Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kedua Yang Mustahil
Pagi itu Aruna bangun dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan takut.
Bukan sedih.
Tapi seperti seseorang baru saja meninggalkan sesuatu di dalam dadanya—sesuatu yang tidak terlihat, namun cukup berat untuk dibawa sepanjang hari.
Ia duduk beberapa menit di tepi ranjang.
Masih mengingat mimpi semalam.
Hujan.
Suara seorang pria.
Dan kalimat itu.
Kalau ada kehidupan berikutnya… jangan datang mencariku lagi.
Yang membuatnya tidak nyaman bukan isi mimpinya.
Tapi fakta bahwa saat terbangun, ia memanggil nama Adrian.
Bukan karena sadar.
Bukan karena sengaja.
Nama itu keluar begitu saja.
Seolah sudah pernah terlalu sering dipanggil.
Aruna segera menggeleng.
“Sudah cukup.”
Ia bangkit.
Hari ini ia memutuskan satu hal.
Tidak memikirkan Adrian.
Tidak mendekati lantai dua puluh.
Tidak mencari arti dari mimpi aneh itu.
Dan yang paling penting—
menjalani semuanya seperti biasa.
—
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Baru satu jam bekerja, suasana kantor mulai berubah.
Beberapa orang berbisik.
Ada yang mondar-mandir.
Beberapa kepala divisi terlihat lebih tegang dari biasanya.
Aruna melirik rekan sebelahnya.
“Ada apa?”
Perempuan itu mendekat.
“CEO datang lebih pagi.”
“Terus?”
“Katanya lagi keliling tiap divisi.”
Aruna berhenti mengetik.
Keliling?
Bukannya biasanya jarang turun?
Belum sempat berpikir lebih jauh—
suasana mendadak diam.
Orang-orang langsung berdiri.
Aruna mengangkat kepala.
Dan melihatnya.
Adrian.
Masuk bersama sekretaris dan beberapa staf.
Langkahnya tenang.
Ekspresinya datar.
Tapi entah kenapa…
ketika matanya bergerak melewati ruangan—
Aruna merasa pria itu sedang mencari seseorang.
Tidak.
Jangan berpikir macam-macam.
Ia menunduk kembali.
Fokus layar.
Fokus kerja.
Langkah sepatu berhenti.
Tepat di dekat mejanya.
Aruna membeku.
Suara Adrian terdengar tenang.
“Ini divisi desain?”
Kepala divisi menjawab cepat.
“Iya, Pak.”
Adrian mengangguk.
Lalu—
tatapannya jatuh ke Aruna.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup membuat udara berubah.
Aruna menunggu.
Mungkin dia akan bicara.
Mungkin menyapa.
Mungkin…
Tidak.
Adrian memalingkan wajah.
“Lanjutkan pekerjaan.”
Lalu pergi.
Sederhana.
Biasa.
Normal.
Seharusnya begitu.
Tapi anehnya—
Aruna malah merasa tidak nyaman.
Seperti seseorang yang tanpa sadar menunggu sesuatu.
Dan saat sesuatu itu tidak terjadi—
justru terasa kosong.
Ia langsung kesal pada dirinya sendiri.
Apa-apaan.
—
Jam makan siang.
Aruna memutuskan keluar sebentar.
Ia membeli kopi di kafe dekat gedung kantor.
Saat sedang menunggu pesanan—
seorang anak kecil berlari terlalu cepat.
Menabrak kursi.
Gelas panas di tangan seorang pengunjung hampir tumpah.
Refleks Aruna menarik anak itu.
Tapi tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Seseorang menangkap lengannya.
Aruna menoleh.
Diam.
Adrian.
Beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Pria itu masih memegang lengannya.
Tatapannya turun ke wajah Aruna.
Lalu—
matanya berubah.
Kosong.
Tidak.
Bukan kosong.
Terlalu penuh.
Seolah sedang menahan sesuatu.
Tangannya perlahan melepas.
Mundur setengah langkah.
Dan berkata pelan—
“…maaf.”
Aruna mengerjap.
Maaf?
Dia yang menolong.
Kenapa malah meminta maaf?
Anak kecil tadi bersembunyi di belakang Aruna.
Adrian melihat anak itu sebentar.
Wajahnya berubah lagi.
Sangat cepat.
Lalu ia pergi.
Begitu saja.
Tanpa penjelasan.
Tanpa melihat lagi.
Aruna berdiri mematung.
Baru kali ini ia merasa—
orang itu tidak sedang menghindarinya.
Orang itu…
sedang berusaha tidak mendekat.
—
Malam.
Aruna pulang lebih larut.
