SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Singgasana Putih
Bab 24: Bayangan di Balik Singgasana Putih
Kabut yang selama berabad-abad menyelimuti Kota Laut Kabut perlahan mulai menipis.
Sinar keemasan matahari menembus celah awan, memantulkan cahaya pada bangunan-bangunan batu putih yang baru saja kembali muncul dari tidur panjangnya. Di kejauhan, patung-patung naga yang berjajar di sepanjang tembok kota tampak seolah kembali bernapas.
Namun Ethan Mahendra tidak sedikit pun merasa lega.
Tatapannya masih tertuju kepada Jenderal Rong, sosok penjaga berjubah perak yang baru saja mengungkap sebagian rahasia perang kuno.
"Aku hanya penjaga," ucap Jenderal Rong pelan.
"Orang yang benar-benar mengkhianati Raja Laut Kabut... bukan berasal dari dunia ini."
Ruangan menjadi sunyi.
Lina, yang berdiri beberapa langkah di belakang Ethan, mengernyit.
"Bukan berasal dari dunia ini?"
Jenderal Rong mengangguk perlahan.
"Dulu kami juga menganggap mereka manusia."
"Tetapi setelah perang dimulai... mereka membuka Gerbang Hitam."
Tatapan Ethan berubah tajam.
Gerbang Hitam.
Nama itu sudah muncul beberapa kali sejak ia bereinkarnasi.
Organisasi yang mengejar artefak.
Kelompok misterius yang muncul di pelabuhan.
Orang-orang bertopeng hitam.
Dan kini...
Mereka ternyata telah ada jauh sebelum peradaban modern.
"Bukan organisasi biasa..."
gumam Ethan.
"Mereka adalah pewaris."
Jenderal Rong menatap Ethan beberapa saat.
"Kau tahu sesuatu."
"Banyak."
"Tetapi belum cukup."
---
Jenderal Rong membawa mereka memasuki aula paling dalam istana.
Ruangan itu berbeda dengan bagian lain.
Tidak ada kemewahan.
Hanya sebuah singgasana putih yang dipahat dari batu giok.
Di belakangnya berdiri mural raksasa.
Begitu Ethan melihatnya, langkahnya berhenti.
Mural itu menggambarkan sebelas lingkaran cahaya.
Setiap lingkaran memiliki simbol berbeda.
Pedang.
Api.
Laut.
Petir.
Bulan.
Matahari.
Naga.
Bayangan.
Langit.
Kehampaan.
Dan...
Mahkota.
Tatapan Ethan membeku pada simbol kedelapan.
Bayangan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Itu..."
Suara Jenderal Rong terdengar pelan.
"Dua belas Raja Agung."
Ethan langsung menggeleng.
"Bukan."
"Jumlahnya sebelas."
Jenderal Rong tersenyum tipis.
"Akhirnya kau menyadarinya."
"Lambang kedua belas telah dihapus."
Lina ikut menatap mural itu.
"Kenapa?"
"Karena keberadaannya dianggap dosa."
Ruangan kembali sunyi.
Jenderal Rong melanjutkan.
"Dahulu terdapat Dua Belas Raja."
"Salah satunya menguasai Dao Bayangan."
Ethan mengepalkan tangan.
Dao Bayangan...
Itulah Dao yang pernah ia kuasai selama lima ratus tahun.
"Raja itu menghilang sebelum perang dimulai."
"Tidak ada yang pernah menemukan jasadnya."
"Tidak ada yang mengetahui apakah ia mati..."
"...atau mengkhianati semua orang."
Tatapan Ethan berubah dalam.
Ingatan kehidupannya dahulu perlahan muncul.
Banyak teknik Dao Bayangan yang bahkan tidak diketahui siapa pun.
Seolah...
Memang pernah ada seorang pendahulu.
---
"Ethan."
Suara Lina memecah lamunannya.
"Kau baik-baik saja?"
Ethan mengangguk pelan.
"Tidak apa."
Namun di dalam pikirannya...
Puluhan kemungkinan mulai tersusun.
Apakah kehidupannya sebagai Kaisar Bayangan dahulu hanyalah kebetulan?
Ataukah...
Ia sebenarnya sedang berjalan mengikuti jejak seseorang yang telah hidup ribuan tahun sebelumnya?
---
Jenderal Rong mengangkat sebuah kotak batu kecil dari bawah singgasana.
Kotak itu tertutup sembilan segel.
"Ethan."
"Warisan Raja Laut Kabut bukan hanya kota ini."
"Tetapi ini."
Kotak perlahan terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah pecahan kristal berwarna hitam kebiruan.
