NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Diterima Tapi Canggung

Sore mulai beranjak menuju malam ketika mobil yang dikemudikan Atharazka memasuki area parkir apartemen.

Suara langkah kaki yang bergema di lorong menjadi satu-satunya bunyi yang menemani hingga akhirnya Atharazka tiba di depan unit apartemen.

Klik...

Pintu terbuka, lalu kembali tertutup rapat setelah dirinya masuk. Dan ternyata, Amora pun terlihat baru saja pulang juga. Setelan kerja formal masih Amora pakai.

"Baru sampai?" tanya Atharazka.

Amora menganggukkan kepala.

"Iya mas," jawabnya.

"Ya sudah, aku mandi dulu," ujar Atharazka singkat sambil melangkah menuju kamarnya.

Amora kembali mengangguk pelan.

"Iya, Mas."

Setelah Atharazka masuk ke kamar, Amora pun masuk ke kamarnya sendiri. Dan tentu suasana apartemen kembali sunyi.

Di dalam kamar, Amora berdiri cukup lama di depan lemari pakaian. Jemarinya menyibakkan beberapa hanger, memperhatikan satu per satu pakaian yang tergantung rapi.

Malam ini tidak hanya sekadar makan malam biasa. Ia akan berkunjung ke rumah keluarga Bagaskara. Pikiran itu membuatnya ingin memilih pakaian yang sopan, tetapi tetap sederhana.

Setelah beberapa saat mempertimbangkan, akhirnya ia mengambil blouse navy berlengan panjang yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Penampilannya tampak elegan tanpa kesan berlebihan.

Usai berganti pakaian, Amora berdiri di depan cermin. Ia merapikan rambutnya yang terurai, membenahi bagian depan blouse, lalu menyemprotkan sedikit parfum ke pergelangan tangan dan belakang telinganya.

"Udah cukup rapi kan?" gumamnya pelan sambil mengembuskan napas.

Di kamar sebelah, Razka juga telah selesai bersiap. Seperti biasanya, ia memilih pakaian tanpa banyak berpikir. Sebuah kemeja biru tua dipadukan dengan celana panjang abu-abu menjadi pilihannya malam itu. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia mengenakan jam tangan, mengambil dompet serta kunci mobil, lalu melirik waktu yang hampir menunjukkan pukul 7.

Beberapa menit kemudian, kedua pintu kamar terbuka hampir bersamaan.

Amora dan Atharazka keluar pada waktu yang nyaris bersamaan hingga langkah mereka bertemu di lorong menuju ruang tamu. Razka sempat mengalihkan pandangan ke arah Amora selama beberapa detik. Penampilan perempuan itu terlihat sederhana, tetapi tetap anggun. Dan siapa sangka kalau mereka menggunakan atasan berwarna senada padahal tidak janjian.

"Sudah siap?" tanyanya.

Amora menganggukkan kepala.

"Sudah, Mas."

"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Jangan sampai Daddy sama Mommy menunggu terlalu lama."

"Iya."

Tanpa ada obrolan lagi, mereka berjalan menuju pintu utama.

Atharazka mengambil kunci apartemen yang berada di atas meja kecil dekat pintu, memastikan seluruh lampu dan pintu telah terkunci sebelum akhirnya keluar.

Lift tiba beberapa saat kemudian.

Keduanya masuk dan berdiri berdampingan. Tidak ada yang berbicara. Atharazka menatap lurus ke arah pintu lift, sementara Amora sesekali membenarkan tali tas kecil yang disampirkannya di bahu.

Bunyi lembut penanda lantai terdengar bergantian hingga akhirnya lift berhenti di area parkiran basement. Mereka kembali melangkah menuju mobil.

Atharazka membuka pintu sisi pengemudi, sedangkan Amora masuk melalui pintu penumpang.

