Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng di Utara
Udara di perbatasan utara Elgarth terasa seperti bilah pisau yang tak kasat mata, mengiris kulit dengan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Aroma salju abadi bercampur dengan bau belerang yang tertahan, sisa-sisa dari energi gelap yang dipaksakan menembus realitas. Aria Evander menarik napas panjang, namun oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa tipis dan beracun. Di hadapannya, benteng batu kokoh yang menjadi kebanggaan garis pertahanan kekaisaran kini tampak seperti raksasa sekarat. Dinding-dindingnya diselimuti kabut kelabu yang bergerak tak wajar, berdenyut dengan pendar biru redup—bukan cahaya obor, melainkan rembesan sihir distorsi yang menggerogoti struktur dunia.
“Nona, mundur. Aura di sana tidak stabil dan sangat berbahaya bagi seseorang tanpa perlindungan sihir yang memadai.” Suara Leon Ardent terdengar berat, sarat dengan kegelisahan. Komandan Kesatria Naga itu berdiri tepat di samping Aria, tubuhnya yang tegap menjadi benteng pelindung bagi gadis itu. Tangan Leon mencengkeram erat gagang pedang besarnya; buku-buku jarinya menonjol dan memutih, seolah-olah ia siap menebas apa pun yang berani mendekat.
Aria tidak menjawab. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meluas. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia memanggil kemampuan 'Penulis Takdir'. Dunia fisik di hadapannya perlahan memudar, digantikan oleh pemandangan yang hanya bisa dilihat olehnya: deretan garis cahaya yang saling bertaut—sebuah naskah besar yang sedang terkoyak dan berantakan. Ia bisa melihat benang-benang takdir para prajurit di dalam benteng itu; benang-benang tersebut kini kusut, bergetar hebat, dan menghitam di bagian ujungnya, seperti kertas yang dibakar perlahan dari pinggirannya.
“Mereka tidak sedang tertidur, Leon. Mereka sedang terperangkap dalam paksaan naskah yang salah,” bisik Aria. Suaranya datar, nyaris berbisik, namun ada otoritas tak terbantahkan di sana yang membuat sang komandan tersentak. Leon menoleh, dahinya berkerut dalam, menatap Aria dengan perpaduan antara kebingungan dan rasa hormat yang mendalam.
Lumi, roh peri kecil yang selama ini bersembunyi di balik tudung jubah Aria, muncul melayang di atas bahunya. Tubuh kecilnya memancarkan cahaya keemasan lembut, mencoba melawan pekatnya kabut utara yang mencekik. Ekspresi peri itu dipenuhi duka yang mendalam. “Aria,” Lumi berbisik, suaranya seperti denting lonceng kristal yang pecah. “Jika kau memaksakan perubahan pada naskah ini sekarang, akan ada konsekuensi berat pada benang takdirmu sendiri. Kau mengerti, bukan? Kau mempertaruhkan eksistensimu sebagai penulis di dunia ini.”
Aria mengabaikan peringatan itu. Baginya, nyawa para prajurit yang tak berdosa lebih berharga daripada keseimbangan naskah yang korup. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah pena perak yang permukaannya sedingin es. Dengan gerakan luwes yang telah terlatih, ia mulai menggoreskan simbol-simbol cahaya ke udara kosong. Setiap garis yang terbentuk menyambar kabut di depannya seperti petir, mengiris realitas yang bengkok itu hingga terurai perlahan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon, suaranya sarat dengan ketidakpercayaan. Ia melangkah mundur saat cahaya emas dari ujung pena Aria mulai menyelimuti tubuh sang gadis, menciptakan perisai yang mengusir hawa dingin di sekitarnya. Udara di sekitar mereka mendadak hangat, kontras dengan kondisi perbatasan yang membeku.
Aria tidak menoleh. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya, membasahi anak rambutnya, namun jemarinya tetap stabil saat menari di atas kanvas udara. “Aku sedang menghapus kesalahan, Leon. Seseorang telah menuliskan kematian untuk prajuritmu, dan aku sedang menulis ulang bagian itu agar mereka bisa bangun kembali. Aku tidak akan membiarkan mereka menjadi pion dalam permainan kejam ini.”
