjalaninya."

Kalimat itu mengikuti Bima sampai kos.

Malamnya, ia duduk bersila di lantai. Aji Surya Candra mengatur napas, memperlambat denyut, dan mengalirkan panas lembut ke bahu serta rusuk. Rasa nyeri berkurang sedikit demi sedikit, bukan lenyap. Tubuh tetap membutuhkan waktu.

Di balik kelelahan, ia menyentuh batas yang telah dikenalnya selama tiga tahun.

Tenaga Inti di dalam tubuhnya sudah mencapai puncak. Ia bisa memadatkan besi, menghancurkan kristal, membaca serangan, dan menumbangkan Guntur. Namun setiap kali mencoba menyatukan tenaga, tubuh, dan batin menuju Manunggal, sebuah dinding muncul.

Dinding itu dibangun dari banyak wajah yang gagal ia selamatkan.

Surya adalah batu terakhir yang menguncinya.

Bima tidak bisa memukul dinding itu. Tidak bisa mematahkannya dengan napas lebih panjang. Aji Surya Candra membantu tubuh pulih, tetapi tidak dapat memaksa hati menerima sesuatu yang terus ia hindari.

Ia membuka mata ketika malam hampir berganti pagi.

Keesokan harinya, Gita menunggu di taman kecil dekat Larissa. Bima datang dengan Toyota Corona yang AC-nya kembali mati di tengah jalan. Bahu kirinya masih kaku, tetapi ia bisa bergerak normal.

Gita duduk di bangku sambil memutar gelang di pergelangan tangan.

"Asli atau palsu?" tanya Bima setelah duduk.

"Setelah hampir mati, kamu masih ingat lelucon bodoh itu?"

"Itu bagian dari pemeriksaan keamanan."

Gita mendengus, tetapi ketegangan di wajahnya retak. "Asli. Dan kalau kamu bilang pengaitnya longgar lagi, aku pukul bahu yang sehat."

Mereka diam beberapa saat.

"Aku minta maaf soal kemarin," kata Gita. "Aku seharusnya tidak menuduhmu mata-mata."

"Kamu berhak marah. Saya membuat keputusan yang menyeret nama perusahaan."

"Aku bukan cuma marah karena perusahaan." Gita menatap gelangnya. "Ketika Guntur menjepitmu dan kamu tidak bisa bernapas, aku pikir... kalau kamu mati, kantor akan terasa kosong. Semua lelucon menyebalkan itu akan hilang."

Bima tidak menertawakannya.

Gita akhirnya mengangkat wajah. "Ternyata kamu penting bagiku. Entah sebagai apa. Jangan paksa aku memberi nama sekarang."

"Saya tidak akan memaksa."

"Bagus. Karena aku juga belum memaafkanmu sepenuhnya."

"Berarti kita masih punya bahan percakapan."

Kali ini Gita benar-benar tersenyum.

Jauh dari Surabaya, sebuah laporan bertanda tangan Ki Sardu, Ki Broto, dan Ki Lanang tiba di lingkungan dalam Padepokan Giri Wesi.

Ki Prabu membaca nama pemenang dua kali.

"Bima Prawira," katanya.

Di hadapannya, Guru Besar Eyang Sindhu menutup mata sejenak. Ia tidak memerintahkan balas dendam. Surat tugas Guntur dan hasil Surat Tanding harus dihormati; perkara Darman telah selesai.

"Jangan langgar kata yang sudah disaksikan," ujar Eyang Sindhu. "Tetapi cari tahu siapa dia. Orang tanpa nama perguruan tidak menjatuhkan Guntur dengan kebetulan."

Ki Prabu membungkuk.

Nama Bima disimpan.

Bukan lagi sebagai sopir, melainkan sebagai ancaman yang suatu hari mungkin berdiri di jalan mereka.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!