NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Dibuang Keluarga, Didekap Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arraziq

Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.

Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.

Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Bisnis

Aroma harum bunga mawar yang basah oleh sisa gerimis menyelimuti taman belakang Kediaman Utama Alister. Di bawah pepohonan pinus yang menjulang, Devan menggenggam tangan Aisha dengan sangat erat. Sentuhan bibir Devan di kening Aisha memberi rasa hangat yang sanggup mengusir dinginnya hawa perbukitan, sekaligus memadamkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat dirusak oleh kedatangan Catherine.

Namun, ketenangan di taman itu tidak berlangsung lama.

Langkah kaki tergesa-gesa dari Asisten Arya memecah keheningan. Pria itu berjalan cepat menyusuri jalan setapak batu, membawa sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat tebal. Wajah Arya yang biasanya tenang dan profesional kini dihiasi raut tegang.

"Tuan Devan, Nona Aisha, maaf mengganggu waktu Anda," Sapa Arya seraya menundukkan kepala dengan sangat sopan.

Devan melepaskan kecupannya di kening Aisha, namun tidak melepas genggaman tangannya dari jemari sang istri. Pria itu berbalik menatap orang kepercayaannya dengan mata menyipit tajam.

"Ada apa, Arya? Bukankah aku sudah bilang tidak ingin diganggu hari ini?"

"Ini mengenai berkas amandemen kerja sama yang dibawa oleh Nona Catherine, Tuan," ujar Arya pelan, setengah berbisik agar tidak terdengar hingga ke gazebo kaca di mana Madam Rosalia dan Catherine masih berada.

"Tim hukum kita baru saja menyelesaikan pemindaian cepat terhadap berkas yang diserahkan Catherine di depan tadi. Ada satu berkas tambahan yang dimasukkan oleh direksi Lim Corporation di Singapura secara mendadak."

Devan menerima map hitam itu dengan satu tangan.

"Berkas apa?"

"Pihak Lim Corporation mengubah syarat penandatanganan kesepakatan investasi pelabuhan senilai tiga triliun rupiah tersebut," jelas Arya cepat.

"Mereka menuntut agar penandatanganan kontrak utama dilakukan di kantor pusat mereka di Singapura dalam waktu tiga hari ke depan. Bukan hanya itu, dalam berkas nomor 14 poin B, tertulis bahwa pihak investor meminta peninjauan lapangan selama lima hari berturut-turut yang wajib dipimpin langsung oleh Anda selaku CEO Alister Group."

Mendengar hal itu, garis rahang Devan seketika menegang keras. Sorot matanya berubah membeku, memancarkan aura bahaya yang dingin. Pria itu membuka berkas tersebut, membaca lembar demi lembar kertas tersebut dengan kecermatan tingkat tinggi.

"Lima hari di Singapura?" gumam Devan dengan suara rendah yang berbahaya.

"Lim tua sengaja memanfaatkan Catherine untuk memaksaku keluar dari Jakarta."

Aisha yang berdiri di samping Devan mendengarkan setiap kata itu dengan seksama. Dia melirik Devan yang wajahnya mendadak kelam.

"Devan, apakah proyek itu sangat penting bagi Alister Group?"

Devan menoleh menatap Aisha, tatapannya melembut seketika.

"Proyek perluasan Pelabuhan Singapura ini adalah kunci ekspansi bisnis Alister Group di Asia Tenggara untuk lima tahun ke depan, Aisha. Tapi memaksa aku berada di sana selama seminggu penuh di saat persidangan Hendra dan pembangunan yayasanmu baru dimulai, ini jelas sebuah taktik."

"Taktik dari siapa, Tuan?" tanya Arya cemas.

"Bukan hanya dari keluarga Lim," sahut Devan dingin.

"Hendra boleh saja mendekam di penjara, tapi sisa-sisa koneksi gelapnya dan para pemegang saham Alister Group yang berseberangan denganku pasti sedang mencari celah. Catherine dan ayahnya hanya memanfaatkan situasi ini untuk menekan posisiku."

