Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 ~ Sangat Merindukanmu
“Pasti mesinnya yang bermasalah! Coba sekali lagi,” titah Nyonya Ratna tajam. Wajahnya memerah menahan malu sekaligus kesal.
"Baik." pelayan itu buru-buru menggesek ulang kartu tersebut. Sementara Nyonya Ratna terus memperhatikannya dengan saksama.
Sekali.
Dua kali. Namun hasilnya tetap sama.
Ting! TRANSAKSI DITOLAK.
Senyum di wajah Nyonya Ratna perlahan memudar. “Tidak mungkin. Coba pakai yang ini.” Ia menyerahkan kartu kredit lain dengan nada yang mulai dingin.
“Baik, Nyonya.”
Pelayan mencobanya lagi. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan. “Maaf… kartu ini juga tidak bisa digunakan. Sepertinya aksesnya dibekukan sementara.”
Deg. Tatapan Nyonya Ratna langsung berubah tajam, rahangnya mengeras.
Lisa tampak mulai panik. “Dibekukan? Maksudnya apa?!”
Pelayan menunduk canggung. “Kami kurang mengetahui detailnya, Nona… Tapi yang jelas untuk saat ini semua kartu yang barusan Nyonya berikan tidak dapat digunakan."
Jleb! Jantungnya bagai dihantam beton. Perlahan keduanya saling menatap penuh keterkejutan. Firasat buruk muncul di hati Nyonya Ratna.
"Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan!" desisnya penuh amarah.
Dengan wajah masih memerah, ia segera meraih ponsel dan menghubungi Arga. Telepon tersambung, namun tak kunjung diangkat.
“Arga ini sebenarnya sedang apa?!” gerutunya kesal.
Tanpa berpikir panjang dia segera mengakhiri panggilan. Lalu menekan nomor Shella. Untungnya taklama panggilan segera terhubung.
“Halo, Ma…” suara Shella terdengar pelan di seberang sana.
“Dimana Arga? Kenapa semua kartu Mama tidak bisa dipakai?!” tanya Nyonya Ratna cepat dan tinggi.
Shella terdiam sesaat sebelum menjawab hati-hati. “Mas Arga sedang keluar, Ma.”
“Keluar kemana?!”
“Aku juga tidak tau. Dia meninggalkan meeting tiba-tiba.." jawab Shella.
"Tidak tau bagaimana?! Kamu itu kan sekertarisnya!" oceh Nyonya Ratna.
Disebrang sana Shella terdengar menghela nafas berat. "Tapi aku benar-benar tidak tau, Ma. Mungkin saja Mas Arga pergi menemui Mbak Ayra…”
Wajah Nyonya Ratna langsung berubah masam. “Astaga! Memangnya drama apa lagi yang dibuat wanita itu?!”
“Perusahaan sedang bermasalah, Ma. Aku juga sedang pusing..”
“Apa maksudmu?!”
“Gloria Group menarik seluruh dana investasi secara tiba-tiba. Beberapa proyek besar juga dihentikan.”
Tatapan Nyonya Ratna melebar. “Lalu apa hubungannya dengan kartu Mama?!” hardiknya mulai panik.
Shella menarik napas pelan. “Kemungkinan besar ada hubungannya dengan Oma Gloria. Selama ini seluruh akses finansial utama keluarga dan perusahaan memang terhubung lewat jaminan beliau.”
Sesaat Nyonya Ratna benar-benar terdiam, rahangnya mengeras kuat.
“Wanita tua itu… dasar menyebalkan!” desisnya penuh emosi.
Tut-
Nyonya Ratna langsung mematikan telepon dengan kasar, dadanya naik turun menahan amarah dan rasa malu yang menumpuk.
Lisa tampak gelisah di sampingnya. “Sekarang bagaimana, Ma?”
Nyonya Ratna meraih tasnya dengan wajah dingin. “Mau bagaimana lagi? Kita pulang!”
Mereka baru berbalik, namun pelayan butik kembali mendekat dengan ragu.
“Maaf, Nyonya… kalau begitu bagaimana dengan set berlian tadi? Apakah tetap diambil?”
Pertanyaan itu justru membuat wajah Nyonya Ratna makin memerah. Egonya tersentil mendengarnya. Bahkan tatapan dari beberapa pengunjung lain saat ini mulai melirik ke arah mereka. Harga dirinya tersinggung.
