NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan

Rahardja menghela napas pelan. "Papa tidak menarik ucapan Papa."

Sorot mata Saras kembali berbinar. Namun Rahardja belum selesai.

"Kalau kontrak ini dinyatakan aman oleh tim legal, jabatan manajer akan menjadi milikmu."

Senyum Saras langsung membeku.

"Tapi kalau ada pasal yang merugikan perusahaan..." Rahardja menggeleng pelan. "Papa tidak akan mempertaruhkan perusahaan hanya demi memenuhi sebuah janji."

Saras mengepalkan kedua tangannya di balik tubuh.

"Baik, Pa."

Nada suaranya masih terdengar sopan. Namun senyum yang tadi menghiasi wajahnya telah menghilang.

"Kalau begitu aku permisi."

Rahardja hanya mengangguk.

Saras membungkukkan badan tipis sebelum berbalik meninggalkan ruangan.

Klik. Pintu tertutup.

Begitu berada di koridor, raut wajah Saras langsung berubah. Senyum ramah yang tadi ia tunjukkan lenyap tak bersisa. Ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lagi... Lagi-lagi selalu seperti ini."

Menurutnya, apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup untuk mendapatkan pengakuan Rahardja. Padahal ia sudah bersusah payah mendapatkan investasi itu.

"Kenapa selalu Kak Chantika yang dipercaya?" gumamnya lirih.

Tanpa sadar, rasa iri di dalam dadanya kembali tumbuh. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan meninggalkan koridor dengan langkah cepat.

 

Sementara itu...

Di dalam ruang kerjanya, Rahardja masih duduk memandangi map yang ditinggalkan Saras.

Perlahan ia membuka kembali halaman berisi klausul yang tadi menarik perhatiannya. Jari telunjuknya mengetuk pelan bagian tersebut.

"Setiap permintaan investor..." Ia mengulang kalimat itu lirih. "Bryan Adi Jaya..."

Nama itu tidak asing baginya.

Rahardja mengenal reputasi pria tersebut jauh sebelum perusahaan keluarganya berkembang sebesar sekarang.

Bryan memang kaya. Namun bukan tipe investor yang biasa bermain bersih.

Rahardja menyandarkan tubuhnya ke kursi. Entah mengapa, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ia meraih telepon di atas meja.

"Pak Danu."

"Ya, Pak?"

"Tolong minta divisi legal memeriksa kontrak investasi yang saya bawa besok sedetail mungkin."

"Siap, Pak."

Rahardja mengakhiri panggilan. Tatapannya kembali jatuh pada nama Bryan.

"Semoga... Firasat burukku kali ini salah."

***

Ranti yang baru keluar dari dapur melihat Saras berjalan dengan wajah muram. Dahinya berkerut samar.

"Saras," panggilnya.

Saras menoleh, lalu menghampiri wanita paruh baya itu.

"Ma..."

Ia langsung bergelayut manja di lengan ibunya dengan wajah yang tampak kecewa.

Ranti menggenggam tangan putrinya, lalu mengajaknya duduk di sofa.

"Duduk dulu."

Setelah Saras duduk, Ranti menatapnya lembut. "Ada apa? Cerita sama Mama."

Saras mengembuskan napas pelan. "Papa kemarin janji bakal mengangkat aku jadi manajer kalau aku berhasil dapetin investor."

"Lalu?"

"Padahal aku sudah berhasil, Ma." Nada suaranya mulai terdengar kesal. "Aku sudah susah payah dapetin investornya. Tapi tadi, setelah aku menyerahkan kontraknya, Papa malah bilang klausul investasinya harus ditinjau ulang dulu."

Ranti mengernyit. "Ditinjau ulang?"

Saras mengangguk cepat. "Iya. Papa bilang ada klausul yang mencurigakan, jadi mau meminta tim legal memeriksanya dulu. Padahal aku cuma pengen Papa nepatin janjinya."

Raut wajahnya perlahan berubah makin muram.

"Kadang aku ngerasa Papa gak pernah benar-benar percaya sama aku, Ma."

Ranti terdiam.

"Kalau Kak Chantika, apa pun yang dilakukannya selalu dipercaya. Bahkan tadi pagi Papa sama sekali gak marah waktu tahu Kakak ciuman sama pacarnya." Saras menunduk. "Tapi kalau aku... sedikit saja melakukan sesuatu, Papa selalu curiga."

Ia mengembuskan napas pelan.

"Aku capek terus merasa dibanding-bandingkan sama Kak Chantika. Apa pun yang kulakukan rasanya gak pernah cukup."

Ranti mengusap lembut punggung tangan putrinya.

"Sudahlah. Nanti Mama yang bicara sama Papa."