Begitu melihatnya...
Artefak naga milik Ethan langsung bergetar.
Kompas Laut Roh ikut mengeluarkan cahaya.
Kristal itu melayang sendiri.
Lina terkejut.
"Apa yang terjadi?"
Jenderal Rong menarik napas.
"Itulah Pecahan Inti Dunia."
"Energi yang menjaga keseimbangan simpul-simpul spiritual."
Ethan tidak langsung menyentuhnya.
Ia mengamati aliran Qi yang keluar dari kristal.
Lalu...
Ia menyipitkan mata.
"Ada segel."
"Bukan segel pelindung."
"Segel pelacak."
Jenderal Rong terdiam.
"Benar."
"Energi ini akan memberi tahu pemiliknya setiap kali dibangunkan."
"Siapa?"
Jenderal Rong menjawab dengan suara berat.
"Gerbang Hitam."
---
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Lina akhirnya bertanya,
"Kalau begitu kenapa tidak dihancurkan saja?"
Jenderal Rong tersenyum pahit.
"Karena benda ini tidak bisa dihancurkan."
"Selama dunia masih memiliki urat spiritual..."
"...inti itu akan selalu lahir kembali."
Ethan perlahan mengulurkan tangan.
Ia tidak mengambil kristal itu.
Sebaliknya...
Ia mengeluarkan jarum perak kecil dari sakunya.
Jarum itu menusuk ujung jarinya.
Setetes darah jatuh di atas kristal.
Tidak terjadi ledakan.
Tidak ada cahaya besar.
Sebaliknya...
Seluruh simbol pelacak perlahan berubah arah.
Jenderal Rong membelalakkan mata.
"Kau..."
"Kau membalik formasi?"
Ethan menjawab tenang.
"Pelacak selalu mengikuti sumber energi."
"Kalau sumbernya dipindahkan..."
"...mereka akan mengejar bayangan."
Untuk pertama kalinya...
Jenderal Rong tertawa kecil.
"Seperti Raja Bayangan..."
gumamnya lirih.
---
Namun saat itu pula—
BUM!
Seluruh kota berguncang.
Patung naga di luar bergetar.
Kabut yang telah menghilang kembali bergerak.
Tetapi kali ini...
Kabut berubah menjadi hitam.
Ethan langsung berdiri.
"Musuh."
Di luar aula terdengar suara ledakan berturut-turut.
Prajurit batu yang menjaga kota mulai bangkit.
Namun bukan untuk menyerang Ethan.
Mereka justru menghadap ke gerbang kota.
Jenderal Rong menutup mata.
"Mereka datang lebih cepat."
---
Di atas langit...
Sebuah retakan hitam perlahan terbuka.
Bukan gerbang biasa.
Melainkan sobekan ruang.
Puluhan sosok berjubah hitam turun perlahan.
Masing-masing mengenakan topeng tanpa wajah.
Aura mereka jauh lebih kuat daripada kelompok yang pernah Ethan temui sebelumnya.
Di depan mereka berdiri seorang wanita berambut putih panjang.
Matanya berwarna emas terang.
Tatapannya dingin.
Tangannya menggenggam tombak hitam.
Ia tidak memandang kota.
Ia langsung menatap Ethan.
"Akhirnya..."
suaranya bergema.
"...aku menemukanmu."
Lina menggenggam pedangnya.
"Kau mengenalnya?"
Ethan menggeleng.
"Tidak."
"Tetapi..."
Ia merasakan sesuatu yang aneh.
Aura wanita itu...
Sangat mirip...
Dengan teknik kultivasi miliknya dahulu.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Aku sudah menunggumu..."
"...Yang Mulia."
Jenderal Rong membeku.
Lina ikut terkejut.
"Yang Mulia?"
Wanita itu menundukkan tombaknya.
"Aku berasal dari Divisi Bayangan."
"Pasukan yang dahulu bersumpah setia kepada Kaisar Bayangan."
Keheningan menyelimuti seluruh kota.
Namun kalimat berikutnya membuat darah Ethan seakan membeku.
"Tapi..."
kata wanita itu pelan,
"...aku datang bukan untuk melindungimu."
"Aku datang..."
"...untuk memastikan kau mati sekali lagi."
Langit bergemuruh.
Retakan hitam melebar.
Dari balik celah ruang itu...
Sesosok makhluk raksasa perlahan membuka matanya.
Sepasang mata merah menyala menatap langsung ke arah Kota Laut Kabut.
Dan Ethan mengenali aura itu.
Aura yang pernah ia bunuh...
Lima ratus tahun lalu.