Devan menutup map hitam itu dengan keras. Dia menatap Arya dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.

"Tolak perubahannya. Suruh tim hukum menyusun draf penolakan. Jika mereka tidak mau menandatanganinya di Jakarta, batalkan seluruh investasi itu."

"Tapi Tuan Devan—" Arya tampak ragu.

Membatalkan proyek senilai tiga triliun rupiah tentu akan memicu gejolak di jajaran direksi Alister Group.

"Devan, tunggu," potong Aisha halus.

Devan dan Arya seketika menoleh pada Aisha. Gadis itu melangkah maju satu langkah, menggenggam kedua tangan Devan dengan tatapan mata yang sangat tenang, jernih, dan dewasa.

"Jangan membatalkan proyek sebesar itu hanya karena mengkhawatirkanku," ucap Aisha lembut namun sarat akan ketegasan.

"Proyek itu sangat penting untuk posisi dan reputasimu sebagai pimpinan Alister Group. Jangan biarkan mereka berpikir bahwa mereka berhasil menyudutkanmu."

"Aisha, kalau aku pergi ke Singapura selama seminggu, aku harus meninggalkanmu di Jakarta sendirian," bisik Devan, matanya memancarkan rasa cemas dan keposesifan yang mendalam.

"Aku baru saja mendapatkanmu kembali. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkan keberadaanku yang jauh untuk menyakitimu lagi."

Aisha tersenyum tulus, rasa hangat menjalar di dadanya melihat betapa besar rasa cinta dan perlindungan Devan padanya. Tangannya terulur mengusap pipi Devan yang tegang.

"Siapa bilang aku akan tinggal di Jakarta sendirian?" sahut Aisha tipis, memiringkan kepalanya.

"Dan siapa bilang kamu harus pergi sendirian?"

Devan membeku sejenak, matanya membelalak pelan.

"Maksudmu...?"

"Aku akan ikut bersamamu ke Singapura," tegas Aisha.

"Bukankah Nenek tadi bilang bahwa seorang istri Alister harus selalu berdiri di samping suaminya? Aku akan menemanimu menyelesaikan pekerjaan itu. Kita hadapi Catherine dan seluruh jajaran direksi mereka bersama-sama."

Tergambar rasa terkejut yang luar biasa di raut wajah Devan, yang kemudian perlahan berganti menjadi senyuman maut yang tampan dan penuh kebanggaan. Pria itu menyeringai tipis, merengkuh pinggang Aisha dan menariknya rapat ke dalam pelukannya tanpa peduli keberadaan Arya yang buru-buru memalingkan wajah karena canggung.

"Kamu benar-benar makin pandai bicara, Nyonya Alister," bisik Devan di samping telinga Aisha, diiringi terkekeh rendah yang renyah.

"Aku serius, Devan," bisik Aisha malu-malu di dada Devan.

Devan merenggangkan pelukannya, lalu menoleh pada Arya dengan raut wajah yang sudah kembali sepenuhnya mengontrol situasi. Aura pemimpin yang sangat kuat terpancar dari dirinya.

"Arya, ubah rencananya," perintah Devan tegas.

"Terima berkas lima hari di Singapura dengan satu syarat, seluruh akomodasi dan kunjungan lapangan ditata oleh tim keamanan Alister Group. Dan siapkan jet pribadi atas namaku dan Aisha untuk berangkat lusa pagi."

"Baik, Tuan Devan. Saya akan segera memprosesnya," jawab Arya lega dan penuh semangat sebelum membungkuk hormat lalu melangkah pergi.

*****

Lusa paginya, cuaca di Bandara sangat cerah. Sebuah pesawat jet pribadi berwarna hitam pekat dengan lambang Alister Group bergaris emas terparkir megah di landasan pacu.