Tidak lama kemudian, mesin mobil kembali menyala. Pendingin mobil mulai mengembuskan udara sejuk ke seluruh kabin. Sebelum menjalankan mobil, Razka memeriksa kaca spion terlebih dahulu.

Mobil perlahan meninggalkan area parkir, lalu bergabung dengan lalu lintas Jakarta yang masih dipenuhi kendaraan.

Di luar jendela, cahaya matahari sudah menghilang, berganti dengan lampu-lampu kota yang satu per satu menyala.

Di dalam mobil, Amora duduk tenang sambil memangku tasnya. Meski wajahnya terlihat biasa saja, jemarinya tanpa sadar saling menggenggam erat.

Semakin dekat menuju rumah keluarga Bagaskara, rasa gugup yang sempat berhasil ia tekan kembali muncul.

Berbagai kemungkinan mulai memenuhi pikirannya. Bagaimana nanti Daddy dan Mommy akan menyambutnya? Haruskah ia lebih banyak berbicara atau cukup menjawab jika ditanya? Apakah ia mampu memberikan kesan yang baik sebagai menantu baru?

Amora mengembuskan napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sesaat kemudian, pandangannya beralih ke arah Atharazka.

Pria itu tetap fokus mengemudi. Kedua tangannya menggenggam setir dengan mantap, sementara sorot matanya tidak pernah lepas dari jalan di depan.

Ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Amora tidak tahu apakah Atharazka menyadari kegugupan yang sedang ia rasakan, atau justru memilih membiarkannya menghadapi semuanya sendiri.

Perjalanan kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara mesin kendaraan, pendingin ruangan, dan alunan musik lembut yang menemani mereka hingga mobil terus melaju menuju kediaman keluarga Bagaskara.

Semakin dekat dengan tujuan, dada Amora terasa semakin sesak oleh rasa gugup. Ia kembali meremas jemarinya pelan di atas pangkuan sambil memanjatkan harapan kecil dalam hati.

"Semoga malam ini berjalan dengan baik."

Sementara itu, Atharazka tetap mengemudikan mobil dengan sikap tenang. Dari wajahnya tidak tampak sedikit pun tanda kegelisahan. Untuknya, perjalanan menuju rumah Daddy dan Mommy mungkin hanyalah rutinitas biasa.

Sedangkan bagi Amora, malam ini menjadi malam yang berbeda.

Mobil sedan hitam yang dikemudikan Atharazka melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan kediaman keluarga Bagaskara. Gerbang otomatis terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas yang dihiasi taman dengan pencahayaan temaram. Bangunan bergaya modern klasik itu berdiri megah, pilar-pilar putih menjulang menopang teras depan, sementara lampu gantung di beranda memancarkan kesan elegan.

Amora tanpa sadar menarik napas panjang. Sejak mobil memasuki halaman rumah, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Rumah itu masih sama seperti yang ia ingat, sangat terawat dan berkelas.

Atharazka mematikan mesin mobil, lalu melepaskan sabuk pengamannya.

"Kita sudah sampai," ucapnya singkat.

"Iya, Mas," jawab Amora lirih sambil ikut membuka sabuk pengaman.

Mereka turun hampir bersamaan. Angin malam berembus lembut, membuat ujung rambut Amora yang tergerai bergerak pelan. Ia mengikuti langkah Atharazka menuju pintu utama tanpa banyak bicara.

Begitu memasuki rumah, lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu kristal di langit-langit. Aroma bunga segar bercampur wangi kayu memenuhi udara, menciptakan kesan mewah sekaligus tenang.

Di ruang keluarga, Bima dan Selia sudah menunggu. Keduanya duduk di sofa cokelat besar dengan penampilan yang selalu rapi dan berwibawa.

"Selamat malam, Dad. Mom," sapa Atharazka lebih dulu.

Bima menganggukkan kepala pelan. "Malam."

Selia turut mengalihkan pandangan ke arah putra sulungnya sebelum menatap Amora.