Jalan agak sepi.
Ia memilih memotong lewat taman kecil dekat apartemen.
Angin malam cukup dingin.
Ia berjalan sambil membuka ponsel.
Sampai—
langkahnya berhenti.
Di bangku taman.
Ada seseorang.
Pria.
Duduk sendiri.
Kepala sedikit menunduk.
Lampu taman membuat wajahnya terlihat samar.
Tapi Aruna langsung mengenalinya.
Adrian.
Ia mengernyit.
Apa yang dilakukan CEO sendirian di tempat seperti ini?
Ia ragu beberapa detik.
Lalu memutuskan berjalan lewat saja.
Namun saat sejajar—
suara pria itu terdengar.
“Aruna.”
Ia berhenti.
Menoleh.
Adrian masih duduk.
Tidak melihatnya.
“Ada apa?”
Sunyi.
Lalu ia bertanya—
“Kalau kau bertemu seseorang dua kali…”
Aruna mengernyit.
“…dan rasanya seperti sudah mengenalnya seumur hidup…”
Adrian mengangkat kepala.
Menatap lurus.
“Menurutmu itu kebetulan?”
Aruna tidak langsung menjawab.
Ia ingin bilang iya.
Tapi…
mengingat beberapa hari terakhir—
ia sendiri mulai ragu.
“Aku tidak tahu.”
Adrian tertawa kecil.
Pendek.
Lelah.
“Aku juga pernah mencoba meyakinkan diriku kalau itu kebetulan.”
Aruna menatapnya.
Ada sesuatu yang aneh malam ini.
Pria itu terlihat tidak seperti CEO yang selalu tenang.
Ia terlihat…
manusia.
Lelah.
Sepi.
Adrian berdiri.
Lalu berkata pelan—
“Aku sudah pernah gagal sekali.”
Aruna terdiam.
“Apa?”
Pria itu menggeleng.
“Tidak penting.”
Ia mulai berjalan.
Tapi saat melewati Aruna—
langkahnya berhenti.
Lalu tanpa melihat—
ia berkata—
“Kalau suatu hari nanti kau mulai bermimpi lagi…”
Aruna langsung menegang.
“…jangan percaya semuanya.”
Jantungnya berdetak keras.
Ia belum pernah cerita soal mimpi.
Tidak pada siapa pun.
Aruna berbalik cepat.
“Anda tahu dari mana saya—”
Kalimatnya berhenti.
Karena Adrian sudah berjalan menjauh.
Tidak menoleh.
Tidak menjawab.
Dan entah kenapa—
untuk sesaat—
di bawah lampu taman itu—
Aruna melihat sesuatu.
Bukan jelas.
Bukan nyata.
Tapi seperti bayangan.
Seseorang.
Dengan pakaian berbeda.
Berdiri di tempat Adrian berdiri.
Mengenakan jas gelap yang aneh.
Dan menatapnya—
dengan kesedihan yang sama.
Aruna menutup mata cepat.
Saat dibuka—
tidak ada siapa-siapa.
Ia mundur pelan.
Dadanya berdebar.
Apa itu?
Kenapa rasanya…
bukan pertama kali ia melihat punggung itu pergi?
—
Malam semakin larut.
Di apartemennya.
Aruna mencoba tidur.
Namun sekitar pukul satu—
ia kembali bermimpi.
Kali ini lebih jelas.
Langit merah.
Suara orang-orang.
Bau asap.
Dan dirinya—
berdiri memakai gaun putih.
Tangannya berlumuran darah.
Di depannya—
seorang pria terjatuh.
Wajahnya belum terlihat.
Tapi ia menggenggam tangan Aruna.
Dan berkata—
dengan suara yang hancur—
“Aku mencarimu…”
“Tapi kali ini…”
“Jangan mengingatku.”
Aruna dalam mimpi mulai menangis.
Ia tidak tahu kenapa.
Tidak tahu siapa pria itu.
Tapi rasa sakitnya—
terlalu nyata.
Pria itu mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya—
wajah itu terlihat.
Adrian.
Aruna terbangun.
Napasnya putus-putus.
Keringat dingin membasahi leher.
Ia langsung berdiri.
Tangannya gemetar.
Tidak.
Tidak mungkin.
Ia menoleh ke meja.
Ponselnya menyala.
Ada satu notifikasi masuk.
Nomor tidak dikenal.
Hanya satu pesan.
Jangan datang mencariku lagi.
Aruna menatap layar.
Tubuhnya membeku.
Lalu perlahan—
muncul pesan kedua.
Karena kali ini…
aku mungkin tidak bisa melepaskanmu.
Bersambung...