Aisha melangkah menyusuri karpet merah menuju tangga pesawat, mengenakan setelan pakaian kasual elegan berwarna krem hangat yang dipadukan dengan kacamata hitam. Di sampingnya, Devan berjalan tegap dengan jas hitam tanpa dasi, menggenggam erat tangan Aisha seolah tak berniat melepaskannya sedetik pun. Dua puluh pengawal bersenjata rahasia dan bersetelan hitam mengapit perjalanan mereka dari belakang.

Ini adalah perjalanan luar negeri pertama Aisha sebagai Nyonya Alister yang sah.

Setelah penerbangan singkat selama satu setengah jam yang diisi dengan kemewahan kabin jet pribadi dan perhatian manis Devan yang tiada habisnya, roda pesawat akhirnya mendarat mulus di Bandara, Singapura.

Begitu pintu pesawat terbuka, hembusan angin laut Singapura menyapa mereka. Namun, yang menyambut mereka di area VVIP bukan sekadar jajaran mobil kemewahan.

Tepat di samping barisan mobil sedan Mercedes-Maybach hitam milik perwakilan Alister Group Singapura, berdiri sosok Catherine Lim. Wanita itu tampil sangat mencolok dan memikat dengan gaun merah maroon, diapit oleh belasan pengawal pribadi keluarganya.

Catherine melangkah mendekat saat melihat Devan dan Aisha turun dari tangga pesawat. Senyuman profesional terpancar di wajah cantiknya, namun kilatan matanya yang tertuju pada Aisha menyiratkan rasa terkejut yang tak mampu disembunyikannya sepenuhnya. Dia jelas tidak menyangka bahwa Aisha akan benar-benar diboyong oleh Devan dalam perjalanan bisnis penting ini.

"Selamat datang di Singapura, Devan," sapa Catherine dengan nada suara yang hangat, mengulurkan tangannya pada Devan.

Devan menyambut uluran tangan itu sekadarnya, sebuah jabat tangan formal singkat yang dingin tanpa emosi.

"Terima kasih, Catherine."

Catherine lalu berbalik menatap Aisha, senyumannya berubah menjadi senyuman tipis bertopeng kepalsuan yang sangat halus.

"Dan, Selamat datang juga untukmu, Aisha. Sungguh sebuah kejutan melihatmu ikut dalam perjalanan kerja yang sangat padat ini. Aku berharap kamu tidak akan merasa bosan atau terabaikan selama Devan sibuk dengan rapat-rapat tingkat tinggi kami."

Aisha menatap Catherine dengan senyuman yang sangat anggun dan tenang. Tanpa ragu sedikit pun, Aisha mempererat pegangannya pada lengan Devan, menyandarkan tubuhnya dengan rileks di samping sang suami.

"Terima kasih atas perhatianmu, Nona Catherine," jawab Aisha halus namun penuh akan wibawa seorang istri pimpinan tertinggi.

"Tapi Anda tidak perlu cemas. Tempat terbaik seorang istri adalah berada di samping suaminya, sesibuk apa pun dia. Lagipula, Devan sendiri yang menegaskan bahwa dia tidak bisa fokus bekerja jika aku tidak ada di sisinya."

Mendengar ucapan polos dari Aisha, raut wajah Catherine sempat membeku sejenak. Namun, sebelum Catherine sempat membalas, Devan sudah melingkarkan tangannya di pinggang Aisha, menatap Catherine dengan mata elangnya yang dingin.

"Aisha benar, Catherine," potong Devan tanpa kompromi.

"Jadi, pastikan seluruh jadwal rapat dan peninjauan lapangan disesuaikan agar tidak mengganggu waktu istirahat istriku. Mari kita ke hotel sekarang."

Devan langsung menuntun Aisha menuju mobil yang pintu utamanya sudah dibukakan oleh pengawal, meninggalkan Catherine yang berdiri kaku di atas landasan bandara dengan tangan yang mengepal erat menahan rasa malu dan ketidakpuasan yang kian membakar dadanya.

Perang dingin di Singapura baru saja dimulai, dan di balik kemewahan Kota Singa tersebut, sebuah jebakan bisnis dari keluarga Lim tengah menanti mereka.

1
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!