"Selamat malam, Mom... Dad," ucap Amora sopan sembari sedikit membungkukkan badan.

"Malam, Amora," balas Selia dengan senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.

Suasana kembali sunyi setelah sapaan singkat itu berakhir. Amora berdiri di samping suaminya, berusaha menjaga sikap sebaik mungkin. Meski tidak ada kata-kata yang kurang menyenangkan, ia tetap merasakan adanya jarak yang belum mampu ia pahami.

Dan awal obrolan dimulai dengan Bima yang menanyakan perihal pekerjaan Atharazka di kantor.

Bima kemudian mengalihkan perhatian kepada Atharazka.

"Bagaimana perkembangan proyek yang sedang kamu tangani? Besok pagi Daddy ingin melihat laporan akhirnya."

"Sudah hampir selesai, Dad. Tim sedang menyempurnakan bagian terakhir. Besok pagi laporannya sudah siap," jawab Atharazka tenang.

Percakapan pun berlanjut seputar pekerjaan dan perkembangan perusahaan. Amora hanya mendengarkan dari tempatnya duduk. Ia merasa belum memiliki ruang untuk ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.

Belum sempat suasana kembali hening, suara langkah kaki yang tergesa terdengar dari arah lantai dua.

"Kak Amora!"

Asyifa Bunga Bagaskara menuruni tangga dengan wajah berseri. Begitu tiba di ruang keluarga, ia langsung menghampiri Amora tanpa ragu.

"Akhirnya datang juga! Aku dari tadi nungguin."

Melihat sambutan itu, senyum Amora perlahan mengembang.

"Maaf ya, tadi jalanan cukup padat."

"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang sudah di sini," ujar Asyifa sambil menggandeng lengan Amora menuju sofa. "Duduk di sini sama aku."

Atharazka hanya melirik sekilas ke arah adiknya sebelum kembali melanjutkan pembicaraan bersama ayahnya.

"Gimana kerjaan, Kak?" tanya Asyifa antusias. "Aku lihat promosi produk terbaru D'Endra Group di media sosial keren banget. Desainnya juga bagus."

Amora tersenyum malu.

"Syukurlah kalau hasilnya bagus. Tapi itu bukan cuma kerjaanku. Semua tim pemasaran ikut berkontribusi."

"Aku bangga deh Kak. Cara Kak Amora kerja memang keren."

Ucapan tulus itu membuat Amora merasa sedikit lebih nyaman berada di rumah tersebut. Selia yang sedari tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut berbicara.

"Asyifa, biarkan Amora istirahat dulu. Dia pasti capej baru selesai bekerja."

"Iya, Mom," jawab Asyifa sambil tersenyum. "Aku cuma senang akhirnya bisa ngobrol."

Amora ikut tersenyum kecil.

"Nggak apa-apa, Mom. Aku juga senang ditemani Asyifa."

Selia hanya mengangguk pelan tanpa menambahkan komentar. Tidak lama kemudian, Bima kembali membuka percakapan.

"Nanti setelah makan malam ikut Daddy ke ruang kerja sebentar."

"Baik, Dad."

Sementara itu, Selia mengarahkan pandangannya kepada Amora.

"Di D'Endra Group pekerjaanmu cukup padat?"

"Kadang cukup sibuk, Mom. Terutama kalau lagi kejar target atau ada proyek baru. Tapi sejauh ini masih bisa aku atur."

Selia tersenyum tipis.

"Bagus kalau begitu. Yang penting jangan sampai pekerjaan membuatmu melupakan tanggung jawab di rumah."

Ucapan itu terdengar halus, tetapi Amora memahami maksud yang tersirat di baliknya.

"Iya, Mom. Aku akan berusaha membagi waktu sebaik mungkin."

Menyadari suasana mulai terasa canggung, Asyifa segera mengalihkan pembicaraan.

"Oh iya, Kak. Aku sama Mommy tadi bikin puding cokelat. Nanti wajib coba, ya. Rasanya enak banget."

