NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan belum penuh

Keiko mengambil ponselnya dari dalam tas, ia ingat harus memberi kabar seseorang, mencari sebuah nama dalam riwayat panggilan terakhir

 -Kyo-

panggilan itu tersambung.

"Moshi-moshi, Kyo-san. "

"Moshi-moshi, Keiko-san, Ada kabar baik?"

Keiko menoleh ke arah Shiro yang sedang tertidur di atas sofa. "Shiro sudah keluar dari klinik hari ini. Sekarang dia sudah aman di rumahku."

Terdengar embusan napas lega dari seberang. "Syukurlah. Berarti dia benar-benar sudah melewati masa kritisnya."

"Iya," Keiko mengangguk pelan. "Dia baru saja makan ikan panggang, sekarang langsung tidur."

Kyo terkekeh. "Memang seperti biasanya."

Keiko ikut tertawa kecil. "Bagaimana denganmu? Masih sibuk di toko?"

"Iya. Minggu depan kan bulan purnama. Persiapan festival bulan di Kuil Dewa Kucing sudah dimulai. Stok lampion, makanan, dan camilan hampir habis. Pesanannya banyak sekali, jadi beberapa hari ini lumayan sibuk."

Keiko langsung teringat suasana festival bulan saat pertama kali datang ke Tsukimori. "Ah, iya. Aku ingat. Waktu itu desa kalian juga ramai sekali."

Kyo tertawa kecil. "Kalau begitu... apa kau akan datang lagi? Siapa tahu bertemu lagi dengan pria berambut abu itu."

Keiko terdiam sejenak. Pandangan matanya perlahan beralih kepada Shiro yang masih tertidur pulas di atas sofa. "Hm... aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa cuti lagi.. seperti nya memang takdir ku tidak akan bertemu lagi dengan pria kimono hitam itu"

Kyo terkekeh. "Aku rasa...kau bukan hanya ingin bilang terimakasih kan."

Keiko mengernyit. "Maksudmu?"

"Kau juga pasti ingin tahu namanya. Nomor teleponnya. Mungkin sekalian alamat rumahnya."

"Heii, Kyo-san..." Keiko tertawa malu. "Bagaimana kau tahu isi kepalaku?"

Kyo ikut tertawa. "Lho. Bukannya dulu ada seseorang yang bilang... 'Kalau Bakeneko setampan itu... aku mau menikah dengan nya'"

"Aduh..." Keiko langsung menutup wajahnya dengan satu tangan. "Kenapa ucapan itu masih kau ingat..."

Kyo tertawa semakin keras. "Mungkin menurutmu itu hanya candaan, Keiko-san. Tapi kalau mengucapkannya di wilayah Bakeneko... bisa saja ada yang menganggapnya sungguh-sungguh. Dan mereka tidak mudah melupakan hal seperti itu."

Keiko hanya tertawa kecil. "Baiklah. Lain kali aku akan lebih hati-hati."

"Hahaha... begitu dong. Oh iya, aku sedang mengantar barang pakai mobil. Nanti kita lanjut ngobrol lagi."

"Oh, baik. Hati-hati di jalan, Kyo-san. Sampaikan salamku untuk ayah dan ibumu."

"Pasti."

Panggilan pun berakhir. Keiko meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya ke dudukan sofa. Sengaja ia menyenderkan sebagian kepalanya pada tubuh Shiro yang masih tertidur.

"Shiro... minggu depan bulan purnama. Di Tsukimori pasti ramai lagi. Dulu kau dan teman-teman kucingmu pergi ke kuil itu, Kali ini... lihat bulannya dari rumah saja."

Shiro tidak membuka mata. Hanya ujung ekornya yang bergerak pelan. Keiko tersenyum tipis. Tiba-tiba... kaki belakang Shiro meregang.

Bruk.

"Aduh!" Kepala Keiko terdorong pelan. Belum sempat bereaksi, kaki depannya ikut bergerak, mengacak-acak rambut Keiko tanpa sengaja.

"Aww... sakit, Shiro. Kalau keberatan bilang, dong."

Keiko merapikan rambutnya yang berantakan, lalu balas mengacak pelan bulu di kepala Shiro. Shiro tetap tertidur lelap, seolah tidak terjadi apa-apa.

***

Menjelang sore, matahari mulai condong ke barat. Keiko membawa laptopnya keluar ke beranda rooftop. Di atas meja kayu sudah tersedia secangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Hari itu, ia sengaja memeriksa beberapa surel dari Aoyama FM yang belum sempat dibacanya. Sesekali jemarinya mengetik balasan, sesekali pula ia menyeruput cokelat hangat di sampingnya.