Dengan dagu terangkat angkuh, ia menatap pelayan itu tajam. “Sudah kubilang tidak jadi! Lagipula setelah dilihat lebih dekat… berlian itu terlihat seperti barang palsu.”
Deg. Pelayan itu langsung membeku.
Lisa menoleh cepat. “Ma…”
Belum sempat ada yang bicara, suara langkah kaki mendekat dari belakang. Seorang pria paruh baya berjas rapi berhenti tepat di hadapan Nyonya Ratna. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam.
“Saya pemilik butik ini. Saya harap Anda menjaga ucapan Anda,” ucapnya sopan namun dingin.
Tatapan Nyonya Ratna berubah tidak suka. “Memangnya kenapa?!”
“Karena tuduhan itu bisa merusak nama baik tempat ini. Seluruh koleksi kami memiliki sertifikat resmi dan standar internasional,” jawab pria itu tegas.
Suasana makin canggung, banyak mata yang tertuju pada mereka. Namun Nyonya Ratna justru mendengus sinis. “Kalau memang asli, kenapa terlihat murahan?”
Rahang pria itu ikut mengeras. "Saya peringatkan sekali lagi, jaga bicara Anda. Jika tidak, saya bisa melaporkan Anda atas pencemaran nama baik,” tegasnya.
Deg! Lisa langsung panik. “Ma, sudahlah… ayo kita pergi saja,” bisiknya sambil menarik lengan ibunya.
Wajah Nyonya Ratna kini merah padam. Selama hidupnya baru kali ini dipermalukan di depan umum. Dan semuanya, menurutnya, bermula gara-gara Ayra.
••
••
Keesokan paginya…
Meja makan di rumah Oma Gloria tampak tenang dan hangat. Aroma roti panggang dan teh melati memenuhi ruangan.
Ayra duduk dengan tenang, sesekali memegang gelas susu hangat di depannya. Wajahnya masih sedikit pucat, namun tatapannya jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Oma Gloria duduk di seberangnya, sesekali menatap cucunya dengan perhatian.
“Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanyanya lembut.
“Aku merasa jauh lebih baik, Oma,” jawab Ayra pelan sambil tersenyum tipis.
Oma Gloria meletakkan sendoknya dan menatapnya lekat. “Bagus. Ingat, kandunganmu harus dijaga sebaik mungkin.”
Ayra mengangguk perlahan.
Hening sejenak.
Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Ayra ucapan saat ini. Sesuatu yang sudah sangat lama dia inginkan namun semenjak menjadi istri Arga dan mengurus Samuel, Ayra tidak lagi memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri.
Namun setelah semua yang terjadi, dan mengingat tentang kehidupannya kedepan, akhirnya Ayra memutuskan untuk mulai berbicara.
“Oma…”
“Hm?”
“Aku ingin kembali bekerja.”
Tatapan Oma Gloria tertuju penuh padanya.
“Aku ingin membuka kembali butikku. Kalau diam saja di sini, aku malah akan merasa tertekan dan stres.”
Oma Gloria tidak langsung menentang. Wanita tua itu sangat mengenal cucunya. Apapun keputusan yang diambilnya pasti sudah dipikirkan secara matang terlebih dahulu.
“Tidak masalah, sayang…” jawabnya tenang, perlahan sudut bibirnya terangkat. “Tapi ada satu syarat. Kamu boleh melakukan apa saja yang membuatmu bahagia, tapi jangan memaksakan diri dan atur waktunya dengan baik. Sekarang kamu tidak hanya memikirkan dirimu sendiri.”
Mata tuanya perlahan melirik ke arah perut Ayra.
Ayra tersenyum lembut sambil mengusap perutnya pelan. “Tentu, Oma. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati.”
Mereka kembali menyantap sarapannya masing-masing. Namun di sudut hatinya, tiba-tiba muncul kerinduan yang mendalam. Terbayang wajah mungil Samuel. Bagaimanapun juga, ia adalah anak yang telah dibesarkan dan dicintainya selama ini.
'Bagaimana kabarmu sekarang, Sam? Mama sangat merindukanmu…' batinnya sendu.
-
-
To be continued...
Lisa si ulat bulu, dia pikir gampang taklukkan Tristan. dia nggak kayak kakak kamu yah.. no no...☝️
dan Lisa... Ndak tau malu kamu yaah.. mau kamu dapat nasib kayak Shella?!😤