Wajah Saras sedikit berbinar. "Bener, Ma?"

Ranti mengangguk. "Iya. Kalau memang Papa sudah berjanji, Mama akan mengingatkannya."

Senyum tipis akhirnya terukir di wajah Saras. "Terima kasih, Ma."

***

Sementara itu, di hotel bintang lima...

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu utama hotel.

Dua petugas keamanan yang berjaga segera bergegas menghampiri. Salah seorang membuka pintu mobil dengan sigap.

"Selamat malam, Tuan."

Enzo keluar dari mobil, lalu merapikan jas yang dikenakannya.

"Tuan," ucap salah seorang petugas keamanan dengan hormat, "ada Ibu di dalam."

"Ibu?" Kening Enzo sedikit berkerut.

"Bu Chantika, Tuan," jelas petugas itu.

Sorot mata Enzo seketika berubah. "Di mana dia sekarang?"

"Tadi Kepala Keamanan mengantar beliau ke ruang kontrol CCTV, Tuan."

Enzo mengangguk kecil. "Baik."

Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung melangkah memasuki hotel dengan langkah tenang.

"Apa dia mulai menyelidiki kejadian malam itu?" batinnya.

Langkahnya berhenti di depan meja resepsionis.

"Kalau Ibu datang, suruh ke kamarku," ucapnya singkat.

"Baik, Tuan," jawab resepsionis cepat.

Seperti biasa, setelah mengatakan sesuatu, Enzo tidak menunggu jawaban. Ia langsung berbalik dan berjalan menuju lift.

 

Tak lama kemudian, Chantika keluar dari lift bersama Kepala Keamanan.

"Bu," panggil resepsionis.

Chantika menghentikan langkahnya.

"Anda diminta Tuan Enzo ke kamar beliau."

Chantika terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Baik."

Ia berbalik menuju lift. "Mau apa dia?" gumamnya dalam hati.

 

Beberapa menit kemudian, Chantika telah berdiri di depan kamar Enzo. Pintu terbuka setelah sidik jarinya dikenali oleh pemindai.

Saat melangkah masuk, ia melihat Enzo sedang berbicara melalui sambungan telepon menggunakan bahasa Inggris. Wajah pria itu tampak serius.

Enzo mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan celana panjang hitam. Beberapa kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya.

Tanpa sadar Chantika menelan ludah. "Apa yang aku pikirin?"

Ia segera menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran yang tiba-tiba muncul.

Percakapan telepon itu berakhir. Enzo meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengangkat wajah.

Alisnya terangkat tipis ketika melihat Chantika berdiri di sana dengan seragam dinas Kepolisian Republik Indonesia.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap wanita itu.

Seragam itu membuat Chantika terlihat jauh lebih tegas, berwibawa, sekaligus memikat.

"Pantas saja..." batinnya. "Sekarang aku mengerti kenapa anak buahku yang sebelumnya memanggilnya Nona, tiba-tiba berubah memanggilnya Ibu."

Enzo berjalan menghampiri.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya pelan.

"Lumayan," jawab Chantika. Tatapannya tak lepas dari wajah pria itu. "Kenapa kamu menyuruhku ke sini?"

Enzo tersenyum tipis. "Karena aku ingin bertemu istriku."

"Kita belum menikah."

"Sebentar lagi."

Chantika hanya mengembuskan napas pelan. "Jawabanmu gak pernah berubah."

"Karena memang itu kenyataannya."

Enzo kemudian menatap seragam polisi yang dikenakan Chantika dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum kecil.

"Harus kuakui... seragam itu cocok sekali buatmu."

Chantika mendengus pelan, tetapi pipinya mulai menghangat.

"Kamu dari ruang kontrol CCTV?" tanya Enzo.

"Iya."

Enzo mengembuskan napas pelan.

"Kalau memang kamu sedang menyelidiki Bryan..."

Chantika mengernyit. "Kenapa?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Kebohongan bisa menyusun alibi yang tampak sempurna, tetapi kebenaran selalu meninggalkan jejak bagi mereka yang mau mencari."...

..."Kepercayaan diberikan oleh hati, tetapi kebenaran harus dibuktikan oleh fakta."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Oma Gavin
gas enzo prepare dari sekarang keluar dari rumah mertua mu hidup mandiri bersama chantika minimal mengurangi resiko eama rubah betina saras
Fadillah Ahmad
Yang di inginkan Bryan hanya satu, menguasai Aset keluarga Rahardja, melalui kamu Saras. 😂😂😂 Kau saja yang ke lewat bodoh. Hingga tidak menyadari maksud tersembunyi dari Bryan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Widih... Kalimatnya itu loh... 'Ayah biologis' nggk tuh... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!