Tak jauh dari sana, Shiro berlarian kecil di antara pot-pot bunga. Seekor kupu-kupu putih yang sejak tadi beterbangan di halaman rupanya berhasil menarik perhatiannya.

Shiro mengejarnya ke sana kemari. Sesekali ia melompat, berhenti sejenak, lalu kembali mengejar saat kupu-kupu itu berpindah ke pot bunga berikutnya.

Keiko mengangkat pandangan dari layar laptopnya. Senyum kecil terukir di wajahnya. "Hati-hati, Shiro. Jangan sampai naik pagar, ya."

Shiro hanya menggerakkan telinganya sekilas, entah mendengar atau tidak. Beberapa saat kemudian, kupu-kupu itu terbang semakin tinggi hingga akhirnya menghilang di balik atap gedung sebelah. Shiro berhenti mengejar. Ia duduk di atas meja kayu sambil memandangi langit beberapa detik, lalu melompat turun dan kembali berjalan mengelilingi halaman.

Keiko terkekeh pelan sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar laptopnya. Tak lama kemudian, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Nama Renji muncul di layar.

 "moshi-moshi Renji-san?"

"Keiko-san, lagi di rumah?"

"Iya, kenapa?"

"Aku lagi ada di bawah apartemenmu."

Keiko menoleh ke arah pagar rooftop. "Di bawah?"

"Iya. Aku mau mengajak mu makan malam, kau mau ikut?"

Keiko melirik jam di layar laptop. Hari memang sudah menjelang malam. "Boleh juga. Kalau begitu aku turun sekarang."

Panggilan pun berakhir. Keiko menutup laptopnya, berdiri, lalu menoleh ke arah Shiro yang sedang duduk di dekat pot bunga.

"Shiro, aku keluar sebentar buat makan malam sama Renji-san."

Keiko berjalan mendekat lalu berjongkok di depannya, mengusap pelan kepala Shiro. "Kamu jaga rumah, ya. Jangan bikin berantakan."

Shiro hanya menatapnya. Keiko tersenyum kecil. "Jendelanya kubuka. Kalau mau main di halaman, lewat situ saja. Tapi... jangan lompat pagar."

Shiro mengedip pelan. Keiko terkekeh. "Anggap saja kau mengerti."

Ia kembali masuk ke dalam rumah, meletakkan laptop di meja ruang tamu, mengambil tas kecilnya, lalu keluar sambil membiarkan jendela ruang tamu tetap terbuka sedikit. Tak lama kemudian, langkahnya menghilang menuruni tangga menuju lantai bawah apartemen.

"Ini berkas siaran minggu depan.." ujar Renji.

Keiko menerimanya. "Terima kasih."

Renji memperhatikan wajah Keiko sejenak. "Kamu kelihatan lebih santai."

Keiko tertawa kecil. "Mungkin karena hari ini libur, atau... karena Shiro sudah pulang."

Renji mengangguk pelan. "Syukurlah. Dia sudah sehat lagi?"

"Jauh lebih baik. Masih harus kontrol beberapa hari lagi, tapi dokter bilang kondisinya sudah stabil."

"Bagus," Renji tersenyum lega. "Kalau begitu, ayo makan. Aku lapar."

Keiko terkekeh. "Dasar."

Tak jauh dari apartemen terdapat sebuah restoran kecil yang biasa mereka datangi sepulang siaran. Mereka memilih duduk di dekat jendela. Begitu pelayan datang membawa buku menu, Renji bertanya, "Seperti biasa?"

Keiko mengangguk. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Di sela-sela makan malam, Renji tiba-tiba berkata, "Oh ya, minggu depan aku ambil cuti beberapa hari."

Keiko mengangkat wajahnya. "Lho? Gantian sekarang kamu yang cuti?"

Renji mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Sudah lama juga aku tidak libur."

Keiko tertawa. "Nikmati selagi bisa. Nanti giliran aku yang kerja sendirian."

Renji ikut tertawa. "Tenang, cuma beberapa hari. Nggak bakal lama... Mau sekalian ambil cuti bareng?"

keiko malah terkekeh "Mana mungkin di acc, Baru kemarin aku memgambil cuti ke Tsukimori renji-san. ."

Keduanya pun kembali menikmati makan malam sambil mengobrol ringan tentang pekerjaan dan siaran di Aoyama FM.

Sementara itu...

Di atas rooftop apartemen, Shiro duduk sendirian di atas meja kayu. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga di sekitarnya.

Jendela ruang tamu masih terbuka sedikit.

Shiro mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju ke langit malam. Bulan itu belum bulat sempurna.

Ia mengamatinya dalam diam.

...

"...Belum.... "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!