Di dalam benteng, suara dentuman logam terdengar nyaring, seolah-olah sesuatu yang berat jatuh ke tanah. Kabut yang tadinya mencekik mulai memudar, memperlihatkan barisan prajurit yang jatuh tersungkur di atas tanah beku. Mereka mulai mengerang, tangan mereka bergerak gemetar, mencoba meraih senjata yang berserakan. Sihir distorsi yang membelenggu kesadaran mereka pecah, berubah menjadi serpihan cahaya yang menguap ke udara sebelum sempat menyentuh salju.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sedetik. Dari kejauhan, sebuah bayangan hitam legam meluncur cepat membelah langit malam, meninggalkan jejak api ungu yang membakar salju di sepanjang jalurnya. Itu bukan sekadar sihir biasa; itu adalah manifestasi murni dari kemarahan Kaisar Magnus yang menyadari bahwa rencananya baru saja diganggu. Energi itu menghantam area di depan mereka dengan kekuatan yang mengguncang bumi.
“Aria, menghindar!” teriak Leon. Ia menerjang maju, menepis tubuh Aria dengan paksa agar tidak terkena sambaran energi hitam tersebut. Keduanya terguling di atas tanah yang membeku. Debu es beterbangan, menutupi pandangan mereka dalam kabut putih yang dingin.
Saat kepulan debu menipis, Aria berdiri dengan tertatih, napasnya memburu dan dadanya terasa sesak. Matanya tetap terkunci pada sosok yang baru saja mendarat dengan anggun di atas gerbang benteng. Sosok itu tidak mengenakan baju zirah, melainkan jubah sutra hitam yang berkibar hebat tertiup angin utara. Pangeran Kael Ashford berdiri di sana, pedangnya terhunus dengan aura naga yang meledak-ledak. Ia menatap ke arah tempat Aria berada dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, tajam, dan penuh selidik.
“Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh naskah ini, Aria Evander?” tanya Kael. Suaranya rendah, dingin, dan membawa beban gravitasi yang membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat. Ia tidak menatap musuh di perbatasan, melainkan menatap langsung ke dalam manik mata Aria, seolah-olah ia bisa melihat seluruh rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Aria menegakkan punggungnya, berusaha menekan rasa nyeri di bahunya akibat benturan tadi. Ia tahu bahwa setiap perubahan yang ia buat telah menarik perhatian yang tidak diinginkan, namun ia tidak akan mundur sekarang. Jika takdir ini adalah sebuah novel, maka ia baru saja menulis bab yang akan mengubah seluruh alur cerita selamanya.
“Aku tidak butuh izin untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak seharusnya mati, Yang Mulia,” jawab Aria tegas. Ia mengangkat dagunya, membalas tatapan Pangeran Kael tanpa sedikit pun keraguan, meskipun ia tahu pria di depannya memiliki kekuatan untuk menghancurkannya dalam sekejap. “Dan jika keberadaanku di sini mengganggu rencanamu, mungkin sudah saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa kau dan aku berada di sisi yang sama.”
Kael terdiam sejenak. Angin bertiup kencang, mengacak rambut gelapnya dan menyingkap ketegangan di wajahnya yang kaku. Tiba-tiba, ia melompat turun dari gerbang dengan kelincahan yang tidak manusiawi, mendarat tepat di depan Aria. Ujung pedangnya menyentuh tanah, membuat retakan panjang yang membelah salju di antara mereka.
“Kau pikir ini permainan?” Kael berbisik, begitu dekat hingga Aria bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuhnya yang diselimuti mana. “Kau baru saja memicu perang yang bahkan tidak kau pahami, Aria. Kaisar tidak akan membiarkanmu bernapas setelah apa yang kau lakukan malam ini. Kau telah menjadi target utama.”
Aria tersenyum tipis, sebuah seringai yang jarang ia tunjukkan—sebuah ekspresi keberanian yang lahir dari keputusasaan. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga ujung pedang Kael berada tepat di depan dadanya. “Mungkin. Tapi setidaknya, untuk malam ini, aku adalah penulis dari takdirku sendiri. Dan aku tidak berencana mengakhiri bab ini dengan kematian. Jika kau ingin menghentikanku, lakukan sekarang, atau menyingkirlah dan lihat bagaimana aku mengubah akhir ceritamu.”
Kael menatap Aria dalam diam. Di balik tatapan dinginnya, ada secercah kekaguman yang tersembunyi—sebuah pengakuan atas tekad gadis yang seharusnya hanyalah pion kecil di papan catur kekaisarannya. Aria membalas tatapan itu, menyadari bahwa ia telah melewati titik balik yang tak bisa kembali lagi. Malam itu di perbatasan utara, naskah takdir tidak lagi ditulis oleh tangan tak kasat mata, melainkan oleh kehendak seorang gadis yang menolak untuk menyerah pada garis nasib yang sudah ditentukan.