"Wah, kebetulan aku memang suka cokelat," jawab Amora dengan senyum yang kini jauh lebih lepas.

Beberapa saat kemudian, Bi Pinah datang menghampiri ruang keluarga.

"Permisi, Tuan, Nyonya. Makan malam sudah siap."

"Baik," sahut Bima sambil berdiri.

Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Meja panjang yang telah ditata rapi dipenuhi beragam hidangan hangat dengan peralatan makan yang tersusun sempurna.

Amora duduk di sisi Atharazka, sedangkan Asyifa memilih tempat tepat di hadapan mereka.

Selama makan malam berlangsung, percakapan lebih banyak diisi oleh Bima dan Atharazka yang membahas perkembangan Askara Group. Sesekali Selia ikut memberikan pendapat, sementara Amora menikmati makan malam dengan tenang.

Asyifa kembali menjadi penyelamat suasana.

"Kak Amora, akhir pekan nanti kita keluar bareng, yuk. Belanja atau sekadar cari makan juga boleh."

Amora tertawa pelan.

"Boleh. Aku sih ayo aja," jawabnya.

"Janji, ya?"

"Iya, janji."

Percakapan ringan itu sedikit menghangatkan suasana meja makan. Walaupun demikian, Amora masih dapat merasakan adanya jarak yang belum sepenuhnya hilang. Ia menangkap beberapa kali tatapan Selia yang masih terlihat menilai dirinya, meski tidak lagi setajam sebelumnya.

Atharazka tetap menikmati makan malam dengan tenang. Sesekali ia melirik Amora, memastikan istrinya tidak terlihat terlalu canggung, sebelum kembali memusatkan perhatian pada hidangan di depannya.

Di balik suasana makan malam yang berlangsung tertib dan formal, Amora menyadari bahwa dirinya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar menjadi bagian dari keluarga besar Bagaskara.

Namun setidaknya, malam itu ia tidak merasa sendirian. Kehangatan yang diberikan Asyifa menjadi secercah rasa nyaman yang perlahan mengurangi kegugupannya.

1
Ariany Sudjana
semangat yah Amora, jangan takut dan ragu, sepertinya kedua mertua kamu juga baik orangnya. semoga hubungan kamu dengan razka dan juga mertua semakin membaik
Lusi Hariyani
amora ank yg baik pasti mau diundang mkn mlm
Lusi Hariyani
semangat amora km bisa💪
Valen Angelina
kulkas masih mode dingin...
Ariany Sudjana
puji Tuhan, semoga hubungan Amora dan razka semakin membaik
Lusi Hariyani
awal jd teman lm2 persaan saling suka muncul😄
Yuyun Irmawati
ka semngat nukis nya ya,cerita kaka bagus🥰
Lusi Hariyani
santai amora manjakan lidah suami mu lambat laun hati y akn meleleh sendiri ke kamu
Opi Sofiyanti
sprt pepatah mengatakan "manjakan lah suami mu dgn perut nya"... dr perut naik k hati y Ka... 🤭🤭🤭
Ariany Sudjana
awalnya makanan dulu, lama-lama kamu jatuh cinta sama Amora 😄
Lusi Hariyani
razka gengsi...
Lusi Hariyani
smg sblm 6 bln razka dh mlai tertatik sm amora
Valen Angelina
bucin pasti nnti
Opi Sofiyanti
Ampir smua para lelaki nya kak anggi tuh emng pd spek kulkas 10 pintu smua y.... 🤭🤭🤭
partini
plus tebal perasaan jangan gampang mewek atau myek"
Eva Karmita
❤️❤️❤️❤️❤️
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
bimawati
semoga berlanjut ya kk ak selalu nunggu karya mu
Opi Sofiyanti
kaakkk jgn di gantung lg ya???????
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰
Fitri Dheanova Al-Ghauzan
semangat thor,sukses selalu buat karya karya nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!